
Mendengar jawaban Ajeng yang seolah mengejek, Bimo menjadi tertawa. Suara tawanya begitu lepas sambil merengkuh tubuh Ajeng untuk dipeluk. Begitu erat... hangat... dan menenangkan hati. Itulah yang dirasakan oleh Ajeng dari dekapan suaminya.
“Hahahaa... jadi boleh atau enggak?” tanya Bimo sambil menarik perlahan gaun istrinya untuk dibuka. Bibirnya menghujani setiap inci tengkuk Ajeng. Nikmat. Tidak ada perlawanan yang ditunjukan Ajeng. Justru tangan Ajeng ikut mandayung menarik restliting Bimo. “Let's go to bed,” de sah Bimo di telinga Ajeng. Bibir kennyal milik keduanya kini saling terpaut mence cap dan menarik li dah. Mengu lum dan saling mere mas setiap area sen sitive titik gai rah sambil berjalan menuju tempat tidur.
“Bim... boleh aku mandi dulu?” tanya Ajeng ketika tubuhnya sudah di kung kung oleh Bimo.
“Are you kidding me? (Apa kamu sedang bercanda?)” tanya Bimo membuat keduanya tertawa kecil.
“Tapi badanku agak lengket karna keringat...” ucap Ajeng sambil melihat gerak gerik Bimo yang mengeluarkan senjatanya.
“Aku ga punya waktu buat menunggu. He needs now (Dia butuh sekarang),” ucap Bimo sambil meng ko cok si lonjong. “Setelah ini aku mandikan kamu.”
Tidak bisa dibantah atau ditolak. Kini keduanya saling menarik nafas setelah penyatuan telah berhasil.
Bimo menikmati raut wajah istrinya yang sedikit menegang.
“Aku mau setiap hari kita memiliki quality time seperti saat ini...” de sah Bimo dengan memandangi wajah Ajeng yang mende sah karna rasa nikmat. “I love you, baby...”
“Agghhh...... Bim...... pelan-pelan.....” mengingatkan dengan sedikit mere mas lengan Bimo. Ajeng membuka pahaa nya lebih lebar untuk mempermudah jalannya permainan panas. Begitu hangat. Miliknya berke dut kee duut melahap si pemilik sangkar.
“I like it, baby......” Bimo menghen tak sedikit lebih dalam untuk menikmati ekspresi sensu al istrinya. Begitu menggo da. Pingguulnya melesakkan lebih dalam lagi agar bagian yang mengeras itu bisa dilahap lahap merasakan kehangatan. “Love you my wife...” Menggoyang dan memutar untuk menumpahkan gai rah yang tengah memuncak.
Mereka berpacu dalam diam. Hanya sorot mata yang saling pandang. Entah berapa kali lelehan itu mengalir memberi pelepasan.
“Do you like it?” tanya Bimo sambil mengurangi ritme henta kan. Keduanya saling membe lai menyapu cucuran keringat di sekitar dahi dan sudut pelipis. “Kapan kamu akan memanggilku dengan panggilan, mas?Kata kamu setelah married, kamu mau panggil aku, mas. Tapi kenapa masih Bim... Bim terus yang keluar dari bibirmu?” tanya Bimo.
Atmosfer panas di atas ranjang yang dirasakan Ajeng itu seolah lenyap seketika. Dirinya tertawa setelah mendengar pertanyaan Bimo.
“Hahahaaa...... Kamu serius nanyaiin soal itu sekarang?” tanya Ajeng membuat Bimo tersenyum lebar.
“Iya... Kapan kamu mau panggil aku mas?” tanya Bimo membuat Ajeng mengrenyitkan dahinya. Ajeng mencoba menahan dirinya untuk berhenti tertawa.
“Hmmm...... Ok ok. Jangan kuatir, aku masih ingat janjinya buat manggil kamu dengan sebutan itu setelah married,” ucap Ajeng dengan senyumnya. Dia menarik nafas panjang untuk mempersiapkan dirinya memanggil Bimo dengan sapaan barunya.
“Say it...” ( katakan lah...) pinta Bimo dengan rasa sabarnya memandangi mata dan bibir Ajeng.
“Mmm...... Mulai sekarang aku akan manggil kamu dengan panggilan, mas. Mas Bimo. Mas Bimo suamiku,” ucap Ajeng.
Bimo tersenyum lebar mendengar kalimat manis dari bibir istrinya.
“Katakan lagi lebih keras...” pinta Bimo dengan rasa bahagianya.
Ekspresi menggoda dari Bimo itu membuat Ajeng menutup mata. Menggeleng pelan dengan senyuman lebar.
“Hihiii...... Apaan sih, mas...! Childish banget! Malu tahu!” ucap Ajeng membuat Bimo kegirangan. Dia mendekap erat tubuh Ajeng dengan penyatuan yang masih melekat. “Udah ah jangan mandangin aku kayak gitu! Udah panas nih pipi aku,” gerutu Ajeng mulai menutup wajahnya dengan tangan. “Aku mau mandi. Habis itu ngajak Sasa makan.”
Tingkah laku Ajeng yang malu-malu itu justru membuat Bimo gemas. Dia menye sap memberi tanda merahh di leher Ajeng.
“Say it again... Panggil aku lagi... please...” goda Bimo setelah selesai mencecapp dalam- dalam leher Ajeng.
“Mas Bimo... Mas Bimo... Mas Bimooo Buleee gila......!” ucap Ajeng gemas mencubit pipi Bimo. “Udah Ah. Jangan main- main terus. Kasihan Sasa sendirian,” ucap Ajeng dengan mendorong dadaa Bimo.
Keduanya beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
________
Anak angkat yang dicemaskan oleh Ajeng dan Bimo kini rupanya tengah bersama Bunga. Keduanya tengah berimajinasi ria dalam pikirannya. Menerka – nerka sesuatu yang belum pernah keduanya lewati.
Pluggh! Bunga menepuk bahu Sasa.
“Udah yuk! Kita main aja ke taman. Lagian dari tadi kita nguping kamar tante Ajeng ga denger apa – apa. Bosan tahu!” ucap Bunga membuat Sasa menghentikan aksinya menempelkan telinga di depan pintu kamar kedua orang tuanya.
“Aku masih penasaran tahu... Soalnya kalau di film-film cartoon suka gak jelas. Habis married biasanya mereka ciumannn... terus tiba-tiba adegannya gendong adik bayi... Aku kan penasaran... Dari mana adik bayi itu muncul...? Hmmm...” ucap Sasa membuat Bunga mengrenyit mencebikan bibir. Bunga pun mengingat-ingat film-film kartun yang ditontonnya.
“Emm...... Aku belom pernah nonton kartun begituan sih. Yang ku tonton paling spongebob, upin ipin sama doraemon...” sambung Bunga membuat Sasa menghela nafasnya.
Kedua bola mata Bunga menyamping memikirkan sesuatu setelah mendengar ucapan Sasa.
“Emang gajah bisa ciumann kayak tante Ajeng sama om Bimo?... Gajahkan belalainya panjang... Mana bisa mereka ciumann bibir?” tanya Bunga balik membuat Sasa tersadar. Persepsinya rupanya sudah salah menebak kalau ciumann bisa menghasilakan bayi kecil.
“Hmmm betul juga ya. Si gajah mana bisa ciuman kayak daddy sama mommy... belalainya ntar saling kepentok pentok.” Sasa menyilangkan kedua tangannya sambil memikirkan sesuatu. “Terus apa dong yang bikin gajah di film iceberg jadi hamil kalau bukan dari ciuman?”
Kini keduanya saling berpikir memecahkan masalah yang sedang menjadi topik percakapannya.
“Bisa jadi ada adegan yang terlewatkan waktu kamu nonton... Atau mungkin waktu kamu nonton, kamu ketiduran,” celetuk Bunga setelah beberapa detik.
“Em... ga pernah sih. Aku ga pernah ketiduran... Tapi biasanya aku kalau nonton ditemani om Deni atau sama daddy. Mereka suka nyuruh aku pergi ke dapur ambil air mineral atau snack,” sambung Sasa mengingat-ingat. “Bisa jadi waktu aku pergi ke dapur ada adegan yang terlewatkan.”
Keduanya saling mengacungkan dan menggoyangkan jari telunjuk, seolah-olah sudah memecahkan masalah besar yang sedang mereka bicarakan.
“Kalau gitu mending kamu nonton filmnya lagi. Sekalian aku mau nonton juga...” ucap Bunga memberi ide.
“Hmmm good idea. Gimana kalau kita nontonnya di gazebo depan swimming pool aja? Soalnya om Deni suka tiba-tiba muncul ngagetin kalau di kamar. Kan ga seru kalau pas lagi asyik – asyik nonton digangguin,” timpal Sasa penuh semangat.
Keduanya berjalan bergandengan penuh ceria.
Lokasi gazebo yang dimanjakan dengan pemandangan kolom renang dan pantai itu membuat Sasa dan Bunga begitu menikmati menonton movie pilihan mereka lewat tablet milik Sasa.
“Waaaa si tarzan rambutnya kayak kita ya... panjang. Hihiii... Macho...!” celetuk Bunga.
Kosa kata baru nan aneh yang didengar Sasa itu membuatnya tertarik menoleh ke arah Bunga yang duduk di samping kanannya.
“Apa kamu bilang?... Macho...? Apa tuh?” tanya Sasa. Tidak sengaja Sasa melihat Raka lagi yang rupanya duduk di gazebo sebelah kanan.
“Iya..... Macho... Keren...! Gitu kata ayah kalau lagi ngaca di depan cermin. Ayahku suka tiap pagi kasih minyak rambut biar bisa berdiri. Kata ayah biar macho,” jawab Bunga menjelaskan. “Emangnya daddy kamu gimana kalau ngaca? Pakai minyak rambut biar berdiri gak?” tanya Bunga masih fokus menatap layar tablet.
“Mmm... Aku ga tahu sih. Cuma sebulan ini semenjak stay di Indonesia, rambut daddy suka berantakan. Enggak kayak waktu di Merlbourne... Rapi banget,” Jawab Sasa menurut pendapatnya.
Raka yang mendengar obrolan Sasa dan Bunga itu tersenyum kecil sambil sibuk menatap layar handphonenya. Dirinya berdecak heran menanggapi topik obrolan anak SD yang membahas soal laki-laki.
“Kalau kamu... Em... suka anak cowok yang rambutnya rapi atau berantakan?” tanya Bunga membuat Sasa tidak sengaja melirik Raka yang rupanya melirik ke arahnya juga.
“Em... Aku... Aku suka rambutnya kayak Tarzan. Panjang! Gondrong! Kelihatan keren,” jawab Sasa kembali melirik ke layar screen pada tabletnya. “Soalnya kalau rapi... ntar kayak om Deni lagi... Huft......Ngeselin...! Tapi baik sih suka nemenin aku belanja,” terang Sasa jujur.
Raka yang mendengar kalimat itu menjadi menoleh melirik Deni yang duduk di sebrang kolam. Deni yang memang dari tadi sengaja mengawasi Sasa dari jauh mulai membuka kaca matanya saat Raka memandanginya dari jauh.
*****
Bersambung...
*****
Visual
Hailee Steinfeld sebagai Sasa
Visual
Aston Kutcher sebagai Raka
Visual
Jamie Dornan sebagai Om Deni