My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Pilihan Sulit



Malam ini Bimo disibukan dengan urusan Jesslyn lagi. Akibat kecelakaan yang terjadi di jalan raya dekat apartment itu membuat Jesslyn mengalamai luka yang serius pada bagian kepala belakangnya.


 


“Bim, apa gak sebaiknya kita bawa Jesslyn ke Australia? Mama takut dia gak bisa tertolong di sini,” ucap bu Clara sambil memandangi Jesslyn dari kaca jendela. “Sebenarnya kejadiannya gimana sih? Kok pelakunya gak bertanggung jawab gini?”


 


“Tadi itu Jesslyn sempat sadar habis kejadian tabrakan itu, ma. Tapi begitu si penabrak pergi, tiba-tiba dia pingsan,” jawab Bimo. “Aku juga udah lapor ke polisi buat nyariin mobil pelakunya. Tapi polisi bilang plat mobil yang nabrak Jesslyn itu gak terdaftar di system,” jelas Bimo lebih detail.


 


“Ck! Kok aneh sih... Terus ini gimana Jeslyn? Dokter bilang kalau dia gak segera sadar, kondisi bayinya bisa melemah. Mama takut dua duanya gak bisa tertolong...” bu Clara semakin panik.


 


Akhirnya malam itu juga Bimo mengambil tindakan untuk membawa Jesslyn terbang ke Australia sesuai dengan saran mamanya. Meskipun Bimo tidak suka dengan apa yang sudah diperbuat Jesslyn kepadanya, dia merasa tidak tega juga bila menelantarkan Jesslyn dalam kondisi tidak sadarkan diri. Bagaimanapun, setiap orang berhak memiliki kehidupan yang layak. Apalagi bayi yang tumbuh di perut Jesslyn itu sebetulnya sebentar lagi akan lahir ke dunia.


______


 


Pagi ini bu Heni disibukkan dengan mengobrak-abrik dapurnya.


 


“Perasaan kemarin aku taruh handphone Ajeng di sini... Tapi kok gak ada ya? Hm... Apa jangan-jangan ada tikus atau kucing masuk yang ngambil handphone itu?” ucap bu Heni sambil terus mencari handphone milik Ajeng.


 


“Nyariin apa, buk?” tanya mbak Desi yang baru saja keluar dari kamarnya.


 


“Ini hlo, Des... Kemarin itu seingat ibuk naruh handphone Ajeng di sini. Tapi kok gak ada ya sekarang? Hm...” gemas bu Heni karena tidak kunjung menemukan handphone itu.


 


Melihat semangat ibunya mencari handphone Ajeng, mbak Desi mulai ikut turun tangan untuk mencari handphone itu. Dia juga ingin agar Ajeng bisa segera menghubungi Bimo.


 


“Mbak... Buk... Lagi nyari apa?” tanya Ajeng dengan mata bengkaknya.


 


Melihat kondisi mata Ajeng yang sampai bengkak seperti itu, membuat bu Heni semakin tidak tega.


 


“Ini Jeng, ibuk mau ngasih handphone mu balik. Tapi tiba-tiba gak ada,” jelas mbak Desi.


 


Mendengar ucapan kakaknya itu Ajeng sedikit tidak percaya. Kalau ibunya sampai ingin mengembalikan handphonenya, itu artinya ibunya akan memberi kesempatan untuknya menghubungi Bimo. Ditambah lagi Ajeng melihat kakaknya memberi kode 2 jempol dengn seulas senyuman.


 


“Biar aku bantuin ya, buk nyari handphonenya,” ucap Ajeng dengan suara lembutnya.


 


Bu Heni pun mengusap punggung anaknya itu sebagai tanda perdamaian. Mereka bertiga nampak akur pagi itu di ruangan dapur yang sudah berantakan karena mencari handphone.


 


Tak lama ketika mereka mencari handphone, mas Idam datang dengan mata yang masih sipit karena silau matahari pagi yang masuk di ruangan itu.


 


“Lagi ngapain, buk?” tanya mas Idam dengan ikut bergabung menuju area dapur.


 


PYEEEKKK!


 


“Suara apa itu?” tanya mbak Desi menoleh ke mas Idam.


 


“Astagaaa... ini handphone siapa yang ku injak? Ngapain juga naruh handphone di lantai...Hm...” gerutu mas Idam dengan mengambil handphone yang tidak sengaja dia injak.


 


Layar handphone itu pecah berkeping-keping karena sandal mas Idam yang berbahan kulit itu memiliki alas dasaran yang keras.


 


“Ini kan handphone Ajeng... Kok kamu injak sih, mas...?” mbak Desi menjadi gemas karena handphone yang dicari sudah tidak berbentuk handphone lagi.


 


“Hla kan aku gak tahu kalau ada handphone di lantai...” mas Idam tidak mau juga disalahkan.


 


 


“Duh... gimana ini? Jadi hancur kayak gini... Ini pasti semalam ada tikus yang geser-geserin handphone mu, Jeng,” ucap bu Heni dengan meraih handphone itu dari tangan menantunya.


 


“Gak pa pa buk, biar aku bawa ke tukang service,” ucap Ajeng mencoba lebih bersabar.


 


“Maafin ibuk, ya Jeng. Padahal kemarin ibu ingat naruhnya di meja,” jelas bu Heni. “Ya udah sana kamu cepat mandi buat ke tukang service. Biar kamu bisa nelpon Bimo,” ucap bu Heni membuat Ajeng tersenyum.


 


Akhirnya Ajeng pun segera bergegas untuk mandi dan pergi membawa handphonenya ke tempat service handphone.


 


_______


 


Siang itu di Melbourne Australia, Bimo dan mamanya tengah duduk di depan ruang rawat Jesslyn. Bu Clara terlihat tenang menunggui hasil periksa yang masih dilakukan oleh dokter. Tapi berbeda dengan Bimo. Semenjak Jesslyn sudah ditangani oleh dokter di rumah sakit itu, dia terus sibuk dengan handphonenya.


 


“Bim...” sapa bu Clara.


 


“Ya ma? Kenapa?” tanya Bimo masih dengan mengetik sesuatu.


 


“Kemarin sebelum mama pergi ke Solo, Ajeng datang ke rumah kita,” ucap bu Clara membuat Bimo menghentikan aktifitasnya. “Mama juga ketemu dia di minimarket dekat rumah kita. Ajeng beli pem balut buat dirinya.”


 


Cerita kalau Ajeng menghampirinya di rumah sangat membuat Bimo senang. Tapi mengetahui Ajeng mengalami datang bulan lagi membuat Bimo merasa gagal dengan segala usahanya untuk menghamili Ajeng.


 


“Kalau menurut mama, apa gak sebaiknya kamu relakan Ajeng aja, Bim? Mama takut kalau kamu nikah sama Ajeng, hubungan kalian akan direcokin sama ibunya itu. Kamu tahu sendirinkan mulutnya dia kayak apa? Hm... Anaknya aja sampai diperlakukan pakai acara diseret ke kamar... Ngeri kan...” ucap bu Clara.


 


Tidak henti-hentinya bu Clara menasihati Bimo agar merelakan Ajeng. Dengan berita yang disampaikan oleh mamanya itu, rasa percaya diri Bimo juga berkurang. Mungkin saja Ajeng tidak mempermasalahkan soal keturunan saat ini, tapi bagaimana nanti bila Ajeng berubah karena pengaruh ibunya?


 


“Mama yakin, kalian akan menemukan kebahagian masing-masing,” bujuk bu Clara lebih lanjut agar anaknya itu menurutinya.


 


Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Jesslyn keluar dari ruang rawat. Bukannya memberi kabar lebih baik, tapi dokter itu justru memberi pilihan yang sulit untuk Bimo dan mamanya.


 


“Gimana ini, Bim? Mau gak mau kita harus ambil pilihan,” ucap bu Clara cemas dan bingung.


 


Akibat kecelakaan itu, menyebabkan pembuluh darah sekitar kepala Jesslyn pecah. Kondisi jantung juga semakin melemah dan memberikan dampak yang buruk untuk sistem pernafasan pada janinnya. Hal itulah yang harus dipilih oleh Bimo dan mamanya. Dokter memberi pilihan untuk melakukan operasi sesar. Tapi bila melakukan operasi sesar dengan kondisi Jesslyn yang lemah seperti saat ini, ditakutkan nyawa Jesslyn tidak akan tertolong.


 


Akhirnya setelah melakukan banyak diskusi dengan dokter, bu Clara dan Bimo memutuskan untuk memberi izin ke dokter agar melakukan operasi sesar. Keputusan ini harus diambil oleh mereka karena Jesslyn juga tidak memiliki keluarga yang bisa memutuskan hal itu.


 


“Bim... lihat itu... susternya udah gendong babynya. Semogga aja Jesslyn gak kenapa-napa. Mama gak tega lihat bayi itu hidup tanpa mamanya,” ucap bu Clara dengan terus mengamati kondisi ruang operasi dari kaca kecil di pintu itu.


 


Setelah operasi sesar itu selesai, dokter yang menangani Jesslyn mulai keluar dari ruang operasi. Mukanya terlihat tidak baik. Kusut dan lelah.


 


“How about her condition, doctor? Is she fine?” tanya bu Clara antusias.  (Bagaimana dengan kondisinya, dokter? Apa dia baik-baik saja?)


 


“I’m sorry. She still alive. But her blood pressure is really low (Saya minta maaf. Dia masih hidup. Tapi tekanan darahnya sangat rendah),” ucap dokter itu. “We can’t do operation for Jesslyn if her blood pressure still in this condition. It’s to much risk (Kita tidak bisa melakukan operasi untuk Jesslyn  jika tekanan darahnya masih dalam kondisi seperti ini. Itu sangat beresiko),” jelas dokter itu membuat wajah bu Clara kaku.


 


*****


Bersambung...


*****