
Kedatangan Sasa beserta keluarga dari Solo memang tengah dinantikan oleh Ajeng dan Bimo di Bali. Selesai dari tempat SPA, pasangan suami istri itu memilih untuk menunggu kedatangan keluarganya di lobby hotel.
“Sebenernya mereka udah sampai mana sih? Kok di whatsapp ga dibalas-balas?” ucap Ajeng sambil mengecek ulang pesan di whatsappnya.
“Ini Deni baru aja balas whatsapp ku. Katanya mereka baru ada di jalan menuju sini. Maybe beberapa menit lagi mereka sampai sini,” sambung Bimo sambil memegangi handphonenya. “Kita nunggu mereka di lounge bar yuk, sayang. Sambil order teh,” ajak Bimo yang kemudian berdiri dari sofa tempat duduknya.
Ajeng pun mengikuti ajakan suaminya itu. Karena memang lokasi lounge bar berada di dekat lobby hotel, jadi mudah bagi Ajeng memantau kedatangan Sasa dan keluarganya.
“Good afternoon. Welcome to King Cole Bar...” sapa seorang waitress.
“Good afternoon. Meja untuk dua orang. Kalau boleh outdoor area,” ucap Bimo sambil menggandeng tangan Ajeng.
Keduanya begitu terkejut ketika melangkahkan kaki di outdoor area pada lounge bar itu.
“Raka? Sejak kapan kamu stay di sini?” tanya Bimo heran. Raka yang tadinya duduk santai pun langsung berdiri memberi salam kepada Bimo dan Ajeng.
“Hai, om! Tante... apa kabar? Jumpa lagi kita,” sapanya dengan sopan. “Mari om, tant... duduk di meja saya,” pinta Raka.
Merekapun akhirnya duduk bersama sambil menikmati teh dan camilan.
“Kamu di sini sama siapa?” tanya Bimo setelah mereka duduk pada satu meja.
“Saya sama family ke sini. Ada om Raja juga sama familynya. Kebetulan papa saya sama om Raja dapat undangan di acara wedding rekan kerjanya. Sebetulnya tadi kita ngeteh ramai- ramai. Tapi Karena pada mau beli kado buat acara wedding besok, jadi mereka ninggalin saya di sini sendiri,” jelas Raka.
“Wedding siapa?” tanya Bimo.
“Wedding om Kevin. Dengar-dengar calonnya orang Solo juga kayak kota asal tante Ajeng,” jawab Raka yang kemudian melirik ke arah Ajeng.
Mendengar nama Kevin dan juga asal calon pengantin yang ciri-cirinya mengarah pada kenalannya, Ajeng pun menjadi curiga kalau memang calon pengantin yang dimaksud adalah Kevin dan Ganis.
“Weddingnya besok sore di chapel hotel ini ya?” tanya Ajeng di sela-sela percakapan.
“Iya tante. Kok tante tahu?” tanya Raka balik.
“Hmm...... tante sama daddynya Sasa juga diundang di acara itu. Mereka itu teman tante,” jelas Ajeng.
“Wah... Kebetulan sekali ya... kita bisa happy-happy bareng lagi. Sasa mana tante? Om?” tanya Raka.
Baru saja Bimo akan menjawab, tiba-tiba suara anaknya itu muncul mengagetkannya.
“Taaa daaaaa......! Sasa udah sampai sini......!” ucap Sasa yang muncul di dekat pintu outdoor area. Ajeng pun segera menghampiri anaknya itu. Dia memeluk dan mencium kedua pipi Sasa.
“Waaa.... mommy kangen sama kamu. Ayo duduk sini!” ajak Ajeng.
Deni yang selalu menemani Sasa pun ikut duduk bersama satu meja.
“Hai om Deni! Apa kabar? Nice to see you!” sapa Raka memberi Salam.
“Baik... Nice to see you Raka!” sapa Deni balik.
“Kak Raka apa kabar? Kok aku ga disalamin? Udah lupa sama aku ya?” tanya Sasa mengadahkan tangannya mengajak berjabat tangan. Bimo dan Ajeng tersenyum kecil memandangi sikap Sasa.
“Hehe... Mana mungkin aku lupa sama Princess Disney yang hobby nonton film cartoon...” Raka menyambut tangan Sasa dengan berjabat tangan. Tidak itu saja, dia juga memeluk Sasa dan mengusap punggung Sasa.
“Meluknya jangan kelamaan. Nanti kalau pacar kak Raka lihat, bisa marah sama Sasa!” celetuk Sasa ringan.
Kalimat yang tidak terduga itu membuat orang di meja itu tertawa. Bimo pun juga kaget bagaimana bisa anak angkatnya itu yang notabene masih kecil sudah paham soal ‘pacar?’
“Ga ada, pak,” jawab Deni sambil membagi pandangannya kepada Bimo dan Ajeng.
“Om Deni ga ngajarin apa-apa, daddy...” Sasa mulai bergelendotan manja kepada Ajeng. “Om Deni selama daddy sama mommy gak ada di rumah selalu nemenin aku nonton film cartoon. Cuman om Deni sambil sibuk ngobrol di handphone sama pacarnya...” celetuk Sasa membuat muka Deni sedikit memerah. Kalimat Sasa yang sederhana itu berhasil membuat suasana di meja itu lebih hidup dengan celotehan-celotehannya.
________
Akhirnya acara pernikahan yang dikunjungi Ajeng dan Bimo sedang berlangsung penuh sakral. Mereka duduk satu meja bersama Galang, Kasih, Raja dan Sekar. Sementara itu anak-anak mereka duduk pada satu meja yang sama. Tapi karena Sasa merasa sedikit bosan, dia memilih untuk datang menghampiri dimana mommynya duduk.
“Mommy... Kok kak Raka ga milih duduk sama aku dan anak-anak yang lain disana? Adik kak Raka si Putri aja duduk semeja sama aku. Masa dia lebih milih duduk sama om Deni?” tanya Bunga berbisik di telinga Ajeng saat acara pemberkatan. Ajeng pun menoleh mencari keberadaan Raka dan Deni.
“Hm... soalnya kak Raka udah gede, sayang... Dia lebih suka milih duduk sama orang yang udah gede juga. Lagian kursi di meja Sasa juga udah penuh. Mungkin aja karena itu kak Raka milih duduk sama om Deni,” jawab Ajeng membelai rambut panjang Sasa. “Sasa mau duduk sama mommy di sini? Biar mommy pangku Sasa kalau mau,” ucap Ajeng menepuk pahanya.
Suasana sakral pun tak lama kemudian sudah selesai. Kini pesta meriah tengah dimulai dengan acara makan-makan ala standing party.
“Selamat ya Ganis. Semoga kamu bahagia selalu...” ucap Ajeng memberi pelukkan untuk Ganis. “Selamat pak Kevin...”
Ajeng memang dari dulu begitu akrab dengan Kevin dan Ganis. Tapi terakhir kali bertemu dengan Kevin dan Ganis, saat itu mereka bertemu pada suasana yang canggung dan kurang mengenakkan karena sempat terjadi baku hantam antara Bimo dan Kevin di cafe.
“Hai Kevin! Happy wedding,” ucap Bimo memberi salam kepada Kevin. Kevin pun menanggapinya dengan rasa tenang. “Sorry buat kejadian di waktu itu. Di cafe,” kata Bimo sedikit canggung.
“Hahaa... No worries. Saya sudah lupa. Happy wedding juga buat kamu sama Ajeng. I'm happy for both of you,” sambut Kevin menanggapi Bimo. Tidak ada rasa marah. Karena memang sebetulnya hanya salah paham.
Para tamu yang lain pun ikut memberi ucapan selamat kepada Kevin dan Ganis satu per satu. Nampak meriah. Adanya live music pun menambah hidupnya suasana wedding saat ini.
Kini tibalah saatnya acara yang dinanti-nantikan banyak kaum perempuan pada acara pernikahan. Menangkap buket bunga. Banyak anak perempuan yang masih kecil pun ikut memeriahkan moment itu.
“Kalian siappp? Hihiii.....” ucap Ganis mulai mencari posisi yang pas untuk melempar buket bunga yang dipegang olehnya. “One... Two... Three.......!”
Para perempuan begitu semangat mengikuti gerak jatuhnya buket bunga yang dilempar oleh Ganis. Tapi anehnya, justru Ajeng yang duduk santai bersampingan bersama Bimo, bunga itu jatuh di pangkuannya.
“Wow...?” ucap Ajeng heran memegangi buket bunga yang jatuh di pangkuannya. Para tamu di acara itu langsung melirik ke Ajeng.
“Kamu sudah jadi milikku. Mau nikah sama siapa lagi? Kasih ke yang lain buket bunganya,” bisik Bimo ke telinga Ajeng.
“Aku kan ga ada maksud buat ngangkap buket bunganya juga, mas... Aku lagi hamil anak kamu pun...” celetuk Ajeng mencubit lengan suaminya.
Ketika keduanya tengah asyik mengobrol, tiba-tiba saja Sasa datang merebut buket bunga itu dari tangan Ajeng. Dia membawa lari dengan memeluk buket bunga itu.
“Sasaaaaa........!” teriak banyak anak perempuan. Bunga, Putri, Gadis... anak Kasih dan Sekar pun mengejar Sasa yang berlari membawa kabur buket bunga itu.
“Ini punya kuuuuu.......!” teriak Sasa sambil berlari menghindari kejaran banyak anak perempuan. Tapi sayangnya saat dirinya berlari, dia menabrak pada kerumunan anak laki-laki.
Brugggg!
“Au....... Om Deni? Kak Raka? Kalian ngapain berdiri disini?” tanya Sasa dengan berkacak pinggang.
“Kamu yang nabrak kita,” ucap Raka dengan senyumnya. “Ini kenapa kamu yang jadi bawa buket bunga pengantinnya? Emangnya Sasa mau nikah sama siapa?” tanya Raka dengan nada sedikit bercanda. Deni pun hanya bisa tersenyum memandangi Sasa.
*****
Tamat...
*****
...Terimakasih sudah ngikutin kisah pasangan Bimo dan Ajeng ❤❤❤...
...Tunggu Novel Selanjutnya ya...........
^^^Masih dalam proses... Nanti pasti dibagi tahu...^^^