My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Menjelang Wedding Day (21+)



Tidak perlu ditanyakan lagi apa yang ada di benak Bimo. Senyum sensual pada bibirnya itu membuat aliran darah Ajeng tergelitik. Bulu tangan Ajeng menjadi berdiri karena  kini dirinya dibopong oleh calon suaminya itu ke bed.


 


“Bim...” Ajeng menghalau tangan Bimo yang akan membuka gaunnya. “Jangan dulu ya. Aku capek,” ucap Ajeng dengan senyum tipisnya.


 


Bimo pun membalas senyuman manis itu dengan cara menge cup lembut bibir Ajeng.


 


“Gak akan keras-keras... Aku janji,” sambung Bimo.


 


Kalau gai rahh sudah ada di ujung tanduk, dirinya tidak bisa menahan karena Ajeng juga ada di hadapannya.


 


“Bentar lagi Sasa sama Deni pasti datang. Mereka pasti nyari kita,” ucap Ajeng pelan.


 


Keduanya saling pandang dengan menikmati setiap hembusan nafas yang menyembur.


 


“Sekarang jam orang kantor pulang kerja. Pasti mereka kena macet,” balas Bimo sambil menghalau tangan Ajeng yang menghalangi tangannya untuk membuka gaun. “Aku janji akan pelan-pelan. I need now (Aku butuh sekarang). Let me do it... (Biarkan aku melakukannya)”


 


Percuma saja Ajeng memohon agar calon suaminya itu menurutinya. Akhirnya pun dirinya harus melayani apa yang dimau Bimo.


 


“Égghhhh...... Bim...” de sah Ajeng mere mas lengan Bimo. Si lonjong yang mene gang itu sudah masuk setengah pada miliknya. “Jangan dalem-dalem,” ucap Ajeng pelan.


 


“Yeah...” sambung Bimo menikmati sensasi yang menjalar di tubuhnya.


 


Pelan-pelan dan penuh hati-hati Bimo menggoyang pinggulnya untuk menghen takk. Matanya terus memandangi bola mata Ajeng yang berkedip-kedip di bawah kung kungannya.


 


“Love you, baby...” de sah Bimo sambil terus memacu mengikuti ha srat kelakiannya. Sesekali Bimo menye sap leher Ajeng dengan menekan bagian in tim calon istrinya itu. Meski Ajeng mengge liyat, Bimo terus mere mas kedua lengan Ajeng agar terus mengikuti keinginannya.


 


“Bim... Cukup...” ucap Ajeng pelan. Ekspresi wajahnya benar-benar memohon agar Bimo menyudahi adegan panas itu. “Kasihan si kecil diganggu sama daddynya terus,” ucap Ajeng sambil menatap perutnya.


 


Wajah memelas itu membuat Bimo tersenyum. Apalagi mendengar bibir Ajeng menyebutnya dengan panggilan daddy. Ini adalah salah satu hal yang romantis menggetarkan hatinya.


 


“Let me kiss her...” Bimo merundukan pandangannya menatap bagian sangkar yang masih dia desak itu. “Cuma sebentar,” pinta Bimo memohon.


 


Mau dilerai bagaimanapun, Ajeng sudah hafal karakter calon suaminya itu. Ajeng merilekskan tubuhnya menyiapkan diri untuk menuruti kemauan Bimo. Pelan-pelan Bimo menarik miliknya dari sangkar yang sudah basah dan panas karena ulahnya. Dia merangkak menge cupi setiap jengkal tubuh Ajeng sampai bawah pu sar.


 


“Aaaggghhhhh... Bim.....” de sah Ajeng menge rang. Bibirnya mele nguh menikmati li dah yang tengah menyapu dan menari di bagian in timnya. Lidah itu menari memasuki lorong dengan lihai. “Mmmppphhh.....” semakin dimanjakan saja Ajeng dengan sensasi- sensasi liiaarr yang dibuat Bimo. Tubuhnya mengge liat menikmati kenyamanan yang diberikan Bimo.


 


Pintanya hanya sebentar, tapi kini Bimo justru kembali merangkak menghujam kembali lorong lembab itu. Bibirnya menye sap dalam – dalam samping leher Ajeng sampai meninggalkan bekas.


 


“I'm sorry baby, aku bikin lehermu merahh,” ucap Bimo sambil memandangi hasil perbuatannya.


 


“Dasar nakal!” ucap Ajeng yang kemudian menepuk lengan Bimo. “Udah ah! Aku mau mandi.”


 


Bimo tersenyum gemas memandangi wajah Ajeng. Sekarang dirinya benar-benar bisa merasakan lagi kalau suasana hati Ajeng sudah kembali seperti dulu kala.


 


“Aku bantuin kamu gosok punggung kamu ya?” tanya Bimo sambil beranjak dari tempat tidur.


 


Kalimat yang barusan didengar Ajeng itu seolah Bimo akan membantunya. Tapi  Ajeng sudah paham kalau bantuan yang akan diberikan  Bimo bukan bantuan yang sesungguhnya. Melainkan hanya akan semakin memperpanjang durasi mandi.


 


Ritual mandi yang seharusnya bisa selesai cepat justru menjadi lama. Kecu pan demi kecu pan Ajeng terima di bawah guyuran air hangat.  Setiap inci tubuhnya terkena sentuhan tangan Bimo tanpa ada satupun terlewatkan sampai ujung kaki.


 


“Thank you, baby,” ucap Bimo setelah keduanya keluar dari kamar mandi.


 


Dirinya membantu Ajeng untuk mengeringkan  rambut dengan  hair dryer. Memijat kepala Ajeng... dan mengusap rambut panjang Ajeng  sampai rambut itu tidak basah lagi.


 


TOK TOK TOK!!!


Suara ketukan pintu kamar mulai terdengar.


 


“Daddy... Mommy... Cepat keluar! Sasa beli banyak food,” ucap Sasa.


 


Bimo dan Ajeng segera keluar dari kamar mereka untuk menemui Sasa.


 


Deni yang melihat rambut Bimo dan Ajeng nampak basah menjadi tersenyum. Lebih tepatnya menahan senyum.


 


“Let's go kita makan sama-sama!” ajak Bimo sambil meraih tangan Sasa.


 


Petang itu mereka menikmati makanan yang dibeli Deni.


 



 


“Pak Bimo, em...... Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya mau permisi pulang,” ucap Deni sambil berdiri di samping Bimo yang sudah duduk di dalam meja makan.


 


“Em... Saya rasa kamu bisa balik pulang. Tapi besok saya mau kamu hubungi partner bisnis kita. Galang sama Raja. Saya mau kamu undang mereka dan keluarganya untuk wedding party saya sama Ajeng 2 minggu lagi,” ucap Bimo yang kemudian diikuti anggukan Deni.


 


“Alright, pak. Tapi kalau boleh tahu jadinya anda mau buat acara wedding party nya di Solo atau Jogja?” tanya Deni.


 


“Di Jogja... Saya mau kamu booking hotel juga buat mereka,” pinta Bimo lagi membuat Deni harus mengeluarkan buku catatannya. “Siapkan 2 suite room sama 1 deluxe room, karena anak Galang yang namanya Raka itu sudah cukup besar,” pinta Bimo lebih lanjut.


 


“Baik, pak. Ada yang lain?”


 


“No. So far itu saja,” jawab Bimo.


 


Deni pun segera keluar dari apartment setelah mendapat tugas terakhir itu. Sasa yang mendengar nama Raka menjadi bertanya-tanya.


 


“Dad, Raka itu cewek atau cowok? Kenapa harus booking banyak kamar hotel? Dia kan bisa tidur sama Sasa,” sela Sasa saat asyik mengunyah makanan.


 


“Raka itu cowok, Sa. Dia ga mungkin mau satu kamar sama anak cewek,” jawab Bimo menjelaskan.


 


“Ow... Sasa pikir dia cewek,” sambung Sasa lagi.


_________


 


Hari selanjutnya Bimo dan Ajeng disibukkan dengan persiapan akhir untuk upacara sakral pernikahan mereka yang akan berlangsung besok. Sesuai dengan ide dan rencana Bimo, hotel ‘Queen Of The South Resort Gunung Kidul' akan menjadi tempat saksi pernikahan mereka. Dimana tempat itu dulunya merupakan tempat tujuan trip bisnis Bimo saat Ajeng menjadi tour guidenya.


 



 


Sejak pagi Bimo sudah  sibuk mengarahkan team WO untuk mendesign lokasi acara sesuai seleranya dan sedangkan Ajeng sibuk mengajari Sasa dan Bunga sebagai pengiring dirinya. Mereka semua berjalan mondar-mandir di lokasi yang akan menjadi saksi pengikat janji suci pernikahan besok.


 


“Kalau cuma bantu angkat gaun mommy, itu sih mudah... Ya gak, Bunga?” ucap Sasa sambil memperagakan dirinya mengangkat gaun Ajeng yang panjang.


 


“Iya... ini sih mudah, tante...” sahut Bunga.


 


“Hmm... pintarnya Sasa sama Bunga... Besok jangan sampai gaunnya keinjak kaki kalian ya...” timpal Ajeng sambil mengusap- usap pipi Sasa dan Bunga bergantian. “Sama... Mommy boleh minta tolong ga ke Sasa buat jadi pembawa cincin pernikahan mommy sama daddy?”  tanya Ajeng dengan menatap mata Sasa.


 


“Boleh dong mommy... Sasa pasti bantu. Mommy sama daddy ga usah kuatir soal itu,” jawab Sasa. Dirinya semakin senang diberi banyak tugas oleh Ajeng.


 


“Ok deh, Mom...” ucap Sasa.


 


Akhirnya semua persiapan untuk menyambut hari esok sudah siap. Kini tinggallah Bimo dan Ajeng bisa duduk santai di gazebo sambil menikmati sunset. Karena Sasa sibuk bermain bersama Bunga di kamar hotel tempat mereka menginap.


 


“Permisi, pak Bimo,” ucap Deni membuat Bimo dan Ajeng menoleh. “Semalam saya hubungi pak Galang sama Pak Raja untuk datang ke acara wedding party 2minggu lagi. Tapi mereka justru mau datang buat ikut acara pemberkatan besok juga. Nanti malam mereka sampai Jogja,” jelas Deni.


 


“No problem. Tapi untuk kamarnya sudah kamu siapkan juga kan?” tanya Bimo.


 


“Yes, pak. Soal itu sudah saya siapkan,” jawab Deni.


 


“Thank you, Deni. Kamu look after (jaga) mereka ya. Semua kebutuhan selama mereka stay di sini, saya mau kita sediakan,” ucap Bimo dengan senyumnya. Dirinya semakin senang karena teman bisnisnya itu mau hadir di acara pernikahannya.


 


Setelah Deni pergi, Bimo kembali bermanja – manja dengan mende kap tubuh Ajeng lagi. Tangannya tidak pernah lepas menyentuh tubuh calon istrinya itu.


 


“Akhirnya, aku akan menikahi mu besok,” ucap Bimo yang kemudian mendaratkan bibirnya menge cup hidung Ajeng.


 


*****


Bersambung...


*****