
Meskipun saat ini Bimo dan bu Clara harus dipusingkan dengan keadaan Jesslyn, mereka juga tidak lupa untuk memberi perhatian kepada bayi Jesslyn yang baru saja lahir secara sesar. Sore itu Bimo bergegas untuk pergi ke toko perlengkapan bayi sendirian karena dia harus membagi tugas dengan mamanya yang harus menunggui Jesslyn dan bayinya.
“Mama tadi bilang anaknya si Jess boy atau girl ya...?” tanya Bimo kepada dirinya sendiri.
Banyaknya hal yang ada di kepalanya, membuatnya sampai lupa jenis kelamin bayi itu. Bimo pun harus mengirim pesan kepada mamanya untuk mengecek hal itu.
Begitulah hari-hari Bimo selama sebulan setelah kelahiran bayi berjenis kelamin perempuan milik Jesslyn. Pikirannya tersita untuk mengurusi bayi itu. Sedangkan mamanya bertanggung jawab mengurusi Jesslyn yang masih belum sadarkan diri.
“Ma, ini aku bawa makanan buat mama. Gimana kondisi Jesslyn? Apa ada kemajuan?” tanya Bimo sambil meletakkan bungkus makanan.
“Em...” bu Clara mulai memijit dahinya. “Tadi dokter bilang ke mama kalau sistem syarafnya Jesslyn sudah kena, Bim. Jadi harapan untuk siuman pun kayanya udah sulit,” jelas bu Clara. “Sasa apa kabar? Udah 2 hari mama gak lihat dia karena sibuk mondar-mandir.”
“Sasa baik-baik, ma. Sore nanti udah dikasih izin pulang sama dokter. Berat badannya juga ada peningkatan. Bayi kecil itu sehat,” ucap Bimo dengan mengingat bayi Jesslyn yang dia asuh. “Mama kalau capek ikut pulang aku aja nanti sore. Biar nanti assistant aku yang gantiin jaga Jesslyn,” ucap Bimo sambil membagi pandangannya untuk Jesslyn dan mamanya.
Akhirnya sore itu bu Clara ikut pulang ke rumah bersama Bimo. Dia sangat senang sekali bisa menggendong bayi perempuan itu dalam pelukannya.
“Gimana kerjaan assistant barumu itu? Bagus kan pilihan mama?”
“Yeah... selagi dia laki-laki...Ga ada masalah,” jelas Bimo dengan senyumnya.
“Kamu juga harus move on dari Ajeng... Mama mau lihat kamu bahagia juga, Bim,” sambung bu Clara lagi.
Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Bimo dan mamanya sampai di rumah lamanya itu. Tapi baru saja mereka keluar dari mobil, Bimo menerima telpon dari assistant yang dia minta untuk menjaga Jesslyn, memberi kabar kalau nyawa Jesslyn tidak dapat diselamatkan lagi.
“Malang sekali nasibmu, Sasa. Mamamu baru saja pergi,” ucap bu Clara mengeratkan pelukannya kepada Sasa.
Tanpa menginjakan kaki di rumah terlebih dulu, Bimo dan mamanya itu segera balik lagi ke rumah sakit.
______
Bila kondisi Jesslyn di Melbourne sudah tidak bisa ditolong, kondisi Ajeng saat ini di rumahnya juga memprihatinkan. Badannya lebih kurus. Wajahnya pun juga pucat.
“Des, emang kamu benar-benar gak tahu informasi tentang Bimo sedikitpun?” tanya bu Heni sambil ikut mengintip Ajeng yang tengah mengotak-atik laptop.
“Aku mana tahu, buk....” sambung mbak Desi dengan suara pelan.
Semenjak handphone Ajeng rusak, handphone itu tidak bisa diperbaiki karena kerusakannya cukup parah. Tidak hanya layar handphone yang pecah, tapi rupanya di dalam handphone Ajeng itu sudah terkena cairan, sehingga sim card pun juga tidak berfungsi lagi.
“Sebetulnya Ajeng juga udah mencoba kirim email ke alamat bisnis emailnya Bimo. Tapi gak tahu kenapa alamat emailnya itu kirim notifikasi kalau emailnya udah gak kepakai lagi. Kalau email pribadinya Bimo, Ajeng gak tahu. Alamat bisnis email itu aja, Ajeng nyari lewat internet,” jelas mbak Desi.
Sudah sebulan ini, Ajeng menghabiskan waktunya untuk mencari informasi tentang Bimo. Tapi hasilnya nihil. Dia pun juga sudah mencoba menghubungi bu Clara lewat whatsapp, tapi pesan itu tidak terkirim juga.
“Des, kayaknya kita harus bawa Ajeng berobat ke psikolog. Ibu takut Ajeng jadi stress karena mikirin Bimo terus. Itu rambut udah berapa minggu tuh gak dicuci? Lama-lama nanti dia lupa mandi. Pusing ibuk kalau gini jadinya,” sambung bu Heni bingung harus berbuat apa untuk Ajeng.
Kondisi Ajeng yang mengurung diri itu berlangsung sampai 3 bulan lebih. Pikirannya terkuras hanya memikirkan mencari tahu keberadaan Bimo.
Tok...Tok...Tok...
“Ajeng... Lagi apa kamu dek? Di ruang tamu ada Ganis nyari kamu,” ucap mbak Desi.
Tak lama setelah itu, Ajeng keluar dengan rambut yang masih acak-acakan.
“Sana kamu temuin Ganis... Dia bilang mau ngomong penting.”
Sudah lama juga Ajeng tidak berbicara dengan Ganis semenjak pertemuan terakhirnya di kapal Kelud. Ajeng bergegas mengambil ikat rambut untuk segera menemui Ganis. Dirinya berharap akan ada informasi yang bisa dia dapatkan tentang Bimo.
Bu Heni dan mbak Desi mengangkat tangan mereka untuk memberi semangat kepada Ganis. Karena sebenarnya kedatangan Ganis itu adalah permintaan mbak Desi dan ibunya.
“Yeah, kayak gini kabar aku, Nis. Kamu apa kabar?” tanya Ajeng balik.
“Kayak gini juga... masih bernafas,” canda Ganis membuat Ajeng tersenyum. “Aku dengar dari mbak Desi, kamu dan Bimo udah... lost contact ya?” tanya Ganis dengan sangat hati-hati.
“Em... Yeah...” jawab Ajeng dengan mengangguk.
Setiap kali dirinya mengingat Bimo, Ajeng selalu menangis. Begitupun saat ini, ada air mata di sudut yang dia seka agar tidak jatuh.
“Kamu masih... mengharapkannya?”
Kali ini pertanyaan Ganis itu membuat Ajeng tidak bisa mengontrol air matanya untuk berlinang. Ganis yang melihat Ajeng mulai menangis, segera mendekap Ajeng dalam pelukannya.
“Keluarin aja air matamu. Jangan disimpan-simpan. Biar sedihmu cepat habis,” ucap Ganis membuat tangis Ajeng semakin pecah.
“Akuu... higzzz... Aku maunya juga udah gak mikirin dia lagi, Nis... Aku juga capek ngarepin orang yang mungkin udah gak peduli lagi sama aku... Hegzzz...”
Bu Heni yang mendengar ucapan Ajeng itu semakin merasa bersalah kepada Ajeng. Dia tidak menyangka pertemuan anaknya dengan Bimo sudah memberi rasa yang begitu dalam untuk anaknya.
Cukup lama Ajeng mengeluarkan seluruh isi di hatinya. Dia menceritakan apa yang dia rasakan kepada Ganis.
“Kamu mau ikut aku gak? Kerja bareng sama aku...? Kita jadi guide sama-sama...” ucap Ganis sambil membantu Ajeng menghapus air mata. “Kamu gak perlu kerja berat-berat. Cukup ikut aku aja. Ya... bantu dikit-dikit lah. Dari pada kamu di rumah mengurung diri di kamar... Ntar lama-lama bisa gila hlo...” ucap Ganis membuat Ajeng kembali tersenyum. “Siapa tahu juga... kalau nanti aku bisa cariin pengganti Bimo...” goda Ganis.
“Enggak lah, Nis... Gak usah,” balas Ajeng.
“Kenapa...? Punya dia besar ya...?” Senyum di bibir Ajeng semakin lebar mendengar bisikan Ganis itu. “Nanti ku cariin yang lebih hmmm... biar kamu move on dari cowok itu,” jelas Ganis dengan senyumnya.
“Gak usah, Nis. Aku udah gak tertarik lagi. Aku capek juga kalau akhirnya berantakan kayak gini,” ucap Ajeng membuat Ganis menghela nafas.
“Udah.... Jangan terus-terusan putus asa kayak gini. Nanti kalau jodoh pasti dipertemukan kembali. Kalau enggak... ya kamu harus percaya kalau akan ada yang lebih baik,” sambung Ganis.
Akhirnya setelah pertemuan dengan Ganis itu, Ajeng menjadi lebih baik. Ajeng juga mengikuti saran Ganis untuk melakukan trip bersama.
Bila trip sudah selesai, Ajeng akan pulang dengan membawa banyak oleh-oleh untuk keluarganya. Apalagi setelah mbak Desi melahirkan anak pertama, oleh-oleh yang dibawa Ajeng semakin banyak.
“Kamu ini kalau pulang, bawaannyaaaaa baju-baju buat Bunga. Baju sebulan lalu yang kamu kasih aja belum sempat dipakai sama Bunga. Lama-lama aku bisa buka toko baju-baju bayi,” ucap mbak Desi sambil melipat baju-baju baru yang dibawa oleh Ajeng.
“Soalnya aku bingung, mbak mau beli apa. Pingin beliin baju buat anakku, tapi belum punya anak... Hihihiii...” canda Ajeng yang didengar ibunya dari balik kain gorden.
Bu Heni sebetulnya menginginkan Ajeng bisa mendapat kebahagian. Tapi sepertinya rasa cinta Ajeng untuk Bimo masih belum pudar. Meskipun Ajeng saat ini bisa tertawa, tapi bu Heni bisa merasakan kalau dalam hati Ajeng masih menyimpan luka.
“Ngomong-ngomong, minggu depan aku mau handle tamu sendiri. Aku udah siap buat jalan sendiri,” ucap Ajeng membuat mbak Desi senang.
Sudah lama mbak Desi mengharapkan Ajeng kembali menjadi sosok Ajeng yang seperti dulu. Seorang adik yang mandiri, tidak mudah menyerah dan selalu semangat.
“Yeah... aku doain semoga apa yang kamu cita-citakan bisa tersampaikan, Ajeng,” ucap mbak Desi dengan meraih tangan Ajeng.
****
Bersambung...
****