My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•MASA LALU?



..."Kita itu rumit. Satu pihak memiliki lebih dari ribuan cadangan diluar sana, sedangkan yang lainnya memiliki masa lalu dengan segudang kenangan indah, namun juga amat kelam didalamnya."...


...-Hazel...


...*****...


Bunyi monitor mendominasi ruangan bernuansa putih. Aroma obat-obatan menguar dipenjuru bilik. Garis meliuk yang tertera jelas dilayar elektrodiagram menjadi simbol bila masih ada setitik harapan.


Seumpama permen kapas yang bisa terbang setiap angin bertiup, dengan penuh kehati-hatian, tangannya gemetar ketika mengais anak rambutnya, gadis kecil berparas manis ini kelihatan pucat pasi, berbagai alat medis tertancap bagian tubuhnya hanya untuk menunjangnya agar dapat bertahan hidup.


Hatinya diselimuti rasa sesal. Menyesal sudah pernah menyiksanya, bisakah dia berangan-angan jika di bumi ini ibarat dunia komik atau novel yang ada mesin waktu. Fatur ingin memutar kembali masa dari semenjak dia datang kerumahnya..


Memperlakukannya dengan baik, dia tak kehilangan kendali malam itu dan tak akan berselisih dengannya ditengah jalan. Sudahlah, penyesalan tak akan menghasilkan apa-apa.


Ada sejuta kata yang ingin dia sampaikan padanya. Namun, dengan kondisinya yang sekarang bagaimana caranya berkomunikasi?


"I apologize..." Lirihnya. "Maaf gue udah buat rumah yang kita tinggali bagaikan neraka untuk lo, maaf udah rusak lo, maaf udah hancurin masa depan lo, padahal perjalanan hidup lo masih sangat-sangat panjang.."


"Maaf sebesar-besarnya.. gue tahu, sampe berbusa pun mulut gue ngucapin kalimat maaf, kelakuan gue gak akan bisa termaafkan.."


Fatur meraih tangannya yang bersuhu dingin membawanya kedalam genggaman. "Cepat sadar El...masih banyak hal yang belum kita lakukan...lo bilang mau ke pantai bareng gue liat sunset kan? Ke taman bermain naik wahana bareng gue.."


Bibir lembutnya mengecup punggung tangannya. "Jangan pergi ya cantik.. lo harus bertahan.. siuman nanti, gue akan menemani lo kemana pun yang lo mau.. gue, lo, dan--"


"Gawat, Kak! Ada Mama!!" Interupsi Adiknya memberi aba-aba, sedari tadi dia mengawas diambang pintu rawat. Membuat Fatur sontak berdiri tanpa berpikir panjang, bersama dengan genggamannya ditangan gadis itu terlepas.


"Gak ada lagi jalan keluar, kita harus sembunyi! Mama udah ada didepan!"


Fatur kelimpungan, mereka tak tahu harus bersembunyi dimana, dia melihat kebawah, ke kolong brangkar. Buru-buru ditariknya pergelangan tangan Adiknya, baru saja mereka akan bersembunyi disana. Pintu telah terbuka, mereka terlambat dan dipergoki berada di sana.


Mereka menegakkan punggung dengan kaku, menemukan seorang Wanita yang telah menampilkan wajah tak bersahabat sambil melangkah kearah mereka, tangannya sudah terkepal kuat. Keduanya menelan saliva takut. "M-mama?"


PLAKKK!!


Dengan mata mengosong tanpa arti, wajahnya terpaling kearah lain ketika menerima sebuah tamparan yang tak main-main. Fatur memegangi pipinya yang dilanda oleh denyut panas, sangat perih. Mungkin saja telapak tangan meninggalkan bekas merah disana.


"Masih ada muka kamu menjenguk Putriku hah?! Berani-beraninya kamu menemuinya lagi setelah banyak luka yang sudah kamu torehkan buat dia!"


Wanita yang masih terlihat awet muda itu, mendorong beberapa kali bahunya emosi, Fatur diam, menerima segala perlakuannya. Dia mengaku salah.


"Dia jadi begini karena ulahmu! Aku menyesal, aku menyesal gak mendengarkan segala keluhannya, aku menyesal gak percaya dengan kata-katanya dan menganggap itu semua adalah hal sepele!"


Beliau menutup wajahnya, mulai menumpahkan tangis. "Seharusnya aku tidak memenuhi wasiat terakhir Zia... Kalau saja aku gak masuk kedalam hidup kalian, Putriku tidak akan mengalami ini semua, sampai dimasa yang akan datang, senyumnya tidak akan sirna, dia tetap akan baik-baik saja.."


"Maaf.." Fatur tertunduk dalam, Adiknya pun turut merasa bersalah sekaligus iba pada Kakaknya. Bukan salahnya, dia menjadi seperti itu karena keadaan. Namun, terlepas dari itu, bukan berarti perbuatannya bisa dibenarkan.


Wanita yang mereka panggil sebagai Mama seketika mengangkat pandangan, dia terkekeh getir, "Kau pikir maafmu bisa mengembalikan keadaan putriku seperti sedia kala? Meskipun anakku sadar, kau yakin dia akan baik-baik saja? Dia akan jatuh terpuruk menanggung segudang trauma dan dihantui akan segala perbuatan bejatmu!"


"Kau menganiayanya! Berulang kali sudah mencoba membunuhnya! Bahkan sampai melecehkannya? Seharusnya kau yang tertabrak bukan Putriku!"


"Sekarang, kau bisa mengembalikan kehormatan putriku? Bagaimana nanti dia menghadapi dunia dimasa depan?"


"Siapa yang akan mau dengan perempuan yang sudah kehilangan mahkotanya sejak dini..? Terlebih insiden itu, menghadirkan sesuatu yang akan menghancurkan masa depan dan segala impiannya yang sudah tertata sedemikian rupa.."


"Perbuatan jahat apa yang sudah dia lakukan sehingga dia memiliki nasib semalang ini..?


"Aku tahu aku salah, tapi aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku sebagai tebusannya." Tegas Fatur


Napasnya kelihatan memberat, darahnya mendidih dalam seketika, beraninya lelaki sialan ini mengatakan demikian setelah menggoreskan luka sedalam-dalamnya pada Putrinya. Apa dia pikir masih ada restu untuk dirinya hidup bersama putrinya?! Cih! Beliau ingin sekali meludahi wajah keparat ini.


Kepalan tangannya tambah kencang. Dia memukul-mukul dada bidang Fatur penuh amarah. "Kau pikir dengan pertanggung jawabanmu, Putriku akan baik-baik saja?! Masa depannya hancur bajingan! Dia sudah kehilangan mahkotanya! Kau yang sudah menghancurkan kehidupan Putriku.."


Tubuh kekarnya terguncang mendapat pukulan bertubi-tubi dari wanita didepannya. Seorang Ibu mana yang akan diam saja ketika mengetahui fakta menyakitkan seperti itu.


Seorang Ibu tentu tak akan terima jika mengetahui Putrinya telah disiksa. Diwaktu yang sama seorang dokter yang terlihat matang dan tegas, hadir keruangan yang sama dengan mereka.


Betapa terkejutnya dia mendapati keributan didalam sini, bergegaslah dia menghampiri mereka dan menarik wanita itu menjauh, "Apa yang kau lakukan hei?! Kendalikan dirimu! Ini rumah sakit!"


Tak merespon, Wanita itu memberontak murka, belum puas hanya dengan memukulnya, dia ingin memusnahkan lelaki bejat itu. "Bilang ke Papamu! Hari lusa aku tunggu dia dipersidangan!"


"Setelah ikatan aku dan Papamu putus dipersidangan lalu Putriku sadar dari koma, aku akan membawanya pergi jauh! Aku jamin, aku akan menghilangkan jejaknya dari kalian dan menghilangkan jejak kalian, dari kehidupannya!"


Fatur tersentak, ini diluar bayangannya. Jauh sebelum dia tahu faktanya, jauh sebelum dititik ini, Fatur akan amat senang dengan kepergiannya.


Tapi semenjak dia tahu segalanya, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya jika nanti keduanya akan berpisah. Tubuhnya turun, dia berlutut dihadapan wanita itu penuh keputusasaan.


"Apapun ganjaran yang kau berikan, akan aku terima dengan suka rela. Memukulku? Menikam ku? Atau membawa masalah itu kejalur hukum? Aku siap menerima segala konsekuensinya."


"Tapi, satu hal yang aku mohon, jangan bawa dia pergi dari kota ini.. jangan pisahkan kami berdua.. aku janji, lain kali gak akan pernah mengulangi hal sama, aku ingin menjaga dia dan--"


"Nak, sebaiknya kamu pergi dari sini.. ini rumah sakit, gak baik ribut seperti ini.." sela dokter tersebut. Pasalnya, wanita dalam kekangannya semakin meronta tak karuan. Kalau terlepas, bisa jadi ruangan ini akan jadi lebih kacau dari yang tadi.


"Tapi--"


Kepalanya menengadah kearah Adiknya yang menarik tangannya untuk membantunya berdiri. "Ayok, Kak.. kita harus pergi, kasian El, istirahatnya jadi terganggu karena kita.."


"Tapi, Rega..Kakak gak mau pisah dengan El.." Embun menggenang dipelupuk mata, mendesak ingin mengalir dari sumbernya.


"Lo udah buat dia jadi kaya gini Kak. Seharusnya Kakak bisa merelakan dia pergi untuk mencari lagi warna dalam hidupnya...kita, bukan tempat untuk bahagianya.."


Fatur menggeleng kekeuh. Dia manahan dengan keras tubuhnya dibingkai pintu agar tak terserat. Dia menoleh kearah gadis yang sedang terbujur tak berdaya diatas ranjang pasien. "Gak mau, Rega.. please, gue gak bisa pisah dengan mereka..mereka segalanya bagi gue.."


"Apa perlu gue ingetin? Lo mengidap penyakit mematikan Kak. Bagaimana bisa menjaga dan melindungi mereka kalo nanti penyakit Kakak sedikit demi sedikit akan membunuh Kakak dengan perlahan."


"Mungkin sekarang, Kakak masih kuat untuk menopang bobot tubuh Kakak, tapi bagaimana kalo nanti? Yakin, Kakak gak akan membuat El sedih lagi?"


...*****...


Hazel baru saja keluar dari dalam kamar mandi menuntaskan hajat kecil, tidak lupa senantiasa sikat gigi, hal tersebut sudah menjadi agenda Hazel sebelum tidur.


Dia lekas menyambar ponselnya diatas meja belajar sebelum langkahnya berayun menuju tempat tidur. Benda pipi itu, Hazel letakkan ditelinga.


"Hallo? Masih ada orang?" Yup, saat ini dia sedang melakukan panggilan telepon dengan Calix.


"Gak, udah diakhirat."


"Gue party kalo gitu."


Terdengar dengusan sebal dari seberang sana, sebelum akhirnya kembali mengangkat suara. "Udah buang air kecil?"


"Udah."


"Sikat gigi?"


"Udah juga."


"Good girl. Saatnya bobo, cewek kurus dilarang begadang, ntar dadanya tambah rata."


"Yaudah pacaran aja sana sama cewek yang dadanya sebesar buah semangka."


"Udah bosan, mau cobain yang rata dulu, mungkin lebih mantap."


Calix terkekeh rendah, dia jadi membayangkan bagaimana lukisan wajah kesal Hazel sekarang, dijamin lucu. "Udah, bobo sana. Malam sudah larut."


"Teleponnya matiin, enggak?"


"Jangan, biarin aja. Gue nyanyiin, pasti cepat tidur."


"Yaudah, bentar."


Meninggalkan ponsel diatas kasur, dengan grasak-grusuk, Hazel beranjak dari ranjang, melangkah kearah meja rias, dia meraih botol mini dari dalam laci.


Belum langsung meminumnya, Hazel masih menatapnya ragu, 'apa gak apa-apa gue masih mengonsumsi obat ini? Gue berharap efek sampingnya gak terlalu berat.' Batinnya.


Setelah bergulat hebat dengan kebimbangan, akhirnya dia memutuskan untuk meminumnya. Memasukan obat kapsul tersebut kedalam mulut, disusul oleh segelas air yang tersedia diatas meja.


Kedua tangannya bertumpu pada permukaan meja, ditatapnya refleksi dirinya dikaca cermin, matanya terlihat sayu, dia menguap kemudian.


Kembali Hazel berjalan lunglai menuju tempat tidur, sebelum dia merebahkan diri disana, diraihnya ponsel yang dia letakkan tadi, selimut tebalnya Hazel tarik hingga sebatas dada.


"Zel?"


"Eumm?" Hazel masih berupaya mempertahankan kesadaran. Mendadak kantuk berat menyerangnya. Sekuat mungkin dia menopang kelopak matanya agar tak tertutup.


"Lo ngapain tadi?"


"Enggak.."


"Humm..." Calix mengangguk-anggukkan kepala, ponselnya dia letakkan diatas meja, dia kemudian memetik gitar ditangannya, bersamaan dengan alunan merdu gitar terdengar, Calix melanjutkan nyanyiannya yang terjeda.


"I'm still holdin' on to everything that's dead and gone.."


"I don't wanna say goodbye, 'cause this one means forever.."


"And now you're in the stars and six-feet's never felt so far.."


"Here I am alone between the heavens and the embers.."


Rasa kantuk dibantu nyanyian yang dilantunkan oleh lelaki itu dengan suara ciri khasnya yang berat juga terdengar ringan, kantuk yang mendera tak dapat membuat indera pendengar Hazel kehilangan fungsi.


Sayup-sayup Hazel mendengarkan, dia tak kuasa menahan kelopak netranya yang dihiasi bulu lentik, awalnya pandangannya mulai mengabur, hingga lambat laun sudah tertutup sempurna menyapa kegelapan.


"Oh, it hurts so hard.."


"For a million different reasons.."


"You took the best of my heart.."


"And left the rest in pieces.."


Lagu Calix berhenti, dia meraih ponselnya kembali, memeriksa apakah gadisnya sudah tenggelam ke alam mimpi ataukah belum, kebetulan sekali, dengkuran halus terdengar dari balik handphone, cepat sekali terlelapnya.


Tanpa terkendali, Calix mengulum senyum tipis, "Tidur yang nyenyak, my girl.. semoga mimpi indah.."


...*****...


Kyra menyingkirkan buku dari atas wajahnya, dia ketiduran karena belajar persiapan olimpiade sekaligus ujian nanti. Periode waktunya masih cukup panjang, namun untuk memperoleh nilai diatas rata-rata, dia harus mempersiapkan diri dari sekarang.


Kali ini Kyra terjaga dari tidurnya. Dia melirik kesamping, ada Ayana dan Arzan tertidur pulas disana. Sebab tempat tinggal mereka hanyalah sebuah gubuk, dia dapat merasakan vibrasi jika ada yang memijak kedalam gubuk tersebut.


Dengan muka bantal, rambut agak awut-awutan, dia mengubah posisinya menjadi duduk, Kyra lantas beranjak kearah pintu, memeriksa seseorang yang sudah dapat dia terka, siapa orangnya. Sebelum kesana, dia meraih dulu hadiah yang masih terisi dalam paper bag.


"Kak?"


Kyra bergegas menghampiri Kakaknya yang kelihatan berjalan oleng. Aroma alkohol yang begitu menyengat, menguar dari tubuh Kakaknya, Kyra yakin, Kakak perempuannya ini sudah pasti mabuk lagi. "Kakak, mabuk lagi?"


"Lo nanyeakkk?!!" Dampratnya, dia menepis Kyra yang akan membantunya memapahnya, "Minggir lo! Gua mau tidur!! Kepala gua pusing!! Hueee!!"


Dia mual, nyaris saja memuntahkan segala isi perutnya, langkahnya tak tentu arah menuju sudut, Kyra membututi Kakaknya. "Kak, ini gue punya hadiah buat Kakak. Hari ini tanggal ulang tahun Kakak. Mungkin, Kakak gak inget dengan hari ulang tahun Kakak saking sibuknya. Tapi, gue gak akan pernah lupa."


Bruk!


Barang ditangannya berakhir jatuh kelantai, dihempaskan kasar oleh Kakaknya, Kyra hanya melihat pemberiannya dengan tatapan nanar. Itu tandanya berarti Kakaknya tak suka dengan pemberiannya.


"Gue gak butuh!"


"Buat apa lo bela-belain beli hal yang gak guna?! Mending lo tabung duit buat masa depan kalian! Jangan buang-buang duit untuk barang-barang gak jelas kaya gitu!"


"Itu bukan barang yang gak berguna, tapi hadiah untuk Kakak. Gue tahu, Kakak mati-matian banting tulang dan menghemat ekonomi keluarga demi membiayai pendidikan kami, tapi pikirin juga diri sendiri Kak.."


Kyra menghembuskan napas panjang. Kakaknya terlalu memikirkan mereka sampai melupakan kondisinya sendiri. "Kakak kapan berhenti kaya gini? Pekerjaan Kakak gak layak untuk menghidupi kami.. gue mohon, hentikan ini semua.."


"Itu bukan urusan lo, Kyra! Jangan ikut campur sama kehidupan Kakak! Ini hidup Kakak, pilihan Kakak sendiri! Memang lo pikir, kalo Kakak gak kaya gini, kalian bisa hidup sampe sekarang?! Salahkan semesta kenapa menetapkan takdir kita setragis ini?"


Sekarang Kyra sudah duduk bersimpuh dihadapan Kakaknya tanpa mau menyela tutur kata yang terungkap. Dia mengerti.. mereka sudah cukup sengsara hidup selama ini. Hidup segan, mati pun takut..


"Papa meninggalkan kita demi Wanita lain saat Mama lagi mengandung, Arzan. Terus Mama meninggalkan kita dalam keabadian ketika gue belum sempat membuatnya bangga."


Dengan gusar, diacak-acaknya rambutnya, dia tiba-tiba depresi mengingat semua yang terjadi. Kepalanya pusing seakan ingin meledak. Timbul bunyi yang agak nyaring ketika dia memukul-mukul kuat lantai papan. Kyra menutup kedua telinganya guna meredam bunyi tersebut.


"Lo pikir, ini gak berat buat gue?! Berat Kyra! Kalo bisa milih gue gak mau jadi seperti ini, tapi keadaan yang menyeret gue jadi kaya gini!"


"Lo gak tahu gimana rasanya diposisi gue yang jadi tulang punggung keluarga! Kalo gue berhenti, kalian makan apa sehari-hari?! Bagaimana kita bisa melanjutkan hidup?! Siapa yang akan membiayai sekolah kalian?!"


Dengan tangan terkepal kuat, Kyra dibuat tak berkutik, serangkaian kalimat Kakaknya, adalah kebenaran yang tak bisa ditepis.


"Gue tahu apa yang sudah Kakak alami selama ini, dan gue belum bisa bilang paham sepenuhnya apa yang Kakak rasakan karena belum pernah diposisi Kakak.. tapi, ada satu hal yang Kyra pinta, jauhi dia.."


...*****...


Tengah malam buta, deringan yang berasal dari ponselnya mewarnai suasana sunyi didalam bilik. Sangat mengusik tidurnya, Hazel menggeliat, memiringkan posisi tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan bantal. "Huh! tuh cowok gak bosan-bosan gangguin gue!"


Hazel mendeesah kesal kala bunyi itu tak kunjung berhenti, dia meraba-raba tempat tidur untuk meraih ponselnya.


Hazel mengangkatnya masih dalam keadaan setengah tidur sehingga dia tak terlalu memperhatikan nomor si-pemanggil. Siapa lagi yang kerap mengganggunya jika bukan si perusak hari-hari damainya.


Hazel mengucek-ngucek mata, mencoba untuk mengumpulkan nyawa. "Hallo? ada apa nelepon tengah malam gini..? Kenapa gak sekalian gak usah akhiri panggilan hingga sampai dini hari? Dari pada gini, ganggu banget.."


"Hallo princess El..? Bagaimana kabar lo..? I miss you so much.."


Bagaikan disambar petir, tubuhnya seketika menjadi kaku, kelopak mata Hazel mendadak terbuka lebar-lebar menangkap suara dari seberang sana. Masih sama, hangat dan lembut...


Dengan wajah yang pias, napasnya tercekat di tenggorokan. Lidahnya keluh tak bisa mengeluarkan suara. Sejuta rasa bercampur aduk tiba-tiba menggerogoti hati Hazel. Rasa benci, sakit, terluka, sesak tiada berujung.. tapi--munafik jika dia bilang tidak merindukan orang ini..


Nyatanya, dia begitu merindukan sosoknya. Sudah selama ini, kenapa dia tiba-tiba muncul lagi dalam hidupnya?


"K-kak Atur...?


*****