My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Anjuran Dokter



Suasana di luar minibus sudah cukup gelap. Saat Ajeng mengecek jam tangannya memang ternyata saat ini sudah pukul 6 petang. Hanya cahaya lampu yang nampak menerangi sekitar tempat camping.


“Mau ikut ngecek ke luar?” tanya Bimo saat Ajeng melihat dari jendela minibus. “Udara di luar sangat dingin. Kamu bisa pakai jaket ku Jeng kalau kamu mau keluar.”


Bimo mengambil salah satu jaket tebalnya yang sudah dia gantung di lemari. Tanpa permisi, Bimo langsung merangkupkan jaket tebal berwarna merah itu ke punggung Ajeng. Ajeng pun seperti sudah terbiasa dengan sikap Bimo yang baik kepadanya.


Keduanya mulai keluar dari minibus untuk melihat kawasan camping.


“Dingin banget… Huuhhh…” Ajeng menggosok-gosokkan tangannya. Dia memperhatikan area di sekitarya.


Di sekitar area itu ada papan bertuliskan ‘SELAMAT DATANG DI PUNCAK GUNUNG PRAU 2590 MDPL’. Ada juga rumah kecil yang depannya terdapat spanduk menggantung bertuliskan ‘Menyewakan Tenda’.


“Jeng, sepertinya di tempat penyewaan tenda itu juga ada jual makanan. Yok kita kesana!” Ajak Bimo.


Tangan laki-laki itu langsung meraih tangan Ajeng dan menggenggam erat. Sangat dingin dan sedikit gemetaran. Bimo semakin menarik tangan itu agar Ajeng terus berdekatan dengannya. Bimo menduga sepertinya Ajeng belum terbiasa dengan temperatur udara di daerah pegunungan.


“Sebelumnya apa kamu pernah menginap di kawasan pegunungan, Jeng?” tanya Bimo saat mereka berjalan. Bimo memandangi muka Ajeng secara intens. Bibir perempuan itu sedikit menggigil. “Dingin sekali ya?” tanya Bimo dengan mengusap tangan Ajeng.


“Iya dingin banget. Sebelumnya saya gak pernah nginap-nginap di tempat kayak gini. Tapi gak pa pa kok. Nanti kalau udah makan pasti gak akan ngerasa dingin,” jawab Ajeng.


Dia tahu tangan Bimo itu terus *******-***** tangannya, tapi karena suhu dingin di temapt itu, dirinya seperti tidak merasakan apa-apa.


Setelah sampai di pondok penyewaan tenda, Bimo memilih untuk membeli tenda yang disewakan. Dia berfikir pasti akan membutuhkan tenda itu lagi nantinya. Selain itu, kualitas barang yang dia pilih juga masih terlihat bagus.


“Bim… Udah dapet tendanya?” tanya Ajeng.


“Udah. Kamu sudah pesan makan?” tanya Bimo balik melihat tas plastik yang ditenteng Ajeng.


“Beli apa itu?”


“Si bapak yang punya warung bilang cuma jual mie instant. Tapi kan tadi siang kamu udah makan mie instant. Masak mau mie instant lagi… Kan gak sehat. Jadi aku beli ini… Sayuran, ayam, bumbu sama minyak. Di minibus aku ada beras. Jadi kita bisa nanak nasi. Kalau kamu gak bisa makan nasi, aku udah beli kentang buat bikin french fries atau mashed potato. Gak pa pa kan makan seadanya?”


Bimo justru sangat senang kalau Ajeng mau memasak untuk dirinya.


“Yeah! Tentu. Itu lebih bagus. Mama kalau tahu ini, dia pasti akan mikir beneran kalau kamu pacar aku.” Ucap Bimo membuat Ajeng salah tingkah.


“Ish! Kamu ni… Udah yuk kita masuk ke bus. Dingin banget. Aku gak kuat,” timpal Ajeng. Dia segera berlari menuju ke minibus terlebih dahulu.


Akhirnya malam itu Ajeng menanak nasi, menggoreng ayam, menumis sayur dan membuat kentang goreng. Sementara Ajeng memasak, Bimo mendirikan tendanya.


Bimo sendiri sengaja mendatangi kawasan Gunung Prau di Dieng Wonosobo demi melihat golden sunrise (matahari terbit) di tempat itu. Karena menurut info yang dia dapat, kawasan itu merupakan salah satu tempat yang menyuguhkan pemandangan sunrise terbaik di Indonesia.  


“Ajeng… Humm… Looks tasty (terlihat enak),” puji Bimo.


Masakan itu sudah tertata rapi di atas meja makan. Ajeng cukup was was mendengar komentar Bimo selanjutnya. Selama dirinya tidak bekerja, Ajeng justru lebih banyak belajar di bengkel mas Idam. Mencuci mobil, motor dan menambal ban bocor. Bukan belajar masak bersama ibunya di rumah.


“Mari Bim silahkan dicicip…” pinta Ajeng.


Menurut cita rasa lidahnya, masakannya itu sudah pas. Tapi tidak tahu juga dengan lidah Bimo bila merasakan masakannya itu.


Kriyuk…Kriyuk…


“Em… Cukup enak french friesnya. Tapi sedikit asin…” Ajeng tersenyum lega. Untung hanya sedikit asin. Tangan Bimo mulai meraih sendok dan mencicip sayur tumis sawi. “…Enak… Tapi sedikit asin juga…”


Begitulah pendapat Bimo. Ayam goreng pun sedikit asin menurut pendapat Bimo. Tapi anehnya Bimo menghabiskan apa yang dimasak Ajeng.


“Thank you Jeng buat makan malamnya. Kamu isirahat aja habis ini. Biar nanti aku cuci piringnya,” ucap Bimo dengan membuka bajunya.


“Kok nyuci piring pakai buka t-shirt segala?” tanya Ajeng. Dirinya merasa tidak nyaman. Laki-laki di depannya itu seperti memamerkan tubuh atletisnya.


“Yeah. Aku mau mandi dulu. After shower, baru aku akan cuci piring,” jelas Bimo.


“Gak usah, Bim. Kamu mandi aja. Biar aku yang nyuci piring. Nanti apa kata mama kamu kalau anaknya nyuci piring. Aku kan di gaji sama mama kamu,” timpal Ajeng. Dia segera berdiri dan menuju wastafel tempat pencucian.


Lagi-lagi Bimo bersikap baik kepada Ajeng. Dia tetap membantu Ajeng untuk mencuci piring.


Selesai itu, barulah Bimo masuk ke kamar mandi dan Ajeng memilih untuk tidur. Badannya terasa tidak fit. Udara dingin di Gunung Prau itu terasa menusuk sampai ke tulang-tulang membuatnya menggigil. Apalagi sengatan tawon masih terasa perih dan nyeri di tubuhnya.


Beberapa saat Bimo duduk di samping Ajeng. Dia menemani Ajeng yang menurutnya sedang sakit karena efek sengatan lebah. Sesekali Bimo juga mengusap-usap telinga Ajeng. Telinganya sangat dingin, tapi kening, pipi dan leher Ajeng cukup panas.


Karena rasa kuatirnya itu, Bimo memilih untuk menelpon dokter pribadinya. Dia ingin berkonsultasi mengenai kondisi Ajeng. Karena kalau orang berada di daerah pegunungan, mereka biasanya akan mengalami kedinginan saja, bukan kepanasan. Sudah pasti ini karena sengatan lebah sore tadi, begitu pikir Bimo.


“Hallo…” sapa Bimo saat dia berada di luar minibus. “Selamat malam, dok. Sorry mengganggu malam-malam.”


“Yeah Bim. Gak masalah. Kenapa? Apa ada perkembangan soal terapi kamu?”


“Soal itu saya belum tahu, dok. Em---” belum sempat Bimo selesai bicara, suara dokter itu menyahutnya.


“Hloh? Kok belum tahu? Memang kamu belum mencoba ya, Bim? Kamu harus mencobanya Bim dengan pasangan, kamu. Karena terakhir periksa, hasil rekam medicmu ada peningkatan lagi,” timpal dokter itu.


“Hm… Yeah... Tapi masalahnya saya… belum siap, dok.”


“Kenapa? Apa kamu takut kalau hasilnya tidak akan positive?” tanya dokter Itu membuat Bimo menoleh ke arah minibus. “Kamu harus mencobanya, Bim. Saya tahu kamu juga lelah dengan terapi ini. Sudah 3 tahun kamu melakukan terapi ini, sampai calon istrimu dulu meninggalkan mu masih juga belum ada hasilnya.” Beberapa saat mereka terdiam di sambungan telpon itu.


“Dok, sebetulnya saya menelpon bukan untuk membahas masalah itu.”


“Lalu?”


“Teman saya tersengat lebah di beberapa bagian tubuhnya. Tapi saat ini kami berada di daerah pegunungan. Rumah sakit atau klinik berobat sangat jauh dari sini. Jadi pertolongan apa yang kira-kira bisa dilakukan, dok? Tadi saya kasih obat penghilang rasa nyeri. Tadi juga sempat dikompres dengan air hangat. Tapi sekarang badannya justru panas,” jelas Bimo.


“Mm… Biasanya kalau sampai demam, bisa jadi sengatannya masih menempel di tubuhnya. Apa kamu lihat ada bulatan hitam di area yang disengat?”


“Saya belum sempat lihat, dok,” jawab Bimo.


“Kalau begitu kamu harus mengeceknya. Sengatan yang masih menempel harus segera dikeluarkan, karena itu adalah racunnya. Setelah itu kamu bisa kasih lidah buaya untuk mengobati peradangan,” jelas dokter.


“Baik, dok. Thanks infonya.”


“Tidak masalah, Bim. Semoga temanmu lekas sembuh.”


Setelah selesai berbicara dengan dokter itu, mata Bimo mulai melihat area sekitar dengan lampu senter dari handphonenya. Kebetulan sekali di depan minibus terparkir ada tumbuhan lidah buaya. Bimo mengambil beberapa batang lidah buaya untuk dibawa masuk ke dalam minibus.


Bimo cukup kikuk saat ini melihat wajah Ajeng. Dia teringat dengan kejadian sore tadi saat melihat kaca sepion yang menunjukan lekuk tubuh Ajeng.


“Ajeng…” Bimo menggoyang-goyangkan lengan Ajeng. Beberapa kali dia memanggil tetapi tidak ada sahutan. “Ajeng… Can you wake up please… Ajeng… Wake up (Bangun)” Bimo mengusap-usap pipi Ajeng dengan kedua tangannya.


“Hm? Bim?” Matanya mulai terbuka. Cukup merah, bisa jadi karena mengantuk.


Bimo mulai menjelaskan tentang apa yang diperintahkan dokter kepadanya. Penjelasan itu sangat masuk akal diterima Ajeng. Tapi yang menjadi masalah saat ini…


“Terus gimana caranya kita ngeluarin sengatan itu? Tanganku gak mungkin bisa nyampai punggung buat nyabut sengatan,” ucap Ajeng.


“Aku akan bantu kamu buat ngilangin sengatan di punggung kamu. Kamu jangan salah faham. Itu anjuran dari dokter. Aku gak mau badan kamu terus-terusan demam,” jelas Bimo mengusap lengan Ajeng.


“Tapi… Sengatannya bukan cuma di situ aja, Bim… Ada di samping sama bawah—Em… payud4r4 aku juga.” Ajeng mengusap area yang sakit.


Bimo mendelik beberapa detik menatap mata Ajeng. Dia pikir hanya bagian belakang punggung, ternyata sengatan itu ada di area lain juga.


“Jadi... Gimana enaknya maunya kamu?” tanya Bimo. Dia tidak mungkin memaksa Ajeng kalau Ajeng tidak mau.


 


*****


Orang yang punya warung sama tempat penyewaan tenda juga cowok…


Jadi enaknya gimana ya…?


Bersambung…


*****