
Ajeng mulai menceritakan tentang berita yang disampaikan oleh kakaknya. Hal itu membuat kecurigaan Bimo semakin kuat kalau Jesslyn sudah menceritakan hal - hal yang tidak seharusnya kepada bu Heni.
“Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membujuk ibu mu agar merestui hubungan kita.”
Meski keduanya merasa cemas, tapi pelukan yang mereka lakukan saat ini sedikit memberikan kekuatan satu sama lain. Harum tu buh Ajeng dan pesona Ajeng membuat Bimo tidak mau bila dirinya harus kehilangan Ajeng.
“Sampai kapanpun, aku ingin terus bersama mu, Ajeng.”
Pelukan itu semakin lama semakin eratt dirasakan Ajeng.
“Aku juga gak mau kehilangan kamu, Bim. Aku pasti akan bujuk ibuk juga sampai ibuk mau merestui hubungan kita,” sambung Ajeng.
Terlintas dalam benak Bimo, rasanya ingin sekali dia memberi pelajaran kepada Jesslyn. Bimo kuatir bila kelakuan Jesslyn terus dia anggap enteng, perempuan itu bisa melunjak.
“Mau ngapain kamu, Bim?” tanya Ajeng memperhatikan Bimo yang meraih handphone.
“Aku mau memulihkan nomor Jesslyn yang kamu delete. Aku mau ngasih pelajaran ke dia. Kelakuan dia itu sudah gak bisa ditoleransi!” jawab Bimo.
Sebetulnya Ajeng tidak mau menyaksikan Bimo berbicara dengan Jesslyn. Tapi karena kasusnya kali ini berbeda, Ajeng membiarkan niat Bimo itu. Lagi pula dia juga ingin tahu apa saja yang sudah diucapkan Jesslyn ke ibunya.
Proses pemulihan nomor itu tidaklah memakan banyak waktu. Kini Bimo sedang menunggu Jesslyn merespon panggilannya.
“Gimana, Bim? Apa dia angkat?” tanya Ajeng. Dirinya juga tidak sabar mendengar penjelasan Jesslyn.
“I don't know. Sepertinya nomornya gak aktif,” jawab Bimo.
“Kalau gitu kamu kirim pesan aja ke dia. Lagi pula sekarang udah malam juga. Mungkin dia udah tidur,” saran Ajeng.
“Hm... Yeah. Good idea.”
Di pesan itu Bimo meminta Jesslyn untuk menghubunginya balik. Bimo tidak mau menulis panjang lebar karena sebetulnya dia malas berurusan dengan Jesslyn bila harus berdebat dengan perempuan.
“Let's sleep, baby. Besok aku ada meeting pagi sama Galang,” ajak Bimo.
_____
Pagi ini Ajeng membuka matanya terlebih dahulu dibanding Bimo. Persoalan yang sedang dihadapi di dalam hubungannya bersama Bimo membuat kepala Ajeng terasa berat. Ajeng takut hubungannya bersama Bimo akan ditentang oleh ibunya.
“I love you, Bimo...” Ajeng mengke cup kening Bimo cukup lama. Aroma khas milik Bimo membuat Ajeng nyaman dan tenang bila dirinya berada di dekat Bimo. Kulit da da yang berbu lu dan rambut – rambut kecil di sekitar rahang Bimo menjadi candu tersendiri untuk Ajeng.
Pikiran yang dilintasi tentang masalah Jesslyn dan ibunya membuat Ajeng benar – benar ingin segera hamil. Jika dirinya hamil, tentu saja mau tidak mau ibunya harus merestui hubungannya dengan Bimo.
“Hm......” Bimo bergumam di dalam matanya yang terpejam. Batang lonjong miliknya itu kini tengah berada digeng gaman kedua tangan Ajeng.
Ini adalah pertama kalinya Ajeng memanjakan si lonjong ken nyaal dengan bibirnya. Ajeng mengke cupi dan menjila ti sampai barang itu perlahan bergerak menegang.
“Baby...... Mpphhh..... Good morning... Haahh......” Bimo mende sah menikmati permainan dari se sapan mulut Ajeng. Dia membuka lebar kedua pahaanya agar Ajeng lebih leluasa bermain dengan miliknya.
“Good morning, Bim...”
“I want more... Please do it again...” pinta Bimo dengan mengusap kepala Ajeng. Dia kembali mendorong kepala Ajeng agar menye sap kembali miliknya. Mendorong dan menarik rambut Ajeng agar mulut itu melahapi miliknya. “Agghhh..... aghh.....” Bimo segera membalik posisi tubuh Ajeng ke bawah kung kungaannya. Di menyesakkan barangnya yang tengah menegang sempurna ke milik Ajeng.
“Ahh.... Bim...” Ajeng mencengkram pergelangan tangan Bimo yang menumpu di kedua gundukan ken nyaalnya. Bimo menyibak tanktop yang dipakai Ajeng agar bisa lebih leluasa memainkan kedua pucuk kecil milik Ajeng.
Penyatuan yang baru saja dimulai membuat Bimo ingin berlama - lamaan menggoyang dan menghentakk hen takan miliknya. Aroma khas bangun tidur Ajeng yang masuk ke hidung Bimo semakin menambah gai rah Bimo untuk menyapu setiap inci bibir... leher... dan da da Ajeng.
“Hihiii... Jenggot kamu bikin aku geli, Bim... Ah...” de sahan Ajeng semakin membuat Bimo semakin gila untuk terus membuat tanda merah di tubuh Ajeng.
“Huft..... Sayang sekali aku harus meeting pagi ini. Jika tidak, aku masih mau melanjutkan membuat baby sama kamu,” ucap Bimo. Senyumnya berseringai setelah menarik nafas panjang.
“Maaf ya, Bimo. Aku udah gangguin tidur kamu pagi ini.” Tangan Ajeng bermain – main di buuluu da da Bimo. “Aku cuma ingin bisa cepat hamil biar kita gak di pusingkan dengan ibuk,” jelas Ajeng.
“Aku tahu, baby...” Bimo berlanjut mengke cup kening Ajeng. “Aku juga mau perut kamu ini segera ada penghuni kecilnya,” ucap Bimo. Bibirnya mulai menelusup mengke cup perut Ajeng.
“Udah sana kamu siap - siap meeting. Aku juga ada janji sama Kasih dan Sekar buat pergi ke salon,” ucap Ajeng.
“Hm... Have fun ya, baby. Billnya masukin aja ke room kita. Aku mandi dulu ya.”
Pagi ini Bimo dan Ajeng disibukkan dengan kegiatannya masing - masing. Meskipun demikian, keduanya menyempatkan untuk bertemu di saat jam makan siang.
“Gimana meetingnya, Bim? Kok mukanya kusut? Ada masalah?” tanya Ajeng sambil memotong daging di piringnya.
“Meeting gak ada masalah. All is good. Aku cuma kepikiran soal semalam. Si Jess belum hubungin aku. Pesan yang aku kirim juga belum dibuka sama dia. Huft...” Bimo meneguk air mineral di sampingnya. Siang ini selera makan seperti tidak ada karena memikirkan hal itu.
“Hm...” Ajeng mulai menghela nafas. “Ya udahlah, Bim. It’s fine (ga pa pa)... Tadi mbak Desi sempat nelpon katanya ibuk udah mau angkat panggilan dari mamamu. Dia juga bilang katanya ibuk sama mama kamu mau jalan bareng besok. Mbak Desi bilang ibuk aku yang undang mamamu buat jalan bareng,” jelas Ajeng.
Wajah Bimo yang tadinya kusut menjadi sedikit ceria setelah mendengar hal itu. Tapi keinginan Bimo untuk mencari tahu apa saja yang diobrolkan Jesslyn ke bu Heni masih tetap ada. Dia harus tetap mencari tahu hal itu.
Urusan bisnis dengan perusahaan Galang sudah hampir usai. Dua hari berikutnya, Bimo dan Ajeng melanjutkan trip mereka untuk pergi ke Qatar.
_____
Qatar adalah negara emirat di Timur Tengah. Negara ini memiliki pendapatan per kapita tertinggi di dunia karena ekonominya ditopang oleh pendapatan dari cadangan gas alam dan minyak. Untuk urusan musim, negara beriklim tropis ini memiliki 2 musim. Musim panas dan dingin.
“Wow... bagus ya, Bim pemandangannya dari sini,” puji Ajeng yang duduk di kursi dekat jendela pesawat. Dia cukup kagum memandangi indahnya pemandangan kota yang terlihat rapi dari atas awan.
“Yeah, looks beautiful. Tapi saat ini masih musim panas. Suhu udara sangat ekstrem. Panas di Qatar kalau dibandingkan dengan Indonesia atau Maldives, negara yang pernah kamu tinggali, Qatar masih memegang rekor. Orang yang tinggal di negara ini tidak bisa lepas dari AC karena teriknya matahari,” jelas Bimo.
“Tapi kita masih bisa bernafas kan kalau mau keliling kotanya?” tanya Ajeng.
“Hehehee... Yeah. Oksigen masih ada. Don't worry. Cuma angin yang berhempus dan masuk ke pori – pori kulit kita itu terasa sedikit menyengat karena suhu panas. Tapi kalau di musim dingin, udara bisa sejuk juga,” jelas Bimo ikut menengok ke arah Jendela. “Aku dengar calon rekan bisnis ku orang Qatar ini baru aja balik liburan dari Maldives. Dia bilang habis liburan dari Como Resort Maldives. Itu bukannya tempat kerja mu dulu ya?” tanya Bimo.
“Iya... Hihiii... Kok bisa kebetulan gitu sih?” Ajeng mengrenyit dahinya.
“Baguslah kalau seperti itu. Nanti kalau dia ajak ngobrol soal Hollidaynya di resort itu, kalian bisa nyambung. Kamu kan sudah stay 4 tahun disana,” ucap Bimo.
“Nanti malam dia juga invite kita buat dinner bersama girlfriendnya yang baru. Namanya Eva...” sambung Bimo lagi.
Mendengarkan nama Eva disebut, memori Ajeng tentang wajah perempuan yang pernah sudah merusak hubungannya dengan mantannya itu mulai terlintas kembali.
Eva??? Kok namanya mirip banget sama ular betina itu? Batin Ajeng.
*****
Bersambung...
*****