
15 jam kemudian
Jet pribadi mereka sudah
landing dengan lancar
di Seokarno-Hatta
International Airport.
Jarak Amerika-Indonesia membutuhkan waktu 19 jam
jarak tempuh, tetapi dengan Jet pribadi milik Watson Group
tidak memerlukan transit
di Abu Dhabi,
Dubai.
Clarissa segera turun
dari Jet dan langsung
merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena duduk di
Jet selama berbelas-
belasan jam
* * * * *
Saat mereka berada di lobby bandara, seseorang memanggil Clarissa
“Kak Rissa!”
panggil Vanetha dengan
berlari kecil menghampiri Clarissa dan kakaknya Jonathan
Clarissa segera memeluk Vanetha
“Aku kangen kak Clarissa”
ucap Vanetha
Jonathan berdehem
Vanetha segera berpindah
memeluk Jonathan
“Kak Joe sekarang bertambah
tinggi” gerutu Vanetha
“Memangnya kenapa hmm?”
ucap Jonathan mengacak rambut Vanetha lembut
“Ish kak!”
pekik Vanetha
Jonathan hanya tertawa
melihat Vanetha kesal sama
seperti dulu
“Kak, Nettha mau es krim”
ucap Vanetha
“Manja” ucap Jonathan
“Biarin”
“Udah gede masih aja manja”
“Yang penting aku cantik hehe”
“Kak Clarissa mau es krim?”
tanya Vanetha
* * * * *
Selama di mobil hanya
ada celotehan Vanetha dan
Clarissa. Tadinya Jonathan
ingin duduk di samping kursi
Clarissa tetapi Vanetha
memarahinya.
Vanetha terus menerus
menyindir Jonathan dengan
sebutan ‘Bucin’ karena Jonathan
yang terus menempel kepada
Clarissa.
Jonathan terhanyut dalam lamunannya. Sesekali ia melirik Clarissa dan Vanetha yang bertukar cerita
Mobil mereka berhenti di
depan kedai es krim
“Kak ayo turun,” ucap
Vanetha menarik tangan Jonathan dan Clarissa
Clarissa hanya tersenyum, karena ia tidak dapat menolak permintaan Vanetha.
Jonathan mendengus pasrah
Mereka sekarang sedang menunggu pesanan mereka yaitu 3 cup es krim yang berbeda rasa. Jonathan memesan rasa cokelat, Vanetha memesan rasa stroberi, Clarissa memesan rasa vanila.
Setelah mereka menghabiskan es krim, mereka langsung menuju mansion kediaman Addison.
Seperti yang kalian tahu, Vanetha terlalu bersemangat saat menceritakan kejadian yang di alaminya setelah Clarissa melanjutkan pendidikannya di Amerika. Sekarang Vanetha sudah terlelap karena kelelahan.
Jonathan pun mendesah lega,
karena sumber kebisingan sudah
terlelap. Jonathan juga terheran-heran
dengan sikap Vanetha yang belum juga dewasa. Vanetha menjadi lebih kekanak-kanakkan dan manja karena sedari Vanetha kecil selalu dilimpahi dengan harta. Semua permintaan Vanetha akan di belikan Richard ayahnya. Tidak jarang juga Hellena ibunya sering bertengkar dengan ayahnya karena Richard terlalu memanjakan Vanetha.
Mobil hitam tersebut memasuki sebuah mansion megah dengan gaya classic. Mobil tersebut berhenti di depan mansion yang terdapat air mancur yang cukup besar.
“Joe, Vanetha tertidur. Bagaimana mengangkatnya?” tanya Clarissa dengan berbisik
“Kamu duluan aja masuknya. Nanti aku gendong Vanetha” sahut Jonathan seraya membuka pintu mobil untuk mengangkat Vanetha
“Tapi—” Clarissa tidak melanjutkan protesnya karena Jonathan menatapnya dengan tatapan tidak ingin di bantah
Clarissa hanya menurut
Clarissa menunggu Jonathan
yang sedikit kesulitan mengangkat Vanetha. Walaupun Vanetha bersikap kekanak-kanakkan, tetapi tubuhnya bak model proposional. Tidak jarang juga Vanetha bertindak ceroboh, oleh sebab itu Vanetha di jaga oleh salah satu asisten pribadinya.
Jonathan menurunkan tubuh
Vanetha di atas sofa yang tidak jauh dari pintu utama mansion.
Vanetha mengubah posisi tidurnya. Hampir saja Vanetha terjatuh dari sofa, karena ukuran sofa tidak terlalu besar.
“Ada-ada aja kamu Van,” gumam Clarissa. Jonathan menepuk pundak Clarissa pelan, yang membuat empunya membuyarkan lamunannya.
“Ayo Cla, mum sama dad udah nunggu kita” ucap Jonathan sambil menatap manik Clarissa lekat
“Tante sama om gak ada?” tanya Clarissa sedih
“Maaf Cla, mereka masih ada
di London. Nanti mommy janji mau ke apartementku” sahut Jonathan yang mendapatkan anggukan dari Clarissa
...To Be Continued...