
Selesai dari toko gaun, Bimo mengajak Ajeng dan Sasa ke toko perhiasan. Bimo meminta Ajeng untuk memilih cincin pernikahan sesuai selera Ajeng.
Tapi setelah Ajeng memilih cincin sesuai seleranya, Bimo terlihat mengerutkan dahinya.
“Bagus...” ucap Bimo dengan meraih kedua cincin itu. “Kamu ga mau nyoba model yang lain?” tanya Bimo.
“Kenapa harus nyoba yang lain? Kamu ga suka?” tanya Ajeng balik.
“Aku suka modelnya. Tapi kan masih banyak design yang lebih bagus. Terutama buat cincin kamu. Aku mau kamu pilih yang paling special,” jawab Bimo menjelaskan.
“Hmm...” Ajeng sedikit menghela nafas. Jujur, sampai detik ini dirinya masih kesal dengan Bimo. “Aku suka yang biasa aja. Lagian takutnya kalau aku banyak maunya... banyak permintaan, kamu nya ga jadi nikahin aku kayak waktu dulu,” ucap Ajeng santai sambil memandangi perhiasan yang lain.
Muka Bimo memerah seketika setelah mendengar kalimat barusan. Dirinya cukup malu karena banyak orang di sekitar mendengar kalimat itu juga.
“Mbak, kami pilih yang ini. Ini card saya,” ucap Bimo menahan emosinya.
Meski Ajeng masih saja bersikap dingin dengannya, Bimo tetap berusaha sabar menghadapi Ajeng. Rasa Cinta dan Sayangnya untuk Ajeng lebih mendominasi di hati dan pikirannya meski Ajeng bersikap kaku dan belum bisa memaafkannya.
Selesai membeli cincin pernikahan, Bimo meminta Deni untuk menyetir mobilnya menuju apartment.
“Akhirnya kita selesai belanja, sayang,” ucap Ajeng sambil mengusap kepala Sasa. “Mommy ke toilet dulu ya,”
“Yeah, mom. Jangan lama-lama ya. Sasa laper. Mau dimasakin mommy,” ucap Sasa sambil berlanjut membuka tas belanjaannya.
Melihat Ajeng yang masih saja cuek dan dingin, di benak Bimo terlintas sesuatu.
“Deni, aku mau kamu beli makanan buat kita. Sama ajak Sasa biar dia pilih menu favorite nya. Sekalian juga kamu cari MUA buat make up in Ajeng dua hari lagi,” ucap Bimo memberi perintah.
“Siap, pak,” jawab Deni.
Deni segera pergi dari apartment dengan mengajak Sasa. Sementara itu Bimo berlanjut menyusul Ajeng ke kamar. Bimo menunggui calon istrinya itu yang masih berada di dalam toilet.
Selesai buang air kecil, dengan santai Ajeng keluar dari toilet dan berjalan melenggak tanpa menoleh ke arah Bimo yang tengah memandanginya.
“Ajeng...” sapa Bimo membuat Ajeng menghentikan langkahnya. “Aku mau ngomong sama kamu.” Bimo mulai melangkah mendekati Ajeng.
“Aku mau ke kitchen masakin makanan buat Sasa,” sambung Ajeng.
Bimo segera meraih pinggang Ajeng dan membalikan tubuh Ajeng untuk dipandang wajah cantik calon istrinya itu.
“Don't worry about that. Aku udah minta Deni buat beli makanan. Sasa juga ku suruh ikut Deni biar bisa pilih makanan favoritenya,” ucap Bimo.
Jarang sekali Bimo menyaksikan bibir Ajeng tersenyum. Tidak seperti dulu semasa melakukan trip bisnis. Dirinya hanya bisa melihat Ajeng tersenyum bila ada Sasa.
“Gimana perasaan mu sekarang? Apa kamu senang?” tanya Bimo sambil membeelai rambut Ajeng.
Bibir Ajeng masih saja diam. Tertutup rapat tidak memberi jawaban.
“Kalau kamu merasa ga bahagia... Kita masih ada waktu untuk membatalkan Pernikahan ini,” ucap Bimo membuat mata Ajeng membulat menatapnya. “Aku ga mau maksa kamu buat nikah dengan ku kalau kamu ga bahagia,” jelas Bimo yang kemudian menarik nafas panjangnya. Dirinya berakting seolah-olah akan membatalkan Pernikahan yang sudah ada di depan mata.
“Maksudmu?” tanya Ajeng dengan nada penuh penekanan. Sangat kesal. Pikiran Ajeng berputar cepat mencerna kalimat yang dia dengar itu.
Sudah Gila ya si Bimo? Batin Ajeng.
“I love you,” ucap Bimo membuat Ajeng mengerutkan dahinya. Dirinya bingung dengan sikap aneh yang di tunjukan Bimo.
Beberapa detik yang lalu mengucapkan ingin membatalkan pernikahan, tapi sekarang justru bilang ‘I love you’...
“Sudah ku duga. Kamu ga akan membalas ucapanku,” ucap Bimo dengan tersenyum datar.
Sudah ratusan kali aku rasa mengucapkan kata cinta. Tapi gak satu pun kamu balas, ucap Bimo dalam hatinya.
“Aku akan memberi mu waktu, Ajeng. Sampai kamu membalas perasaan ku. Kalau memang sikap mu terus seperti ini... Hmm... Mungkin sebaiknya kita memang harus jalan masing – masing,” ucap Bimo semakin membuat Ajeng terbengong – bangong.
Bimo mulai melangkah pelan untuk keluar dari kamar itu. Dalam hatinya bersorak mengharapkan Ajeng akan memeluknya dari belakang.
Tapi bukannya pelukan yang di dapat Bimo, dirinya justru mendapat serangan dari belakang.
Bimo merasa punggungnya dilempar oleh sesuatu. Dia menoleh untuk mengetahui benda apa yang sudah memukulnya dari belakang.
“Bisa – biasanya ya kamu ngomong kayak gitu!” bentak Ajeng dengan suara lantangnya. Dirinya terbakar emosi karena mengira Bimo akan membatalkan Pernikahan. “Pergi saja sana! Jangan pernah lagi kamu muncul di depan ku!” Ajeng begitu kesal menanggapi sikap Bimo yang tiba-tiba berubah.
Bimo tersenyum tipis menghadapi kemarahan Ajeng sambil menatap bantal yang mengenai punggungnya tadi.
“Hmm......” Bimo menarik nafas panjang. Dia pikir Ajeng akan takut dengan gretakannya. Harapannya kalau Ajeng akan melunak justru tidak terjadi. Sebaliknya, sekarang Ajeng justru terlihat semakin marah dengannya. “Ini kan apartment ku,” ucap Bimo santai dengan senyumnya.
Ajeng berfikir entah hantu apa yang saat ini merasuki Bimo. Ajeng masih tidak percaya bagaimana Bimo bisa mengucapkan kalimat seperti itu.
“Fine.... Ok. Aku akan keluar dari sini,” ucap Ajeng dengan kesal.
Ajeng berjalan dengan mantap untuk segera keluar dari kamar utama yang biasa dirinya pakai untuk tidur bersama Bimo. Pipi wajahnya terasa panas. Termasuk matanya juga pedih menahan air mata. Ajeng tidak menyangka kalau rencana pernikahannya akan berakhir dengan perdebatan.
Sssstttt.....
Tiba-tiba Bimo merengkuh dan mendekap Ajeng ke dadanya.
Ajeng yang kesal mencoba mendorong tubuh Bimo dengan memukul dada Bimo.
“Ngeselin!!! Kamu jahat!” teriak Ajeng dengan raut wajah penuh emosi. Tangannya terus mencari cara untuk memukul Bimo. Tapi Bimo tidak tinggal diam untuk semakin mendekap Ajeng. “Lepasin! Biar aku pergi! Kamu usir aku kan dari tempat ini!” Ajeng semakin lantang memberi perlawanan.
Bimo begitu heran harus dengan cara apa dirinya meluluhkan hati Ajeng. Cara halus penuh cinta dan kehangatan tidak mempan digunakannya. Cara sadis menakut-nakuti akan membatalkan pernikahan pun tidak mempan.
“Bisa gak kamu diam sebentar saja?” Ucap Bimo yang kemudian mengke cup pucuk kepala Ajeng. “Kamu pikir aku serius akan pergi semudah itu dan batalin acara nikahan kita...?” tanya Bimo dengan senyum tipisnya. “It's impossible! Itu ga mungkin terjadi,” Bimo kembali menghujani kepala Ajeng dengan ciuman. “Aku sangat mencintai mu. Aku ga mungkin melepas mu semudah itu setelah semua yang kita lalui bersama. Dasar keras kepala!”
Bimo menikmati setiap hembusan nafas Ajeng yang memburu. Dia mengusap lembut pipi Ajeng yang masih terasa hangat karena kemarahan yang meledak.
“Mau sampai kapan kamu bersikap dingin dengan ku?” tanya Bimo yang kemudian merangkup wajah Ajeng dengan kedua tangannya. “Apa rasa cinta mu sudah gak ada buat ku?”
Ajeng mengerutkan keningnya menanggapi pertanyaan Bimo.
“Kalau aku ga cinta sama kamu, untuk apa aku bertahan di sampingmu sampai hamil?” balas Ajeng dengan pertanyaan.
“Terus kenapa setiap aku bilang I love you, kamu ga pernah mau balas?” tanya Bimo penasaran.
“Huft......" Ajeng menarik nafas panjang. "Aku takut kalau kamu cuma ngasih harapan palsu,” jawab Ajeng pelan.
“Bukannya aku udah bilang ratusan kali kalau aku sangat menyukai mu...?” Bimo mulai menge cup bibir Ajeng. Dia melu mat halus bibir Ajeng sambil mendorong tengkuk Ajeng lebih dekat. “I love you...” de sah Bimo pelan setelah mence cap cukup lama bibir Ajeng. Bimo menatap kedua bola mata dan bibir Ajeng. Dirinya berharap Ajeng akan membalas kalimatnya itu. “Masih ga mau balas ucapan ku?” tanya Bimo dengan senyum tipisnya.
Ajeng mulai mencebikan bibirnya karena kesal karena seperti di desak membalas ucapan calon suaminya itu.
“Iya... I love you too...” balas Ajeng pelan.
Bimo begitu senang mendengar kalimat barusan. Dia bisa bernafas lega akhirnya Ajeng membalas balik ungkapan perasaannya itu.
“I love you,” ucap Bimo dengan senyum lebarnya.
“Apaan sih...? Aku kan udah balas barusan...” mendelik dengan gemas menatap wajah Bimo.
“I love you...” ucap Bimo lagi dengan ekspresi yang sama.
“I love you too... I love you Albertus Bimo,” balas Ajeng sambil menahan senyum di bibirnya.
Senyum yang tertahan di bibir Ajeng itu semakin membuat Bimo gemas. Dia memeluk Ajeng dengan erat dalam dekapannya.
“Jangan bersikap dingin lagi ya... Aku mau kamu bersikap manis seperti ini terus. Aku akan terus berada di sisi mu. Menua bersama... sampai maut memisahkan kita,” ucap Bimo.
Rasanya Ajeng sudah lelah juga selama beberapa minggu mengontrol dan mengendalikan dirinya untuk bersikap dingin kepada Bimo. Kini dirinya mulai memberanikan diri untuk membalas pelukan Bimo. Ajeng mengusap lembut punggung Bimo dan membiarkan Bimo mence cap lehernya.
“Love you, baby...” de sah Bimo sambil mendorong pan tat Ajeng mendekat ke miliknya.
“Love you too...” balas Ajeng sambil memperhatikan sorot mata Bimo yang melirik ke arah bed tempat tidur.
*****
Bersambung...
*****