
Berhadapan Lagi
Setelah mendengar jawaban Ajeng, Bimo merangkak menuju ke atas bed. Pelan-pelan dirinya mengke cup kening dan kedua pipi Sasa. Ajeng cukup senang melihat hal itu.
“Ayo kita pindah ke kamar sebelah,” ajak Bimo setelah selesai menc ium kening Sasa.
Ajeng pikir malam ini dirinya bisa istirahat secara tenang dengan memeluk Sasa. Tapi rupanya dugaannya itu salah. Bimo menarik perlahan- lahan tanganya untuk menjauhi Sasa agar bisa turun dari bed.
“Bim, boleh aku malam ini tidur dengan Sasa? Aku capek habis belanja banyak tadi,” bisik Ajeng memohon.
Tangan Bimo yang tidak terlalu kuat mencengkram tangan Ajeng, memberi cela kepada Ajeng untuk menarik tangannya kembali. Cepat-cepat Ajeng memeluk Sasa lagi seperti posisi semula dan memejamkan matanya.
Bimo mulai menghela nafas menghadapi sikap Ajeng. Padahal bila bermain ranjang, Ajeng hanya banyak diam dan menerima belaaaian dan seranganya saja.
“Huft......” Bimo terdiam beberapa menit untuk meredakan kekesalannya.
Ajeng sedikit membuka matanya untuk melihat apa yang dilakukan Bimo. Laki-laki yang sedang kesal itu tengah duduk di tepi bed sambil mencengkram kain seprei dengan kedua sisi tangannya.
“Butuh berapa menit lagi agar kamu tidak merasa capek?” tanya Bimo. Dia menoleh memperhatikan Ajeng yang sedang menutup mata. Kelopak mata yang bergerak-gerak itu membuat Bimo bertambah kesal karena Ajeng tengah berpura-pura untuk tidur.
Bimo mulai merangkak untuk masuk ke dalam selimut yang dipakai Ajeng. Gaun tidur yang dipakai Ajeng itu disibak oleh Bimo untuk dibuka. Secara paksa Bimo menarik ce lana da lam Ajeng untuk dibuka.
“Bim! Ck!” Ajeng berdecak kesal sambil menghalau tangan Bimo yang ingin mere mas bagian in timnya.
“Kamu tahu kan aku bisa melakukan dimana saja?” Bisik Bimo di telinga Ajeng. Telinga itu dia ji lati sambil mere mas keras dan mema sukan jarinya ke lubang yang biasanya mengeluarkan lelehan.
“Egghhh.... Ada Sasa di sini, Bim!” eluh Ajeng.
Bimo seolah tidak mempedulikan ucapan Ajeng. Tangannya meraih tu buh Ajeng untuk dibalikan ke hadapannya. Bimo memasukan ja rinya dalam – dalam sampai membuat bulu tangan Ajeng berdiri.
“Mmmmppppphhh... Cukup, Bim...” Ajeng meremas lengan Bimo agar Bimo menghentikan aksinya.
“Mau kulanjut di sini atau pindah ke kamar sebelah?” tanya Bimo. Dia mulai merangkak untuk bersiap menin dih tubuh Ajeng.
Hanya 2 pilihan itu yang bisa Ajeng pilih. Bila dia menolak, Ajeng sudah tahu jika Bimo akan tetap melakukan apa yang dia mau.
“Iya, ke kamar sebelah,” jawab Ajeng mengalah dengan berbisik. Dia takut bila Sasa akan bangun.
Akhirnya Bimo bisa tersenyum senang mengangkat tubuh Ajeng untuk di bawa ke kamar sebelah. Dia mulai mene lanjangi tubuh Ajeng dan menci um setiap jengkal tubuh Ajeng. Bimo bermain cukup lama di kedua pucuk dengan lihainya juluran lidah sambil menghi sap. Bagian in tim itu terus dia ge seeekkk sampai Ajeng harus membuka lebar lebar pa hanya.
“Aku mau kamu menye sapnya,” ucap Bimo yang kemudian mengke cup bibir Ajeng.
Bimo merangkak membalikan tubuhnya agar teman lonjongnya itu bisa masuk ke mulut Ajeng. Wajah Bimo yang sudah menghadap bagian lorong juga mulai menji lati dan menye sap milik Ajeng. Mulut Ajeng menganga menikmati lihainya lidah dan bibir Bimo.
“Hi sap milikku, baby...” pinta Bimo dengan menekan miliknya masuk ke mulut Ajeng.
Mereka saling menghi sap apa yang ada di depannya. Bimo mengarahkan tangan Ajeng agar merangkup kedua bulatan te lur untuk dire mas – re mas.
“Agghhh... Yeah...” de sah Bimo menikmati rang sangan yang dilakukan Ajeng. Jari - Jarinya ikut menusuk nu suk ke lorong yang sudah banjir.
“Bim...” de sah Ajeng setelah beberapa menit.
Bimo cukup tahu bila Ajeng sudah lelah bermain dengan bibirnya. Bimo membalikan badan dan menghu jamkan miliknya secara penuh.
“I love youuuuhh...” de sah Bimo.
Ajeng terdiam menerima dan merasakan miliknya dihen tak hen tak. Dia juga pa srah membiarkan Bimo mere mas dan memainkan buah ke nyalnya.
Malam ini Bimo bekerja keras untuk mengko cok miliknya agar bisa menyembur berkali – kali menyegarkan sangkar Ajeng. Dia memainkan banyak gaya sampai tubuh Ajeng lemas.
“Capek?” tanya Bimo. Dia menarik tubuh Ajeng ke dalam dekapannya. Bibir ranum itu Bimo ku lum dan dia se sap berkali kali.
Tok Tok Tok...!
“Mommy... Mommy...”
Suara Sasa itu menghentikan Bimo yang tengah menyantap bibir Ajeng.
“Sasa...” ucap Ajeng setelah Bimo melepas bibirnya.
Bimo segera menarik gaun tidur Ajeng yang ada di pojok bed.
“Kamu pakai bajumu, baby. Biar aku buka pintunya,” ucap Bimo yang kemudian segera memakai bajunya.
Ceklek......
“Daddy? Mana mommy?” tanya Sasa setelah pintu kamar dibuka oleh Bimo.
“Mommy ada di dalam. Tadi daddy ajak mommy ngobrol sebentar,” jawab Bimo berbohong. “Sini, masuk kamar sini. Kita tidur di sini saja,” ajak Bimo.
Akhirnya malam ini mereka bertiga tidur bersama. Ajeng mendekap Sasa dan Bimo mendekap Ajeng dari belakang.
“Thank you...” bisik Bimo. Dia mengke cupi tengkuk Ajeng dengan menempelkan benda lonjongnya ke bagian tubuh Ajeng.
Keesokan harinya Ajeng disibukkan dengan membuat sarapan dan bekal Sasa. Sedangkan Bimo sibuk berbicara di telpon dengan Deni.
“Sasa, bentar lagi om Deni sampai di sini. Kamu di antar sekolah sama om Deni,” ucap Bimo.
“Sasa mau diantar sama mommy,” celetuk Sasa. Dia memeluk pinggang Ajeng untuk merengek agar keinginannya dipenuhi.
“Daddy sama mommy ada acara. Kalau Sasa mau cooking class nya mommy sama daddy datang, Sasa harus nurut apa kata Daddy,” timpal Bimo. Dia membujuk Sasa agar anak kecil itu mau menurutinya.
Ya ampun... Acara apa lagi sih? Jangan bilang acara ranjang yang mau dia lakukan! Hm... Aku juga butuh istirahat, batin Ajeng mendelik menatap Bimo.
Meski kesal keinginannya tidak terpenuhi, akhirnya Sasa berangkat sekolah juga dengan diantar Deni.
“Emangnya kamu mau ajak aku ke acara apa sih Bim?” tanya Ajeng setelah Sasa keluar dari apartment bersama Deni.
“Em... Gak ada acara apa-apa,” jawab Bimo dengan senyum tipisnya. “Aku cuma mau kamu stay di dalam apartment. Karna kalau kamu antar Sasa ke sekolah, pasti nanti kamu ketemu kakakmu. Aku gak mau ambil resiko membiarkan mu keluar tanpa pengawasanku,” jelas Bimo.
Ajeng dibuat keheranan dengan jawaban dari Bimo.
“Tapi kan nanti waktu cooking class aku juga akan bertemu mbak Desi... Terus apa bedanya?” kesal Ajeng.
“Kalau cooking class nanti kan aku akan hadir... Jadi aku bisa awasin kamu di sana,” jelas Bimo santai.
Pagi itu Ajeng hanya bisa menonton televisi karena handphonenya masih berada bersama Bimo. Dia benar- benar merasa berada di sangkar Bimo karena tidak diizinkan keluar dari apartment.
“Bim, mana handphone ku? Aku mau telpon mbak Desi. Kasihan mbak Desi pasti dia hubungin aku buat bahas soal cooking class nya Bunga nanti,” ucap Ajeng sambil menatap Bimo yang tengah sibuk dengan laptop.
“Hm... Satu jam lagi kamu boleh telpon kakak mu setelah meeting microsoft team ku selesai,” ucap Bimo.
Ajeng mengintip layar laptop Bimo. Soal meeting online, Bimo memang tengah sibuk. Tapi yang buat Ajeng kesal kenapa sampai untuk menghubungi kakaknya saja dia harus pakai diawasi Bimo segala.
Akhirnya setelah satu jam berlalu, Ajeng bisa menghubungi kakaknya. Dia menceritakan secara singkat bila saat ini dirinya tengah bersama Bimo. Ajeng juga mengatakan bila dirinya akan menepati janjinya untuk menemani kakaknya itu untuk mendampingi Bunga di kegiatan cooking class.
“Happy? Sudah ngobrol sama sister mu?” tanya Bimo setelah Ajeng mengakhiri panggilannya. Bimo tersenyum tipis memandangi raut wajah kesal Ajeng. “Give me a kiss...” pinta Bimo dengan menunjuk bibirnya.
Butuh beberapa detik bagi Ajeng memutuskan untuk mencium Bimo atau tidak. Tapi bila dia tidak menuruti kata Bimo, tentu saja Bimo akan membuatnya berakhir di atas ranjang panas.
CUP! Ajeng memilih untuk memberi ke cupan di bibir Bimo. Awalnya hanya ke cupan saja. Tapi karena Bimo meraih tengkuknya, ke cupan itu menjadi ciu man panas. Bimo me re mas keras pantatt Ajeng. Dia menye sap habis Bibir Ajeng sampai mendorong Ajeng jatuh ke sofa.
Terjadilah adegan panas penyatuan si pejantan masuk ke lorong sangkar.
“Jangan pernah merasa lelah, baby. I love you...” ucap Bimo sambil menatap mata Ajeng.
Mereka bermain di atas sofa sampai siang hari. Tubuh Ajeng sudah penuh tanda merah karena Bimo mence capnya terus menerus.
“Sebentar lagi aku ada meeting via Microsoft team lagi. Setelah itu kita pergi ke sekolah Sasa untuk cooking class,” ucap Bimo sambil memakai celananya kembali.
Ajeng meringkuk lemas karena ulah Bimo yang tidak memberinya istirahat. Dia hanya menarik bajunya untuk menutupi tubuhnya setelah dinikmati Bimo.
“Are you ok?” tanya Bimo mulai duduk di samping Ajeng. “I love you... Kamu bisa tidur. 2 jam lagi aku akan bangunkan kamu untuk pergi ke sekolah Sasa,” ucap Bimo yang kemudian mengke cup kening Ajeng.
Ajeng benar – benar menggunakan waktu 2 jam yang Bimo berikan itu untuk tidur. Tubuhnya sangat lelah dan terasa remuk karena permainan panas yang dilakukan Bimo.
_______
Setelah 2 jam lamanya Ajeng tidur, akhirnya dia harus bangun karena Bimo mulai membangunkannya untuk pergi ke sekolah Sasa.
“Gimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Bimo ketika dia menyetir mobil.
“Yeah... better (lebih baik)” jawab Ajeng yang kemudian menarik nafas dalam-dalam.
“Good...” mengusap pa ha Ajeng sambil fokus menyetir.
Setelah beberap menit kemudian, akhirnya mereka sampai ke sekolah Sasa. Bimo dan Ajeng segera menuju ke ruang cooking class di sekolah itu. Tapi ada satu hal yang mengkagetkan Bimo dan Ajeng. Rupanya Bu Clara hadir juga di kegiatan cooking class Sasa.
“Mommy......!” sapa Sasa membuat bu Clara heran kenapa Sasa bisa memanggil Ajeng dengan sebutan mommy.
Setelah lima tahun lamanya, untuk pertama kalinya Ajeng harus berhadapan lagi dengan wanita paruh baya yang pernah membentaknya di tempat umum.
*****
Bersambung...
*****