
Keesokan harinya Bimo membuka matanya terlebih dahulu. Dia memandangi wajah Ajeng yang masih tertidur lelap.
“Suka sekali kamu bangun siang,” ucap Bimo sambil mengusap usap punggung Ajeng.
Wajah polos tanpa make up itu membuat Bimo senang mengke cupi wajah Ajeng.
“Sleep more...” ucap Bimo semakin meraih tubuh Ajeng ke dalam pelukannya. Dia pun melanjutkan memejamkan mata untuk bermalas malasan.
Tapi tak lama kemudian, bell kamarnya berbunyi. Bimo segera beranjak dari bed untuk membuka pintu kamar.
Ceklek...
“Good morning, uncle!”
“Hai little boy! Good morning,” sapa Bimo sambil mengusap kepala Vano. Dia juga membalas senyuman Ganis yang menggendong Vano.
“Tante Ganis boleh pergi sekarang. Aku mau masuk ke kamar uncle,” pinta Vano. Kakinya mengkepak kepak minta diturunkan.
“Hm... Iya. Kamu jangan nakal – nakal ya,” ucap Ganis. “Saya titip Vano ya, Mr. Bimo.”
“Sure. No worries (Tentu. Gak masalah),” sambung Bimo dengan ramah.
“Nanti aku call tante atau papa kalau kita udah selesai nonton,” sahut Vano.
Akhirnya Bimo membawa Vano masuk ke kamarnya. Vano yang melihat Ajeng masih tertidur mulai berbuat jahil. Jarinya mencolok – colok pipi Ajeng.
“Heheee... Kamu apakan?” tanya Bimo.
“Hihiii... Biar bangun, uncle. Dulu aku sering digituin sama mama,” jawab Vano.
“Jangan... Kasihan. Tante Ajeng semalam begadang. Kita nonton movie dulu aja,” ucap Bimo. Dia menarik Vano ke bed agar bisa menonton lebih nyaman. “Kamu mau nonton apa? Biar uncle carikan movie kesukaan kamu,” ucap Bimo sambil mengotak – atik remote televisi. “Kamu udah makan breakfast belum?” tanya Bimo.
“Udah sih, uncle. Tapi Vano juga mau ngemil kalau ada snack,” jawabnya polos.
“Okay... Kalau gitu uncle order club sandwich buat kamu sama hashed brown potato kesukaan tante Ajeng,” ucap Bimo. Dia segera beranjak dari tempat tidur untuk menelpon room service.
Selagi Bimo menelpon, Ajeng yang merasa punggungnya didorong dorong menjadi terbangun.
“Bim... masih ngantuk aku,” ucap Ajeng denga suara parau.
Vano menjadi cekikikan karena Ajeng menganggapnya Bimo.
“Hihiii... tante...” menggoyang punggung Ajeng lagi.
Suara Vano yang sedikit cempreng itu membuat Ajeng tersadar kalau orang yang di sampingnya bukan Bimo.
“ Vano...? Hmmm...” Ajeng mulai menggelitik badan anak kecil itu.
“Hihiii....!”
“Mana tante Ganisnya?” tanya Ajeng.
“Di kamar sama papa,” jawab Vano membuat Ajeng mengrenyitkan alisnya. “Tadi Vano suruh tante Ganis buat beres-beres mainan yang berserak di kamar,” jelas Vano lebih lanjut.
Akhirnya hari ini Vano menghabiskan waktunya dengan bersenang – senang bersama Bimo dan Ajeng. Anak kecil itu sampai tidak mau pergi dari kamar Bimo dan Ajeng. Malam harinya pun Vano ikut tidur bersama dengan Bimo dan Ajeng.
“Ajeng... Baby...” sapa Bimo sambil menggoyangkan lengan Ajeng.
“Apa, Bim?” tanya Ajeng dengan membuka matanya.
“Kata kamu kalau kita dekat-dekat anak kecil bisa cepat nular punya baby. Tapi hari ini sama sekali kita belum mencetak,” ucap Bimo membuat Ajeng tersenyum. “Ke kamar mandi yuk!” ajak Bimo dengan melirik pintu kamar mandi. Pandangannya juga terbagi melihat Vano yang sudah tertidur lelap di sampingnya.
“Nanti kalau Vano bangun gimana? Besok lah, Bim... Sekali – kali kita juga harus istirahat,” sambung Ajeng dengan senyum yang dia tahan. Ajeng kembali memejamkan matanya dengan memeluk Vano.
_______
Keesokan harinya, Ajeng dan Bimo disibukkan dengan mengemasi barang mereka. Kapal yang mereka naiki itu sebentar lagi akan sampai di pelabuhan Batam.
“Untung tadi pagi si little boy gak rewel waktu dijemput sama tamanmu itu,” ucap Bimo setelah selesai mengemasi laptop dan kabel chargernya. “Kamu lagi apa di kamar mandi?” tanya Bimo. Dia mulai berjalan mendekati Ajeng.
“Cuma lagi ngecek ada yang ketinggalan atau enggak,” jawab Ajeng mulai menoleh ke Bimo.
“Kapalnya sampai Batam masih 30 menit lagi,” ucap Bimo. Dia mulai meraih pinggang Ajeng.
Setelah seharian kemarin tidak mendapat kesempatan berduaan karena ada Vano, kini Bimo bisa leluasa kembali melancarkan aksinya. Dia mendorong tubuh Ajeng sampai mendesak dinding kamar mandi. Bibirnya menyapu dan menye sap leher Ajeng. Jari tangan mulai ikut masuk merogoh menancap nancap ke bagian in tim.
“Agh...” de sahan Ajeng kembali lepas setelah miliknya diaduk aduk beberapa menit. Jari itu mera yap – ra yap dengan lihai sampai Ajeng tak kuasa hingga mengapitkan pahanya. “Mph...” Bibir Ajeng mulai dikunci oleh bibir Bimo. Dia mengu lum bibir itu sambil terus mendesakkan jari-jarinya.
“Love you, baby...” ucap Bimo dengan menatap mata Ajeng. Bimo segera menurunkan celananya untuk bersiap memasukan sang pejantan ke tempat peraduan.
Tapi baru saja dia akan mengarahkan, bell kamarnya berbunyi.
Ting Tong...!
“Shit!” umpat Bimo pelan.
Ajeng terkekeh melihat ekspresi kekesalan Bimo. Bimo menduga kalau orang yang memencet bell kamarnya pasti kalau tidak Ganis adalah Kevin. Tentu saja karena keinginan Vano. Tapi ternyata ketika setelah pintu itu dibuka, orang yang berdiri di depan kamarnya adalah crew kapal.
“Good morning, sir!”
“Good morning. Ada apa ya?” tanya Bimo.
“Sebentar lagi kapal kami akan sampai di pelabuhan Bintang 99 Batam. Mohon periksa barang bawaan anda. Jangan sampai ada yang tertinggal,” ucap petugas crew kapal.
Bimo mengangguk – angguk sambil tersenyum gemas karena aktivitas paginya bersama Ajeng harus terhenti akibat kedatangan salah satu crew kapal itu.
Kegiatan panas sepertinya memang tidak bisa dilanjutkan di atas kapal. Bimo memilih mengajak Ajeng untuk keluar dari kamar dengan membawa koper kecil mereka.
Tidak lama setelah itu, kini mereka sudah sampai di Pelabuhan Bintang 99 Batam.
“Finally (Akhirnya) kita sampai Batam,” ucap Bimo setelah membawa minibus keluar dari area pelabuhan. Dia kembali menyetir minibus untuk menuju Luxus Resort Batam.
“Bim, aku laper. Makan dulu yuk cari cafe atau tempat makan dekat sini,” ajak Ajeng dengan mengusap perutnya.
“Em... Resort yang mau kita tuju itu gak jahu dari sini. Kamu tahan dulu ya,” pinta Bimo. Ajeng hanya mengangguk dan kembali menyibukan dirinya memandangi jalanan kota Batam.
Setelah beberapa menit, akhirnya minibus mereka memasuki kawasan Luxus Resort. Resort yang berada di tepi pantai itu sangat luas dan tampak megah. Dari pintu gerbang utama sampai masuk ke area lobby, hamparan rumput hijau sangat sejuk dipandang mata.
“Wow... area golfnya besar banget,” puji Ajeng
Bimo dan Ajeng segera menurunkan koper mereka setelah sampai di depan lobby resort. Mereka juga meminta bantuan concierge untuk memarkirkan minibusnya.
“Serabi titipannya belum kita ambil, Jeng,” ucap Bimo dengan memandangi minibus. “Boleh minta tolong ambilkan? Biar aku ke receptionist untuk check in,” pinta Bimo.
Ajeng pun tidak masalah harus berjalan menuju area parkir menghampiri mini busnya lagi.
“Astagaa... Kenapa diparkirin paling ujung sih? Jaoh betul...” celetuk Ajeng.
Akhirnya setelah mengeluarkan tenaga ekstra untuk berjalan, Ajeng bisa mengambil serabi yang disimpan di lemari pendingin pada dapur mininya. Dia juga memastikan kalau serabi di kardus itu masih dalam kondisi baik.
Sesampainya di lobby, Ajeng melihat Bimo tengah bercakap – cakap dengan 2 perempuan dengan duduk di sofa lobby. Dilihat dari pakaiannya, kedua perempuan itu memakai baju yang memiliki brand ternama. Wajahnya pun juga cantik.
Itu kayaknya perempuan yang aku lihat waktu Bimo video call an dulu. Kasih... yeah. Bimo bilang namanya waktu itu Kasih. Apa itu Sekar ya yang satunya? Batin Ajeng. Dia mencoba melambaikan tangan ke Bimo. Tapi Bimo hanya menatapnya tanpa balik melambaikan tangan.
“Sial! Aku dicuekin!” umpat Ajeng kesal. Dia memilih untuk duduk di kursi lain.
Setelah bermenit - menit menunggui Bimo. Ajeng merasa tidak tahan lagi karena suara tawa Bimo bersama Kasih dan Sekar semakin keras di area lobby.
Rasa lapar yang sebelumnya sudah Ajeng rasakan semakin menjadi. Dia memilih mencari restaurant di area resort dari pada harus menunggui Bimo.
“Suka-suka kamu lah, Bim mau ngobrol sampai mulut berbusa sekarang aku dah gak peduli! Kamu juga gak peduli sama aku. Tadi kan aku dah bilang kalau aku laper! Mata kamu kayanya udah silau ngeliatin Kasih sama Sekar! Huh!” Gerutu Ajeng dengan berjalan di sekitar resort. Matanya menyusuri kanan dan kiri jalan mencari cafe atau restaurant.
Tidak tahunya ketika pikiran Ajeng terbagi memikirkan Bimo dan mencari tempat makan, dia tidak fokus melihat jalan sampai ada buggy resort yang menyerempetnya.
Srreeeetttt......!
“Au?!” pekik Ajeng. Tangannya terkena sepion pada buggy yang melintas.
Pengandara dan penumpang buggy itu cepat-cepat turun untuk mengecek kondisi Ajeng.
“Maaf. Ada yang sakit?” tanya laki-laki dengan perawakan bertubuh kekar. Dia dengan sigap mengecek tangan Ajeng.
“Kamu ni gimana sih, Raja? Hati-hati kalau nyetir,” ucap laki-laki yang satunya.
“Kamu kan tahu aku nekan gasnya pelan-pelan aja, Lang...” sambung laki-laki yang menyetir. “Saya bawa ke klinik ya biar lukanya gak bengkak atau memar,” ucapnya lagi memberi bantuan.
“Owh, gak usah, pak. Ini gak sakit kok. Sorry juga soalnya saya tadi gak fokus lihat jalannya,” sambung Ajeng.
“Memang anda mau kemana? Biar kami antar,” ucap laki-laki yang satunya.
“Em... saya lagi cari cafe. Mau order makan,” jawab Ajeng.
“Ow cafe... ikut kami saja. Lokasinya agak jauh di area golf sana. Mari saya antar. Jangan takut. Saya Raja dan ini pak Galang, owner (pemilik) resort ini,” ucap laki-laki bertubuh kekar itu.
Akhirnya Ajeng ikut menaiki buggy bersama 2 laki-laki yang baru saja dia kenal.
“Sudah berapa lama stay di sini?” tanya Galang dengan senyum ramahnya.
“Saya baru sampai, pak. Baru mau stay mulai hari ini,” jawab Ajeng. Dia merasa begitu beruntung bisa berkenalan dengan pemilik resort.
“Stay sama family ya?” tanya Galang lagi.
“Bukan. Em...” Ajeng mulai berfikir untuk menjawab pertanyaan Galang. Rasa kesal karena tidak dipedulikan Bimo masih membuatnya geram. “Saya cuma antar client saya aja. Sekarang dia lagi sibuk di lobby hotel,” jawab Ajeng membuat Galang dan Raja bingung.
“Maksudnya client?” tanya Galang dengan senyum tipis melirik Raja. Raja pun ikut menyipitkan matanya.
Ajeng yang melihat ekspresi kedua pria itu mulai mengerti kalau mereka sedang berfikir negative terhadap dirinya.
“Maksud saya, saya itu tour guide... Jadi client atau tamu saya itu minta diantar ke sini,” jelas Ajeng lebih detail. Dia tidak mau dianggap perempuan sembarangan yang berprofesi negative.
“Tour guide, Lang... Jangan mikir negative kamu!” celetuk Raja dengan senyuman lebar. Meski menyetir buggy, dia juga fokus mendengarkan obrolan Galang dan Ajeng.
“Lain kali kamu bisa bawa tamu kamu itu buat naik kapal phinisi milik Raja. Dia pasti kasih discount karena udah nabrak kamu,” sambung Galang membuat Ajeng tersenyum lebar.
Sesampainya di cafe, Ajeng semakin senang karena dirinya dilayani dengan baik oleh karyawan cafe. Tentu saja hal itu dikarenakan dia datang bersama pemilik resort itu. Obrolan ketiganya juga semakin berbobot karena Ajeng menceritakan pengalamannya ketika bekerja di Maldives.
“Kalau kamu capek jadi tour guide, kamu bisa jadi sekretaris saya,” ucap Raja setelah mendengar cerita Ajeng.
“Hm... Resort saya yang di Lombok juga lagi butuh sekretaris tuh,” timpal Galang.
Ajeng semakin merasa beruntung mengenal Galang dan Raja. Setidaknya dia sedikit terhibur setelah merasa tidak dipedulikan oleh Bimo.
Tak lama ketika mereka sedang asyik berbicara, handphone milik Galang dan Raja bergetar.
“Istriku kirim pesan katanya pesanannya udah sampai,” ucap Raja.
“Sama. Berarti Bimo udah sampai sini. Kamu jangan ribut lagi sama dia, Raj. Rekan kerjaku itu gak mungkin gangguin istrimu,” sambung Galang.
Ajeng yang mendengar nama Bimo disebut mulai penasaran kalau orang yang dibicarakan Galang dan Raja adalah Bimo kekasihnya. Tapi tidak mungkin juga Ajeng bertanya hal itu.
Tak lama kemudian, Galang dan Raja melihat Bimo yang berjalan ke arah mejanya.
“Hai Bim! How are you? Long time no see. Kita baru dapat kabar katanya kamu baru sampai,” ucap Galang. Dia merangkul bahu Bimo untuk memberi salam hangat. Bagitu juga dengan Raja.
“Sorry last time (Maaf untuk yang lalu),” ucap Raja dengan mengepuk – epuk bahu Bimo. “Thank you juga sudah mau dititipin serabi sama Sekar.”
“Yeah. It's fine...” ucap Bimo. Dia mulai menatap Ajeng yang kini berdiri di sampingnya. “Saya ke sini cuma mau cari Ajeng.”
“Owh... Jadi kamu itu tour guidenya, Bimo? Hahaaa sempit kali dunia ini ya...” sela Galang. “Kenapa kamu gak bilang kalau client kamu itu Bimo. Bimo ini rekan kerja saya.”
“Sorry juga ya, Bim. Tadi saya gak sengaja nabrak guide kamu. Tangannya sedikit luka. Tapi dia gak mau diajak ke klinik,” sambung Raja.
Bimo mulai merasa aneh mendengar Galang dan Raja menyebut Ajeng sebagi ‘guide’nya.
“Guide? Maksudnya?” tanya Bimo menatap setiap pasang mata di depannya.
“Ajeng bilang dia tour guide kamu? Iya kan, Jeng?” tanya Galang ikut bingung.
“Iya, pak,” jawab Ajeng dengan senyumnya.
Tak lama ketika mereka sedang asyik berbicara, pesanan mereka datang. Tapi Galang dan Raja memutuskan untuk menyuruh pelayan menyimpan makanannya terlebih dahulu di dapur.
“Tadinya, kita mau nemanin Ajeng buat lunch. Tapi karena kamu sudah ada di sini, kita jadi lebih tenang buat ninggalin Ajeng. Aku sama Raja mau main golf di hole 67,” ucap Galang.
“Atau maybe kamu mau ikut main golf sama kita?” tanya Raja.
“Hmm... No, thanks. Lain kali saja, Raj,” jawab Bimo.
Galang dan Raja mulai pergi menuju lapangan golf. Sedangkan Bimo mulai duduk memandangi Ajeng di depannya.
“Apa maksudnya kamu ngenalin diri sebagai tour guide aku?” tanya Bimo dengan sorot mata tidak suka.
“Aku kan memang hanya tour guide kamu,” jawab Ajeng santai.
Bimo harus menghela nafasnya setelah mendengar jawaban Ajeng.
“Kamu ni kenapa sih, Jeng...? Aku makin gak ngerti sama kamu! Kamu ngambek kenapa lagi...?” tanya Bimo dengan nada sedikit keras.
Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah meja Ajeng dan Bimo. Hal ini membuat Ajeng malu. Dia merasa dibentak oleh Bimo.
Dengan gerak cepat, Ajeng segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari cafe. Mau tidak mau Bimo harus mengikuti Ajeng.
“Ajeng... Ajeng...” sapa Bimo. Dia mulai meraih tangan Ajeng.
“Aw! Sakit. Jangan pegang-pegang tanganku,” ucap Ajeng dengan menarik tangannya.
Bimo mulai teringat dengan ucapan Raja kalau tangan Ajeng sedikit terluka.
“Mana yang sakit? Biar aku bawa kamu ke klinik,” ucap Bimo dengan menarik tangan satunya.
“Gak usah! Kamu gak usah urusin aku lagi. Kamu urusin aja Kasih sama Sekar! Biar aku urusin diri ku sendiri,” ucap Ajeng dengan menggebu - gebu. “Aku juga gak pa pa kamu cuekin. Lagian aku juga sadar diri kalau mereka lebih baik dari aku,” ucap Ajeng semakin meluapkan emosinya. “Aku yakin kalau mereka masih single, kamu pasti lebih memilih mereka. Udah lah, Bim. Aku capek. Kalau gak soal Jesslyn, kita pasti ribut karena Kasih sama Sekar. Itu dan itu aja,” ucap Ajeng. Dia mulai menutup matanya untuk menghalau agar air mata tidak keluar.
Tiba - tiba saja di saat Ajeng menutup mata, dia merasa bibirnya di ku lum oleh Bimo. Tubuhnya dipeluk erat e rat oleh Bimo. Tengkuknya juga di dorong oleh Bimo agar tidak pergi menjauh.
“Mmpp... Cukup, Bim...”
“Kamu mau kita check out dari sini? Aku bisa batalkan kerja sama dengan resort ini supaya kamu gak curiga aku dekat dengan Kasih dan Sekar,” ucap Bimo membuat Ajeng sedikit syok.
“Tapi kan... Jangan Bim...”
“Terus mau kamu apa supaya kamu gak marah lagi sama aku?” tanya Bimo.
*****
Bersambung...
*****