
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Bandung ke Tanjung Priok, akhirnya minibus yang ditumpangi Ajeng dan Bimo boleh dimasukkan ke kapal setelah melakukan pembayaran tambahan untuk minibus mereka.
“Sudah kamu packing beberapa baju kita kan, baby?” tanya Bimo memastikan. Dia ikut menghampiri Ajeng yang tengah sibuk di dapur mininya.
“Itu aku masukin baju ganti kamu sama aku di koper kecil. Ini aku lagi ambil serabi buat kita,” jawab Ajeng.
“Hm, thanks baby,” sambung Bimo.
Mereka segera keluar dari minibus dan berjalan menuju deck (lantai kapal) atas. Ajeng cukup antusias karena Bimo mengatakan memesan tiket kelas VIP.
“Room kita ada di deck berapa sih, Bim?” tanya Ajeng. Sudah 2 deck dia naik tapi belum sampai di kamarnya juga.
“Masih ada di atas lagi, baby,” jawab Bimo. Tangannya terus menuntun punggung Ajeng agar berjalan lurus ke depan.
“Besar banget ya, Bim kapalnya,” puji Ajeng dengan menoleh ke belakang. Dia memandangi lorong geladak yang begitu panjang.
Tak lama setelah mereka mencari kamar yang mereka pesan, kini keduanya bisa meregangkan badan setelah masuk ke kamar kelas VIP di kapal Kelud. Kamar yang memiliki tempat tidur berjenis double bed (bed besar) dan memiliki balkon itu sangat cantik.
“Wouuww... beautiful!” puji Ajeng. Tangannya dia rentangkan dengan menghirup udara dari balkon kamarnya.
“Do you like it?” tanya Bimo. Dia memeluk tubuh Ajeng dari belakang. “Next time kalau kamu mau, kita bisa pergi trip naik kapal pesiar.” Bimo ikut menikmati pemandangan bentangan laut dari balkon itu. Rambut harum panjang Ajeng yang menyapu wajahnya semakin membuat Bimo betah dan merapatkan tubuhnya memeluk Ajeng.
“I love you, Bim...” ucap Ajeng. Tubuhnya berbalik untuk menci um bibir Bimo.
“Love you too, baby...”
Kecu pan demi kecu pan saling mereka lakukan. Cahaya sunset yang tidak begitu terik, membuat keduanya semakin menikmati untuk saling mengu lum dan merapatkan tubuh keduanya. Punggung kekar dan lebar milik Bimo juga ikut dira bai oleh tangan Ajeng. Keduanya kembali terang sang saat tangan mereka saling mere mas bagian in tim satu sama lain. “Love you so much, Ajeng...” Bimo semakin membuka kakinya untuk memudahkannya menye sap leher Ajeng. Kaki Ajeng juga semakin berjinjit agar kekasihnya lebih mudah menikmati setiap inci lehernya.
Tapi baru saja permainan panas akan dimulai, Bimo merasakan handphonenya di saku celana bergetar.
“Panggilan dari siapa?” tanya Ajeng ketika Bimo sudah memegang handphone.
“Mama. Aku jawab dulu ya,” ucap Bimo. “Hallo, ma,” sapa Bimo dengan memeluk tubuh Ajeng kembali dari belakang.
“Hallo, Bim. Ini Jesslyn minta tolong mama. Katanya dia mau ngobrol sebentar sama kamu. Katanya gak lama. Cuma mau bahas soal apartment,” jelas bu Clara.
Mau tidak mau Bimo harus meminta izin ke Ajeng terlebih dahulu.
“Ajeng, ini mama bilang Jesslyn mau ngomong sama aku. Dia bilang cuma sebentar. Boleh atau tidak? Kalau kamu gak kasih izin , aku gak akan mau,” ucap Bimo di telinga Ajeng.
Ingin sekali rasanya Ajeng tidak mengizinkan Jesslyn untul berbicara dengan Bimo. Tapi karena Jesslyn sampai menggunakan handphone milik mamanya Bimo, mungkin saja apa yang ingin dibahas Jesslyn itu memang penting.
“Ok. Tapi gak lama ya. Aku mau kamu aktifkan rekaman obrolan kalian, biar aku bisa cek,” jawab Ajeng membuat Bimo menaikkan alisnya.
“Iya... Lagian kalau dia ngajak ngobrol aneh-aneh, aku gak akan menanggapinya,” sambung Bimo kembali mengke cup pucuk kepala Ajeng.
Akhirnya Bimo kembali berbicara lagi dengan Jesslyn. Ajeng memilih untuk berjalan-jalan di luar kamar untuk menyelusuri deck di depan kamarnya.
Di lorong deck itu saat ini nampak sepi. Dia berfikir mungkin saja tidak banyak pengunjung menggunakan deretan VIP room. Tapi baru beberapa saat Ajeng menikmati untuk mencium baunya angin laut, kakinya ditabrak oleh sesuatu.
“Vano... Tante kan udah bilang jangan nabrak-nabrak kaki penumpang!”
Suara itu cukup dikenal oleh Ajeng. Tidak tahunya saat Ajeng mencari sumber suara, dia juga mengenal wajah orang itu.
“Ganis...? Kebetulan sekali kita bisa jumpa di sini,” ucap Ajeng. Dia semakin berjalan mendekati Ganis temannya yang menjadi perantara dirinya mengenal Bimo.
“Hai, Jeng! Apa kabar? Lagi apa kamu di sini?” tanya Ganis dengan senyum berseringai. “Kemarin aku mampir di bengkel mas Idam. Hihiiii... Dengar-dengar kamu jadian ya sama tamu yang aku oper ke kamu itu?” tanya Ganis memastikan. Dari raut wajah Ajeng yang dia tangkap, sepertinya memang benar.
“Hihihiii... Hm... Iya. Gak nyangka juga karna sebelumnya aku sama dia udah saling kenal di Maldives,” jawab Ajeng dengan senyum yang terus merekah. “Ini anak siapa?” tanya Ajeng dengan memandangi anak cowok yang berdiri di depan Ganis.
“Owh, ini Vano... Anak tamu aku. Sorry ya kena tabrak mobil mainannya,” jawab Ganis dengan mengusap kepala Vano. “Vano, come on say sorry to aunty Ajeng (Vano, ayo bilang maaf ke tante Ajeng),” pinta Ganis.
Anak kecil laki-laki itu sedikit malu ketika disuruh minta maaf. Dia memilih bersembunyi di belakang Ganis.
“Oh oh oh... Pakai malu-malu dia... Hihiii...” Ganis mulai menggendong anak itu.
“Manisnya... Matanya biru... Bule mana dia, Nis?” tanya Ajeng dengan mengusap kepala anak itu.
“Aku bukan bule! Aku Indo tahu!” Sahut anak itu.
Ajeng dan Ganis terkekeh memperhatikan raut wajah Vano yang sedikit cemberut. Matanya mendelik dengan bibir sedikit manyun.
“Aduh aduh... Gantengnya... Anak siapa sih ini? Tante pikir bakal ngomong english...” sambung Ajeng menggoda Vano. Dia mengusap-usap rambut Vano. Sesekali juga mentoel pipi Vano.
“Iya dong ganteng... Vano kan anak papa Kevin,” celetuk Vano. Anak kecil itu terus menyambar ucapan Ajeng.
“Ow... Nama papanya Kevin... Hm... Itu pasti mobil-mobilannya yang beliin papa Kevin ya? Bagus banget,” sambung Ajeng dengan menoleh mainan yang sempat menabrak kakinya.
“Udah mau ngomong dia...” sela Ganis menjelaskan ke Ajeng. “Dari tadi pagi dia gak mau ngomong sama aku. Ini baru kenal kamu belom ada 5 menit udah mau ngecuis, Hihiii...” Ganis mulai mengepuk - epuk pantat Vano. “Kata bapak ni bocah, emak dia udah gak ada beberapa hari yang lalu. Sakit keras gitu lah katanya...” bisik Ganis kepada Ajeng. “Ini makanya si Vano diajak liburan sama pak Kevin. Biar agak lupa sama emaknya. Sekalian bapaknya juga refreshing,” jelas Ganis lebih lanjut.
Rasa empati Ajeng mulai muncul. Dia mengambil mobil mainan milik Vano yang berada di pojokan.
“Ini mobilnya tante ambilin,” ucap Ajeng.
Vano segera mengambil mobil mainan itu dari tangan Ajeng. Bibirnya pun ikut sersenyum kecil saambil menatap mata Ajeng.
Ajeng dan Ganis semakin gemas melihat ekspresi lucu dari Vano. Anak itu terlihat semakin manis ketika mengucapkan kata ‘thank you'.
Tidak sengaja ketika Vano mendekap mainannya, remot kontrol mainan di tangannya itu terpencet.
Gubrak! Mbeeeemmmm....! Gubrak!
“Waduh...? Jatuh ke deck bawah tuh, Van...” ucap Ganis dengan mencondongkan kepalanya melihat ke deck bawah. Ajeng pun ikut melihat ke deck bawah.
“Ambilin dong, tante... Please...” pinta Vano dengan menggerak-gerakkan kakinya.
“Iya... Kamu di sini dulu ya sama tante Ajeng,” ucap Ganis dengan menurunkan Vano dari gendongannya. “Tolong jagain Vano bentar ya, Jeng,” pinta Ganis.
“Iya, Nis. Vano sama tante di sini dulu ya....” ucap Ajeng dengan meraih tubuh Vano untuk digendong.
“He' em. Sana tante Ganis cepat turun ambil mobilnya. Vano ga akan nangis.” Anak kecil itu semakin terlihat pintar saja di mata Ajeng dan Ganis.
Akhirnya Ganis segera berjalan untuk turun ke deck bawah mengambil mainan. Sementara itu, Ajeng mengajak Vano untuk berbicara agar anak itu tidak merasa kesepian dan menangis.
“Emangnya Vano mau kemana naik kapal ini?” tanya Ajeng.
“Em... aku mau go to Singapoo. Papa mau ajak keliling Singapoo pakai mobil besarnya tante Ganis,” jawab Vano.
Ajeng mengangguk - angguk dengan senyum di bibirnya.
“Owh... maksud Vano pakai minibusnya tante Ganis? Hm... Pasti seru ya keliling Singapore pakai minibus besar...” goda Ajeng dengan mengepuk-epuk pantat Vano.
“Iya... kata papa kita juga mau cari mama di Singapoo. Nanti kalau mama udah ketemu, kita bisa keliling bersama pakai mobil besar. Sama tante Ganis juga,” jelas Vano.
Hati kecil Ajeng semakin tersentuh mendengar ucapan anak kecil itu. Secara menurut penjelasan Ganis, ibu dari anak itu sudah tidak ada karena sakit keras.
“Kok tante jadi sedih...? Tante Ajeng mau ikut kita keliling Singapoo juga ya?” tanya Vano dengan memandangi wajah Ajeng.
“Hihiii... kamu ni kok pinter banget sih,” ucap Ajeng. Dia tidak menyangka suasana hatinya akan terbaca oleh Vano.
“Ow... jadi tante betulan mau ikut kita keliling Singapoo?” tanya Vano semakin memandangi wajah Ajeng.
Tak lama setelah pertanyaan itu, Vano melihat papanya keluar dari kamar.
“Paaaa....! Tante Ajeng mau ikut kita keliling Singapooooo! Boleh, pa?” tanya Vano dengan suara kerasnya.
Ajeng menoleh ke belakang untuk melihat sosok orang tua dari Vano. Wajahnya terlihat masih muda. Bisa dibilang seumuran dengan Bimo.
“Van? Sama siapa?” tanya papanya Vano. Dia mulai berjalan mendekati anaknya yang digendong Ajeng.
“Selamat sore pak Kevin. Saya Ajeng, temannya Ganis. Tadi gak sengaja mobil mainan Vano jatuh ke deck bawah. Jadi Ganis titip Vano sebentar ke saya buat ke deck bawah,” jelas Ajeng.
“Owh...” Kevin mulai menengok ke deck bawah. “Thank you, ya. Sini kamu ikut papa, Van. Kasihan tantenya gendong kamu. Kamu pasti berat,” ucap Kevin dengan meraih tubuh Vano.
Tapi anak itu seolah tidak mau lepas dari Ajeng. Tangannya terus melingkar di leher Ajeng.
“Papa pasti belom mandi. Sana mandi biar harum kayak tante Ajeng! Harumnya kayak mama,” celetuk Vano membuat papanya sedikit malu.
Kedua orang dewasa itu saling tersenyum memandangi Vano.
“Papa bukannya belom mandi. Papa cuma gak pakai parfum, Van...” elak Kevin. “Sorry ya. Dari dulu memang Vano lebih menempel ke mamanya,” jelas Kevin dengan sikap ramahnya.
“Hehee... Gak pa pa, pak. Yang penting anaknya gak nangis,” timpal Ajeng.
Keakraban ketiga orang itu tidak tahunya dilihat oleh Bimo. Bimo yang sebetulnya dari tadi sudah selesai menelpon Jesslyn, sengaja membiarkan Ajeng untuk berjalan-jalan di luar kamar. Tapi tidak tahunya setelah dia membuka kamar justru mendapati pemandaangan yang membuatnya sedikit tidak suka.
“Ajeng,” sapa Bimo membuat ketiga orang itu menoleh.
Ajeng segera memberikan Vano ke tangan Kevin. Dia juga mengke cup kepala Vano setelah anak itu berada di gendongan papanya.
“Tante pergi dulu ya... Sampai jumpa lagi, ganteng...” Ajeng segera melambaikan tangannya dan berjalan menuju kamarnya.
Bimo yang sudah menunggu kedatangan Ajeng di depan pintu kamar harus menghela nafasnya.
“Siapa mereka?” tanya Bimo ketika sudah menutup pintu kamar.
“Itu tadi Vano sama papanya. Aku juga baru kenal mereka,” jawab Ajeng santai. Tapi dia mulai curiga karena Bimo menunjukan ekspresi wajah tidak suka.
“Bahas apa kalian sampai ketawa-tawa seperti tadi?” tanya Bimo dengan tatapan mata semakin tajam.
“Kamu kenapa sih, Bim? Kok mukanya makin garang gitu lihatin aku?” tanya Ajeng dengan wajah ikut serius menatap Bimo.
“Baru juga kenal kenapa bisa seakrab sampai ketawa-tawa segala? Emang ngomongin apa?” tanya Bimo semakin mengintrogasi.
“Em... ngomongin soal bau badan. Tentang parfum...” jawab Ajeng.
Ajeng semakin tidak tahu dengan perubahan sikap Bimo yang mendadak ngambek. Padahal biasanya dirinyalah yang sering ngambek.
“Bim...” sapa Ajeng dengan memandangi Bimo yang berjalan ke kamar mandi. “Kamu kenapa sih?” tanya Ajeng ikut menuju kamar mandi.
Haduh... Kenapa sih Bimo? Emang aku salah apa? Kok jadi ngambek...? Kan aku Cuma ngobrol soal parfum sama Vano dan papanya... Hm... batin Ajeng.
*****
Bersambung...
*****