My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Rencana Honeymoon



Segudang nama lokasi bermunculan di benak Bimo. Dirinya belum memutuskan akan membawa Ajeng berbulan madu kemana. Tapi yang pasti, Dia akan memberikan yang paling spesial untuk istrinya itu.


 


Setelah acara pemberkatan dan sesi foto selesai, mereka berlanjut dengan Pesta dansa di taman.


 


“You looks very beautiful today,” puji Bimo. Harum wangi parfum yang dipakai Ajeng juga menambah hasratnya untuk mengayun pinggang Ajeng agar terus berdansa dengannya. Leher jenjang Ajeng pun tidak luput dari ke cupannya. “Let's go for honeymoon setelah ini,” bisik Bimo pelan ke telinga Ajeng. “Hanya kita berdua...”


 


Setiap hal yang dilakukan Bimo, selalu saja berhasil membuat tubuh Ajeng bergetar. Gerak-gerik laki-laki yang sudah berhasil menanam benih di perutnya itu bagai pupuk yang menyemai rasa cintanya.


 


“Gimana dengan Sasa?” tanya Ajeng sambil menikmati bulu – bulu tangannya yang berdiri karena ulah suaminya.


 


“Ada Deni. Ada mama juga. Jangan kuatir. Kita hanya akan menghabiskan seminggu bersama. Itu bukan waktu yang lama,” jawab Bimo dengan rona bahagianya.


 


Bila sudah berkata demikian, tidak ada kata yang bisa menghalangi atau menggagalkan keinginan suaminya itu. Ajeng tersenyum gemas menggelengkan kepalanya. Mengingat setiap hari menghabiskan waktu bersama Bimo, dirinya merasa setiap hari itu adalah bulan madunya.


 


“Emang kamu udah ada rencana mau pergi honeymoon kemana?” tanya Ajeng ringan.


 


“Kamu maunya kemana?” tanya Bimo balik. “Europe...? Africa? Aussie...? Atau... America?” Setiap nama tempat yang diucap Bimo selalu ditutup dengan mengecuppii bibir Ajeng.


 


Hati perempuan mana yang tidak bahagia diperlakukan manis seperti saat ini. Tawa dari bibir Ajeng saat ini begitu lepas dilihat oleh Bimo. Sosok Ajeng yang dikenalnya saat perempuan itu patah hati, kini berhasil dibuatnya bahagia dalam ikatan pernikahan yang sakral di depan kedua orang tua mereka.


 


“Ga usah jauh-jauh, Bim. Di Indonesia aja. Kalau jauh-jauh nanti waktu seminggu itu habis buat perjalanan naik pesawat aja,” jawab Ajeng dengan penjelasannya.


 


“Kalau di Indo, maunya kamu kemana?” tanya Bimo semakin penasaran.


 


“Em... Kemana aja. Aku ikut ide kamu,” jawab Ajeng.


 


Terkadang Ajeng masih merasa takut bila ingin bermanja-manja dengan Bimo. Belajar dari pengalaman hidup, bila dirinya menaruhkan keinginan dan harapan, hatinya takut bila harapannya itu tidak tersampaikan. Dikhianati setelah bertahun-tahun menjalin kasih dengan laki-laki di masa lalunya, ditambah lagi sempat ditinggalkan Bimo bertahun-tahun tanpa kabar... Kini Ajeng lebih memilih untuk berserah dan mengikuti alur dalam hidupnya.


 


“Kali ini aku ingin dengar keinginan calon ibu dari anakku. Tell me baby... Biar aku yang menurutimu,” sambung Bimo. Dirinya mencoba untuk mengikuti kemauan istrinya itu. “Dimana pun tempat honeymoon yang kamu pilih, asalkan  selalu bersama denganmu, Itu gak akan jadi masalah buatku,” jelas Bimo yang hembusan nafasnya bisa dirasakan oleh Ajeng.


 


Ajeng menjadi bingung harus menjawab apa. Tapi tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya tentang makanan seafood yang pernah dia santap di Batam saat bersama Bimo.


 


“Em... Kamu ingat gak waktu lima tahun yang lalu pas kita makan banyak seafood di Batam? Di Luxus Resort tempat partner bisnismu itu... si Galang,” ucap Ajeng membuat Bimo mengingat moment 5 tahun yang lalu.


 


“Yeah...” jawab Bimo dengan senyumnya. “Kamu mau kita honeymoon ke sana?” tebak Bimo membuat Ajeng tersenyum.


 


“Bukan ke sana...” sambung Ajeng menggelengkan kepala. “Kamu ingat gak waktu itu kamu bilang mau ajak aku buat makan fresh seafood di restaurant underwater Lagoi Pulau Bintan?”


 


“Ahh...... Kamu mau kita ke Bintan buat makan fresh seafood?” ucap Bimo menebak kalau istrinya itu sepertinya sedang ngidam ingin makan seafood.


 


“Tebakan makan fresh seafoodnya udah benar... Tapi bukan di Bintan,” jawab Ajeng membuat Bimo mengrenyitkan alisnya.


 


“Terus... Kalau bukan disana kemana? Seingat aku, waktu itu aku bilang mau ajak kamu pergi ke Bintan aja...”


 


Ajeng tersenyum tipis sambil memandangi sorot mata suaminya itu.


 


“Ada satu nama tempat yang aku sebut pada hari itu,” ucap Ajeng masih dengan senyumnya. Ucapannya itu semakin membuat ekspresi wajah Bimo penasaran. “Habis aku bilang nama tempat itu... Terus kamu bilang kayak gini ke aku... Kemanapun kamu mau pergi, pasti aku antar,” ucap Ajeng berusaha membangkitkan memori di masa lalu.


 


Beberapa detik Bimo mencoba mengingat-ingat kejadian di masa lalu. Otaknya bekerja keras untuk mengingat setiap kata yang dia ucap pada 5 tahun yang lalu.


 


Huft... wanita... kalimat 5 tahun yang lalu saja masih dia ingat sampai hari ini... batin Bimo takjub dengan memori istrinya itu. Beberapa saat Bimo mencoba terus mengingat kejadian itu.


 


“Bali...? Kedonganan Jimbaran Bali?” tanya Bimo memastikan. Setelah beberapa menit mengingat, Dia teringat dengan kalimat Ajeng yang mengatakan pernah makan seafood di tempat itu.


 


“He'em...” Ajeng mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Bimo. “Hihihiii... Aku pingin makan di tempat itu lagi. Tapi kalau kamu gak suka... Kamu bisa pi—”


 


 


“Buat hotelnya, kamu yang pilih aja, Bim. Tapi kalau boleh, aku mau kita menginap di dua tempat. Pertama kita stay di daerah yang dekat persawahan 3 hari... terus habis itu 3 hari berikutnya kita stay di daerah dekat pantai,” jelas Ajeng dengan bola mata yang bergerak – gerak membayangkan suasana bulan madunya nanti.


 


Bimo tidak menyangka impian bulan madu istrinya itu akan sesederhana itu. Hanya makan seafood, menginap di daerah persawah dan pantai. Padahal bila Ajeng menginginkan pergi ke negara belahan manapun, dirinya siap untuk terbang bersama Ajeng. Termasuk mengesampingkan agenda kerjanya beberapa saat.


 


“Ok... Nanti kita cari hotelnya sama-sama,” ucap Bimo kembali mendaratkan bibirnya menge cup lembut bibir Ajeng. Perlahan menelusupkan dan mence cap dalam-dalam untuk menautkan li dahnya ke li dah istrinya.


 


Semua mata yang memandang adegan itu hanya bisa tersenyum. Sasa yang menyaksikannya pun ikut senang dengan senyum lebar di bibirnya.


 


“Om Deni...” sapa Sasa yang saat ini duduk di samping asisten daddynya itu.


 


“Yeah?”


 


“Om Deni kapan married? Lihat tuh... daddy sama mommy kissing nya lama banget. Sasa penasaran... apa sih rasanya? Manis? Atau.....”


 


Tiba – tiba saja tangan Deni hinggap di depan kedua mata Sasa. Dia menutup rapat-rapat mata anak atasannya itu agar tidak melihat adegan ciu man.


 


“Iiiiihhhh......! Apa sih om Deni ini? Aku kan mau lihat! Biar Sasa belajar juga...” gerutu Sasa sambil mencoba menarik tangan Deni yang menutupi matanya.


 


Rupanya kejadian itu dilihat oleh Raka. Raka hanya bisa tersenyum menepuk jidatnya. Dia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Sasa.


 


Setelah beberapa saat, akhirnya Deni melepas tangannya yang tadinya menutupi mata Sasa.


 


“Tuh kan...... daddy sama mommy udah selesai kissingnya! Om Deni sihhhh! Pakai acara ngelarang Sasa buat lihat! Kalau Sasa gak lihat begituan... Sasa harus belajar dari mana coba... Emang om Deni mau ngajarinSasa ?! Hmm......” Sasa meluapkan kekesalan dengan menyilangkan tangan di depan da da.


 


Deni hanya bisa tersenyum gemas memandangi bibir manyun Sasa. Tapi beda hal nya dengan Raka. Raka nampak tidak suka dengan cara Deni menatap Sasa.


 


“Kamu masih terlalu kecil buat hal begituan,” ucap Deni semakin membuat bibir Sasa manyun.


 


“Ngeselin! Sasa mau nyari Bunga aja! Om Deni ga asyik!” celetuk Sasa yang kemudian berdiri dari tempat duduknya.


 


Deni hanya bisa menanggapi dengan menggelengkan kepala menyikapi hal yang menurutnya konyol.


 


Kemeriahan pesta kecil setelah acara pemberkatan pernikahan itu akhirnya selesai juga. Kini Bimo dan Ajeng bisa bersantai melepas lelahnya di kamar hotel.


 


“Mau aku bantu bukain gaunnya?” tanya Bimo pelan. Tangannya bertengger di kedua bahu Ajeng.


 


Ekspresi wajah Bimo yang sering dilihat Ajeng itu sudah jelas tertebak apa yang diinginkannya sekarang. Bahasa tu buh dan gerak-gerik Bimo seolah meminta Ajeng untuk melayaninya. Tanpa menunggu jawaban dari Ajeng, jari-jari Bimo mulai menunjukan kelihaiannya untuk membuka gaun putih yang bertabur hiasan swarovski.


 


“Boleh aku minta sekarang?” tanya Bimo.


 


Ajeng tersenyum tipis menanggapi pertanyaan suaminya itu. Biasanya sebelum menikah, Bimo akan melakukan tanpa harus permisi atau meminta izin. Kalimat yang baru saja dia dengar itu membuat aliran darahnya tergelitik dan bulu tangannya berdiri.


 


“Menurut mu... Aku akan  kasih jawaban apa?” tanya Ajeng balik dengan senyum tipis di bibirnya.


 


*****


Bersambung...


*****