
"Wuih! Doi dateng!" Seperti biasa, Candra bersiul-siul menggoda ketika Hazel memasuki pintu kamar Calix dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur, lengkap dengan segelas air putih.
Calix? Tidak usah ditanya reaksinya. Manik netra hitam legamnya sudah menampilkan binar-binar bahagia.
Taraf angka kesehatannya naik mencapai angka 100% bahkan lebih. Sayangnya tidak dengan wajah cakep-nya yang sudah pucat pasi seperti mayat hidup.
"Doi? Gak salah tuh?"
"Mantan lebih tepatnya!"
Asli, Calix ingin menendang Candra dan Farel keluar dari sini menangkap sindiran-sindiran yang bikin indera pendengarannya jadi panas dalam seketika.
Kehadiran mereka disini dalam rangka membesuk Calix. Sialnya, Calix paling tidak mengharapkan kedatangan mereka. Dia ingin mereka langsung enyah saja sekalian kalau perlu.
Meletakkan nampan diatas nakas, Hazel kemudian mengambil tempat duduk ditepi kasur, Calix yang melihatnya pun sontak menepuk-nepuk space kosong didekatnya memberi isyarat pada Hazel untuk duduk ditempat yang dia tunjuk.
Ranjangnya berukuran king size. Besar dan luas, Calix berjarak cukup jauh dari Hazel sekarang. "Sini, Azel.."
Membuang napas ringan, Hazel pun menurut merangkak mendekati Calix. Tanpa diduga-duga Calix langsung melingkarkan tangannya di pinggang Hazel.
Dengan tingkah super manjanya, dia mendusel-duselkan wajahnya diperut Hazel.
"Aku siapa? Aku dimana?" Farel berseru-seru. Masa bodo lah, Calix menganggap mereka sebagai anjing menggonggong.
"Ah sudahlah! Kita-kita pamit dah! Gak sanggup lihat pemandangan yang bikin memuntahkan isi perut!" Candra menarik Farel keluar dari sana. Tidak mampu jika harus disuguhi pemandangan uwuh yang bikin jiwa jomblo fasibilitasnya meronta-ronta.
"Baby-nya sehat?"
Usai kepergian mereka, menengadah lah kepala Calix dengan wajah sok polosnya dia mempertanyakan satu pertanyaan yang sungguh membuat Hazel ingin menyentil keningnya. Apalagi sebelah tangannya sudah hinggap diperut Hazel yang terlapisi baju.
"Kayaknya keadaan lo bener-bener mengenaskan sampai otak lo juga ikutan gesrek. Nikah aja belom, apalagi sampe punya baby segala? Mimpi lo ketinggian."
"Yaudah makanya ayok nikah. Mau kapan? Besok? Lusa? Atau besok-besoknya lagi? Yang penting harus secepatnya. Gak mau lama-lama nanti Azel diambil orang.."
Hazel tidak merespon lagi, malas jika menanggapi maka arahnya akan lari kemana-mana. Oh ayolah, Calix perlu di ingatkan kembali kalau mereka sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi.
Percaya tidak percaya disini Hazel sekuat mungkin menahan rasa gemasnya kini. Bagaimana tidak? Bayangkan saja seorang laki-laki seberingas Calix tiba-tiba menjadi seperti bayi dadakan, dia menempelkan punggung tangan Hazel disebelah pipinya dengan kelopak mata terpejam.
Dia pun sudah menjadikan paha Hazel sebagai bantalan. "Kata Mami lo, lo berencana mau mogok makan?" Satu tangan Hazel lihai menari-nari di kepala Calix, mengelus-elus rambutnya pelan.
Seulas senyum pahit terbit, Calix paham bahwa Hazel mengubah arah percakapan mereka. "Rencana gitu kalo lo gak dateng.."
Hazel mengusap cairan merah segar yang mengalir dari dua lubang hidung Calix, dia mengangkat jari telunjuknya mengamatinya dengan seksama. "Lo mimisan."
"Ah? Mimisan?" Menggunakan punggung tangan, Calix menyeka sesuatu yang terasa basah dibawah indera penciumannya, dia melihatnya kemudian.
"Bangun dulu, bentar." Hazel mengangkat Calix agar posisinya berubah menjadi duduk, selama Hazel bergerak mengambil tissue beserta nampan dari atas nakas, Calix hanya mengamatinya dengan posisi bersila dipermukaan seprei.
Dengan telaten Hazel membantu Calix menyeka darah segar yang masih mengalir dari hidung Calix memakai tissue. "Lo kenapa sih hmm? Kok bisa sakit parah kaya gini? Sampe mimisan segala lagi."
"Lo khawatir sama gue?"
"Kalo ada jawaban yang bikin lo senang, anggap saja begitu."
"Yaudah, gue anggap lo khawatir sama gue."
Hanya membalas dengan deheman. Selesai mengurusi mimisan Calix, Hazel pun beralih ke tahap selanjutnya, yakni mengisi perut Calix. "Makan dulu selagi buburnya masih anget."
Dia mulai menyuapi Calix. Tidak ketinggalan dengan ceramah yang dilayangkannya. "Jadi anak harus patuh, lo gak boleh keras kepala. Jangan buat orang tua lo cemas dengan kondisi lo. Jangan terus-terusan bergantung sama gue, karena setelah lo pulih, kita akan kembali jadi orang asing."
"Setelah di pikir-pikir, kayaknya sakit ada untungnya juga."
Gerakan Hazel yang akan menyuapi Calix untuk kesekian kalinya tertunda di udara mendengar celetukan Calix yang ketika itu membuat Hazel sedikit tidak senang. "Untung dari mana? Yang siksa lo sendiri, bukan orang lain."
Empat mata berjumpa. Salah satu pihak menyorot dengan pandang tidak terbaca dan satunya lagi dengan iris yang redup. "Kalo dengan rasa sakit yang gue derita bisa buat lo peduli sama gue, gue pengen sakit selamanya."
Tamparan gemas dari tangan mungil Hazel mendarat sempurna di mulut Calix yang sedang mengunyah. "Omongannya di jaga! Ucapan itu do'a lho."
...*****...
"Jadi, bagaimana keadaan Putra saya Dok? Apakah selain demam, ada penyakit yang serius? Sebelumnya dia pernah batuk-batuk sampai muntah darah. Tadi juga dia mimisan kata temennya." Tanya Athala setelah seorang Dokter Pria memeriksa Calix.
Sesi makan telah tuntas, Pak Dokter yang dipanggil oleh Athala sekarang sudah berada dikediaman Ragaswara memenuhi tugasnya sebagai seorang Dokter.
Bukan seperti tadi yang mana kamar Calix yang hanya di huni oleh Hazel dan Calix, kini disana ada Mami dan Papi Calix juga. Thea juga ada.
Pria berseragam putih itu menggulir pandangan menatap Ruby, Athala, Hazel juga Thea yang ada di satu ruangan yang sama dengannya satu persatu, mereka juga menantikan jawaban darinya.
Beliau menurunkan stetoskop dari telinganya. Dadanya nampak turun sesuai dengan hembusan napasnya yang keluar.
"Efek samping mengonsumsi minuman keras serta kecanduan bahan kandungan nikotin secara berlebihan yang membuatnya demikian. Pasien juga kekurangan darah. Disarankan, lebih baik pasien segera berhenti mengonsumsi alkohol dan rokok untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Dan lagi, kurangi begadang tiap malam, pola makannya juga di jaga."
Ruby melotot horor kearah Calix. "Calix? Apa saja yang kau lakukan selama tinggal di apartemen hah?!"
Baik dirinya mau pun Athala, tidak ada yang tahu apa saja rutinitas yang dilakukan oleh anak sulung mereka ini selama tinggal terpisah dari mereka.
"Ini tidak bisa dibiarkan, By.. Jangan kasih izin Calix untuk menginap di apartemen lagi!"
Ketegasan dari Athala memancing tatapan tidak terima dari Calix. "Mih? Pih? Calix pengen tinggal sendiri, gak mau tinggal disini...Thea berisik."
"Lah? Kok nama Thea jadi di bawa-bawa sih?!" Kedua tangan Thea bersidekap dada.
"Iya lah! Kuping Kakak bawaannya pengen pecah kalo lama-lama tinggal satu atap sama Adek siluman kaya lo!"
"Udah! Udah! Jangan berantem! Masih ada Pak Dokter disini, gak malu kalian hah?!" Mereka berdua benar-benar kicep akan sebuah selaan penuh penekanan dari Ibu mereka.
Pak Dokter hanya bisa tersenyum menyaksikan keributan kecil keluarga ini. "Saya akan menuliskan resep obatnya. Kalian bisa membelinya di apotik terdekat."
Setelah itu, Pak Dokter pamit undur diri. Athala dan Ruby mengantar Dokter tersebut sampai didepan.
Tidak lupa mengajak Thea keluar juga karena Calix tak suka dengan keberadaan orang lain selain mereka berdua di sini, dia juga secara terang-terangan mengusir Thea agar dia memiliki ruang berduaan dengan Hazel.
"Calix, awas saja kau macem-macem dengan Hazel." Sebelum mereka benar-benar pergi dari sana, Ruby sempat menggertak Calix dengan jempol yang dia jadikan ibarat pisau, gerakannya seperti mengiris dileher.
...*****...
Pandangan Calix menggelap, ditutupi oleh sebuah tangan mungil. "Bobo. Orang sakit harus banyak istirahat. Siapa tahu bangun nanti, keadaan lo sudah membaik."
Pergerakan Calix mengambil tangan Hazel untuk menariknya dari atas matanya, tak lepas tatapannya dari Hazel dari bawah, dimana kepalanya berpangku pada paha Hazel. "Gue takut..." Napas Calix tercekat di tenggorokan.
"Takut kenapa?"
Hanya diam, Hazel enggan merespon. Yang dibilang oleh Calix benar adanya, Hazel berniat pergi jika Calix sudah tidur.
"Balik, Zel...Balik sama gue ya?" Lirih Calix. Dia sudah membuang harga dirinya, egonya, gengsinya.
Alih-alih dihargai, lagi dan lagi Hazel tetap membisu. Justru yang ada Hazel membuang muka, "Disini."
Jari telunjuk Calix menekan dadanya sendiri, "Sakit, Zel.. Disini sesak kalo gak ada lo.. I need you.. cuma ada kehampaan dalam dunia gue tanpa lo..."
"Gue harus apa agar lo mau kasih gue kesempatan? Selagi gue bisa, akan gue penuhi apapun yang lo suruh.."
"Lo mau gue berubah jadi cowok teladan dan gak nakal lagi, gak sering berbuat onar lagi? Gak bandel lagi? Oke.. Lo mau gue buang mainan gue yang lain? Jadi cowok yang gak fuckboy lagi? Oke."
"Zel... Gue akan membenahi diri untuk berubah menjadi cowok yang lebih baik dari yang kemarin, gue gak akan main-main sama banyak cewek lagi, gak akan jadi cowok nakal lagi, akan gue pastikan hanya ada kebahagiaan kedepannya dalam dunia kita berdua. Gue gak bisa janji, tapi akan gue buktikan dalam usaha maupun tindakan."
"Zel..." Tak kunjung mendapat gubrisan pun, Calix akhrinya mengguncang lengan Hazel yang kini menundukkan pandangan setelah sebelumnya berdehem pelan. Calix masih menuntut sebuah jawaban. "Lo gak percaya?"
Melihat Hazel bersikeras tak bereaksi sama sekali, detik berikutnya Calix bangun, grasak-grusuk dia meraih benda pipi miliknya diatas nakas, dia mengutak-atiknya dihadapan Hazel, berinsiatif menunjukkan layar handphone miliknya.
"Nih, lo liat? Gue akan hapus ribuan kontak cewek yang gue simpan selama ini."
Benar saja, Calix menghapus satu persatu kontak-kontak berjejer disana sebagai bukti. Cukup lama dia menghapusnya karena terlalu banyak kontak.
Jangan kan kontak perempuan, kontak Farel dan Candra habis dia hapus, hanya kontak dengan nama '143🖤' yang tertinggal disana.
"Lo akan jadi satu-satunya mulai sekarang.. gak ada cadangan yang lain lagi.."
"Bentar?" Seketika merebut ponsel milik Calix dari tangan sang empu, Hazel memeriksa kembali satu-satunya nama kontak yang tersisa disana. "Ini kontak siapa?"
"Siapa lagi kalo bukan lo?"
"143, Maksudnya? Gue yang ke 143 gitu?" Pertanyaannya di gelengi oleh Calix.
Calix memamerkan senyum teduh. Dia menata helaian anak surai Hazel yang agak berantakan agar lebih rapi dari yang awal mula.
Tangannya turun, singgah di pipi yang semakin hari semakin bulat dan mulus ini, dia mengusapnya lembut. "My favorite girl.."
Gagal paham. Hazel tidak mengerti apa maksudnya. Alhasil, Hazel hanya meraup oksigen disekitarnya yang kemudian menaruh ponsel Calix disekitar seprai, dia menekan kedua bahu Calix untuk rebahan.
Kepalanya bukan lagi beralaskan paha Hazel, kali ini sudah berganti beralaskan bantal. "Mending lo tidur."
"Jangan kemana-mana asal.."
"Iya, gue disini." Hazel sengaja mengiyakan saja agar Calix cepat tidur. Menarik selimut tebal dan mengaturnya untuk membungkus tubuh Calix hingga sebatas dada.
Sekarang lelaki itu tiba-tiba merentangkan tangannya lebar-lebar. "Hugh. Kalo enggak, gue gak mau bobo."
"Ngelunjak, ck." Meskipun menggerutu, tak urung Hazel tetap melaksanakan persyaratannya.
Dia turut membaringkan tubuhnya disamping Calix berada di satu selimut dengan lelaki liar ini, langsung saja disapa oleh Calix dengan dekapan erat seerat-eratnya.
Kaki-kakinya pun sudah melilit tubuh Hazel menjadikan gadis itu sebagai guling hidup. Sehingga Hazel merasa tercekik akan hal itu. Pupil mata Calix telah tersembunyi dibalik kelopak matanya. Tetapi, masih juga bersuara.
"Benar kata orang, kalau rumah tidak selalu berbentuk bangunan maka obat juga tidak selalu berbentuk kapsul. Selain keluarga, sahabat, lo satu-satunya obat paling manjur sekaligus rumah paling terhangat dan ternyaman bagi gue, Hazel..."
Hazel tidak mau lagi menjadi orang idiot yang terjebak dalam permainan konyol Calix dan berakhir benteng yang dia bangun runtuh begitu saja. "Bobo Calix, bobo... Nyinyir mulu, kapan bisa tidurnya kalo gini?"
"Yes princess.." Gumam Calix hampir berbisik, dapat dia rasakan tangan Hazel yang menyapu-nyapu belakang kepalanya.
Lelaki berbadan atletis itu, merendahkan tubuhnya menyamankan dirinya ditempat yang dirasanya paling nyaman, parasnya sudah terbenam di dada Hazel.
Detak jam dinding memenuhi bilik, bergulir seiring berjalannya waktu. Calix berharap, waktu mengalir dengan lambat kemudian dirinya bisa memiliki waktu yang lebih lama bersama dengan Hazel.
...*****...
Pukul 15:10 Calix terjaga dari mimpinya, kelopak matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang ada di kamarnya, hal yang pertama menyapanya adalah langit-langit kamar lalu meraba-raba ruang disebelahnya.
Kosong. Dia langsung mengubah posisi badannya menjadi menyamping kemudian melihat ke sisinya. Rupanya benar-benar tidak ada orang. Hazel sudah pergi?
"Zel..? Hazel..?" Calix berharap sosok yang dipanggilnya menyahut dan dia masih berada disini.
Menyibak selimutnya, Calix bangun dengan pandangan bergerilya kesana-sini, beranjak dari tempat tidur memutuskan bergegas keluar dengan membawa langkahnya yang terseok-seok tak mendapati Hazel didalam sana, bahkan dia sudah memeriksa kamar mandi, lemari juga.
"Zel..? Lo dimana..?"
"Hazel..? Lo bohong.. katanya gak bakal pergi ninggalin gue.. katanya lo akan tetap di sisi gue.. nyatanya apa..?"
Selama dia menelusuri setiap sudut penjuru mansion, dia meracau-racau kacau. Yang terakhir sekarang area dapur.
Rasa putus asa kian berlipat ganda karena tidak kunjung menemukan Hazel dimana-mana. Kakinya melemas dan berakhir lututnya membentur lantai, dia jatuh bersimpuh.
"Hazel..." Tatapannya lurus, dikuasi oleh kehampaan yang mendalam.
"Calix..? Kamu kenapa?!" Ruby berniat mengambil cake di dapur untuk mereka jadikan camilan selama menonton televisi, malah mendapati sang anak yang terduduk lemas disana.
Ruby membantu Calix untuk berdiri. "Dilantai kotor, kenapa kamu duduk disana?"
"Mih.. Hazel Mih.. Hazel pergi... Dia bilang akan selalu di sisi Calix, tapi dia pergi, Calix gak menemukan Hazel dimana-mana.. dia bakal mengabaikan Calix lagi.."
"Hazel? Tadi dia izin pamit, katanya mau pergi ke rumah sakit."
Raut Calix seketika berubah drastis menjadi serius. Sebuah firasat buruk menghampiri. Dalam benak dia bertanya-tanya, siapa yang sakit? "Rumah sakit? Ngapain?"
"Dia dapat info bahwa ada sanak saudaranya menjadi salah satu korban kecelakaan jatuhnya pesawat semalam."
*****
...KODE ANGKA...
910 : Sorry, I hurt you
185 : I hate you
831 : I love you
143 : My favorite girl
124 : I miss you
244 : My Baby