
Akhirnya bus yang ditumpangi Ajeng dan Bimo itu berhenti tepat di samping pesawat Garuda. Para penumpang dengan tertip menaiki tangga menuju kabin pesawat.
“Welocome to Garuda Airline…” sapa pramugari yang berdiri di dekat pintu masuk.
Tempat duduk business class yang berada di bagian depan pada kabin membuat langkah Bimo berhenti mencari tempat duduknya.
“Bim… Saya ke belakang ya…” ucap Ajeng yang masih berada di belakang Bimo.
“Ha? Em… Yeah… Enjoy your flight Ajeng…” sambung Bimo.
Dengan rasa berat Ajeng melangkahkan kakinya menuju economy class. Ingin sekali Ajeng menoleh untuk melihat Bimo. Tapi dia mengurungkan niatnya.
Setelah punggung Ajeng tidak terlihat oleh Bimo, Bimo melambaikan tangannya kepada seorang pramugari. Pramugari yang bertugas pada bagian business class itu melangkah menghampiri Bimo.
“How may I help you, sir?”
“Excuse me mam, can I change seat in economy class? I think tonight you don’t have many passengers.” Tanya Bimo membuat pramugari itu terdiam memikirkan jawaban yang pas. (Permisi bu, bisakah saya pindah duduk di kelas ekonomi? Saya pikir malam ini kamu tidak punya banyak penumpang)
“Em… Let me check first with our pilot. Before that may I suggest you to have a seat first? I will get back to you after the flight take off,” jawab pramugari itu dengan ramah. (Biar saya mengecek terlebih dahulu dengan pilot kami. Sebelum itu boleh kah saya sarankan untuk duduk terlebih dahulu? Saya akan kembali ke anda setelah pesawat lepas landas)
“Yeah. Sure…” Bimo segera memasang sabuk pengamannya.
Bimo dengan sabar menunggu jawaban dari pramugari yang dia tanyai itu. Setelah pesawat itu lepas landas, Bimo menoleh mencari-cari pramugari yang dia tanyai. Tapi pramugari itu tidak ada. Bimo berfikir mungkin saja dia tidak diizinkan pindah duduk ke kelas ekonomi.
Setelah satu jam lamanya pesawat itu melaju di udara, Bimo merasa ingin pergi ke toilet. Dia berdiri cukup lama di depan toilet business class untuk mengantre. Tapi orang yang ada di dalam toilet itu menggunakan toilet cukup lama. Bimo memutuskan meminta izin kepada seorang pramugari untuk menggunakan toilet yang berada di kelas ekonomi. Tentu saja kalau hanya urusan toilet, Bimo mendapatkan izin.
Saat dia membuka tirai kain pembatas kelas bisnis dan ekonomi, dia melihat kerumunan beberapa pramugari dan pramugara di salah satu tempat duduk penumpang. Bimo cukup penasaran dengan apa yang dia lihat. Tapi karena rasa ingin buang air kecil sudah di ujung tanduk, dia masuk ke toilet terlebih dahulu.
Selesai itu, dia mulai keluar dari toilet.
Mata Bimo tertuju ke tempat kerumunan itu lagi. Kali ini di tempat kerumunan itu sudah ada seorang pilot yang berdiri di sana. Dia berjinjit-jinjit untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Bukan kah itu sepertinya Ajeng?” tanya Bimo dengan berbisik. Dia melangkahkan kaki mendekati tempat kerumunan itu.
Tebakan Bimo memang benar. Orang yang sedang dikerumuni saat ini adalah Ajeng. Perempuan itu sedang memejamkan matanya. Tapi dalam mata terpejam itu dia meraung menangis. Suara tangisan Ajeng cukup keras.
Para pramugari dan pramugara berusaha menyadarkan Ajeng dengan mengusap lengan dan tangan Ajeng. Tapi hasilnya nihil. Perempuan itu masih belum sadar dari mimpi buruknya.
“What happened to her?” tanya Bimo yang kini sudah berdiri di dekat kursi Ajeng.
“We are not sure, sir. But I guess she is having a bad dream (Kami kurang tahu, pak. Tapi saya rasa dia mengalami mimpi buruk),” jawab pramugari yang tadinya Bimo tanya tentang perpindahan tempat duduk.
Bimo mencari cela untuk mendekati tempat duduk Ajeng. Dia mengusap pipi Ajeng dengan ibu jarinya.
“Ajeng… Ajeng… Sadar Ajeng,” ucap Bimo dengan terus mengusap pipi Ajeng. “Wake up Ajeng…” Bimo semakin mendekati tempat duduk Ajeng.
Orang-orang yang berada di sekeliling Ajeng itu mulai tahu kalau Bimo mengenal Ajeng. Mereka semakin memberi cela kepada Bimo untuk menyadarkan Ajeng.
“HmppphhHH… Hikzzz… HmppphhHH…”
“Ajeng… Sadar. Please wake up Ajeng,” ucap Bimo dengan mengepuk-epuk lengan Ajeng.
Setelah beberapa detik Bimo berusaha menyadarkan Ajeng, akhirnya Ajeng membuka matanya.
“Hah…? Hah…? Huft… Huufftt……” Ajeng teengah-engah setelah dirinya sadar. “Hikss…” Dia mulai menutup wajahnya setelah sadar kalau banyak orang berdiri di sekelilingnya.
Bimo yang menyadari kalau Ajeng merasa malu, mulai berbisik kepada pilot yang masih berdiri di dekatnya untuk menyuruh semua orang membubarkan diri dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Dia juga meminta kepada pilot agar dirinya boleh diizinkan duduk disamping Ajeng. Tentu saja Pilot mengizinkan permintaan Bimo. Selain karena tempat duduk di samping Ajeng kosong, pilot itu memberi izin kepada Bimo karena dia sudah membantu menyadarkann Ajeng dan Bimo juga mengenal Ajeng.
“Buka wajahmu... Mereka sudah pergi,” ucap Bimo dengan menyibakkan rambut Ajeng ke belakang.
Pelan-pelan Ajeng menggerakkan jarinya untuk memberi cela kepada matanya agar bisa mengintip. Dia justru semakin malu karena saat ini melihat bibir Bimo tersenyum tipis di hadapannya.
“Ajeng, kamu bisa buka wajahmu. Mereka semua sudah pergi.” Bimo berusaha menyakinkan Ajeng.
“Mmm… Jangan senyum-senyum gitu. Aku malu…” celetuk Ajeng dengan merundukan kepalanya. Dia mengusap wajahnya yang masih basah karena air mata.
Ajeng sedikit tersentak kaget saat dagunya diangkat oleh Bimo. Dia masih merasa malu dan tidak berani menatap wajah Bimo.
“Mimpi apa kamu?” tanya Bimo dengan mengusap pipi Ajeng dengan sapu tangan miliknya. “Saya gak pernah lihat orang nangis histeris waktu tidur. Itu pasti mimpi yang sangat buruk. Kamu dah baikan sekarang?” Bimo membungkukan kepalanya untuk melihat wajah Ajeng yang masih merunduk. Dia memegangi lengan Ajeng agar perempuan itu tidak menutup wajahnya dengan tangan.
“Hkzz… Sorry…” Ajeng mengusap hidungnya. Menyeka ingus agar tidak jatuh. Meski masih merasa malu, Ajeng mulai memberanikan diri untuk mentap mata Bimo. Tapi karena perasaannya belum tertata dengan baik, lagi-lagi ada air mata yang menetes dari salah satu bola matanya. Cepat-cepat Ajeng mengusap dengan lengannya. “Saya pasti malu-maluin ya tadi?” berusaha menepiskan rasa malu.
“Enggak juga. Itu bagus kalau kamu bisa meluapkan emosi kamu. Kamu mau minum?” tanya Bimo dengan diikuti anggukan Ajeng.
Bimo segera meraih botol air mineral yang terselip di kantong kursi depan.
Setelah menghabiskan satu botol minuman, Ajeng merasa lebih baik. Dia bisa lebih tenang. Apalagi Bimo sangat perhatian kepadanya. Laki-laki itu terus mengusap punggung tangan Ajeng.
“Kamu sudah lebih baik sekarang?” tanya Bimo dengan menatap mata Ajeng. Dia berusaha memastikan kalau Ajeng bisa mengontrol suasana hatinya.
“Ya. Terimakasih, Bim,” jawab Ajeng yang kini sudah bisa tersenyum kembali.
“Ajeng, saya punya dokter pribadi. Kata dokter saya… Kalau kita punya masalah, akan lebih baik kalau kita bisa menceritakan masalah kita ke orang lain.” Bimo mulai menggenggam tangan Ajeng dengan berlanjut mengusap-usap telapak tangan itu menggunakan ibu jari. “Kamu bisa bercerita ke saya. Mungkin itu akan membuatmu lebih baik,” ucap Bimo semakin meyakinkan Ajeng.
Perempuan itu mulai menggerakan bibirnya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan memikirkan ucapan Bimo.
“Mm… Saya…” Ajeng berusaha memberanikan diri untuk membuka suara lagi. Rasa nyaman yang Bimo berikan dengan mengusap tangan membuat Ajeng merasa yakin kalau Bimo bukanlah orang yang jahat. Apalagi laki-laki di depannya itu sudah membantunya beberapa kali. “Mm… Saya…”
“Kenapa? You can tell me, Ajeng.”
“Saya habis putus dengan pacar saya,” ucap Ajeng dengan memejamkan mata dalam-dalam. Dia berusaha untuk tegar. Tidak mau menangis lagi. “Dia selingkuh dengan bos saya…” Ajeng berusaha mengatur nafasnya.
“Hm…”
Beberapa detik keduanya saling diam. Bimo mulai merangkai setiap kalimat yang sempat Ajeng ceritakan kepadanya.
Hm… Jadi dia keluar dari tempat kerja karena bosnya ada affair sama pacarnya. Bisa jadi luka yang sempat aku tanyakan tadi adalah luka bekas perkelahian antara Ajeng dengan cowoknya. Atau mungkin juga dengan bos di tempat dia bekerja… Kasihan sekali perempuan ini. Bimo membatin memikirkan persoalan yang dihadapi Ajeng.
“Jangan pernah menangis lagi untuk laki-laki macam itu. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri,” ucap Bimo mulai membuka pembicaraan lagi. Ajeng hanya mengangguk menanggapi ucapan Bimo. Karena memang tidak ada gunanya juga menangisi Gery. Tapi rasa patah hati yang baru saja menghantamnya membuat Ajeng rapuh.
“Sebenarnya… Em… Yang paling menjadi pikiran saya adalah tentang ibu saya,” sabung Ajeng lagi.
“Ibu? Kenapa dengan ibu kamu?” tanya Bimo semakin tertarik mendengar cerita Ajeng.
“Ibu saya udah sering menyuruh saya dan mantan saya itu untuk segera menikah. Tapi sekarang saya dengan dia justru… berakhir,” jawaban Ajeng membuat ibu jari Bimo yang mengusap telapak tangannya berhenti.
*****
Bersambung…
*****