My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Appetizer (Hidangan Pembuka) (21+)



Setelah membuat teh panas, Bimo mulai duduk di depan meja makan. Pandangannya masih tertuju pada bed di minibus itu. Dia mengketuk-ketukan jarinya di atas meja dengan mengingat ulang saat dirinya melakukan hubungan badan bersama Ajeng.


 


Kenapa Ajeng justru bisa haid pagi ini…? Bukannya saat e j a k u l a s i semalam aku sudah benar melakukannya…? Apa… Karena Ajeng pergi ke toilet bisa berpengaruh dengan hasilnya? Bukannya itu hal yang wajar dan gak akan berpengaruh? Lagi pula aku melakukannya 2x… Tanya Bimo dalam pikirannya.


Bimo sangat mengharapkan hasil terapinya itu membuahkan hasil. Tapi kedatangan masa haid Ajeng saat ini menandakan kalau hasil terapinya masih belum bagus.


“Bim… Udah jadi ya tehnya?” tanya Ajeng saat sudah selesai dari toilet.


“Hm… Ayo minum. Tehnya masih panas,” jawab Bimo menyodorkan cup lebih dekat kepada Ajeng.


Saat Ajeng meminum tehnya, dia melihat bed yang masih berantakan menjadi risih. Apalagi bercak darah ada di sana. Ajeng mulai mengingat tempat dimana dirinya menyimpan seprei yang lain.


“Mau kemana?” tanya Bimo dengan mengadahkan tangannya menyentuh paha Ajeng.


“Mau nyari seprei yang bersih,” jawab Ajeng.


“Biar nanti saja. Biar nanti aku bantu kamu.”


Laki-laki itu mulai membuka pahanya. Dia menuntun Ajeng agar pantat gadis itu duduk di pahanya.


“Hayo… mau apa?” Ajeng menggigit bibir bawahnya. Dia merasakan tangan Bimo mulai mengusap-usap perutnya. “Jangan aneh-aneh ya. Di bawah sana lagi berdarah-darah…” celetuk Ajeng memandangi wajah laki-laki yang mendongak menatap matanya.


“Berapa hari biasanya masa haid kamu?”


“Em… Bisa 3 sampai 7 hari. Kalau udah 7 hari biasanya udah betul-betul bersih,” jawab Ajeng. Tangannya mulai mengusap-usap punggung Bimo.


“Kenapa kamu senyam-senyum gitu?”


“Kamu juga senyam-senyum… Emang aku gak boleh? Hihiii…” Jawab Ajeng. “Sabar ya Bim harus nunggu sampai 3 atau 7 hari lagi…” mengejek Bimo membuat laki-laki itu tersenyum lebar. Keduanya semakin berpelukan erat. “Jadi planning kamu jadinya gimana? Mau sampai kapan kita ada di sini?”


“Em… Aku masih mau membidik sunset sore nanti. Habis itu kita bermalam di sini lagi dan besok baru kita lanjut destination (tujuan) berikutnya,” jawab Bimo. Dia membenamkan beberapa saat pipi kirinya di dada Ajeng.


Terasa nyaman dan hangat, membuatnya enggan melepaskan Ajeng.


Setelah teh keduanya habis, barulah mereka melakukan hal yang lain. Membersihkan cup, menyapu lantai minibus dan mengganti seprei dengan yang baru.


“Finally… Ah… Kita bisa rebahan lagi. Bim, tolong dong bukain pintu belakang ini. Kok susah ya gak bisa aku buka dari tadi…” pinta Ajeng.


Hanya dalam satu sentuhan, pintu itu segera terbuka. Angin dari luar mulai masuk dan terasa dingin menusuk ke kulit. Tapi tidak sedingin sebelumnya. Temperature di tempat itu semakin siang semakin naik karena cahaya matahari juga ikut naik.



“Hm… Cantik banget viewnya dari sini. Perfect!” celetuk Ajeng.


Keduanya menikmati pemandangan di pagi itu dengan camilan.


“Kamu mau makan apa Bim pagi ini? Biar aku siapin,” tanya Ajeng. Jiwa guidenya masih muncul meskipun kini mereka sudah resmi pacaran.


“Emang kita punya stock apa? Bukannya cuma bahan yang kemarin aja?”


“Ya kan kita bisa belanja ke sana lagi tuh buat breakfast pagi ini,” jelas Ajeng.


“Boleh aku ambil appetizer (hidangan pembuka) sekarang?” Bimo mulai mengusap dagu Ajeng dengan ibu jarinya. Ini membuat wajah Ajeng menegang.


Perlahan Bimo menggeser pantatnya agar lebih dekat dengan Ajeng. Tangannya mulai meraih tengkuk Ajeng dan memandangi bibir perempuan itu.


“Bim… Itu pintu busnya terbuka…”


“Hm… I know (Aku tahu).”


 


Bibir Ajeng yang sedikit kering karena dinginnya suhu di tempat itu kini mulai basah lagi. Bimo m e l u ^m a t i Bibir Ajeng dan membasahi dengan salivanya. Me nye sa p dan menuntun Ajeng untuk berbaring di bed.


Jari-jarinya terus merabai leher Ajeng membuat perempuan itu melemah dan mengikuti permainan Bimo. Perlahan tapi pasti, Bimo mulai menarik ritseleting jaket Ajeng dengan terus me ngu lum bibir Ajeng. Laki-laki itu mulai me ra ba i  buah da danya dan me nye sap lehernya dalam-dalam membuat bahu Ajeng refleks mengapit kepala Bimo. Ajeng mencengkram lengan Bimo karena merasakan tangan Bimo me re mas dan bermain menarik-narik pucuk dadanya.


“Bim, Mph… tutup dulu pintunya. Aku malu kalau ada orang lihat.”


Setelah sesapan terakhir yang cukup dalam, Bimo segera menutup kembali pintu minibus belakang yang sempat dia buka. Bimo merengkuh tubuh Ajeng lagi dan mene lan jangi bagian atas tubuh Ajeng.


“Gak usah ditutup,” Bimo menarik tangan Ajeng yang menghalangi pandangannya. Ajeng masih merasa malu karena cahaya pagi hari di minibus itu cukup terang dibanding tadi petang. “Masih merah lukanya,” ucap Bimo ketika melihat dua gundukan yang sudah terpampang. “Nanti kita kasih aloe vera lagi.”


Bimo kembali melanjutkan aksinya untuk me ng u lum milik Ajeng. Beberapa kali Ajeng menggeliyat saat se s ap an itu cukup dalam. Tubuhnya semakin tergelitik merasakan area intimnya basah. Entah basah karena haid atau basah karena rang sa ngan dari Bimo.


“Sayang sekali pagi ini kamu harus haid,” ucap Bimo memandangi wajah Ajeng.


Keduanya terdiam saling pandang. Bimo menarik selimut agar Ajeng tidak merasa kedinginan. Sebenarnya dia bisa saja memeinta Ajeng memakai baju. Tapi dia masih senang untuk menyentuhi tubuh mulus itu di balik selimut.


“Ngomong-omong kedua ban belakang minibus mu ini bocor. Aku lihat semalam cuma ada satu ban cadangan di bagian belakang. Jadi kita butuh reparasi untuk menambal ban atau ganti ban baru kalau lubangnya terlalu dalam,” ucap Bimo sambil mengusap pipi Ajeng.


“Siapa bilang aku cuma punya satu… Masih ada 2 lagi kok di bawah sama atas mobil,” sambung Ajeng. Tangannya masih takut untuk merabai wajah Bimo. Ajeng hanya berani untuk bermain di punggung Bimo. “Bim, udah yuk biar aku pakai baju. Udah laper nih aku pingin bikin omlet. Biar aku beli telor di tempat semalam.” Ajeng mulai meregangkan pelukannya. Tapi Bimo masih mendekapnya erat.


“Kalau gitu aku juga mau omlet. Bikin 3 atau 4 eggs ya buat aku.” Mulai mendaratkan kecupan di dahi Ajeng.


“Hm…”


“Kamu belanja sendiri ya biar aku bisa ganti bannya yang bocor. Ambil aja dompetku di laci atas sana,” ucap Bimo.


Keduanya mulai beranjak dari bed dan melakukan tugas masing-masing. Ajeng pergi ke belanja dan Bimo harus mengerahkan tenaganya untuk mengganti ban.


Di saat Bimo akan menggunakan dongkrak, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Ternyata panggilan itu berasal dari dokter pribadinya.


“Hallo, dok. Good morning,” sapa Bimo dengan melanjutkan aktivitasnya membuka baut pada ban.


“Good morning, Bim. Gimana kabar teman kamu yang kena sengatan lebah? Apa dia sudah baikan?” tanya dokter.


“Yeah. Tapi belum pulih sepenuhnya, dok. Karena pagi ini saya lihat masih merah-merah,” jawab Bimo mengingat luka pada kulit Ajeng.


“Hm… Yeah memang butuh proses. Mungkin kalau kamu bisa menemukan daun binahong, sejenis tanaman rambat, bisa juga digunakan untuk mengobati luka semacam itu. Tapi zat-zat yang terkandung pada daun itu tentu saja akan lebih perih bila dibandingkan dengan aloe vera saat mengenai kulit yang luka,” jelas dokter itu. “Tapi kalau tidak bisa menahan rasa perih ya dilanjutkan saja pakai aloe vera.”


“Yeah, dok. Thanks infonya. Tapi sepertinya saya akan carikan obat siang ini. Semalam tidak bisa karena ada kendala ban bocor.”


“Itu lebih bagus.”


Selang tak lama kemudian, Ajeng datang dengan membawa plastik belanjaan.


“Bim, aku gak pa pa kan masuk ke bus bentar? Mau ambil pisau buat ngupas kentang sama potong sayur,” ucap Ajeng membuat Bimo mengangguk.


Suara Ajeng yang cukup keras itu juga didengar oleh dokter.


“Itu suara teman kamu yang kena sengatan lebah ya?” tanya dokter.


“Iya dok. Em… Sebelumnya memang kami berteman. Tapi mulai hari ini-- kita punya relation (hubungan) yang lebih dari sekedar itu” Dokter tersenyum simpul mendengar jawaban Bimo.


“Selamat ya, Bim… Semoga relation kamu kali ini berhasil.”


“Thanks, dok.”


“Yeah. Kalau gitu saya tutup telponnya, Bim.”


“E—Dok… Ada sedikit yang mau saya tanyakan. Em… Apa mungkin saya bisa melakukan terapi suntik hormon?”


“Mm… Kenapa seperti mendadak, Bim? Apa hasil terapi sebelumnya masih tidak berhasil?” tanya dokter balik membuat Bimo menghela nafas sedikit panjang.


“Jadi sebenarnya semalam saya sudah mencoba saran dokter. Tapi pagi ini pacar saya justru haid,” jawab Bimo.


Dokter sedikit berfikir untuk menjawab pertanyaan Bimo yang menginginkan terapi suntik hormon.


“Bim, kalau boleh saya sarankan kita habiskan terapi kita sebelumnya. Karena suntik hormon hasilnya tidak instan yang bisa langsung dapat dilihat pada hari setelah kamu suntik. Biasanya butuh waktu 3-6 bulan atau mungkin lebih untuk melihat hasilnya. Selain itu… kita juga harus memantau perkembangannya. Karena bisa saja kondisi tubuh tidak cocok dengan terapi itu.” Bimo mulai menghela nafasnya mendengar penjelasan dari dokter. “Saya rasa kalau menurut hasil rekam medic mu yang terakhir, kamu hanya butuh untuk meningkatkan jumlah sp3rm4. Yeah… memang jumlahnya sangat rendah menurut pemeriksaan terakhir waktu itu. Tapi kalau kamu mau membantunya dengan menjaga pola hidup sehat seperti tidak mengkonsumsi alkohol, menghindari stress dan menjaga asupan yang kamu konsumsi, saya yakin hal itu akan membantu mendapatkan keturunan,” jelas dokter.


Bimo harus mengurungkan niatnya setelah mendengar penjelasan dari dokter. Bagaimanapun dirinya harus bersabar.


“Baiklah dok. Saya akan ikuti saran dokter.”


Panggilan itu pun selesai. Bimo mulai melanjutkan aktifitasnya untuk mengganti ban mobil yang bocor.


*****


Bersambung…


*****