
Ajeng semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap Bimo. Bimo seolah menghindar dan tidak mau menanggapinya.
“Emang aku salah apa sih, Bim?” tanya Ajeng dengan menatap wajah Bimo dari pantulan cermin kamar mandi. “Sorry kalau aku ada salah,” ucap Ajeng masih memperhatikan Bimo yang kini sedang mencukur jenggot rambutnya.
Dengan kesabaran lebih, Ajeng masih berdiri di belakang Bimo menunggui kekasihnya itu mencukur jenggot. Tapi lama-lama Ajeng merasa tidak nyaman karena terus didiamkan oleh Bimo. Bahkan sampai Bimo selesai mencukur jenggot, dia masih saja tidak bersuara.
“Ya udah, aku keluar. Biar kamu mandinya lebih nyaman,” ucap Ajeng dengan wajah masam.
Tapi belum sempat dia membuka gagang pintu kamar mandi, pinggangnya ditarik oleh Bimo. Bimo mendorong tubuh Ajeng sampai terpentok dinding kamar mandi.
“Orang mana yang kamu ajak ngomong tadi?” tanya Bimo dengan wajah yang sama masamnya seperti Ajeng.
“Gak tahu. Lagian aku cuma ngobrol bentar sama mereka. Tapi ku rasa mereka campuran kayak kamu karena bisa ngomong bahasa,” jawab Ajeng. “Aku cuma empati aja sama Vano karena mamanya baru meninggal,” jelas Ajeng.
Ajeng berharap Bimo tidak akan marah lagi setelah mendengar penjelasannya. Tapi kekasihnya itu justru semakin mengehela nafas dalam-dalam menunjukan rasa tidak suka.
“Berarti laki-laki itu single sekarang,” sambung Bimo.
Barulah Ajeng mengerti apa yang dipikirkan Bimo. Dia mulai tersenyum tipis menatap mata kekasihnya itu.
“Kamu ni... mana mungkin aku nglirik laki-laki lain... Hihiii...” goda Ajeng dengan meluncurkan cubitan di perut Bimo.
“Lagian kamu baru kenal saja sudah bisa akrab sama anaknya. Kamu kan tahu problem di antara kita untuk bikin anak sedikit susah,” jelas Bimo dengan ekspresi wajah yang masih serius.
Kalau boleh jujur, Ajeng sebenarnya senang melihat Bimo cemburu kepadanya. Tapi mengingat betapa kerasnya usaha Bimo ingin menghamilinya, Ajeng tidak tega melihat Bimo kuatir kalau dirinya akan melirik laki-laki lain.
“Bim... dengar aku...” Kedua tangan Ajeng mulai merangkup wajah Bimo. “Aku bukan perempuan gila yang suka melirik sana-sini. Aku sudah punya kamu. Aku gak mau menukar kamu dengan laki-laki lain. Aku ingin selalu bersamamu dan terus berusaha untuk mendapatkan keturunan.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Bimo langsung memeluk Ajeng erat-eart. Baru kali ini dia merasakan menjadi laki-laki yang dicintai meski memiliki kekurangan.
“Love you, Ajeng,” ucap Bimo. Jari tangannya dengan lihai melepas pengait bhra milik Ajeng.
Bimo menuntun Ajeng dengan pelan menuju ke bath up untuk berendam bersama setelah melepas seluruh baju yang melekat.
Bibir keduanya terus menyatu dan saling mengu lum. Gundukan padat yang menempel di dada Bimo membuatnya semakin lengket tidak mau melepaskan Ajeng. Dia terus menekan ping gul Ajeng dan menelusupkan seluruh batangnya secara penuh masuk ke rongga in tim Ajeng. Gerakan air di bath up yang membuat buah da da Ajeng bergerak – gerak membuat tangan Bimo tidak tahan untuk mere masnya. Rangkupan tangan Bimo semakin membuat tubuh Ajeng tergelitik. Ajeng juga terus menekan batang yang mengganjal di sangkarnya. Meski terasa sesak, tapi rasa itu semakin membuatnya ingin merasakan lebih.
Goncangan air di bath up semakin terasa ketika Bimo menggerakan pinggulnya. Tapi dinding bath up yang licin itu menyulitkannya untuk bergerak.
“Licin ya, Bim?” tanya Ajeng dengan senyuman tipis.
“Yeah...” masih berlanjut untuk menggerakan pinggul.
“Gak perlu dipaksakan, Bim. Lagian bath up nya juga kecil. Takutnya tangan kamu terbentur dinding bath up,” ucap Ajeng dengan memainkan jari-jarinya di leher dan rahang Bimo.
“Kamu suka my little brother stuck (adik kecilku terjebak) di dalam?” Goda Bimo. Dia merasakan milik Ajeng sedang kem bang – kem pis melahapnya. “I can feel it (Aku bisa merasakannya).”
Meski malu, Ajeng tidak mau menghentikan ga i rahnya. Dia semakin mere mas lengan Bimo.
“Enjoy, baby...” ucap Bimo. Bibirnya kembali mengu lum dan mela hap lahap bibir Ajeng.
Tubuh Ajeng mulai melemas setelah miliknya meleleh. Sedangkan Bimo yang belum mencapai kli maksnya, segera mengajak Ajeng untuk menuju ke bed.
“Sekarang giliranku,” ucap Bimo dengan mengarahkan miliknya untuk melesak dan menghujam sepenuhnya ke dalam sangkar.
“Mphhh...”
De sa han Ajeng itu membuat Bimo semakin semangat mendorong tubuh Ajeng ke tengah Bed. Dalam hitungan detik, kini tubuh Ajeng terguncang hebat karena ping gul Bimo yang meng hen tak – hen tak.
Cesssssssss
“Argghhhh Ah...” Tarikan nafas Bimo itu kini bisa dirasakan Ajeng yang badannya dihimpit oleh Bimo. “Thank you, baby,” ucap Bimo.
Keduanya berpelukan dan sesekali saling menin dih untuk melancarkan kecu pan.
Ting Tong... Ting Tong....
Suara bel kamar membuat Bimo tidak suka karena aktivitasnya di atas bed diganggu.
“Siapa itu, Bim...? Aku buka dulu ya...” Ajeng bergegas ingin bangkit dari tempat tidur.
“Biar aku yang check. Kamu di sini saja.”
Bimo segera memakai celana kolor dan kaosnya sebelum membuka pintu. Ternyata orang yang ada di depan kamarnya itu ada Ganis, Vano dan Kevin.
“Hai Bimo! Saya Ganis. Sorry sudah ganggu kalian,” sapa Ganis.
Untuk pertama kalinya Bimo menatap laki - laki yang sudah sempat membuatnya cemburu. Tapi laki-laki itu terlihat sopan dan ramah dengan senyum di bibirnya.
“Selamat sore. Saya Kevin, papanya Vano,” sapa Kevin dengan merundukan kepalanya. Kedua tangannya sedang menggendong Vano sambil membawa mobil mainan. Jadi tidak bisa berjabat tangan.
“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bimo.
“Em, jadi sebetulnya kami... khususnya Vano mau ketemu sama Ajeng,” jawab Ganis.
“Iya, kalau boleh apa kami boleh ajak Ajeng sama kalau anda mau buat keliling di deck kapal?” tanya Kevin lebih jelas.
“Iya uncle. Mana tante Ajeng nya?” sambung Vano.
Permintaan anak kecil itu meluluhkan hati Bimo. Apalagi melihat ekspresi memohon dari Vano.
“Em... Boleh tidak ya...” sambung Bimo dengan senyumnya. Kedua orang dewasa yang berdiri di depan Bimo itu sudah tahu kalau Bimo sedang mulai bercanda.
“Ayolah, uncle... Lagian apa enaknya di kamar terus? Ikut jalan-jalan sama kita aja... Nanti aku akan minta papa buat traktir uncle sama tante Ajeng,” bujuk Vano.
“Hahahaa! Perasaan papa gak pernah ngajarin bilang seperti itu?” Kevin sampai menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan anaknya.
“Yeah yeah... Hahaaa! Uncle panggil tante Ajengnya dulu ya,” sambung Bimo.
Ternyata di saat Bimo balik masuk ke kamar, Ajeng tengah berada di kamar mandi.
Tok tok tok...
Bimo mengetuk pintu kamar mandi.
“Iya, Bim... Bentar...” Sahut Ajeng. Dia segera keluar dari kamar mandi setelah selesai. “Siapa yang mencet bell kamar kita?” tanya Ajeng dengan mengkancingkan bajunya.
Bimo pun ikut membantu Ajeng mengkancingkan baju.
“Ada Vano nyari kamu. Dia ngajak kamu buat keliling deck kapal sama Ganis. Sama... papanya juga,” jawab Bimo.
“Emang aku boleh jalan sama mereka? Nanti kamu jealous lagi...” ucap Ajeng. Dia membiarkan tangan Bimo mengkancingkan bajunya sampai selesai.
“Mereka juga invite (undang) aku. Kamu pergia aja duluan. Ada banyak email masuk yang harus aku check. Nanti habis itu aku susul kalian,” jelas Bimo. Tangannya kembali sedikit mere mas – re mas benda ke nyal di depannya. “Tapi kamu harus ingat... Cuma boleh dekat sama anaknya aja.” Cup! Bimo mengke cup kening Ajeng.
“Iya...” Cup! Ajeng balik mengke cup di pipi Bimo dengan berjinjit. “Jangan lama-lama ya... Aku bawa handphone biar kamu lebih mudah nyari aku nanti.”
Ajeng berlanjut keluar dari kamar untuk menghampiri Ganis, Vano dan Kevin. Sore itu mereka menuju cafe untuk membeli camilan.
Mereka berempat memilih untuk duduk bersantai sambil menikmati jajanan yang dibeli dari cafe. Vano yang hobbynya bermain mobil-mobilan lebih aktif berjalan ke sana ke mari di depan cafe.
“Setelah ini kamu call aja Bimo buat langsung ke restaurant. Sebentar lagi waktunya dinner. Kita bisa dinner sama-sama di sana,” ucap Kevin memberi saran Ajeng.
“Em, boleh. Saya kirim pesan aja biar nanti Bimo nyusul,” timpal Ajeng.
Mereka berlanjut untuk mengelilingi deck lagi setelah Vano merasa bosan bermain di area depan cafe. Kali ini Vano banyak permintaan untuk difoto bersama Ajeng dan Ganis. Tentu saja photographer andalannya adalah papanya.
“Kok rambut tante Ganis sama tante Ajeng terbang-terbang?” tanya Vano dengan memandangi hasil jepretan papanya. “Rambut Vano aja gak terbang-terbang...” celetuknya lagi membuat ketiga orang dewasa itu tersenyum
“Kan rambut tantenya panjang, Van. Kalau rambut Vano kan pendek sama kayak punya papa,” jelas Kevin. “Kalau mau rambut tantenya gak terbang-terbang, ya nanti kita foto lagi di dalam restaurant. Di indoor area biar gak kena angin laut,” ucapnya memberi saran kepada Vano.
Akhirnya mereka berjalan menuju restaurant di kapal itu. Menu buffet yang kurang membangkitkan selera makanan Vano, membuat Kevin memilih untuk memesan makanan secara à la carte (memesan hidangan sesuai selera).
“Nis, kamu mau order à la carte atau ambil buffet?” tanya Kevin.
“Saya order à la carte aja, pak. Kalau order buffet juga sayang. Porsi makan saya dikit,” jawab Ganis dengan membuka menu à la carte.
Ajeng pun ikut memesan secara à la carte.
Selesai memesan makanan, mereka menggunakan kesempatan untuk berfoto-foto lagi mengikuti kemauan Vano. Anak kecil itu semakin banyak permintaan dalam hal berfoto.
“Papa ni fotonya gak bagus...! Sini aku contohin buat ambil foto!”
Ucapan Vano itu membuat ketiga orang dewasa heran.
“Papa di tengah. Biar tante Ganis sama tante Ajeng di pinggir,” ucap Vano dengan menggerakkan tangannya. Sorot matanya memberi kode agar Ajeng dan Ganis memberi cela untuk papanya berdiri.
Jepret! Jepret! Jepret...!
Dan banyak sekali jepretan yang dilakukan Vano.
“Ini kenapa jadi papa yang foto sama tante Ganis dan tante Ajeng?” tanya Kevin membuat Ajeng dan Ganis tertawa.
“Hihiii... Biar papa punya banyak referensi contoh foto yang baik dan benar!” jawab Vano.
Ketiga orang dewasa itu semakin terkekeh mendengar ucaapan Vano.
“Hahaaa! Itu Vano usia berapa sih, pak? Masih kecil aja udah tahu soal referensi segala,” celetuk Ajeng heran.
“Baru sebulan yang lalu dia genap 4 tahun. Saya aja sampai heran karna hampir tiap hari dengar kosa kata baru yang diucap sama Vano,” jawab Kevin dengan menepuk nepuk lengan Ajeng.
“Sekarang giliran tante Ganis foto berdua sama papa,” ucap Vano.
Ganis terbengong - bengong mendengar permintaan Vano. Dia sedikit canggung karena Kevin melingkarkan tangan di pinggangnya.
“Wow... Good tante Ganis... Hihiii...! Sekarang giliran tante Ajeng sama papa.”
Kevin yang terbawa suasana sampai tidak menyadari kehadiran Bimo di tempat itu. Bimo yang melihat pose foto Kevin yang melingkarkan tangan di pinggang Ajeng menjadi geram.
“Wow... Good tante Ajeng... Senyumnya lebih lebar dari tante Ganis. Hihiiii...!” Puji Vano dengan menyodorkan kameranya.
Bimo yang sudah tidak tahan melihat Kevin berdiri di samping Ajeng, segera mendekati Ajeng.
“Ajeng...” sapa Bimo.
Keempat orang itu menoleh melihat Bimo.
“Bisa kamu ikut aku?” tanya Bimo dengan meraih tangan Ajeng.
*****
Bersambung...
*****