My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Sejak Kapan Dia Hamil? (21+)



Bimo mulai meminum air mineralnya. Dia memandagi wajah Ajeng yang masih menunggu jawabannya tentang perempuan bernama Sekar.


 


“Em…” Bimo mencoba mengingat saat pertama kali dirinya bertemu Sekar. “Sebetulnya Sekar itu adalah perempuan yang hampir aku lamar. Dia temannya Kasih. Jadi singkat cerita Kasih mengenalkan aku ke Sekar. Tapi waktu aku akan melamarnya, Sekar justru mendapat panggilan mendadak dan tiba-tiba dia memutuskan untuk kembali ke laki-laki yang sudah memberinya anak kembar,” jelas Bimo dengan mengingat kejadian di masa lalunya.


 


“Tapi… Bukannya kamu bilang mantan kamu cuma Jesslyn aja? Kok kamu sampai mau melamar Sekar segala?” tanya Ajeng masih bingung.


 


“Em… Yeah. Sebelumnya aku sempat berfikir kalau memang aku gak bisa memiliki keturunan, kenapa tidak jika aku menikahi janda atau perempuan yang udah punya anak tapi gak ada suami. Daripada aku harus menjalin hubungan dengan perempuan yang masih single… tapi kondisi kesehatanku harus dipermasalahkan dari pihak mertua atau calon istriku nanti. Lagi pula aku tidak ada masalah bila harus memiliki anak bukan dari darah dagingku… Dan menurut aku… Setiap anak berhak mendapat kasih sayang,” jelas Bimo dengan menggenggam tangan Ajeng. “Tadinya… Kalaupun aku tidak bisa memiliki keturunan, aku ingin memiliki anak angkat jika tidak ada perempuan yang mau menikah denganku,” jelasnya lagi membuat dada Ajeng mulai sedikit sesak mendengar penjelasan Bimo.


 


Cara berfikir Bimo itu membuat Ajeng terperanga. Sangat jarang laki-laki yang memiliki pola pikir seperti itu. Ajeng mengusap usap tangan Bimo yang meng geng gam tangannya.


 


“Tapi ternyata… aku justru bertemu denganmu. Thank you, baby… Aku akan terus berusaha bikin kamu supaya cepat hamil,” tersenyum lebar memandangi wajah cantik Ajeng. Bimo mengke cup tangan Ajeng dan belanjut mendaratkan bibirnya untuk melu mat halus bibir Ajeng yang ikut tersenyum. “I love you…”


 


“Love you too, Bim…” balas Ajeng. “Cepat habisin omletnya. Mau nambah lagi gak?”


 


“Em… Boleh. Aku mau 2 omlet lagi dengan extra cheese…” pinta Bimo.


 


“Dua?” tanya Ajeng heran. Itu artinya Bimo akan menghabiskan 4 omlet. Padahal 1 gulung omlet dia buat dengan 3 telur.


 


“Iya… Aku laper. Lagian aku butuh tenaga lebih biar bisa bikin perut kamu cepat buncit…” jawabnya dengan mengulurkan tangan mengusap perut Ajeng. Ajeng terkekeh mendengar jawaban itu.


 


Sarapan dengan topik pembicaraan hangat sudah selesai setelah Bimo menghabiskan 2 omletnya lagi. Dia cukup kenyang pagi ini.


 


“Bim, nanti kalau sampai di Bandung, kita isi tampungan air ya… Udah tinggal dikit. Tapi kalau cuma untuk ke toilet masih cukup,” ucap Ajeng sambil membetulkan seprei dan sarung bantal yang acak-acakan.


 


“Ok. Nanti aku akan minta pihak resort di Bandung buat refill tampungan airnya,” sambung Bimo ikut merapikan bed.


 


Bimo berlanjut menyetir minibus menuju Bandung setelah urusan merapikan minibus selesai. Dia membiarkan Ajeng beristirahat karena dia tahu Ajeng cukup lelah melayani hasratnya yang cukup tinggi.


 


“Bim… Aku tidur dulu ya… Kalau kamu capek, bangunin aku biar aku bisa gantiin kamu nyetir,” ucap Ajeng dengan mata terpejamnya. Dia membetulkan posisi bantal kecil pada punggung kursi agar dia bisa nyenyak tidurnya.


 


“Kenapa gak tidur di bed belakang aja, Jeng? Biar badan kamu bisa rebahan,” Bimo memberi saran.


 


“Enggak… Aku mau tiduran di sini di samping kamu…”


 


Bimo cukup senang mendengar jawaban itu. Dia mengusap – usap kepala Ajeng dengan satu tangan sambil terus menyetir.


 


Perjalanan menuju Bandung dari lokasi Pantai Menganti cukup jauh. Saat ini Bimo sudah memasuki kawasan Jawa Barat. Dia melihat Ajeng sudah mulai menggeliyat beberapa kali. Kelopak matanya pun sudah mulai bergerak-gerak.


 


“Sudah bangun?” tanya Bimo dengan senyum tipisnya.


 


“Udah berapa lama aku tidur, Bim?” tanya Ajeng berlanjut meregangkan otot badannya. Dia memandangi sekitar jalan untuk mencari tahu sudah sampai mana dirinya saat ini.


 


“Hm… Sekitar 3 hours,” menjawab dengan santai. Tapi Ajeng cukup terkejut karena dia merasa hanya tidur sebentar. Bimo memandangi Ajeng yang mulai mengecek jam tangan.


 


“Astaga… Kok kamu gak bangunin aku sih? Emang kamu gak mau gantian nyetirnya?”


 


Ajeng mulai merapikan rambut dan meminum air mineral.


 


“Biar aku aja yang nyetir. Aku gak mau kamu capek. Kamu harus fokus jaga kesehatan kamu,” berlanjut mengusap perut Ajeng.


 


Ajeng tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka Bimo akan sedetail itu memikirkan usaha untuk menghamilinya.


 


“Tadi aku juga sempat berhenti di minimarket buat beli bahan makanan. Kamu masak yang enak ya siang ini. Aku udah laper…” pinta Bimo.


 


Ajeng bergegas menuju ke belakang untuk mengecek bahan makanan yang dibeli Bimo. Siang itu dia memilih untuk membuat masakan dengan bahan ikan salmon dan udang.


 


Bau masakan sangat menyengat membuat perut Bimo semakin lapar.


 


“Masak apa, Ajeng?” tanya Bimo sambil menyetir. Dia mencari tempat untuk menepikan minibus itu agar bisa menikmati makan siangnya.


 


“Aku bikin Garlic butter salmon sama black pepper udang pakai asparagus. Ada hashed brown potato juga pastinya… Hihiii…” jawab Ajeng sambil mencicip salah satu masakan.


 


Karena rasa lapar yang sudah tidak tertahankan, Bimo segera menepikan minibus.


 


“Wow… Looks delicious…” ucap Bimo ketika melihat masakan Ajang yang sudah di tata di atas meja makan.




 



 


Siang ini mereka menikmati makanan sambil merasakan semilir angin dari area persawahan. Banyak tanaman padi yang masih hijau di tempat mereka berhenti.


 


Selesai makan siang, Ajeng mengumpulkan semua piring dan gelas kotor untuk dicuci. Sedangkan Bimo sibuk mengecek email yang masuk ke handphonenya.


 


“Yeah… habis airnya…” celetuk Ajeng dengan tangan yang masih penuh busa.


 


Bimo segera mengambil botol air mineral untuk membantu Ajeng mencuci tangan.


 


 


“Soalnya kalau gak segera dibersihkan, bisa bau minibus kita, Bim,” sabung Ajeng dengan mencari kain lap untuk mengeringkan tangannya yang basah. Pan tat nya menungging mencari kain lap yang berada di laci bagian bawah.


 


Tidak sengaja rok yang dipakai Ajeng itu sedikit tersingkap naik sampai menunjukan cela na da lamnya. Bimo tersenyum simpul memandangi paha mu lus. Suasana jalan yang sepi membuat gairahnya tidak bisa ditahan lagi. Dengan gerak cepat, tangannya mulai menutup jendela dan menarik tirai. Dia menyibak rok itu dan menarik ce lana Ajeng sampai menampakan kulit mulus pan tat Ajeng.


 


“Argghh… Bim…?” Ajeng meremas tumpukan kain di laci. Dia menahan rasa sakit yang terasa panas karena Bimo melakukan tanpa pemanasan. Pipinya kembali memanas karena reaksi rasa perih yang dia rasakan pada **** ***** yang dihentak – hen tak. “Argh…” Mulutnya menganga setiap kali hen takan yang dibuat Bimo. Terasa begitu dalam. Tangan Ajeng mulai mencari tumpuan yang lebih kokoh agar dirinya tidak tersungkur. “Bim, pelan-pelan… Nanti kepala ku kejedot laci. Argh… Mppp…” menggelengkan kepala karena Bimo tidak menuruti permintaannya. Ritme permainan justru semakin kuat dirasakan Ajeng.


 


“Baby, I love you… Bisa kita pindah ke bed?”


 


Tanpa melepas penyatuan, Bimo mengarahkan Ajeng untuk berjalan menuju bed. Dia mulai menelan janggi Ajeng dan melanjutkan permainan. Bimo membolak balikan tubuh Ajeng dengan terus menghujam **** ***** itu. Kalau sudah begini, Ajeng hanya bisa pasrah dan menunggi Bimo sampai kekasihnya itu puas menyembur berkali – kali.


 


“Argh… Argh…” Ajeng bisa melihat betapa puasnya wajah Bimo ketika kekasihnya itu mencapai kli maks. Mata terpejam dengan bibir sedikit muncung ke depan. Ditambah lagi kerutan di dahi Bimo seakan menunjukan betapa nikmatinya sensasi mengucurkan seluruh lahar ken tal di dalam sana.


 


CUP! Bimo me lu mat halus bibir Ajeng. Dia membenamkan wajahnya di leher Ajeng dengan semakin mendekap tubuh Ajeng.


 


“Thank you buat dessertnya (hidangan penutup)” ucap Bimo dengan senyum tipis di bibirnya.


 


“Kamu pikir aku makanan?”


 


Karena rasa gemasnya, Ajeng menggigit pelan telinga Bimo.


 


“Suka ya kamu gigit gigit telingaku?” Bimo membalas gigitan Ajeng itu dengan menggigit telinga Ajeng balik. Dia menji la ti telinga Ajeng sampai kekasihnya itu kegelian.


 


“Hahaa…! Geli tahu! Ini telinga ya… Bukan permen yang bisa kamu ji lat – ji lat. Hihiii…” Ajeng berusaha meghindar tapi Bimo terus mengikutinya. “Aw… Ah! Udah dong, Bim… Takutnya nanti ada polisi lewat liat mobil kita goyang goyang terus… Malu tahu kalau kena Razia pak Polisi...”


 


“Hihiii… Iya… Ini pakai bajumu cepat,” Bimo memberikan baju Ajeng yang sempat dia lepas. Dia pun juga kembali memakai bajunya.


 


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Bimo duduk di kursi kemudi dan Ajeng kembali duduk di kursi sebelah Bimo. Sesekali Bimo mera bai pa ha Ajeng untuk menghilangkan rasa penatnya menyetir minibus.


 


“Kita berhenti di hotel depan sana ya, Jeng. Biar kita bisa isi tampungan air kita,” ucap Bimo sambil menyalakan lampu sein minibus ke sebelah kiri.


 


“Iya, Bim. Aku juga udah kebelet pi pis…” tersenyum malu karena sebetulnya sudah dari tadi Ajeng menahan ingin ke toilet.


 


Akhirnya tak lama kemudian, Bimo dan Ajeng memasuki kawasan hotel yang bangunannya cukup besar. Ajeng meminta izin untuk ke toilet karena dia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Sementara itu Bimo pergi ke bagian resepsionis untuk meminta bantuan mengisi tampungan air di minibusnya. Sebetulnya pihak hotel tidak memberikan pelayanan itu. Tapi karena Bimo berani membayar dengan nominal cukup tinggi, pihak hotel menyanggupi permintaan Bimo.


 


“Terimakasi banyak. Really appreciate it (Sangat menghargainya),” ucap Bimo ketika dia sudah selesai membayar tagihan bill.


 


“My pleasure, sir (Dengan senang hati tuan). Kami senang bisa melayani anda,” ucap petugas resepsionis. Dia menyerahkan kartu milik Bimo setelah menarik nominal angka sesuai pembayaran.


Bimo berlanjut duduk di kursi lobby hotel untuk menunggu Ajeng. Dia memandangi area sekitar lobby. Tidak sengaja, matanya menangkap sosok yang cukup dia kenal. Sosok perempuan yang pernah menjadi kekasihnya dulu.


 


“Jesslyn?” Bimo tidak menyangka akan berjumpa Jesslyn di tempat itu. Tapi ada pemandangan yang berbeda dari tubuh Jesslyn. “Sejak kapan dia hamil?” tanya Bimo



 


“Hai Bim… Lama gak jumpa!” sapa Jesslyn.


 


Setelah sekian lama tidak pernah menjalin komunikasi semanjak berakhirnya hubungan mereka, kini keduanya berjabat tangan. Wajah cantik itu masih terlihat sama ketika perempuan itu memilih meninggalkannya.


 


“Apa kabar? Selamat buat kehamilanmu,” ucap Bimo dengan memandangi perut buncit Jesslyn.


 


“Terimakasih, Bim. Kamu apa kabar? Kemarin aku call mamamu katanya kamu sudah punya girlfriend. Dia pasti sangat beruntung mendapatkanmu,” ucap Jesslyn.


 


Bimo cukup heran dengan kalimat yang dia dengar itu.


 


“Bukannya dulu kamu mengatakan tidak beruntung mendapat laki-laki sepertiku?” tanya Bimo heran. “Kamu bilang jika laki-laki yang tidak bisa memberikan anak, itu tandanya dia bukan lak-laki sejati. Tapi… Kenapa ucapanmu sekarang berubah?” tanya Bimo dengan senyum tipisnya.


 


Berpisah dengan Jesslyn adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dia alami. Bimo tidak pernah bisa melupakan betapa pedasnya kalimat Jesslyn pada saat hari-hari terakhir mereka bersama.


 


“Yeah… I’m sorry, Bim. Aku minta maaf untuk waktu itu. Sekarang aku sadar. Aku sudah salah menilaimu. Sebetulnya… waktu aku kemarin telpon mamamu, aku mencarimu. Aku pikir kamu masih belum punya girl friend. Tapi ternya sudah,” ucap Jesslyn. Dia menghela nafas cukup dalam memikirkan sesuatu.


 


“Memang kenapa kalau aku sudah ada girl friend? Kalau aku belum ada girl friend juga kenapa?” tanya Bimo. Dia belum paham apa tujuan mantan kekasihnya itu mencarinya.


 


“Ayah dari anak yang aku kandung ini meninggalkanku. Keluarganya tidak menyukai ku karena mereka menginginkan menantu dari kalangan yang sedrajat dengan keluarga mereka. Meskipun aku hamil, mereka masih tidak mau menerimaku,” ucap Jesslyn.


 


Sebagai orang yang pernah menyayangi Jesslyn, Bimo merasa miris mendengar cerita mantannya itu. Dia tidak menyangka kehidupan Jesslyn justru semakin buruk setelah berpisah dengannya.


 


“Tadinya aku pikir… Aku bisa balikan sama kamu. Tapi ternyata… Kamu sudah punya girl friend,” jelas Jesslyn lebih lanjut.


 


Ternyata pembicaraan itu tidak tahunya di dengar oleh Ajeng yang berdiri di balik guci besar. Entah kenapa Ajeng merasa takut dengan hadirnya Jesslyn saat ini.


 


“Bimo…” sapa Ajeng.


 


Bimo dan Jesslyn cukup terkejut dengan kehadiran Ajeng.


 


*****


Bersambung…


*****