My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Ngambek Gak Jelas (21+)



Suasana malam di tepi pantai sangat cantik dengan adanya beberapa api unggun yang dibuat oleh para pengunjung. Selesai mandi, Ajeng dan Bimo memilih untuk duduk bersantai di luar minibus. Mereka juga ikut membuat api unggun. Duduk bersantai di atas tirai dengan menikmati hembusan angin laut.


 


“Apa kabar ibu kamu di rumah?” tanya Bimo sambil memeluk tubuh Ajeng di depannya.


 


“Ibuk baik… Hampir tiap hari ibu nanyain tentang kamu semenjak mamamu berkunjung ke Solo,” jawab Ajeng. Bibirnya selalu tersenyum bila membayangkan pertemuan ibunya dan ibu Clara. Rasanya Ajeng ingin menyaksikan moment pertemuan itu.


 


“Great… Itu tandanya ibu kamu suka sama aku,” sambung Bimo. “Tadi sore mamaku kirim pesan kalau besok dia mau pergi ke Solo lagi buat meet up sama ibu kamu. Mama bilang mau discuss about our wedding…”


 


Rasa bahagia Ajeng semakin bertambah karena Bimo mulai membicarakan rencana pernikahan. Ajeng meraih tangan Bimo yang melingkar di perutnya. Dia mengkecupi punggung tangan itu dan berlanjut memeluk Bimo.


 


“Thank you, Bim… I love you.”


 


Acara pernikahan adalah moment yang paling diharapkan oleh Ajeng. Keinginannya untuk menjalin hubungan rumah tangga bersama kekasihnya dulu memang kandas. Tapi kali ini Ajeng sangat yakin harapannya itu tidak akan sia-sia. Bimo adalah laki-laki baik. Dengan segala kekurangannya, Bimo ingin terus berjuang bersamanya.


 


“I love you too, Ajeng… Aku harap semua akan berjalan dengan lancar,” balas Bimo mengeratkan pelukannya kepada Ajeng.


 


“Yeah… Aku harap semua lancar juga. Selama kamu bisa setia, aku akan tetap di sisimu,” ucap Ajeng lagi.


 


Bimo sedikit heran dengan kalimat barusan. Kalimat itu seperti mengandung unsur ‘ketidak percayaan’ atau ‘keraguan’.


 


“Maksudnya? Kamu nuduh aku gak bisa setia? Atau… apa kamu sedang berfikir kalau aku ini playboy?” tanya Bimo sambil mengkerutkan dahinya.


 


“Hihii… Sorry, Bim. Aku cuma takut kalau kejadian di masa lalu akan terulang lagi,” jawab Ajeng. “Tapi aku percaya kok sama kamu. Sejauh ini, aku lihat kamu bukan tipe seperti itu yang suka main mata ataupun mudah tergoda dengan perempuan,” jelas Ajeng. Pikirannya teringat pada saat pertama kali dirinya bertemu dengan Bimo. Laki-laki itu sangat baik, tapi juga sempat membutanya jengkel dengan sikap dinginnya.


 


 


“Jangan kuatir, Ajeng. Aku akan menaruh penglihatanku ini hanya buat kamu. Gak akan ada perempuan lain.”


 


Kalimat itu bagai mantra yang bisa menenangkan hati Ajeng. Keduanya memilih untuk masuk ke dalam minibus karena sepertinya adegan kemesraan tidak bisa dilanjutkan di alam bebas. Terlalu banyak mata di sekitar tempat itu. Lebih baik menuntaskan hasrat yang meningkat tanpa harus mengumbar di depan umum.


 


DRRTTT… DRRTTT…


Tiba-tiba handphone Bimo bergetar di saat dirinya akan melangkahkan kaki masuk ke dalam minibus. Ternyata panggilan itu adalah panggilan video call.


 


“Ajeng, kamu masuk duluan ke mobil. Aku mau angkat panggilan ini. Cuma bentar. Just be ready dengan baju tidurmu sebelum aku datang,” ucap Bimo. Kalimat permintaan itu membuat bulu kuduk Ajeng berdiri. Pikirannya menjadi melayang mengingat adegan panas sore tadi.


 


“Hmm… Jangan lama-lama ya ngobrol di handphone.”


 


“Kenapa? Sudah gak sabar?” menggoda sambil mengepuk epuk pan tat Ajeng.


 


“Bukan gitu, Bim… Banyak nyamuk. Takutnya kamu kena gigit nyamuk.” Ajeng sedikit mengelak meskipun beberapa persen memang benar adanya tebakan Bimo itu. “Ya udah. Em... aku masuk duluan…” sambung Ajeng dengan senyumnya.


 


Ajeng segera membuka lemari baju untuk mencari baju tidur dengan model yang bagus. Sebetulnya tidak ada banyak baju yang dia bawa saat akan berangkat trip. Karena memang awalnya Ajeng hanya berniat untuk kerja, bukan berwisata ria dengan laki-laki.


 


“Yang mana nih? Masak model polkadot? Kayak anak-anak dong… Hm…” Sedikit bingung karena pilihan baju tidur cuma terbatas.


 


Akhirnya setelah memilah-milah, Ajeng memilih untuk memakai baju terusan yang ukurannya cukup lebar dengan kain yang halus dan nyaman untuk tidur. Melihat penampilannya di depan kaca dengan memakai baju itu membuatnya puas. Ajeng semakin tidak sabar menunggu kedatangan Bimo.


 



“Kok lama ya nelponnya? Siapa sih yang nelpon?” Ajeng menjadi penasaran karena baru kali ini Bimo menelpon selama itu. “Apa aku check aja ya?... Tapi aku dah pakai baju kayak gini. Di luarkan banyak nyamuk… Hm… Aku tengok lewat jendela aja deh,” ucapnya dengan menggeser pantatnya ke kursi yang berada di dekat kaca minibus.


 


Hwuusss…


Kaca minibus mulai terbuka dan membuat angin masuk ke dalamnya. Hembusan angin terasa semakin kencang menerpa kulit di saat matanya melihat sosok wajah perempuan di layar handphone Bimo. Perempuan itu terlihat cantik dengan kulit putihnya. Wajahnya nampak ceria dengan rambut lurus yang tergerai.


 


“Iya Kasih… Aku pasti akan belikan buat kalian. Mau berapa kardus?” ucap Bimo dengan terus memandangi layar handphone. Dirinya tidak sadar kalau Ajeng sedang memperhatikannya.


 


“Yang banyaklah, Bim… Si Sekar juga mau tuh serabi khas Bandung. Gak tahu juga nih kita berdua tiba-tiba mau serabi. Tapi maunya yang bikin orang Bandung betulan. Hihiii…”


 


Rasanya sangat kesal melihat dan mendengar Bimo bercakap-cakap lewat video call. Ajeng memilih menutup kembali jendela minus daripada harus melihat Bimo bermesra-mesraan lewat handphone.


 


“Tuw kan… Baru tadi aku singgung masalah loyalitas… Ngeselin! Apa sih maunya laki-laki itu? Kenapa sih gak bisa setia? Huh!” meluapkan amarah dengan memukul-mukul pahanya.


 


Ajeng bergegas masuk ke dalam kamar mandi ketika dia merasa Bimo akan membuka pintu minibus. Malam ini rasanya dia tidak mau melihat muka Bimo. Sangat kesal karena perasaannya sudah dipermainkan oleh laki-laki itu.


 


“Ajeng…” sapa Bimo melihat ke arah bed. Dia pikir Ajeng akan siap sedia di atas ranjang menyambut kedatangannya.


 


 


Bimo memilih mengganti bajunya dengan baju tidur selagi menunggu Ajeng selesai dari kamar mandi. Dia juga menggunakan body spray agar menambah aroma wangi supaya pacarnya itu semakin lengket dengannya. Tapi setelah 10 menit ditunggu, Bimo merasa ada sesuatu yang aneh. Ajeng tidak selesai-selesai dari dalam kamar mandi. Selain itu tidak ada suara air ataupun suara pacarnya di dalam sana.


 


Tok…Tok…Tok…


Bimo mulai mengetuk pintu kamar mandi.


 


“Ajeng… Kamu sedang apa? Are you okay?” tanya Bimo dengan mendepelkan telinganya ke pintu kamar mandi.


 


One… two… three… four… five… six… seven… hmppttt…? Batin Bimo. Dia menghitung dentingan jarum jam sambil menunggu jawaban Ajeng. Tapi tidak ada respon juga.


 


“Ajeng, aku sudah selesai telponnya dari tadi. Bisa kamu keluar, sayang?” Pinta Bimo lebih halus.


 


Ajeng yang mendengar kata ‘telpon’ menjadi teringat kembali dengan wajah perempuan yang sempat dia lihat tadi di layar handphone Bimo.


 


“Gak! Kamu lanjut aja video call an sama cewek itu!” celetuk Ajeng dengan suara nyaringnya.


 


Bimo cukup kaget mendengar kalimat itu. Tapi ada rasa lucu juga memahami kalimat yang sepertinya mengandung rasa cemburu.


 


“Are you jealous?” tanya Bimo dengan santai.


 


“Terserah kamu mau ngatain aku jealous atau apa! Pokoknya aku lagi gak mood buat lihat kamu…!” jawab Ajeng dengan menggebu-gebu. “Kamu call lagi aja tuh cewek. Ajak dia ngobrol sampai besok pagi. Aku gak peduli!”


 


Bimo semakin terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ajeng.


 


“Ajeng… Mana mungkin aku ngobrol sama dia sampai besok? Dia itu temanku, sayang. Only friend. Gak lebih… Lagian dia juga udah punya suami,” ucap Bimo. Wajah Ajeng masih tetap tertekuk di dalam kamar mandi.


 


“Terus kenapa manggilnya ‘Kasih Kasih’? Katanya cuma teman… Boong  banget sih!” sambung Ajeng. Pikirannya masih menuduh Bimo ada hubungan spesial dengan perempuan itu.


 


“Aku manggil ‘Kasih’ ya karena memang namanya ‘Kasih’…” jelas Bimo. Tangannya berusaha mendorong gagang pintu tapi masih belum bisa dibuka juga. “Ajeng, ayo buka pintunya. Aku gak suka kamu ngambek gak jelas seperti ini. Come on… Buka pintunya sayang… Aku janji akan ngenalin kamu ke Kasih setelah kita sampai Batam nanti. Aku gak mungkin bohongin kamu, Ajeng…” terus membujuk dengan memandangi pintu kamar mandi.


 


Ceklek…


Pintu itu akhirnya terbuka. Ajeng terlihat menundukan kepalanya dengan berjalan keluar dari kamar mandi. Bimo bisa merasakan kalau pacarnya itu sedang malu karena sudah mengajukan tuduhan tidak benar.


 


“Beautiful…” Puji Bimo dengan mengikuti langkah Ajeng dari belakang.


 


Bimo berfikir Ajeng akan berjalan ke bed, tapi ternyata tidak. Ajeng memilih untuk duduk di kursi dekat meja makan.


 


“Let’s go there…” ajak Bimo menoleh ke arah bed. Senyum di bibirnya itu membuat Ajeng semakin malu. “You looks beautiful tonight, baby…” me ra bai paha Ajeng dengan mengangkat sedikit demi sedikit gaun itu. “Baju kamu juga cantik… Tapi aku gak akan butuh ini. Aku mau kamu… te lan jang…” Bimo menarik ce la na da l a m itu dan menghirupnya di depan Ajeng. Dia menghirup beberapa kali sambil mere mas pelan pa ha Ajeng. “Ayo ke bed.”


 


Bimo mendorong pinggang Ajeng agar tubuh pacarnya itu segera bangkit dari kursi. Dia menuntun dan menidurkan Ajeng ke bed.


 


“Bim, maaf ya aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak,” ucap Ajeng selagi Bimo menekuk lututnya.


 


“Kalau mau dimaafkan… Buka lebih lebar lagi kakinya… Jangan mengapit kepalaku apapun yang akan kamu rasa selanjutnya,” ucap Bimo dengan menekuk lutut Ajeng yang satunya lagi. Kekasihnya itu kini sudah me ngang  kang pasrah menerima sen tu han darinya. Bimo meng ke cu pi setiap inci pa ha Ajeng sampai di titik tengah bagian intimm itu. Lidah dan jarinya bekerja mengaduk - aduk membuat jari kaki Ajeng mengkerut menahan sensasi dari bagian yang mulai berke dutt.


 


“Ah…” Ajeng mulai memejamkan matanya untuk ikut menikmati rasa yang membuanya gila. Lidah itu terus bergoyang dan menye sapp cukup lama sampai lutut Ajeng terasa ngilu menahan rasa nik mat itu. “Ah… Bim… Geli,” menceng kram sprei lebih kuat. “Hah… Huft…” Ajeng bisa sedikit lega di saat Bimo selesai menye sapp bagian inntimnya. Tapi melihat tangan Bimo mulai mengko cokk benda lonjong, mau tidak mau Ajeng harus segera bersiap.


 


Matanya kembali terpejam merasakan milikinya dihu jam lagi.


 


“Lain kali jangan pernah berfikir kalau aku tidak setia. Jangan pernah meragukanku… Tapi karena sudah terlanjur, aku gak akan beri ampun kamu malam ini. If you want to cry… Just cry...” ucap Bimo sebelum bersiap menghentak.


 


Sepanjang permainan itu Ajeng hanya bisa pasrah. Mau bergeser ke manapun, Bimo akan tetap mengikutinya. Keringat bercucuran sampai Ajeng tidak bisa mengusapnya lagi. Kain seprei sudah tidak berbentuk acaka - acakan. Tapi Ajeng berusaha mengikuti permainan Bimo. Sampai pada akhirnya…


 


“Agh… Ah… Hiks… Sakit Bim… Itu pantat ku… Hiks… Agh… Agh.. Agh… Aw… Bim… Noooo Stop… Saaakiitt…” Bimo mengeluarkan dan kembali memasukan lagi ke bagian intim Ajeng.


 


“Thank you, baby… Sorry… Sorry…” mendekap tubuh Ajeng yang kaku. Bimo menciumi leher yang sudah penuh dengan keringat itu. Dia membelai rambut Ajeng agar Ajeng melupakan rasa sakit yang sudah dia buat. “Once again…” mengkecupp bahu Ajeng dan kembali menghentak hentak sampai mencapai klimakss.


 


Ajeng bisa bernafas lega setelah Bimo mencapai pelepasan.


****


Bersambung…


****