My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•IT'S REALLY OVER



Dengan gerakan terburu-buru Calix mulai membuka satu persatu kancing baju seragam Hazel. Gadis itu tidak bisa melawan karena kedua pergelangan tangannya di ikat kuat oleh Calix dengan dasinya.


"Hentikan, Calix! Lepasin gue! Kita masih di kalangan sekolah!" Tidak menyerah Hazel memberontak gelisah dalam kungkungannya.


Calix mengulum senyum miring. "Jadi kalau di luar sekolah boleh? Lo mau di mana?" Punggung tangannya membelai pipi Hazel. "Di apartemen gue? Atau hotel? Biar gue yang membayar biayanya."


"Hiksss.. Lo jahat! Lo paling tahu gue benci di perlakukan kaya gini! Tapi, lo malah mau mengulangi masa lalu yang pengen banget gue kubur seumur hidup gue!" Pekik Hazel, tak kuasa lagi air matanya merembes dari sumbernya. "Kenapa lo sampai kehilangan akal sehat kaya gini cuma gara-gara cewek rusak kaya gue hah?!"


Reflek terpejam dirinya ketika membaca pergerakan tangan Calix yang akan melayang hendak menamparnya. Sedetik kemudian, dia tidak merasakan apa-apa. Sedikit demi sedikit Hazel memberanikan diri membuka netranya menemukan dahi Calix sedang bersandar di bahunya.


"Balikan ya? Lo hanya boleh berikan dua jawaban, iya atau yes."


"Lo hampir perkosa gue dan sekarang dengan seenaknya lo minta balikan? Situ waras?!"


Menarik kepalanya, Calix melepas belenggu yang memblokir kebebasan Hazel di tangannya, kini mereka berada di gudang. "Apa susahnya tinggal bilang iya, ck. Ini gak akan terjadi kalo lo gak batu. Lo membahayakan diri lo sendiri."


Selepasnya, Calix menghirup udara panjang guna mengisi rongga-rongga dadanya yang terasa sesak dan mengeluarkannya secara perlahan. Tangannya singgah di bahu Hazel, menatap Hazel dengan serius.


"Ini benar-benar untuk yang terakhir kalinya gue bertanya, lo bener-bener gak mau balikan lagi?"


"Ogah!" Jawaban Hazel yang mutlak mampu membuat bahu Calix menurun. Tidak keraguan sama sekali dalam nada bicaranya. Kali ini harapannya benar-benar pupus, dia terlalu amatir terkait Perempuan.


Sesungguhnya dia adalah cowok pecundang yang tidak tahu bagaimana caranya berjuang. Selama ini perempuan lah yang mengejarnya berkat kedudukannya, karena terbiasa demikian, dia tidak tahu caranya meluluhkan hati seorang gadis.


Calix mengangguk kecil lalu mundur dua langkah. Kalau itu keinginannya, mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Calix bisa saja memaksakan kehendaknya, tapi entah mengapa Calix tidak bisa melakukan hal sejauh itu dengan Hazel tanpa persetujuan darinya, selama ini dia hanya sekedar menggertak.


"Oke kalo itu keinginan lo, according to your wishes, kali ini gue bener-bener akan menghilang dari kehidupan lo."


Hazel menyorot nanar punggung tegap yang telah membelakanginya. Iya, lisannya memang berkata tidak ingin kembali bersama, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya menginginkan hal yang sebaliknya.


"Inget ini baik-baik. Bukan lo yang gak pantes buat gue, tapi gue yang gak pantes buat lo. Jangan sering insecure, apapun yang terjadi di masa lalu lo tetap akan jadi berlian di mata orang yang kenal lo dengan baik. Lo tahu? Lo satu-satunya cewek paling sempurna yang pernah gue temui sepanjang hidup gue."


"Lo bertanya-tanya kenapa gue kaya gini kan?" Calix memutar badannya lagi menghadap total ke arah Hazel. Kali ini sabit yang terukir cenderung sendu.


"Karena gue sayang sama lo." Kalau di ingat-ingat kembali, ini untuk kali pertama Calix mengungkapkan perasaannya pada Hazel secara langsung.


Dan lima kalimat terakhir yang berhasil menyapu seluruh isi benak Hazel, bahkan dia tidak sadar bahwa Calix sudah menghilang dari pandangannya. Apa kali ini mereka benar-benar telah berakhir?


...*****...


"Ada apa?" Candra menarik sebelah alisnya, menatap heran Lia yang sedang gelisah ditempatnya berdiri.


"Itu--" Ragu-ragu Lia mengulurkan sebuah surat yang di bungkus oleh amplop, dari desainnya dapat di pastikan itu adalah surat cinta.


Candra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, melemparkan tatapan tidak enak pada Lia. "Ah? Sorry banget ya? Seandainya dari kemaren-kemaren lo ungkapin perasaan lo, kemungkinan besar gue akan menerimanya. Tapi--untuk sekarang lowongan udah di tutup karena emak gue udah gak memperbolehkan gue pacaran."


"I-ini buat Calix..


"Hah?" Candra termangu sejenak. 'WTF?!' Dia ingin menguburkan diri sendirinya saking malunya. Salah kan dirinya yang terlalu percaya diri!


"Meskipun aku tahu dia sukanya pada orang lain, aku gak mau menyesal kalau menyerah duluan tanpa usaha. A-aku gak bisa menyatakan perasaanku secara terang-terangan karena malu. Jadi, setidaknya aku membuat surat pengakuan. Kamu bisa bantu aku menyerahkan ini ke Calix?"


"Bentar, lo kan tutor Calix, ngapain nitip sama gue? Berikan aja langsung."


"Kamu kan teman karibnya."


...*****...


Candra meletakkan surat yang dititip oleh Lia kepadanya diatas meja tepat di hadapan Calix. Melihat benda familiar, yang biasa dia dapatkan sehari-hari, Calix mengangkat satu alisnya. "Dari siapa?"


"Dari Lia." Candra duduk di sebelahnya. Menyandarkan lengannya di belakang kepala untuk dia jadikan alas. "Enak banget yah yang populer, tiap hari dapet surat kaya ginian, coba aja jadi gue, boro-boro dapet surat, kolong meja malah bersarang laba-laba gara-gara gak pernah ada yang ngisi."


"Gws aja deh. Nasib lo aja yang kurang beruntung."


"Nasib lo gimana? Lo tadi berurusan di ruang BK lagi kan?"


Perselisihan antara Calix dan Farel tidak mungkin tak di tangani oleh Guru BK. Seumpama tadi, Calix tidak segera menghentikan serangannya, bisa di yakini Farel akan masuk rumah sakit.


Calix menaikan bahunya sekilas. "Gue di skors beberapa hari. Tapi gue bomat, toh hari ini akan menjadi hari terakhir gue dateng ke sekolah."


"Enteng banget lu bilangnya di skors beberapa hari. Kalo gue di posisi lo mah udah kalang kabut, gak bakal menginjak rumah untuk menghindari sapu melayang."


Decitan kaki kursi bergesekan dengan lantai terdengar ketika Calix tiba-tiba berdiri dari duduknya. "Tadi Lia ngasih lo surat ini dimana?"


"Di koridor." Candra tidak ingin mengingat-ingat kenangan paling memalukan itu, bisa-bisanya dia terlalu percaya diri dan berakhir salah paham.


Calix keluar dari kelas berencana menuju kelas Lia. Setibanya disana, dia melirik Hazel yang ada di tempatnya duduk secara singkat sebelum melengos berjalan kearah bangku Lia, dia mengetuk-ngetuk permukaan meja membuat Lia agak mendongak.


Nampak Lia agak salah tingkah di datangi oleh orang yang dia taksir secara langsung ke kelasnya. Apakah Candra sudah menyerahkan suratnya?


Lia memperbaiki letak kacamatanya untuk mengalihkan rasa gugupnya. "C-calix? Ada apa?"


"Kalo lo pengen tahu jawaban gue, datang ke rooftop, gue tunggu lo di sana."


*****