
"Dia--bakal dicap sebagai jalaang seumur hidupnya! Siapa yang bakal mau dengan barang bekas?! Cuih! Amit-amit sekalipun langit runtuh!"
Didengar berulang kali pun itu benar-benar suara khas Calix. Ditambah lagi sang empu hanya diam tak bergeming tanpa sepatah kata pengelakan seolah membenarkan fakta.
"Bukan hanya itu, Zel! Lo liat?!" Jari besar Rega menggeser kebawah menunjukkan sebuah foto Calix dan seorang gadis--Lia? Dengan wajah mereka begitu dekat, bibir mereka saling menyatu.
"Gak ada cowok baik-baik yang sembarangan ciuman sama cewek bahkan didepan minimarket!"
"Dia juga yang sudah menabrak lo, Zel! Lo tahu, Mr Calix? Adek yang gue maksud adalah Hazel! Lo yang udah nabrak dia hingga koma!!" Kali ini Rega menghardik Calix.
Deg!
Darahnya mengalir deras kebawah, hingga wajah Calix seperti kehabisan darah, sangat pias sesudah rekaman itu terungkap oleh telinga Hazel.
Dapat bonus oleh sebuah foto pembawa bencana, lalu lain lagi dengan fakta paling mengejutkan yang baru dia temukan bahwa korban yang dia tabrak dulu adalah Hazel.
Apabila di hubungkan cerita Jayden yang mengatakan Hazel pernah koma faktor kecelakaan fatal dan kemunculan Rega yang kerap mengirim teror pesan ke ponselnya yang merupakan Kakak tiri Hazel juga alias Adik dari Fatur, maka tuduhan Rega cukup masuk akal.
Dari banyaknya pasang mata yang menyaksikan dari sudut aula, ada satu sorot yang menatap nanar kearah Kyra yang berdiri diantara padatnya murid-murid disana.
Kedua tangannya terkepal kuat. "Lo, udah manfaatin, gue Ky.."
Sedangkan lain lagi, dengan lengan Hazel terbuka lebar menampilkan senyum pahit. Menunjukkan sebuah aula yang sudah didekorasi sedemikian rupa, sebuah spanduk bertuliskan sebuah pernyataan perasaan disana. I LOVE YOU, HAZEL CALIANDRA MERCENA.
"Ini semua untuk apa, Lix?! Untuk mematangkan sandiwara lo?!"
Ditemani kekehan sumbang, Hazel bertepuk tangan, dia benar-benar takjub akan fatamorgana yang diciptakan oleh Calix.
Bersikap seolah-olah cinta yang dia miliki itu nyata padahal faktanya itu tidak lebih hanyalah angan-angan belaka. Dan bodohnya, Hazel menaruh harapan akan sesuatu yang tidak akan menjadi nyata. Miris sekali bukan?
"Kalo tujuan lo untuk memerankan sandiwara lo dengan sempurna, selamat Tuan Calix! Lo berhasil, lo berhasil mengelabui gue dengan sikap manis lo dan buat gue jatuh. Jatuh sedalam-dalamnya."
"Zel, bukan. Bukan kaya gitu. Gue bisa jelasin." Calix berusaha menyentuh Hazel. Naas sekali, gadis itu selalu ada cara untuk menampiknya secara kasar.
"Apa?! Lo mau menjelaskan bahwa lo berniat menodai gue dan akan mencampakkan gue setelah lo udah mendapatkan sesuatu yang berharga pada diri gue. Itu maksudnya?" Tahan. Sekuat hati Hazel menahan air mata yang siap terjun jika dia berkedip sekali saja.
Calix menggeleng menyangkal tudingan yang pada awalnya adalah suatu kebenaran. Akan tetapi, tidak untuk sekarang, dia benar-benar tulus. "Bukan. Bukan begitu. Zel, gue mohon, dengerin gue dulu."
Tidak ada lagi volume suara yang tinggi nan galak, sekarang hanya ada nada suara bergetar ketakutan.
Hazel memundurkan langkah memberi jarak dari Calix yang terus-menerus mencoba menyentuh sisi lengannya.
"Jangan sentuh gue! Lo gak perlu cape-cape berusaha merenggut mahkota gue, karena tanpa lo lelah bertindak sampai ditahap itu, gue udah ternoda dari dulu. Gue, gak lebih hanya cewek jalaang, gak ada harganya lagi."
"Enggak. Lo berlian, Hazel.." Iris netra Calix berpendar sendu. Dia benar-benar telah terpojokkan.
Hazel menarik napas dalam dengan mata terpejam mencoba meredam amarah dan rasa kecewa yang kian melonjak didalam hatinya, kedua tangannya terkepal kuat. Ingin berteriak, ingin memukul, mencakar dan menjambak rambut lelaki sialan ini.
Tetapi sudahlah, Hazel sudah tidak ada tenaga lagi untuk melakukan itu. "Ayo akhiri hubungan kita. Gue lelah dengan permainan lo selama ini. Hari ini, detik ini juga, we really are over."
Hatinya mencelos dalam, lutut Calix melemas saat itu juga. Tidak. Bukan ini yang dia inginkan. Dia sudah menyiapkan segalanya. Untuk mengakui rasa yang dia simpan.
Rela bekerja keras menjadi driver ojek online demi mengutarakan segalanya hari ini, mengapa justru membawa malapetaka. Tidak pernah terbayang dalam benaknya bila kata-katanya yang sudah berlalu malah menjadi boomerang paling hebat untuknya.
"Zel--" Tidak ada cela sama sekali. Calix tidak diberikan celah untuk menjelaskan semuanya. Lagi dan lagi, Hazel menyela setiap ucapannya.
"Satu langkah lagi kaki lo melewati batas. Gue benar-benar gak akan mau melihat muka lo lagi." Intonasi suara Hazel yang telah memunggunginya sangat dingin dan mampu mencegat langkah Calix. Hazel mencoba berpura-pura kuat, tapi dia kalah dengan air matanya.
Setelahnya, Hazel benar-benar berlalu dari sana meninggalkan Calix dan pusat perhatian. Sesekali menyeka cairan yang menitik tanpa permisi. Sejak hari ini, seluruh perasaan Hazel luruh bersama air matanya. Sejak hari ini, Hazel paham ternyata dirinya tak seberharga itu.
Tidak berselang lama dari itu, Calix dapat merasakan sentuhan di bahunya. "Kalo lo gak bisa buat dia bahagia, biarkan dia bahagia bersama dengan orang lain."
Untuk terakhir kali, Rega mendesis nyalang sebelum pergi menjauh dari sana. Emosinya masih meluap-luap, namun hubungan Hazel dan Calix telah usai, ini sudah lebih dari cukup dibanding memberikan pelajaran untuknya.
Sepeninggalan Hazel dan Rega, Calix membanting kuat buket bunga juga cincin yang sejak tadi dalam genggamannya, erangan kacaunya pun turut mengiringi. Dia mengumpat tertahan. "Gak Zel enggak!! Perasaan gue nyata! Gue gak pernah main-main sama lo!"
"Gue benar-benar tulus sama lo!" Jeritnya frustasi. Percuma, dengar sekalipun Hazel tidak akan percaya lagi padanya.
Flashback on.
"Jadi, ceritanya lo bener-bener udah suka nih sama si Hazel?"
Calix menoleh pada kedua temannya yang kini menatapnya jahil dengan kedua alias naik turun menggodanya, dirinya memandangi mereka secara bergantian. "Enggak kok."
"Lah terus?"
"Siapa bilang gue cuma suka? Gue udah menyadari kalo gue, cinta sama dia, bukan hanya sekedar suka."
Farel dan Candra tidak henti-hentinya dibuat tercengang. "Keren! Keren! Jujurly kita-kita sih mana-mana aja mah mendukung lo! Ikut seneng kalo lo sudah menyadari perasaan lo yang sebenarnya. Sekarang, langkah lo untuk selanjutnya apa?"
"Emang kalian pikir gue cari pekerjaan untuk apa? Yah agar gue dapet uang untuk persiapan nembak dia."
"Kok nembak? Mati dong nanti."
"Yang serius ck."
"Ngapain nembak lagi? Kalian kan udah jadian?"
"Yang kedua kalinya biar lebih resmi gitu. Dihari jadian kami yang pertama, momennya gak berkesan, terlalu mendadak. Alhasil, gak ada wah-wahnya."
"Jadi, lo mau cara yang lebih wah, gitu?"
"Lagian buat apa lo cari kerja buat persiapan menyatakan perasaan lo? Kartu kredit lo aja lo bagi-bagi ke kita saking banyaknya, fasilitas lo mahal-mahal, aset berharga lo apalagi, masa buat persiapan nembak cewek aja, gak bisa?"
Farel mengangguk-angguk satu pemikiran. Kalau sudah ada yang mudah, ngapain cari yang sulit? Itulah prinsip nolep mereka yang tertanam dalam jati diri mereka.
"Bukan gitu Ck." Lagi dan lagi Calix berdecak, "Semua itu milik Bokap gue. Setidaknya, untuk nembak orang yang paling spesial di hati gue, gue harus pake tetesan keringet gue sendiri. Gak boleh pake duit orang tua, biar lebih berkah dan indah hasilnya."
Flashback of.
"Hazel.." Meremas ujung roknya, Lia menunduk dalam, dia merasa bersalah karena telah menjadi sebagian konflik dari berakhirnya hubungan Hazel dan Calix. Dia juga ada di aula tadi, menyaksikan pertengkaran mereka.
Jujur, seiring berjalannya waktu dia mengenal Calix, sejauh ini dia mengakui bahwa dirinya menyukai Calix pribadi. Namun, dia tidak ada niat merebut ataupun menghancurkan hubungan mereka, bisa dikatakan hanya sekedar mengagumi. Tidak lebih dari itu. "Maaf.." Cicitnya.
"Buat?" Menarik sebelah alis, Hazel pura-pura tidak tahu.
"Maaf udah menghancurkan hubungan kalian... Itu--aku benar-benar gak tahu saat itu Calix akan menciumku, dia--yang mencium duluan.."
Kedatangan Lia didepan mata benar-benar semakin memporak-porandakan suasana hati Hazel. Dia, berdecih sinis. "Munafik."
"Humm?"
Berdirilah Hazel, dia maju menipiskan jaraknya dengan Lia, menggapai kacamatanya dan melemparnya ke sudut kelas. Kaca benda itu sudah retak akibatnya. "Cewek munafik ulung!! Gak usah pake kacamata lo itu! Penampilan culun lo gak mencerminkan sama sekali dengan kepribadian ganda lo! Dasar muka dua! Berlagak jadi orang polos, padahal munafik handal!"
Tubuh Lia bergetar hebat, dia diserang rasa takut melihat alangkah tidak bersahabatnya aura Hazel, atmosfer di ruangan kelas itu pun berubah dari yang awalnya adem menjadi memberat. "A-aku gak munafik.. aku benar-benar minta maaf..."
"Heh gak usah memainkan peran lo! Disini tempat sekolah bukan tempat artis gadungan kayak lo berakting!" Tersenyum miring, Hazel lantas mendesis tajam disamping Lia.
"Lo kira gue gak tahu orang yang dorong gue di kolam waktu itu? Lo kan orangnya?" Masih dengan satu susut bibir terangkat, Hazel menyenggol lengannya secara kasar lalu keluar dari kelas menyisakan beberapa orang siswa dan Lia yang sedang membeku.
*****
Calix nangis di pojokan🤧🤣