
“Apa, dok? Hamil?” tanya bu Clara masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Dokter melihat kebingungan di wajah bu Clara.
“Em... Iya bu. Untung saja janin di perutnya tidak apa – apa,” jelas dokter itu lagi dengan tatapan mata lebih dalam dan menyipit.
Sedangkan kondisi Ajeng setelah mendapat penanganan dari dokter, dia sudah mulai sadar. Ajeng yang sempat mengalami pingsan menjadi bingung karena saat ini dirinya melihat seorang suster yang tengah mengobati luka di keningnya.
“Sus...” sapa Ajeng sambil memperhatikan suster yang sedang melakukan tugasnya.
“Syukurlah anda sudah sadar...” ucap suster itu dengan senyuman tipis. “Anda hanya terluka di bagian kening saja, bu. Kandungan anda juga tidak apa-apa,” jelasnya lebih lanjut. Suster itu membetulkan selimut untuk Ajeng setelah dirinya selesai memasang perban.
Antara percaya dan tidak percaya, mendengar kalimat kalau dirinya tengah mengandung, Ajeng mengusap perutnya. Belum terlihat buncit atau ada pergerakan tanda kehidupan. Namun memang akhir-akhir ini Ajeng merasa ada perubahan dengan dirinya. Apalagi bila menyangkut soal Bimo. Rasa kuatir dan cemburunya meningkat. Tapi apa boleh buat bila Bimo lebih memilih perempuan lain. Perempuan yang mungkin diidamkan bu Clara sebagai menantunya.
“Ajeng...” sapa bu Clara setelah membuka pintu ruang rawat Ajeng.
“Saya permisi dulu, buk...” ucap suster sambil melihat Ajeng dan bu Clara. Dia mulai keluar dari ruangan itu setelah selesai dengan tugasnya.
“Terimakasih, sus,” ucap bu Clara.
Kini tinggallah bu Clara dan Ajeng dalam satu ruangan. Ajeng yang baru saja sadar dari pingsannya masih merasa sedikit pusing. Tubuhnya pun terasa lemas. Tapi Ajeng berusaha untuk bangun dari bednya.
“Ajeng...?” bu Clara berjalan menghampiri Ajeng. “Mau ngapain? Kamu harus istirahat,” ucap bu Clara sambil mendorong pelan badan Ajeng untuk merebahkan tubuh kembali.
Entah mengapa Ajeng merasa tidak nyaman berada di dekat bu Clara. Dia masih teringat dengan ucapan bu Clara yang membandingkan dirinya dengan seorang perempuan tengah melakukan meeting dengan Bimo saat ini.
“Tante, em... kata suster, luka di kening saya cuma luka ringan. Ga ada luka serius,” ucap Ajeng. Dia kembali menggunakan seluruh tenaganya untuk bangun dari tempat tidur itu. “Saya rasa ini adalah waktu yang tepat untuk pulang ke rumah,” ucap Ajeng dengan melepas tangan bu Clara dari lengannya.
“Maksudnya?” tanya bu Clara bingung.
“Mumpung gak ada Bimo, saya mau balik ke rumah saya. Biar tante lebih mudah menjodohkan Bimo dengan perempuan pilihan tante itu,” ucap Ajeng dengan senyum tipisnya. “Saya sadar kok tante, keluarga saya hanya keluarga sederhana. Karir saya... juga gak sebagus dengan perempuan di foto yang tante tunjukan.” Ajeng merasa lega bisa menunjukan ketegaran hatinya. “Dari dulu memang saya sudah ikhlas untuk melepas Bimo, anak tante. Beberapa minggu ini saya bertahan bersama Bimo karena tidak mau menyakiti Sasa. Selain itu Bimo juga mengurung saya di apartment,” jelas Ajeng lebih lanjut. “Saya mau permisi, tante. Salam untuk Sasa... Semoga Sasa senang dengan calon mama baru pilihan tante.”
Menyakitkan sekali memang kalimat itu keluar dari mulut Ajeng. Bu Clara kembali meraih kedua lengan Ajeng.
“Ajeng, tapi... Kamu hamil sekarang...” sela bu Clara mencoba menghentikan niat Ajeng untuk pergi.
“Ga pa pa, tante... Lagi pula menantu idaman tante kan yang bibit bebet bobotnya sama. Saya cuma anak yang berasal dari keluarga sederhana,” balas Ajeng dengan sikap tenangnya.
“Maksud kamu? Kamu ga mau Bimo bertanggung jawab untuk bayi yang tumbuh di perut kamu?” tanya bu Clara dengan wajah tegangnya.
Ajeng menghela nafas pelan sambil tersenyum simpul.
“Jujur sebetulnya saya kesal melihat foto yang tante tunjukan antara Bimo dan perempuan yang sedang bersama Bimo saat ini. Tapi kalau memang tante setuju dan merestui hubungan Bimo dengan perempuan itu... Saya bisa berbuat apa...?” timpal Ajeng masih bersikap sopan. “Lebih baik saya mundur mengalah.”
Rupanya kalimat terakhir Ajeng untuk bu Clara itu didengar oleh Bimo.
“Ngomong apa kamu?” tanya Bimo menatap Ajeng menyambar masuk ke dalam pembicaraan antara Ajeng dan mamanya. “Apa kata dokter, ma?” tanya Bimo. Dia merangkul pinggang Ajeng dan menyibak rambut Ajeng ke belakang telinga.
“Ajeng cuma luka keningnya, Bim. Dokter bilang lukanya ga parah. Kondisi janin di perut Ajeng juga baik-baik saja,” jawab bu Clara.
Bimo yang mendengar kalimat itu dari mamanya menjadi senang.
“Kamu hamil baby?” tanya Bimo mulai merangkup wajah Ajeng. “Akhirnya usaha kita memberikan hasil,” timpal Bimo lagi. Bimo mulai memeluk Ajeng dengan erat meluapkan rasa bahagianya. Dia mengkecup kening Ajeng di depan mamanya penuh rasa cinta. “Ayo kita temui dokter. Aku mau pastikan tentang kondisi kesehatan kamu,” ajak Bimo.
Ajeng pikir Bimo akan berpaling darinya karena perempuan lain. Tapi melihat antusias Bimo mengecek ke dokter, sepertinya dugaan itu salah.
Mereka segera keluar dari rumah sakit setelah mendengar penjelasan dari dokter.
“Bim, mending kamu ajak Ajeng balik ke apartment. Biar mama yang beli resep obatnya Ajeng,” ucap bu Clara.
_________
Sesampainya di apartment, rupanya Sasa sudah balik dari sekolah.
“Mommy...” sapa Sasa setelah Ajeng masuk ke apartment. Dia memeluk Ajeng cukup erat. “Kepala mommy kenapa? Sakit?” tanya Sasa.
“Cuma sedikit luka, sayang. Paling bentar lagi sembuh,” jawab Ajeng yang kemudian berjongkok untuk memeluk Sasa balik. “Sasa udah makan? Makan yuk! Biar mommy suapin,” ajak Ajeng. Dia menggandeng Sasa menuju ruang makan.
Selesai makan, seperti biasa Ajeng akan mengajak Sasa untuk tidur siang. Tapi kali ini Ajeng tidak ikut tidur siang karena bu Clara datang kembali untuk memberi obat dari resep dokter yang dia beli.
“Ajeng, ini mama belikan juga baju-baju untuk ibu hamil,” ucap bu Clara yang kemudian memberikan tas berisi banyak baju belanjaannya.
Ajeng sedikit mengkerutkan keningnya mendengar kalimat itu. Bukan banyaknya baju yang membuat Ajeng heran. Tapi kata ‘mama’ yang keluar dari bibir bu Clara lah yang membuatnya heran.
Kata ‘mama' itu didengar Ajeng lagi. Itu tandanya dia tidak salah dengar. Padahal dulu bu Clara pernah membentanya di tempat umum untuk tidak memanggilnya dengan sebutan ‘mama’.
“Terimakasih, tante,” ucap Ajeng dengan mengambil tas belanjaan itu.
Bu Clara merasa kikuk saat Ajeng memanggilnya dengan sebutan ‘tante’.
“Ajeng... Emmm... Sekarang kan kamu sudah mengandung calon cucu saya... Saya mau kamu panggil saya mama,” pinta bu Clara dengan sikap kikuknya. Dia merasa tidak nyaman berada di situasi saat ini.
Mendengar ucapan bu Clara itu sebetulnya Ajeng cukup senang. Tapi mengingat kejadian di masa lalu, Ajeng tidak mau mengulangi hal yang sama yang mungkin saja bisa menyakitkannya lagi.
“Em... Tante... Bukannya saya menolak permintaan tante. Saya memang mengandung calon cucu tante. Tapi kan sampai saat ini, saya hanya orang asing di keluarga tante. Saya dan Bimo tidak ada ikatan apa-apa. Saya ga mau lancang masuk di lingkup keluarga tante yang secara kelas sosial lebih tinggi dibanding keluarga saya,” balas Ajeng. Kalimatnya terasa menohok dirasakan bu Clara.
Bu Clara sadar dirinya sudah cukup melukai perasaan Ajeng.
“Ajeng...” Bu Clara meraih kedua tangan Ajeng. “Mama minta maaf ya... Mama tahu, mama sudah melukai perasaan kamu. Mama mau kita memulainya dari awal lagi,” pinta bu Clara mencoba menyentuh hati Ajeng.
“Em... Tante gak usah merasa bersalah. Tapi memang saya merasa lebih nyaman memanggil dengan sebutan tante. Selama saya dan anak tante tidak ada ikatan apa-apa, saya tidak mau bersikap atau berharap lebih,” jelas Ajeng masih tetap kuekeh dengan pendiriannya.
Bu Clara berfikir, ada benarnya juga Ajeng bersikap seperti saat ini. Mungkin saja kejadian di masa lalu itu sudah menorehkan luka untuk Ajeng.
“Ya sudah... Biar nanti mama ngomong hal ini ke Bimo,” ucap bu Clara.
Akhirnya bu Clara keluar dari kamar Sasa meninggalkan Ajeng untuk menemui Bimo.
“Bim... mama mau ngomong sama kamu,” ucap bu Clara sambil melirik Deni. Memberi kode agar sekretaris itu keluar dari ruang kerja Bimo.
“Mau ngomong apa, ma?” tanya Bimo setelah Deni keluar dari ruang kerjanya.
“Kapan kamu mau melamar Ajeng ke keluarganya?” tanya bu Clara.
*****
Bersambung...
*****