
Mendengar pertanyaan mamanya itu Bimo mulai tersenyum. Masih ingat dalam memorinya tentang kejadian 5 tahun yang lalu saat mamanya itu bersikap berlebihan sampai ingin menabrak rumah bu Heni dengan mobil.
“Aku kapan pun siap untuk melamar Ajeng. Apalagi sekarang Ajeng sudah hamil,” jawab Bimo santai karena yakin dirinya akan diterima oleh bu Heni. “Gimana dengan mama? Mama sudah siap belum bertemu bu Heni lagi?” tanya Bimo balik.
Mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, bu Clara juga tidak habis pikir dengan dirinya bisa meluapkan emosinya secara berlebihan. Bila mengingat hal itu, bu Clara merasa itu bukanlah dirinya. Tapi kembali lagi nalurinya sebagai seorang ibu bila anaknya dihina dan dicela, sudah pasti dirinya akan membusungkan dada untuk membentengi anaknya.
“Kamu atur saja tanggalnya. Mama akan ikut datang ke keluarganya Ajeng,” jawab bu Clara yang kemudian menarik nafas panjang. Siap tidak siap, dirinya harus siap untuk bertemu bu Heni lagi. Menekan emosi demi kebahagiaan anaknya. Karena setelah kejadian 5 tahun itu, Bimo tidak pernah dekat atau berusaha untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain.
Mendengar jawaban mamanya itu, Bimo merasa mamanya tidak punya pilihan. Mau tidak mau mamanya itu harus menghadapi bu Heni.
_______
Selesai percakapan dengan Bimo, bu Clara memilih untuk pergi dari apartment Bimo. Dia harus memikirkan cara terbaik agar kedatangannya untuk melamar Ajeng tidak ditolak oleh bu Heni.
Sementara itu Bimo memilih untuk menemui Ajeng yang masih berada di dalam kamar Sasa.
“Baju baru ya?” tanya Bimo sambil memperhatikan Ajeng yang tengah mengecek baju-baju pemberian mamanya.
“Hmm...” jawab Ajeng datar.
Sudah banyak hal Bimo lakukan agar suasana hati Ajeng kembali seperti dahulu kala ketika mereka menjalani trip bisnis dengan minibus. Tawa dan senyum bahagia Ajeng sangat Bimo rindukan. Perempuan yang sedang mengandung anaknya itu selama tinggal di apartmentnya hanya bisa tersenyum dan tertawa bila bersama Sasa, tidak dengannya.
“I love you...” ucap Bimo sambil memeluk Ajeng dari belakang. Bimo menghujani kedua pipi Ajeng dengan ci uman meski dia tahu Ajeng merasa tidak nyaman. “I love you, baby...” Bimo berlanjut merangkup kedua pipi Ajeng. Dia menarik wajah Ajeng untuk mendaratkan bibirnya ke bi bir Ajeng. “Mau sampai kapan kamu mendiamkanku seperti ini?” tanya Bimo dengan menatap kedua bola mata Ajeng. “Aku rindu melihat tawamu yang lepas seperti saat dulu,” ucap Bimo dengan menurunkan tangannya ke pinggang Ajeng. “Haruskah kita melakukan trip seperti dulu lagi?” tanya Bimo dengan senyumnya.
Bola mata Ajeng bergerak ke samping seperti seolah mengingat kejadian di masa lalu saat dirinya sedang dimabuk cinta kepada Bimo.
“Semua kejadian di masa lalu itu hanyalah awal kesalahanku,” sambung Ajeng. Dadanya terasa sesak bila mengingat kejadian 5 tahun yang lalu. “Andai aku gak mengenal kamu... Aku ga akan pernah merasakan rasa sakit yang begitu dalam karena kamu pergi menghilang begitu saja!” Sorot mata Ajeng semakin dalam menatap mata Bimo.
“I'm sorry, baby. Kali ini aku ga akan pergi lagi. Aku berjanji untuk selalu ada di sampingmu. Kita akan selalu bersama. I love you...” sambung Bimo semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Ajeng.
“Hanya sebuah janji dan kata cinta. Kamu pikir aku akan percaya dengan kalimat manismu itu?” tanya Ajeng dengan menunjukan wajah kesalnya. “Hampir satu tahun lamanya aku mengalami stres berat karena kamu menghilang begitu saja. Air mataku sampai kering karena... Hah...” Ajeng kembali mengingat masa-masa di mana dirinya benar-benar berada di titik terendah dalam patah hati.
Bimo mendekap tubuh Ajeng ke dalam pelukannya. Dia mengusap-usap punggung Ajeng karena Bimo tahu kalau Ajeng sedang meluapkan isi hatinya yang terpendam.
“A—aku pikir... hiks, aku pikir kamu gak akan kembali lagi...” Ajeng mulai meneteskan air matanya di baju Bimo. “Aku ga mau mencintaimu seperti dulu lagi... Aku ga mau merasa patah hati! Aku gak mau merasa ditinggalkan lagi... heggzz...” Ajeng meremas kedua tangannya masing-masing untuk menahan dirinya memeluk Bimo.
“Maaf kan aku, Ajeng,” Bimo semakin mempererat pelukannya kepada Ajeng. “Meski kamu gak membalas setiap kali aku mengatakan cinta, tapi aku tahu kalau kamu mencintaiku,” ucap Bimo semakin membuat Ajeng menangis sesenggukan. “Biarkan aku saja yang mencintaimu kalau kamu lelah mencintaiku. Asalkan kamu ada di sampingku setiap saat, itu sudah cukup bagiku,” ucap Bimo semakin membuat Ajeng *******-***** kedua tangannya sendiri.
“Setiap saat bila kamu merasa bosan... Kamu boleh pergi meninggalkanku, Bim,” ucap Ajeng menekan setiap kata yang keeluar dari bibirnya. Air matanya semakin deras mengalir. “Tidak ada ikatan resmi atau komitmen diantar kita.” Bimo terperanga mendengar kalimat Ajeng barusan.
“What do you mean? Aku mencintaimu Ajeng. I will marry you soon...! Jangan pernah kamu mengucapkan kalimat seperti itu lagi! Aku ga akan pernah meninggalkanmu.” Bimo menghapus air mata Ajeng dengan kedua ibu jarinya. Dia mengke cup kening Ajeng beberapa detik. “Aku akan datang menemui ibumu untuk meminta restu.” Bimo menggenggam kedua tangan Ajeng masih dengan tatapan yang begitu dalam.
Bimo kembali meraih tengkuk Ajeng untuk menci um bibir calon ibu dari anaknya itu. Rasanya begitu manis Bimo rasakan saat dia menye sap li dah Ajeng. Dia mengu lum sambil terus mendorong teng kuk Ajeng agar lebih bisa dinikmatinya.
“Aku gak akan mengulangi kesalahan yang sama bila nantinya ibu kamu ga mau merestui hubungan kita.” Bimo sedikit meremas kedua bahu Ajeng agar Ajeng lebih fokus mendengarnya. “Apapun hasilnya nanti, aku akan tetap menikahimu. Menjagamu untuk terus tinggal bersama denganku,” jelas Bimo.
Ajeng cukup lega mendengar setiap kalimat yang disampaikan Bimo. Tapi masih dengan pendiriannya, Ajeng berusaha untuk bersikap biasa saja. Sebelum ada ikatan yang resmi, Ajeng tidak mau terlalu percaya kepada Bimo. Pengalaman di masa lalu mengajarinya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan berhati-hati dalam memberikan kepercayaannya kepada seseorang.
Beberapa saat kemudian, Deni datang dengan membawa sesuatu yang diminta Bimo. Sebuah alat test pack dengan kotak kecil yang biasa digunakan untuk memberi kado.
“Ada yang anda butuhkan lagi, pak?” tanya Deni setelah memberi barang yang dipesan Bimo.
“No...” jawab Bimo sambil mengecek isi tas belanjaan yang dibelikan Deni. Bimo tersenyum tipis melihat isi tas itu. “Em... Aku pikir ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan. Aku mau kamu tunda semua schedule meeting dengan client untuk besok,” pinta Bimo.
“Siap, pak,” jawabnya dengan mengangguk.
Deni mulai pergi dari apartment setelah bertemu dengan Bimo. Ajeng yang rupanya mendengar percakapan antara Bimo dan Deni itu mulai mendekati Bimo setelah Deni pergi. Ajeng cukup penasaran kenapa bibir Bimo tersenyum melihat isi tas yang ada di tangannya.
“Apa itu, Bim?” tanya Ajeng sambil ikut melihat isi tas. “Test Pack? Buat apa?” tanya Ajeng heren. Bukankah penjelasan dari dokter sudah cukup menyatakan kalau dirinya positive hamil? Ajeng bertanya-tanya dalam pikirannya. “Kamu masih perlu bukti kalau aku hamil?” tanya Ajeng menunjukan muka kesalnya.
“Baby... Aku bukannya meragugakan kehamilan mu,” jawab Bimo mulai meraih pinggang Ajeng.
“Terus... Kenapa kamu beli test pack ini?” tanya Ajeng menghela nafas panjangnya menatap mata Bimo.
*****
Bersambung...
*****