My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Tertangkap Basah



Sinar matahari pagi mulai menelusup masuk lewat pantulan kaca yang tidak ditutup tirai. Wajah cantik yang sudah melayani Bimo semalaman itu masih tertidur pulas di pelukannya. Bimo membelai rambut panjang Ajeng dan mengusap lekuk tubuh Ajeng dengan salah satu tangannya.


 


“Bimo... Good morning,” sapa Ajeng dengan mata yang masih mengkerjap – kerjap. “Jam berapa bangun?” tanya Ajeng dengan membenamkan wajahnya di da da Bimo. Meski masih lengket, aroma khas tubuh Bimo sudah menjadi candu untuk Ajeng.


 


“Belum lama. Kamu masih ngantuk?” tanya Bimo. Dia menarik dagu Ajeng untuk memberi kecu pan di bibir Ajeng. “Kalau kamu masih ngantuk, kamu bisa tidur lagi. Flight kita masih siang nanti,” jelas Bimo. Tangannya berlanjut mendorong pan tat Ajeng sampai mendesak miliknya. Bimo mere mas pan tat itu sampai Ajeng harus tersenyum.


 


“Masih pagi udah mau bangun lagi dia,” celetuk Ajeng. Dirinya merasakan benda lonjong itu bergerak menegang dan mendepel bagian in timnya.


 


Karena rasa gemas dan heran dengan tenaga Bimo yang tidak pernah padam, Ajeng mengumpulkan tenaganya untuk menin dihi Bimo. Perlahan tapi pasti tangan Ajeng mengarahkan milik Bimo agar masuk ke lorong sangkarnya lagi.


 


“Aghhh....” de sah Ajeng dengan merapatkan matanya.


 


Bimo tersenyum puas melihat ekspresi Ajeng yang sedang merasakan batangnya menelusup masuk. Pinggulnya pun ikut sedikit menghentak agar masuk lebih dalam.


 


“Aku mau lihat gimana kamu bergoyang,” ucap Bimo sambil menge lus – e lus pelan paahaa Ajeng.


 


Merasa dirinya ditantang, Ajeng menunjukan aksinya untuk menggoyangkan pinggulnya. Meski tidak sedahsyat hentakannya, tapi Bimo menikmati yang dirasakannya saat ini. Matanya terpejam sambil memutar – mutar pucuk kenyaal. Dia mere mas buah yang menggantung itu dengan menikmati sensasi batangnya yang sedang dilahap – lahap lorong yang berke dut.


 


“Harder baby...” de sah Bimo. Setelah beberapa menit, gai rahnya semakin terbakar. Dirinya mulai membalik posisi itu dengan membanting tubuh  Ajeng ke bawahnya. Ajeng yang sudah lelah bergoyang ditambah rasa lelah semalam yang belum pulih, harus memasrahkan tubuhnya lagi agar dinikmati Bimo.


_______


 


Setelah permainan panas di atas bed, kini Bimo dan Ajeng harus menyiapkan diri untuk pergi ke bandara.


 


“Kamu bisa tidur sekarang, baby. Perjalanan masih panjang. Nanti kalau waktu makanan datang, aku bangunin kamu,” ucap Bimo sambil memasang seatbelt pada kursi pesawat Ajeng. Dia menge cup dan mengusap – usap kepala Ajeng agar segera tidur.


 


Perjalanan dari Qatar ke Indonesia cukup memakan waktu yang lama. Ditambah lagi dengan perbedaan waktu Indonesia yang lebih awal 4 jam membuat Bimo dan Ajeng sampai Yogyakarta pada tengah malam.


______


 


“Kita mau kemana lagi, Bim?” tanya Ajeng setelah sampai di bandara Jogja.


 


“Aku akan bawa kamu ke rumah ku. Kamu bisa bermalam di rumahku malam ini. Setelah itu besok siang kita bisa pergi ke Solo, ke rumah mu,” jawab Bimo. Dirinya menoleh ke sekitar area taxi untuk mencari taxi yang kosong.


 


“Emangnya gak pa pa aku tidur di rumah mu? Kan ada mama kamu...” tanya Ajeng.


 


Bimo tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.


 


“Di rumah ku ada banyak kamar. Pastinya kita gak akan satu kamar malam ini.”


 


“Owh...” Gigi putih Ajeng itu mulai nampak berseringai di hadapan Bimo.


 


Keduanya segera masuk ke taxi dan menuju ke rumah Bimo yang berlokasi di daerah Candi Prambanan.


 


Rumah dengan gaya modern itu nampak besar dilihat dari panjangnya pintu gerbang yang mengitari area rumahnya. Bimo segera menurunkan koper – koper dan barang lainnya dari dalam taxi untuk segera masuk ke dalam rumah.


 


“Sudah jam 1 dini hari. Mama pasti sudah tidur. Ayo masuk,” ajak Bimo.


 


Malam itu keduanya tidur terpisah. Ada rasa yang berbeda dirasakan oleh Ajeng. Sudah beberapa minggu lamanya dirinya terbiasa tidur dengan Bimo, tapi kini dia harus tidur tanpa mencium aroma tubuh kekasihnya itu. Rasanya sangat cemas. Seperti terpisahkan dengan jarak yang jauh. Padahal mereka masih satu atap.


 


“Kok tadi Bimo gak cium kening atau kepala aku ya pas dia jalan ke kamarnya? Uu...hhhuffttt...... Udah jam 2. Susah banget mataku diajak tidor!” gerutu Ajeng.


 


Sudah berkali-kali dirinya berguling – guling di bed untuk mencoba tidur. Tapi masih saja pikirannya dipenugi dengan Bimo... Bimo... dan Bimo...


 


Tok Tok Tok...


 


Suara ketukan pintu mulai didengar oleh Ajeng. Cepat – cepat Ajeng beranjak dari bed untuk membukakan pintu.


 


 


Wajah dengan mata yang berbinar- binar di rangkupan tangannya itu mendorong Bimo untuk mendaratkan ciu mannya lagi ke bibir Ajeng. Dia melu mat halus... sedikit menuntut dan semakin rakus dengan mere mas salah satu buah kenyal yang menempel di da danya.


 


“Bim......” Suara lain tiba-tiba muncul di depan kamar yang di tempat Ajeng.


 


Cepat-cepat Bimo membantu Ajeng untuk merapikan rambut dan pakaian yang sudah dia acak-acak.


 


“Siapa itu, Bim?” tanya Ajeng pelan.


 


“Mama...” jawab Bimo pelan.


 


Bimo segera membuka pintu kamar itu untuk menemui mamanya.


 


“Bim? Jam berapa sampai? Kok kamu pakai kamar tamu?” tanya bu Clara setelah mengucek matanya.


 


“Iya, ma. Aku baru aja nyampai. Aku bawa Ajeng ke rumah kita,” jawab Bimo.


 


Pelan-pelan Ajeng keluar dari persembunyiannya di belakang punggung Bimo.


 


“Tante...” sapa Ajeng. Dirinya masih merasa canggung karena ini adalah pertama kalinya bertemu dengan mamanya Bimo. Apalagi pertemuannya terkesan tertangkap basah setelah melakukan adegan bermesraan dengan Bimo. Dadanya berdegup tidak karuan saat berdiri dan menatap wajah bu Clara.


 


“Cantik sekali calon menantu mama......” ucap bu Clara menghamburkan pelukannya kepada Ajeng. “Kenapa masih manggil tante? Kamu boleh panggil mama sekarang... Jangan sungkan – sungkan...” ucap bu Clara melepaskan pelukannya.


 


Tidak sengaja bu Clara melihat beberapa bercak merah di sekitar da da Ajeng karena memakai tanktop tidur. Dia tersenyum kegirangan karena tentu saja hal itu perbuatan anaknya.


 


“Tadi mama keluar dari kamar karena tiba-tiba haus. Air minum mama di kamar habis. Jadi mama pergi ke dapur buat ambil minum. Gak taunya sepintas mama lihat kayak kamu masuk ke kamar ini. Ternyata emang kamu...” ucap bu Clara berlanjut mengepuk – epuk lengan Bimo. “Ya udah, kalau gitu kalian lanjut aja. Mama mau balik kamar buat tidur,” ucap Bu Clara.


 


Dengan gerak cepat Ajeng juga mendorong punggung Bimo agar keluar dari kamarnya.


 


“Kalau gitu aku juga mau tidur, Bim.  Good night mama. Good night, Bim,” ucap Ajeng dengan wajah malunya. Dia menunduk tidak berani menatap mata bu Clara atau Bimo.


 


Setelah Bimo dan bu Clara keluar dari kamarnya, Ajeng bisa bernafas lega. Dia lega karena mamanya Bimo terlihat baik dan bisa menerimanya. Rasa bahagia yang tidak karuan membuat Ajeng berjingkrak – jingkrak ria di depan kaca.


 


Ceklek....


Pintu kamar Ajeng kembali terbuka karena Bimo datang lagi ke kamarnya.


 


“Kamu kenapa dancing di depan kaca?” tanya Bimo menahan tawanya.


 


Ajeng yang masih terbawa suasana senang langsung mendekap Bimo erat – eratt. Dia menge cup kedua pipi Bimo sambil berjinjit.


 


“Aku senang karena mama kamu baik ke aku. Apalagi dia minta aku buat manggil mama mulai sekarang...” jelas Ajeng.


 


Hal kecil yang tidak terpikirkan oleh Bimo itu membuatnya menggeleng – gelengkan kepala.


 


“Kamu ini... aku pikir kamu kenapa...” celetuk Bimo. Dia berlanjut mendorong tubuh Ajeng ke bed untuk melaksanakan misinya.


 


“Bim, jangan sekarang. Nanti kalau mamamu tiba-tiba ngetuk pintu kamar ini gimana?” tanya Ajeng cemas. Matanya memandangi pintu sambil menahan tangan Bimo yang ingin membuka bajunya.


 


“Mama udah balik tidur. Dia gak akan ke sini. Lagian pintumu itu udah ku kunci. Let me do it now... (Biar aku melakukannya sekarang)” ucap Bimo.


 


Untuk pertama kalinya Bimo melakukan penyatuan bersama Ajeng di rumahnya. Kali ini Ajeng dibuat kualahan karena harus menahan de sahannya. Dia kuatir bila suara anehnya itu bisa didengar oleh mamanya Bimo.


 


*****


Bersambung...


*****