
DUAK DUAK DUAK DUAK!!!
Ajeng memukul pintu kamar yang menjadi tempat pergunjingan para karyawan yang tadinya sedang menguping. Semua mata memandangi Ajeng yang menggedor-gedor pintu kamar penuh emosi.
“Third world war is coming… (perang dunia ketiga akan datang)” Bisik para karyawan saling pandang. Meraka berdiri menunggui tersangka utama yang ada di dalam kamar untuk keluar. Suasana semakin menegang saat pintu itu perlahan dibuka.
“Ajeng?” Mata Ajeng semakin terbelalak saat dia melihat Gery yang sedang bertelanjang dada. Ditambah lagi sosok perempuan yang ada di belakang Gery tengah sibuk memakai kimono robe.
Dengan langkah kaki seribu, Ajeng menerjang badan Gery untuk memasuki kamar itu. Dia mendorong tubuh Eva sampai perempuan itu tergeletak di lantai.
BRUG!
“HEI!” Pekik Eva yang syok mendapat serangan dadakan dari Ajeng. Ajeng menindih tubuh Eva sambil mencengkram wajah perempuan itu.
“Sudah gila ya?” Eva berusaha melepaskan wajahnya dari cengkraman tangan Ajeng.
“Bukan aku yang gila! Tapi kamu yang gila! Dasar kotor! J4l4ng! Br3n9s3k! B4biiiiiii!!!” menampari pipi Eva berkali -kali. Eva yang mendapat serangan itu tentu saja tidak tinggal diam. Dia menggunakan kuku panjangnya untuk mencakar leher dan tangan Ajeng yang bisa dijangkau dari posisinya.
“Mampus kamu sialan!” umpat Eva berusaha menggapai muka Ajeng untuk dicakar.
“Kamu yang mampus sialan!” Ajeng menarik dan menjambak rambut Eva. Sebetulnya dia juga ingin mengeluarkan jurus cakar tangan, tapi karena tidak punya kuku maka hanya jurus tamparan dan jambakan saja yang mampu dilakukan Ajeng.
“Stop Stop Stop! Ajeng hentikan!” Gery segera menarik badan Ajeng yang menindih Eva. “Gak nyangka sekarang kamu jadi perempuan kasar, Jeng…” Kedua pasang mata Gery dan Ajeng saling terpaut. Ajeng masih terengah-engah mengontrol emosinya yang masih diujung ubun-ubun.
“Gery…” lirih Eva berusaha bangun dari lantai. Dengan sigap Gery membantu Eva untuk berdiri. Emosi Ajeng semakin tersulut melihat kemesraan antara Gery dan Eva. “Sorry Eva…” ucap Gery dengan merapikan rambut Eva yang berantakan.
“Ger…” Ajeng mencebikan bibirnya. Air matanya menetes melihat adegan barusan. “Aku pacar kamu Ger… ngapain kamu deket-deket perempuan ular itu?” tanya Ajeng dengan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Ajeng! Jaga ucapanmu itu!” sahut Gery tidak terima Eva dikatanan perempuan ular.
“Ger…” Ajeng melangkahkan kakinya mendekati Gery. Dia berusaha menarik tangan Gery.
“Jeng… Sorry… Aku gak bisa sama kamu lagi. aku dah gak ada feeling sama kamu,” ucap Gery berusaha menarik tangannya dari Ajeng. Eva yang mendengar kalimat barusan tentu merasa senang. Dia merapatkan pelukannya ke badan Gery.
Ajeng terdiam beberapa detik memandangi Eva dan Gery. Perasaannya sangat hancur. Dia tidak percaya kalau hubungan yang terjalin 4 tahun akan berakhir mengenaskan seperti ini. Dadanya terasa sesak. Rasanya seperti teriris-iris melihat orang yang masih dicintai berpelukan dengan perempuan lain.
“Kamu bisa keluar dari room ini, Ajeng. Gery is my boyfriend. Dia bukan milikmu lagi…” Eva tersenyum licik merendahkan Ajeng.
Ajeng yang masih tidak terima menerima kekalahan, menatap mata Eva dengan tajam. Tiba-tiba Ajeng menggerakan tangannya dan…
PLAK! Tamparan panas mendarat di pipi Eva.
“HuuhHh…” rintih Eva mengusap pipinya. Gery segera mengusap pipi Eva untuk meredakan rasa nyeri. “Get OUT from my resort now…!” ucap Eva dengan menunjuk pintu di kamar itu. Matanya melotot menatap Ajeng.
“Sure... Aku akan keluar dari resort ini. Tanpa kamu suruh pun aku akan keluarRR!” Ajeng membalikan badannya dengan cepat. Dia tidak ingin melihat wajah Gery lagi. Dia berjalan dengan cepat dengan menundukan wajahnya yang masih merah karena emosi.
Semua karyawan memandangi Ajeng yang menerobos keramaian di lorong depan kamar. Mereka tidak menyangka adegan pemersatu negara akan berakhir seperti ini.
“Kasihan kak Ajeng… Harusnya tadi dia ketok miss Eva pakai botol minum sekalian… CK ck ck… Baru seru…” bisik bli Gede dengan memandangi punggung Ajeng.
“Hm… Baguslah sekarang kak Ajeng jadi jomblo. Kita yang masih single punya peluang,” sambung waiter yang asalnya dari Semarang.
“Huft… Bagian itu aku setuju. Tapi orang patah hati biasanya butuh istirahat buat menata hati… Barulah kita beraksi…” timpal bli Gede dengan rasa optimis yang meningkat.
Para karyawan yang berkerumunan di depan kamar Gery segera membubarkan diri masing-masing. Ada yang berlanjut kembali ke tempat kerja dan ada juga yang berlanjut mendatangi kamar Ajeng.
Kebanyakan para karyawan yang berasal dari Indonesia memilih untuk menuju kamar Ajeng. Mereka ingin memberikan dukungan moril untuk Ajeng. Karena selama 4 tahun Ajeng bekerja di COMO Resort Maldives, dirinya dikenal sangat baik, supel dan pandai bergaul dengan para karyawan di tempat itu.
“Kak, yang sabar ya…” ucap seorang perempuan dengan memeluk Ajeng. Pelukan perempuan itu benar-benar menguatkan Ajeng. Air matanya tidak mengalir lagi saat ini. Tapi matanya cukup merah karena menahan emosi yang masih ingin dia luapkan.
“Jangan sedih-sedih terus kak Ajeng…” suara bli Gede terdengar di telinga Ajeng. Dia menoleh mencari asal suara.
“Huft… Ya bli…” memaksakan diri untuk tersenyum.
“Cari yang baru lagi kak… Bli Gede sama aku masih single…” Celetuk anak waiter baru membuat Ajeng tersenyum, sedikit terhibur.
“Hehee… Mulutmu itu…” sambung bli Gede melirik ke arah suara itu.
Akhirnya malam itu juga Ajeng dibantu para karyawan yang ada di kamarnya untuk mengemasi barang-barang masuk ke koper. Mereka juga membantu Ajeng untuk memesan international flight dari Maldives menuju Solo kota asal Ajeng.
Kondisi badan Ajeng yang masih lemah karena mendapat kejutan perselingkuhan dari Gery masih belum pulih benar. Tapi Ajeng harus menguatkan hatinya.
Aku gak boleh lemah. Perjalananku masih jauh. Masih harus nyebrang pulau dengan kapal… naik seaplane… dan barulah aku akan sampai ke International Velaa Airport. Huft… Kalau aku tahu karirku akan berakhir seperti ini… Mending aku gak bantu Gery untuk masuk kerja di COMO Maldives ! Huhh… Nasi sudah jadi bubur. Ini pelajaran berharga untukku. Tapi sebelum-sebelumnya saat aku membantu beberapa temanku untuk kerja disini, mereka gak pernah mengkhianati aku. Tapi justru pacarku sendiri yang sekarang mengkecewakanku. Emang udah bawaan karakternya playboy mungkin… Hm… Dasar play boy! Gumam Ajeng dalam batinnya saat berjalan menuju dermaga karyawan.
Semua staff yang mengantar Ajeng menuju dermaga, melambaikan tangan mereka. Saat ini barulah Ajeng merasakan kesepian yang mendalam. Dia merasa ling-lung. Ditusuk oleh bosnya dari belakang, kehilangan pacar dan sekarang kehilangan pekerjaan.
“Lengkap sudah malam ini…” Ajeng memejamkan matanya saat berada di dalam kapal menuju seaplane.
______
Sesampainya di Velana International Airport yang berlokasi di Hulhule dekat capital city, Ajeng masuk ke dalam bandara. Matanya tertuju ke sebelah kanan tempat food court.
Dia memasuki salah satu food court yang memiliki menu Chinese food. Hal pertama yang dilihat Ajeng adalah gambar makanan yang rasanya ingin dia pesan semua.
“Sir…” sapa Ajeng kepada penjaga food court.
“Yes miss? Would you like to order? (Mau pesan?)”
“Yeah…” jawab Ajeng dengan berlanjut sibuk memandangi harga yang tertera di samping gambar. “Can I order hot pot, dim sum, dumplings and mooncake?”
“Wow? So many… (sangat banyak)” celetuk penjaga food court. Ajeng hanya menanggapi dengan senyumannya, sedangkan penjaga food court berlanjut mengketuk-ketuk layar di depannya. “All total is $75 dollars.” Ajeng bergegas mengambil dompetnya dari tas. Dia tidak menyangka kalau di dalam dompetnya itu hanya tersisa uang cash sebesar $5 dollars.
“Em sorry… I just have 5 dollars right now. Can I pay with card?” tanya Ajeng. (Maaf… Aku Cuma punya 5 dollar. Bisakah aku bayar dengan kartu?)
“Em… Sorry miss. We have some problem with our machine card. If you have local money rufiyaa, you can pay with that,” ucap orang itu. (Maaf nona. Kami punya masalah dengan kartu mesin kami. Jika kamu punya uang lokal rufiyaa, kamu bisa bayar pakai itu)
“But I don’t have rufiyaa right now. Can I go to atm first and come back again here? I will withdraw money,” ucap Ajeng merasa tidak nyaman karena dirinya harus berhadapan dengan masalah pembayaran. Apalagi jumlah belanjaan makanan cukup besar. (Tapi aku gak punya rufiyaa sekarang. Bisakah saya pergi ke atm dulu dan balik lagi ke sini? Saya akan narik uang)
“Actually atm in airport having problem right now, miss. Still under maintenance. If you like to withdraw money, you can go to atm in Hulhumale. Just around 10 minutes,” jelas laki-laki itu merasa kasihan juga kepada Ajeng. (Sebenarnya atm di bandara ada masalah saat ini, nona. Masih dalam perbaikan. Jika kamu mau narik uang, kamu bisa pergi ke atm di Hulhumale. Cuma kurang lebih 10 menit)
Wajah Ajeng tampak bingung harus pergi ke Hulhumale atau tidak. Perutnya saat ini lapar, mungkin sebentar lagi dia juga butuh untuk beli minuman.
“Excuse me…” Suara laki-laki terdengar dari belakang Ajeng. Laki-laki dengan perawakan tegap berwajah western itu sedari tadi mendengar percakapan antara Ajeng dan penjaga food court.
“Yes sir? Would you like to order?” sambung penjaga food court.
“Are you serious we can’t pay with card? (Apa kamu yakin kita tidak bisa bayar pakai kartu?)” tanya laki-laki itu.
“Yes, sir. I’m so sorry about that (aku minta maaf untuk itu),” jawabnya dengan muka kecewa karena tidak bisa membantu pembeli untuk urusan pembayaran.
“Huft… Padahal aku udah laper banget. Emang apes hari ini. Habis diputus sekarang kelaparan…” bisik Ajeng dengan muka tertekuk.
Laki-laki di samping Ajeng itu tersenyum melihatnya. Ajeng menjadi salah tingkah melihat senyum laki-laki itu.
“Kamu dari Indonesia?” tanya laki-laki itu.
“Ha? Oh my goodness… (oh ya ampun) Anda bisa bicara bahasa Indonesia?” Ajeng sangat terkejut bercampur malu karena orang yang berdiri di hadapannya saat ini mengerti apa yang baru saja dia ucapkan.
“Ya. Mama saya asli Indonesia,” jawab laki-laki itu.
“Excuse me sir, miss… So how about your order? (Jadi bagaimana pesanan anda?)” sela laki-laki penjaga food court.
“Yeah… I have cash 50 dollars. I think we can share… (Aku punya 50 dollar. Aku pikir kita bisa berbagi)” ucap laki-laki itu dengan menatap mata Ajeng.
“Yeah… Nanti kalau saya sudah sampai di Indonesia, saya kan transfer ke anda,” celetuk Ajeng.
“It’s fine… Gak pa-pa, miss,” sambung laki-laki itu.
Akhirnya malam itu Ajeng ditraktir oleh laki-laki yang belum dia kenal.
*****
Bersambung…
*****
Note: Rufiyaa adalah nama mata uang di Maldives. Namanya hampir mirip dengan mata uang Indonesia tercinta... Rupiah.
VISUAL:
Liza Soberano sebagai Ajeng
Liam Hemsworth sebagai Bimo
...Dan bila visual tidak cocok maka mari berhalusinasi dengan visual masing-masing......