My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
I Will Do My Best (21+)



Celotehan Ajeng yang didengar Bimo itu bagai omelan mamanya bila berada di rumah.


 


“Selama kita tidak mengganggu mereka, aku pikir itu doesn’t matter (gak masalah),” sambung Bimo setelah kalimat panjang yang di ucapkan Ajeng.


 


“Hm… Itu kan kalau di Australia. Kita lagi di Indo nih, Bim… Kalau ketahuan me su m dikit aja di tempat umum bisa diangkut satpol PP…” timpal Ajeng.


 


“Hahaa! Aku pikir mereka gak akan di sini. Ini tempat wisata, Ajeng. Kita bebas bersenang-senang. Don’t worry.”


 


Bimo yang tidak sabar ingin segera menuju minibus, segera membungkuk dan meraih tungkai Ajeng untuk membopong pacarnya. Ajeng sudah cukup tahu apa yang akan dilakukan Bimo kepadanya. Pacarnya itu sepertinya sudah tidak sabar setelah menahan 5 hari.


 


Akhirnya tidak membutuhkan waktu lama, kini Bimo sudah sampai membopong Ajeng balik ke minibus.


 


“Thank you…” ucap Ajeng. Dia mulai turun dari dekapan Bimo dan segera menyalakan lampu di dalam minibus itu.


 


Baru saja lampu dinyalakan, Ajeng sudah melihat Bimo sedang menata pizza untuk dimasukan ke microwave.


 


“Kamu yakin akan menghabiskan 3 kardus pizza ini?” tanya Ajeng. Dia cukup heran karena Bimo memesan banyak pizza.


 


“Yeah, kenapa tidak,” menjawab dengan santai sambil memandangi Ajeng yang sekarang berdiri di sampingnya.


 


Bimo meng ke cup leher Ajeng dan mendorong tubuh Ajeng sampai terhimpit ke lemari. Tangannya mulai menyibak rok dan masuk ke pantat untuk me-re-mas dan mendorong bagian intim itu untuk dia gesek beberapa kali.


 


TING…! Suara Microwave menyadarkan keduanya. Mereka menoleh melihat microwave yang berada di sebelah mereka.


 


“Pizza is calling… Let’s eat first. Hihiii…” celetuk Ajeng. (Pizza sedang memanggil… Ayo makan dulu)


 



Ada 3 jenis pizza yang sudah siap untuk disantap. Ajeng yang terbiasa makan sedikit menjadi heran ketika melihat nafsu makan Bimo yang begitu besar malam ini. Bibirnya tidak pernah berhenti untuk mengunyah.


 


“Pelan-pelan, Bim. Aku cuma makan dikit, kok. Jangan kuatir kalau aku akan ambil jatah kamu,” goda Ajeng.


 


“Kamu harus makan lebih banyak. Jangan sampai nanti kamu sakit.” Bimo menyodorkan potongan pizza ke mulut Ajeng. Dia menyuapi sampai Ajeng sambil sibuk mengunyah pizza yang ada di tangan sebelahnya. “Habis ini kita mandi dan kita bisa bersantai setelah itu,” ucap Bimo dengan mulut yang masih terisi pizza.


 


Tidak ada setengah jam, Bimo sudah berhasil menuntaskan makan malamnya. Ajeng yang hanya mengambil satu potong dari setiap rasa juga sudah merasa kenyang.


 


“Huh… Kenyangnyaaa. Cuma 3 sliced pizza udah bikin perut buncit,” celetuk Ajeng dengan melirik ke perut Bimo. Pacarnya itu nampak biasa-biasa saja.


 


“Alright… Ini adalah waktu untuk mandi. Let’s have shower together (Ayo mandi bareng),” ajak Bimo menarik tangan Ajeng.


 


“Hah? Bathroomnya kecil, Bim. Gak akan muat,” sambung Ajeng. Keduanya sudah berdiri di depan batroom yang terbuka pintunya.


 


“Kita belom mencoba. Come on… Ayo masuk!” Bimo menuntun bahu Ajeng untuk masuk ke dalam kamar mandi.


 


Ajeng nampak bingung ketika dia melihat Bimo melepas bajunya satu per satu. Dia menghela nafas karena melihat Bimo yang kini hanya memakai boxernya saja.


 


“Kenapa melihatiku? Mau ku bantu melepas bajumu?” tanya Bimo. Tangannya mulai melepas kancing baju Ajeng.


 


Ajeng cukup gugup menghadapai sikap Bimo saat ini. Ini adalah pertama kalinya bagi Ajeng akan mandi berdua dengan laki-laki. Nampak canggung dan belum nyaman karena tidak terbiasa. Baju terusan yang dikenakan Ajeng mulai terlepas. Bimo semakin senang karena bisa melihat lekuk tubuh pacarnya di bawah sinar lampu yang cukup terang.


 


Bukannya menyalakan shower, Bimo berlanjut melepas 2 set terakhir yang masih menutupi bagian tubuh Ajeng. Dia memeluk tubuh Ajeng dari belakang dan menghujani tengkuknya dengan ke cu pan… gi-gi-tann dan se-sapp-an sampai Ajeng harus berpegangan pada dinding kamar mandi, membiarkan Bimo menikmati setiap inci tubuhnya. Tangan Bimo juga bekerja me re mass benda keenyal yang menggantung dengan bermain pada bulatan pucuk sampai membuat Ajeng me le nguhh.


 


“Ah… Ah…”


 


Gairah Bimo semakin terbangun mendengar de sa hann dari bibir Ajeng. Bimo menciumi bahu Ajeng dengan terus memutar dua benda keenyal yang ada di dalam rangkupan tangannya.


 


“Should we go to bed first?” tanya Bimo. (Haruskan kita pergi ke bed dulu?)


 


Ajeng hanya mengangguk pasrah mengiyakan keinginan Bimo. Bimo mulai m e l u m a t bibir Ajeng… menuntun… mendorong tubuh Ajeng dengan terus me nye sapp bibir itu sampai ke bed.


 


“Ajeng, I will do my best to make you pregnant…” (Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu hamil)


 


Ajeng tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada kata yang melintas di benak Ajeng untuk membalas ucapan itu.


 


“I Love you…” Bimo mulai melepaskan boxeerrnya dan menaiki bed.


 


Tubuh polos itu mulai menggeliyat saat Bimo meng ke cu pi  paha dalamnya. Sentuhan tangan itu membuat Ajeng menarik nafas panjang karena dia tahu sebentar lagi dirinya akan merasakan sensasi permainan yang memabukan .


 


“Aghh… Bim…?” Ajeng cukup terkejut karena Bimo langsung me nyee sap intimnya. Me nyee sap dan menggoyangkan lidahh membuat milik Ajeng basah karena saliivaa. Bimo menji laa tii berkali-kali dan mengaduk-aduk dengan lidahhnya sampai akhirnya Ajeng merasa miliknya berrdeenyutt perlahan.


 


Belum puas bermain dengan sangkar yang sudah basah, Bimo kembali merangkak dan menindihh tubuh Ajeng. Dia mendempetkan kedua bendaa keenyall itu dan me nyee sapp kedua pucuk bergantian. Ajeng hanya bisa pasrah sambil merremass rambut Bimo. Tubuh laki-laki itu terus menggeliyat dan menekan bagian intimnya.


 


“Bim… Kalau kita berhasil, kamu mau baby boy atau baby girl?”tanya Ajeng. Dirinya seperti sudah siap untuk diisi perutnya dengan janin.


 


“I don’t mind (Aku gak ada masalah). Mau boy or girl yang terpenting dia sehat,” jawab Bimo dengan sibuk mengarahkan miliknya  untuk menghujam lorong yang sudah dia buat basah.


 


“Emphh… Ah…” Ajeng sedikit menarik nafasnya karena terkejut dengan desakan benda lonjong itu.


 


Bimo mulai memacu dengan menghentak pelan karena masih di awal permainan. Mata Ajeng yang tertutup sambil menggigit bibir bawah itu membuat Bimo semakin ingin terus menambah ritme hentakan. Dia mendesak dan menggoyang sampai bagian kenyaall itu ikut terguncang.


 


“Aw… Bim, pelan-pelan…” Ajeng kembali membuka matanya di saat Bimo menekan kedua pucuk kenyallnya. “Bim, ini sa—” Belum sempat selesai berbicara, Ajeng melihat ekspresi wajah Bimo yang tengah asyik dengan memucungkan bibir mambuat Ajeng sungkan untuk mengkomplain. Bimo semakain menekan paha itu agar lebih terbuka lebar. Dia ingin terus menekan sampai titik terdalam.


 


Cucuran keringat mulai menetes ke tubuh Ajeng. Bimo seolah tidak ingin berhenti. Dia terus menggoyang dan mengehentak kuat-kuat membuat Ajeng pasrah merasakan getaran yang dibuat oleh Bimo. Tangan Ajeng membelai wajah Bimo di saat laki-laki itu merunduk. Dia mengusap keringat yang hampir jatuh dengan jari-jarinya.


 


“I love you, Bim…” desah Ajeng.


 


Kalimat itu bagai magic yang meningkatkan stamina Bimo untuk memacu terus tanpa henti. Dia semakin menghujam dengan ritme yang cepat. Ajeng kembali menutup matanya karena sudah pasrah menerima permainan panas itu.


 


“Arghhh… Ahhh…” Bimo mengerang panjang merasakan seluruh lahar hangat itu tumpah di dala tubuh Ajeng. Dia membelai rambut Ajeng dan menatap wajah cantik yang sudah memuaskannya saat ini. Bibirnya mengkecupp kening Ajeng dan berlanjut memeluk tubuhh yang masih di bawah kung-ku-ngan-nya itu.


 


“Are you okay?” Bimo mengusapp usapp pipi merah yang masih terasa panas itu. Senyuman di bibir pacarnya itu membuatnya lega. Ajeng kembali menggeliyat ketika Bimo meraih tengkuknya untuk dicium lagi. Bimo m e l * u m a t halus dengan menekan intiim milik Ajeng.


 


“Bim… Em, gimana kalau nantinya aku belum bisa hamil juga?” tanya Ajeng. “Aku takut justru masalah genetikku di keluarga yang akan jadi masalah.”


 


“Semua butuh proses, baby... Yang harus kita usahakan hanya lah berusaha dan terus mencoba,” jawab Bimo. “Kalau kamu mau, nanti kamu bisa check up ke dokter. Kita bisa berkonsultasi dengan dokterku,” jelas Bimo.


 


Bimo kembali melancarkan aksinya lagi. Dia membalikan tubuh Ajeng dan menghujamkan kejantanannya. Merapatkan tubuhnya dan merengkuh kedua guundukan yang menggantuung. Dia me-re-mass sebantar dan menggoyangkan panntatt Ajeng agar bisa meng ko cok miliknya.


 


Setiap hentakan, Ajeng harus mengerang karena begitu dalamnya benda itu menghujam. Tangannya mencengkram sprei dan berusaha menopang badannya agar tidak tumbang.


 


“Bim, jangan Bim… Ini sudah sakit,” Ajeng berusaha menyingkirkan jari tangan Bimo yang mengaduk-aduk bagian intimmnya.


 


“I like it. Tahan sebentar saja…” balas Bimo. Dia terus memutar jari-jarinya sampai Ajeng harus mengkerutkan dahi karena sen sa si yang makin membakar tubuhnya.


 


 


Bimo semakin tidak bisa mengendalikan gairahnya. Dia terus menambah ritme hentakan sampai Ajeng tumbang karena tidak tahan menumpu dengan tangannya.


 


“Bim, cukup… Aghh… Aghh…” Ajeng semakin tidak bisa mengimbangi Bimo karena energy Bimo sangat bagus malam ini. Wajahnya sampai mendusel bed karena sudah terlalu lemas melayani pacarnya itu.


 


“Ughh… AGhhh… I have done… (Aku sudah selesai) Thank you Ajeng. Love you.” Bimo kembali tumbang di atas punggung Ajeng. Dia membalikan tubuh Ajeng dan memeluknya penuh kelembutan. “Thank you baby…” Mengkecupii hidung… bibir dan… dagu Ajeng.


 


Ajeng kembali tersenyum setelah tubuhnya menerima serangan dari Bimo.


 


“Ini baru energy dari pizza. Belum dari makanan yang lain,” celetuk Bimo membuat Ajeng terkekeh. Dia tidak bisa membayangkan akan jadi apa dirinya setelah itu.


 


“Kamu ni Hihiii… Jahil ya,” sedikit mencubit dada Bimo yang terus menghimpitnya. “Nanti kalau kita jadi ke Qatar, Aku mau coba tuh daging unta biar bisa ngalahin kamu,” ucap Ajeng.


 


Kali ini Bimo yang terkekeh mendengar ucapan Ajeng. Kalaupun Ajeng ingin makan daging unta demi meningkatkan l i b i d o , Bimo juga yang akan senang menikamati perlakukan Ajeng.


 


“Hem… Hahahaa… Aku akan menunggu hari itu tiba,” ucap Bimo dengan semakin merengkuh Ajeng masuk ke dalam dekapannya.


 


“Bim, yuk kita mandi. Udah bau acem nih kita berdua,” ajak Ajeng. Kakinya mulai turun dari bed untuk beranjak menuju kamar mandi.


 


*****


Bersambung…


*****