
Setelah menempuh perjalanan yang jauh dari Melbourne ke Jogja dan sempat melakukan transit di Jakarta, kini Bimo dan Sasa sudah sampai di bandara Jogja. Sasa yang masih tertidur di kursi pesawat, harus digendong oleh Bimo untuk keluar dari pesawat dan menuju ke taxi.
“Ini ongkosnya, pak. Terimakasih,” ucap Bimo kepada supir taxi setelah dirinya sampai di depan rumahnya. “Ambil saja kembaliannya.”
“Terimakasih, mister. Mari saya bantu bawa turun kopernya.”
Selagi sopir taxi itu membawa turun koper-koper, Bimo menggendong Sasa yang masih tertidur untuk masuk ke rumah.
“Bim? Jam berapa sampai? Kok gak nelpon mama buat jemput kalian?” tanya bu Clara sambil berjalan menghampiri Bimo.
“Kan baru 2 hari yang lalu juga mama sampai sini. Kasihan mama, pasti capek,” jawab Bimo. Dia segera menidurkan Sasa ke sofa di ruang tamu karena harus mengurusi koper-kopernya lagi.
Selagi Bimo mengurusi koper, senyum bu Clara mulai berseringai. Tangannya bergerak cepat meraih handphone.
“Hai sayang.... Apa kabar? Iya... Kabar tante baik. Kamu bisa gak datang ke rumah tante? Anak tante baru aja datang dari Melbourne. Hm... Iya... Sesuai dengan rencana... Hm... Pasti dong... Selesai nelpon, tante akan share lokasi rumah tante ke kamu... Thank you ya... Ditunggu ya cantik....” ucap bu Clara pada sambungan telpon.
Bimo yang sempat mendengar pembicaraan mamanya itu menjadi kesal. Dia sudah bisa menduga kalau mamanya akan bertindak sesuka hati untuk mencarikan jodoh untuknya.
Cepat-cepat Bimo segera membopong Sasa menuju kamar. Dia segera mencari kunci mobilnya untuk segera pergi dari rumah agar bisa menggagalkan drama perjodohan yang disusun mamanya.
“Bim? Mau kemana?” tanya bu Clara ketika dirinya melihat Bimo memegang kunci mobil. “Anak teman mama bentar lagi datang. Jangan pergi dulu ya...” pinta bu Clara sambil mengekor Bimo dari belakang.
“Aku mau ke tempat sekolah Sasa yang baru. Ada urusan yang harus aku bicarakan sama teachernya Sasa,” jawab Bimo.
“Tapi ini anak teman mama mau ketemu kamu, Bim... Ini penting hlo, Bim,” sela bu Clara mendesak agar Bimo menuruti permintaannya.
“Urusan sekolah Sasa jauh lebih penting, ma. Mumpung ini masih siang. Nanti kalau kesorean, sekolah dia bisa tutup,” jelas Bimo memberontak secara halus.
Karena rasa lelah setelah perjalanan panjang, tapi harus disambut dengan rencana gila mamanya, Bimo segera menuju ke mobilnya. Lebih baik menghindar jauh-jauh tidak berada di dekat mamanya sementara waktu.
Siang ini juga Bimo melajukan mobilnya menuju ke sekolah baru Sasa yang berada di daerah Solo. Ada banyak bangunan baru yang dilihat Bimo setelah beberapa tahun tidak mengunjungi kota itu.
“Selamat siang, bu. Em... Saya Bimo. Orang tua dari Natasha. Dua minggu yang lalu saya melakukan registration secara online untuk memindahkan anak saya ke sekolah ini,” jelas Bimo kepada seorang perempuan yang duduk di ruang tata usaha.
“Ow... yang pindahan dari Melbourne Australia itu ya?” tanya perempuan itu.
“Iya, betul,” jawab Bimo.
Petugas tata usaha itu mulai menjelaskan kepada Bimo untuk murid baru yang akan masuk ke sekolah itu. Mulai dari seragam sekolah, kegiatan les mata pelajaran bagi murid yang membutuhkan bimbingan lebih, kegitan tambahan atau ekstrakurikuler dan mengenai asrama untuk murid yang ingin mengasah kemandirian.
“Kalau untuk program ekstrakulikuler, Sasa anak saya ikut kegiatan cooking class... Apa jamnya bisa dimundurkan ya jadi sore hari? Soalnya saya ada kegiatan pada hari itu sampai siang hari. Takutnya saya tidak bisa nemani anak saya,” jelas Bimo.
“Em... pak Bimo bisanya ke sini jam berapa?” tanya perempuan itu.
“Kalau bisa, apa boleh mundur sampai jam-jam segini? Jam 3-an...” tanya Bimo sambil menengok jam tangannya.
“Ow... Bisa, pak. Nanti biar saya koordinasi dengan guru cooking class nya,” ucap perempuan itu.
“Thank you so much, bu,” sambung Bimo dengan rasa leganya. “Untuk next nya, saya titip Sasa ya, bu. Terimakasih.”
Setelah pembicaraan itu, Bimo diberi seragam sekolah untuk Sasa. Dia pun segera pergi setelah menyelesaikan pembicaraannya.
“Huft... Capeknya dari Melbourne langsung lanjut ke Solo...” gumam Bimo setelah dirinya berada di dalam mobil.
Rasa kantuk dan lelah membuat Bimo mengendari mobilnya menuju apartment yang dulu sempat dia belikan untuk Jesslyn. Menurutnya lebih baik istirahat di apartment dari pada harus di rumah karena Bimo merasa perempuan yang dipanggil mamanya tadi sedang berada di rumah.
“Hmm... Finally I can sleep...” gumam Bimo setelah merebahkan tubuhnya di bed. Sebetulnya, perutnya saat ini sudah lapar. Tapi matanya juga tidak kalah meminta untuk diistirahatkan.
_______
Sore ini di depan kaca riasnya, Ajeng tengah sibuk berdandan. Ada hal besar yang akan dilakukan oleh Ajeng sebentar lagi.
“Enaknya rambutku diapain ya? Diikat aja kali ya...” gumam Ajeng di depan cermin.
Sudah 2 tahun ini Ajeng mengubah gaya rambutnya. Dia mengkeriting rambutnya untuk memberi suasana baru.
Selang tak lama setelah itu, Ajeng segera keluar dari kamarnya.
“Wah.... cantiknya yang mau dinner sama duda....” celetuk mbak Desi.
“Apa hlo embak ini! Ini kan cuma dinner drama buat manas-manasin Ganis,” sahut Ajeng.
“Siapa tahu juga ntar pak Kevin justru kepincut tertarik sama kamu... Kita kan gak tahu...” sambung mbak Desi.
“Enggak lah, mbak! Biar Pak Kevin sama Ganis aja. Kayanya Ganis juga suka sama pak Kevin, cuman anaknya aja sok malu-malu,” ucap Ajeng.
Malam ini dirinya dimintai bantuan oleh Kevin, orang yang sempat dia kenal pertama kali waktu naik kapal kelud. Kevin meminta bantuan Ajeng untuk membangkitkan rasa cemburu Ganis.
PIM PIM!
“Eh? Itu kayanya mobil jemputanmu udah dateng,” ucap mbak Desi dengan menengok ke jendela. Ajeng pun ikut mengintip lewat jendela.
“Iya itu mobil pak Kevin. Aku cabut dulu ya, mbak... Bye...!” Ajeng mulai berjalan sedikit terburu-buru.
“Hati – hati! Hihiiii... Ya ampuunnnn gak ada high heels yang lebih masuk akal apa?!” Mbak Desi terkekeh sambil melihat cara Ajeng berjalan dengan sepatu berhak tinggi.
Setelah menghampiri mobil yang berhenti di depan pintu gerbang rumahnya, Ajeng segera masuk ke mobil itu. Rupanya di dalam mobil itu ada Vano juga, anaknya pak Kevin.
“Wah... tante cantik banget... Kayanya misi kita akan berhasil malam ini,” ucap Vano sambil menepuk-nepuk bahu papanya.
“Yeah! Kita harus berhasil. Tante juga gak sabar lihat reaksinya calon mamamu itu gimana nantinya...” sambung Ajeng.
Selama ini pak Kevin sudah terlalu sering menggunakan jasa tour and travel nya Ganis. Intensitas pertemuannya dengan Ganis membuat Kevin menaruh hati ke Ganis. Tapi sayangnya Ganis seperti memberi jarak dan menutup diri untuk Kevin. Bahkan Ganis justru berniat menjodohkan Kevin dengan Ajeng. Maka dari itu, jadilah ide untuk membuat Ganis cemburu tercetus di kepala Kevin.
Malam ini Ajeng, pak Kevin dan Vano datang ke sebuah cafe tempat dimana mereka akan melancarkan aksi mereka.
“Kamu sudah kirim pesan ke tante Ganis kan, Van buat datang ke sini?” tanya pak Kevin
Selagi mereka menunggu kedatangan Ganis, mereka memilih untuk memesan makanan terlebih dahulu agar tidak terlalu membuang waktu.
TING!
“Pa, ini tante Ganis kirim pesan katanya udah smpai di tempat parkir. Dia tanya kita ada di meja nomor berapa. Sana papa sama tante Ajeng buruan mulai dramnya!” celetuk Vano penuh semangat.
Kehadiran Ganis setelah mamanya meninggal, membuat hari-hari Vano ceria kembali. Dia berharap rencana papanya kali ini berhasil.
_______
Ganis yang saat ini tengah menunggui balasan dari Vano tentang nomor meja, masih berjalan dengan pelan memasuki cafe sambil melihat ke layar handphone. Tidak sengaja karena dirinya sibuk melihat ke layar handphone, dia menabrak seseorang di depannya.
BUG! KlotakK!
“Sorry sorry... Saya gak sengaja,” ucap Ganis sambil mengambil handsphonenya yang terjatuh.
“Are you okay?” tanya laki-laki itu.
Ganis cukup syok melihat wajah laki-laki yang baru saja dia tabrak itu. Laki-laki yang namanya pernah dia dengar dari curahan hati Ajeng.
“Kamu...? Kamu... Bimo kan?” Ganis masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
“Kamu... Siapa ya?” tanya Bimo mengkerutkan dahinya.
Belum sempat Bimo mengingat sosok yang mengenalinya, handphone di saku celananya bergetar. Rupanya panggilan itu adalah dari Sasa. Ganis yang sempat melihat si penelpon di layar handphone Bimo adalah nama perempuan, segera pergi meninggalkan Bimo. Bimo pun juga bingung dengan sikap aneh perempuan yang belum diingatnya itu. Dia memilih untuk mengangkat panggilan dari Sasa karena perempuan yang menabraknya itu juga pergi dengan sikap acuhnya.
“Dasar buaya! Jadi dia udah punya pengganti Ajeng...? Kalau Ajeng tahu hal ini, dia bisa stress berat lagi kayak dulu,” gerutu Ganis sambil terus berjalan mencari nomor meja yang dikirim oleh Vano.
________
Bimo yang saat ini masih berdiri di depan pintu masuk cafe, harus dipusingkan mendengar celotehan Sasa. Anak angkatnya itu ngambek karena dirinya tidak diajak pergi ke sekolah untuk mengambil seragam.
“Daddy gimana sih...? Kok main ambil seragam aku tanpa aku cobain seragamnya dulu? Nanti kalau kekecilan atau kebesaran gimana...? Huh! Daddy suka banget kayak gitu! Daddy kan bisa bangunin aku buat pergi ke Solo... Lagian aku juga bisa tidur di mobil selama perjalanan!”
Telinga Bimo terasa panas mendengar omelan anaknya itu. Sebetulnya dirinya ingin mengajak Sasa. Tapi karena terburu-buru demi menghindari rencana mamanya, dia membiarkan Sasa tertidur pulas di kamar.
“Sa... daddy laper banget. Very hungry right now,” balas Bimo. “Daddy makan dulu ya. Nanti kita lanjut lagi,” pinta Bimo.
Tanpa berlanjut-lanjut lagi, Bimo mematikan handphonenya. Dia cukup tahu apa yang akan terjadi bila dia terus menanggapi Sasa. Bisa satu jam lebih Sasa mengoceh ria seperti mama kandungnya.
Akhirnya setelah mematikan handphonenya, Bimo bisa masuk ke cafe itu dengan tenang. Dia segera mencari meja yang kosong agar bisa memesan makanan. Tapi ketika pandangannya mencari meja kosong, dia melihat sosok wajah perempuan yang sangat dia kenali.
“Ajeng...?”
Bukannya senang melihat Ajeng, Bimo justru begitu marah melihat apa yang dilakukan Ajeng saat ini. Ajeng yang tengah berdansa dengan pak Kevin terlihat begitu mesra dengam senyum yang terus merekah di bibirnya. Rasa cemburunya semakin meningkat ketika Ajeng menyenderkan kepalanya di dada laki-laki itu. Apalagi tangan laki-laki itu juga mengusap bahu Ajeng yang tidak ditutupi kain karena model gaun yang dipakai Ajeng cukup mengeksplor bagian bahunya.
BUG!
Bimo mendaratkan pukulannya ke pipi Kevin. Tantu saja hal ini membuat Kevin dan Ajeng kaget. Semua orang yang melihat kejadian itu juga kaget. Termasuk Ganis dan Vano yang langsung berlari menuju tempat area dansa.
“What the fu ck are you doing with her?!” umpat Bimo dengan meraih kerah Kevin.
Kevin yang menerima pukulan itu masih belum sadar dengan siapa laki-laki yang memukulnya. Tangannya mulai mengepal untuk bersiap memukul Bimo.
BUG!
“Ngapain kamu mukul pak Kevin?” tanya Ajeng setelah memukul punggung Bimo.
Bimo yang baru saja menerima pukulan dari Ajeng masih tidak menyangka kalau Ajeng akan memukulnya. Dia segera melepas tangannya dari kerah Kevin dan menghampiri Ajeng.
“Memangnya siapa dia? Pacar kamu? Atau suamimu?” tanya Bimo sambil membagi pandangannya melihat wajah Ajeng dan Ganis yang sedang menolong Kevin.
“Bukan! Lagi pula jika iya, itu bukan urusanmu!” balas Ajeng kesal.
Melihat banyaknya mata tertuju pada dirinya dan Ajeng, membuat Bimo menarik tangan Ajeng untuk keluar dari cafe itu. Dia sedikit menyeret Ajeng agar berjalan lebih cepat mengikutinya.
BRUG!
Suara pintu mobil terdengar setelah Bimo memasukan Ajeng ke mobilnya.
Pandangan matanya saling beradu. Ada rasa senang dan rindu yang sebenarnya dirasakan oleh Ajeng. Tapi mengingat dirinya ditinggalkan bertahun-tahun tanpa kabar, Ajeng menepis seluruh rasa itu.
“Mau ngapain kamu lihatin aku kayak gitu?” tanya Ajeng dengan bibirnya yang membuat Bimo gemas.
Ajeng segera membalikkan badannya untuk membuka pintu mobil di sebelahnya. Tapi gerakkan nya kalah cepat dengan tangan Bimo yang meraih bahunya. Bimo mencengkram bahunya itu dengan kuat sambil mendesakkan tubuh Ajeng ke punggung kursi mobil.
“Empp... Jangan Gila kamu!” Ucap Ajeng dengan menjauhkan bibirnya yang sudah hampir di lahap Bimo.
Rasa rindu dan kesal karena Ajeng sudah berdansa dengan Kevin membuat Bimo melu mat habis bibir Ajeng. Dia menggigit bi bir itu agar bisa mencari akses menye sap lidah Ajeng. Bimo mengu lum dan terus mengu lum sampai air li ur itu menetes karena Ajeng terus melakukan perlawanan untuk menghindarinya.
“Haahh... Haahh...” Keduanya terengah- engah setelah ciuman panjang.
“Aku bukan boneka se ks mu, Bimo!” bentak Ajeng dengan mendorong Bimo.
Bimo yang masih rindu, tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Ajeng. Dia kembali menci um bibir Ajeng dan mere mas keras salah satu buah kenyal yang terbungkus kain itu. Bimo menin dih tubuh Ajeng menarik gaun Ajeng sampai salah satu buah ke nyal itu menyempul keluar dari bungkusnya. Bimo menggi git dan menye sap pucuk itu berkali - kali sambil mere mas bagian in tim Ajeng.
“Pergi kamu, Bimo! Aku udah gak mau sama kamu lagi! Kamu jahat! Kamu jahat!” ucap Ajeng dengan lantang. Tangannya terus melakukan perlawanan memukul punggung Bimo.
“Aku jahat kenapa? Aku sudah mencoba menghubungi kamu tapi kamu tidak merespon!” kesal Bimo mengingat dirinya mencoba menghubungi Ajeng tapi tidak ada jawaban.
“Dua bulan lamanya aku tongkrongin depan pintu gerbang rumah kamu! Tapi kamu gak ada! Kemana kamu?!” tanya Ajeng yang kemudian mendorong Bimo sampai laki-laki itu terpojok di sudut.
Dengam cepat Ajeng segera membetulkan bajunya untuk segera pergi dari mobil itu.
*****
Bersambung...
*****