
Ajeng terdiam beberapa detik. Dia melihat 2 batang lidah buaya sudah berada di atas laci. Sepertinya Bimo memang berniat membantunya untuk mengobati luka. Karena Ajeng tahu kalau lidah buaya memiliki kandungan pereda rasa nyeri pada zat dan vitaminnya.
“Em… itu aloe veranya udah dicuci?” tanya Ajeng. Matanya melirik dan menunjuk pada atas laci tempat lidah buaya diletakkan oleh Bimo.
“Oh Sorry. Aku belum cuci…” Bimo ikut menoleh melihat apa yang dilihat Ajeng.
“Kalau gitu kamu cuci dulu, Bim. Aku— Em buka baju dulu. Kamu hadap sana jangan lihat-lihat,” ucapnya dengan ekspresi malu-malu.
“Hm… Yeah no worries,” sambung Bimo dengan beranjak dari tempat tidur. Dia pun menahan senyuman saat berada di depan Ajeng.
Selagi Ajeng membuka baju sambil menutupi bagian depan dengan selimut, Bimo mencuci lidah buaya tadi. Dia mencuci sampai bersih.
Apa harus dikupas semua aja ya kulitnya biar betul-betul bersih? Tanya Bimo dalam pikirannya. Tangannya mulai menggapai pisau dan mengupas semua kulit lidah buaya itu sampai hanya menyisakan bagian dalam saja yang textur dagingnya licin.
“Udah Jeng?” tanya Bimo ketika dia sudah selesai mengupas kulit lidah buaya.
“Hm… Iya.”
Perempuan itu sudah siap dengan menghadap membelakangi Bimo. Punggung itu nampak mulus sebenarnya, tapi karena sengatan lebah, banyak bercak merah berada di beberapa bagian.
“Jeng, Ini bhra kamu boleh aku lepas? Sepertinya yang bengkak ada di balik sini,” ucap Bimo ketiaka dia sudah duduk di belakang Ajeng. Kepala Ajeng sedikit menoleh dan melirik mata Bimo.
“Em iya. Buka aja gak pa pa.” Mulut Ajeng memang mengatakan tidak apa-apa. Tapi perasaannya sudah tidak karuan. Dirinya sudah hampir setengah telanjang di hadapan Bimo.
Bimo bisa merasakan kalau Ajeng cukup nervous saat ini. Tubuh perempuan di depannya itu nampak menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gelisahnya.
Setelah di buka ternyata memang benar apa yang diucapkan dokter pribadinya itu. Ada titik hitam kecil pada bagian yang bengkak. Bimo berusaha mengeluarkan itu menggunakan kapas dan jari-jarinya.
“Aw… Huuhhfftt…” Sedikit merintih saat Bimo memencet-mencet area yang bengkak.
“Tahan ya, Jeng. Ini masih belum mau keluar,” ucap Bimo. Punggung perempuan itu bergerak-gerak karena menahan rasa sakit.
Setelah beberapa detik berusaha mengeluarkan sengatan, akhirnya benda super kecil berwarna sedikit kehitaman itu keluar juga dan menempel di ibu jari Bimo. Dia meletakkan di atas kapas dan mengusap pelan punggung Ajeng dengan kapas.
“Udah ya Bim?” tanya Ajeng dengan menoleh. Dia merasa ada sedikit perbedaan setelah sengatan itu tidak lagi bersarang di tubuhnya.
“Yah. Sini kamu balik badan,” ucap Bimo dengan sedikit mengangkat selimut besar yang dipakai Ajeng. “Mana lagi yang digigit?” tanya Bimo setelah keduanya berhadap-hadapan.
“Samping kanan bawah ketiak sini…” sedikit mengangkat tangan kanannya. “Sama bawah punyaku yang kanan sini,” meraba bagian membuat mata Bimo mengikuti pergerakan tangan Ajeng.
“Buka selimutnya,” ucap Bimo membuat mata Ajeng berkedip-kedip menatapnya.
Mau tidak maupun Ajeng harus membuka selimuntnya. Kini hanya kain bhra yang masih menggantung menutupi area itu. Bimo tidak mengalami masalah saat mencabut sengatan pada bawah ketiak. Ajeng cukup pandai menutupi asetnya itu. Tapi saat Bimo harus mengecek pada bagian bawah kanan asetnya, Dia sedikit kewalahan. Benda kenyal putih mulus itu membuat konsentrasinya sedikit buyar. Apalagi sepertinya Ajeng lebih merasa kesakitan saat jari-jarinya memencet area itu.
“Huft… Pelan-pelan Bim… NgiluU periiih sakit banget…” rintihnya dengan terus menopang buah d4d4nya yang tertutup dengan kain bhra.
“Sakit banget sakit Bim… Aduh aduh aduhhh uhhh sakit sakit…”
“Nih… Finally…” ucap Bimo penuh kelegaan. Bibirnya tersenyum dengan mengusap keringat yang bercucuran di kening Ajeng. “Sudah baikan?”
“Masih nyeri sih… Tapi kalau racunnya udah keluar pasti nanti cepet sembuh. Makasih ya,” Ajeng mulai meraih selimut. Tapi Bimo menghalaunya.
“Biar aku olesin aloe vera,” ucapnya sambil mengambil mangkuk yang berisi aloe vera.
Ajeng sedikit mengrenyitkan dahinya. Dia berfikir kenapa Bimo harus melakukan itu segala? Bukankah dirinya bisa melakukan sendiri kalau hanya mengolesi aloe vera? Tapi Ajeng mulai ingat kalau dirinya punya luka di punggung juga. Tapi…
“Auu… Perih huft…” Ajeng memandangi tangan Bimo yang sudah menempelkan aloe vera itu ke buah d4d4nya bagian bawah. Rasa perih bercampur dingin membuat Ajeng fokus menahan rasa sakit dengan terus menopang asetnya itu. Bimo pun hanya fokus mengolesi pada bagian yang sakit. Tapi karena Bimo mengupas seluruh kulit aloe vera itu, daging aloe vera itu meluncur ke kanan, ke kiri dan atas membuat tangan Bimo mengikuti aloe vera tadi.
“Au! Jangan pagang-pegang, Bim!”Ajeng memekik saat tangan Bimo meremas pelan asetnya. Bahkan jari-jari itu menyentuh pucuk asetnya. Sebetulnya Bimo tidak bermaksud untuk itu. Dia hanya mengikuti arah aloe vera meluncur.
Ajeng yang kaget pun menyibak tangan Bimo itu secara spontan. Secara spontan juga Ajeng tidak sengaja justru menampakan semua asetnya di depan mata Bimo karena pengaitnya sudah terlepas dari tadi.
“Ajeng...?” Beberapa detik Bimo melihat bagian yang menggantung itu. Tapi Bimo dengan sigap langsung memeluk Ajeng. “Sorry. Aku gak bermaksud melakukannya tadi. Tapi daging aloe veranya memang licin.”
Antara kesal dan gemas, Ajeng juga menyadari kecerobohannya kenapa sampai menyibak tangan Bimo. Cepat-cepat Ajeng menarik selimut.
“Iya aku tahu. Sorry juga karena tanganmu sampai terpental kena lemari. Gak sakit kan?” tanya Ajeng dengan mendorong pelan tubuh Bimo. Selimut tebal yang dia tarik barusan sudah menutupi area depan tubuhnya.
“No. Sakitnya gak seberapa kalau dibanding kena sengatan lebah,” jawab Bimo. Keduanya saling tersenyum memandangi satu sama lain.
“Gimana rasanya sekarang? Sudah baikan?” tanya Bimo. Dia lebih berhati-hati agar aloe vera itu tidak meluncur ke arah terlarang.
“Hm… Lumayang. Rasanya dingin dan lengket,” jawab Ajeng. Tangannya itu juga ikut bekerja di balik selimut. Mengolesi bagian yang sakit. “Em, kalau kamu nelpon dokter pribadimu, sampaikan terimakasihku ya. Thanks juga buat kamu udah mau nyari aloe vera malem-malem gini. Hihiii… Aku pasti ngerepotin ya?”
“No… Enggak juga.” Bimo semakin lega karena Ajeng sudah bisa tersenyum kembali.
“Kalau kamu punya pacar, pasti pacarmu bisa marah kalau dia tahu cowoknya seperhatian ini sama cewek lain,” celetuk Ajeng membuat Bimo berhenti mengolesi aloe vera.
Laki-laki itu menggeser duduknya. Menjauhi Ajeng dan meletakkan aloe vera ke mangkuk.
Kenapa lagi sih dia ni? Emang aku salah ngomong apa? Kok sikapnya jadi dingin? Tanya Ajeng dalam pikirannya. Dia memandangi perubahan sikap Bimo.
“Pakai bajumu Jeng. Punggungmu masih hangat.” Bimo meraih t-shirt Ajeng yang berada di dekatnya.
Dia mulai berdiri dan mencari sesuatu di lacinya. Ada banyak obat di kantong plastik yang Bimo ambil. Ajeng yang melihat itu sedikit membelalakan matanya. Baru kali ini ada orang yang berbadan segar dan terlihat fit menyimpan banyak obat-obatan.
“Obat apa itu, Bim? Banyak banget…”
“Yeah, cuma persedian aja kalau lagi travelling. Ini aku ada paracetamol,” memberikan kepada Ajeng. “Kamu mau minum pakai air hangat atau air mineral biasa?” tanya Bimo dengan mengambil gelas.
“Em boleh minta teh? Kayaknya enak kalau ngeteh pas dingin-dingin gini,” jawab Ajeng. Tubuhnya kalau sedang sakit memang suka kalau dimanjakan. Jadi kenapa tidak kalau ada yang mau membuatkannya teh.
“Tapi kan kamu mau minum obat. Nanti obatnya gak bekerja maksimal kalau kamu minum teh.”
“Tapi aku lagi mau minum teh panas, Bim…” sedikit merengek karena memang ingin ngeteh.
“Hm… Ya ya ya…”
Laki-laki itu mengganti gelas yang diambilnya dengan cup. Hanya satu cup untuk Ajeng. Dia lebih memilih mengambil beer yang dia simpan di lemari pendingin.
Setelah teh itu jadi, Ajeng pun juga sudah memakai bajunya. Ajeng membiarkan Bimo duduk di bed. Mereka menikmati minuman masing-masing.
“Bim, berapa hari kita akan di sini?” tanya Ajeng. Dia menaruhkan tehnya setelah mencicipi beberapa seruput. Suhu udara di tempat itu sangat dingin. Teh panas yang baru saja dibuat pun berubah cepat jadi hangat.
“Mungkin cuma sampai besok pagi. Aku rasa kamu gak kuat dingin. Jadi mending kita lanjut ke tempat lain,” jawab Bimo.
“Hloh? Kok karena aku jadi gitu? Gak pa pa kali kita di sini beberapa hari kalau kamu emang mau di sini. Besok pasti aku sembuh,” timpal Ajeng. Dia tidak mau karena dirinya jadwal Bimo berubah. “Emang habis ini kita kemana kalau ngikuti schedule kamu?”
“Em… Sepertinya akan ada perubahan schedule. Kita akan pergi ke Bandung, habis itu ke Batam dan lanjut ke Doha…” jawab Bimo yang kemudian meneguk beernya sampai habis. Laki-laki itu berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beer lagi.
“Doha…? Doha itu kan Qatar… Terus gimana dengan minibusku?”
“Em… Kita bisa titipkan ke teman aku. Paling cuma seminggu kita akan di Doha. Gimana dengan passportmu? Kamu bawakan?”
“Em. Yeah. Untungnya aku bawa. Terus gimana dengan tiketku? Urusan visa gimana?” tanya Ajeng.
“Don’t worry about that. Lagi pula passport kita berlaku bebas visa selama 30 days di sana,” jelas Bimo. Laki-laki itu nampak kuat minum karena baru beberapa menit sudah habis 2 botol beer.
“Bim… Jangan minum banyak-banyak. Di sini suhunya dingin banget. Kalau kamu sakit dan aku sakit siapa nanti yang mau ngurusin kita,” ucap Ajeng ketika tangan Bimo sudah mau membuka beer yang ketiga.
Bimo pun menuruti kata-kata Ajeng itu. Dia memasukan beernya lagi ke dalam lemari pendingin.
Keduanya memilih untuk tidur setelah percakapan tentang rute perjalanan. Ajeng tidur di bed minibus dan Bimo memilih untuk berada di tenda.
Di saat tengah malam itu, Bimo terbangun dari tidurnya. Dia merasa sangat kedinginan. Dia tidak menyangka saat melihat suhu udara yang tertera di handphonennya menunjukan -2ᴼ celcius. Sangat dingin untuk iklim tropis seperti di Indonesia.
“Huftt… Suhu terdingin di pegunungan Indonesia yang pernah aku tahu,” ujar Bimo. Dia merasa tidak sanggup berada di dalam tenda. Dia memutuskan untuk melihat suasana di luar.
Ternyata saat dirinya keluar dari tenda, memang banyak orang yang tengah malam itu berpindah masuk ke mobil. Bimo pun melirik ke minibus Ajeng. Suhu dingin yang dirasakan Bimo, membuat kakinya melangkah menuju ke minibus.
*****
Bersambung…
*****