My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Serabi Panas (21+)



Selagi Ajeng mandi, Bimo berjalan ke balkon untuk mengambil handphonenya. Saat ini juga Bimo langsung menghubungi mamanya. Dia harus memastikan apa yang sudah diperbuat Jesslyn. Sebetulnya bisa saja Bimo langsung menghubungi Jesslyn dengan memulihkan nomor yang sudah diblokir Ajeng. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Karena bila Ajeng sampai tahu, sudah pasti Ajeng akan marah.


 


“Hallo Bim! How are you? Ini mama lagi masak di rumahnya Bu Heni, ibunya Ajeng,” sapa bu Clara pada panggilan telpon.


 


“Yeah, ma. I'm good... Ma, aku mau tanya soal Jesslyn.” Ucapan Bimo itu membuat bu Clara meninggalkan ruang dapur untuk menjauhi bu Heni karena dia merasa kalau Bimo akan membicarakan hal yang serius.


 


“Hm... Ada apa lagi kamu tanya soal ex kamu itu?” tanya bu Clara. “Tadi mama udah bayar uang depe 50% buat bayar apartment dia. Dia mau stay di Solo,” jelas bu Clara. Dia menebak kalau Bimo akan bertanya tentang apartment.


 


Sedangkan Bimo yang mendengar berita kalau Jesslyn akan tinggal di apartment daerah Solo, mulai memijit pelipisnya. Itu artinya Jesslyn akan tinggal satu kota dengan keluarganya Ajeng.


 


“Kenapa harus pilih apartment di Solo sih, ma? Kenapa gak di kota lain? Huft...” Bimo mulai menghela nafas panjang. Kalau Jesslyn berada di Solo itu artinya mantannya itu akan semakin memiliki kesempatan untuk dekat dengan keluarganya Ajeng.


 


“Orang Jesslyn yang mau kok... Emangnya kenapa sih, Bim...? Kenapa suara kamu jadi kuatir gini?” tanya bu Clara curiga.


 


Akhirnya Bimo pun mulai menceritakan hal yang disampaikan Ajeng. Bu Clara yang mendengar hal itu menjadi geram dengan Jesslyn.


 


“Ngapain sih, si Jess harus pakai cerita-cerita segala? Salah kamu juga sih, Bim...! Harusnya kamu gak usah beliin apartment buat Jesslyn! Kamu tuw kelewat baik tahu gak! Kalau udah gini mama juga yang repot harus ngawasin si Jess... Hm...” sambung bu Clara setelah mendengar cerita Bimo. Dia terus menggerutu karena ulah mantan pacar anaknya.


 


“Ya kan tadinya aku gak kepikiran kalau Jesslyn akan berbuat sampai tahap seperti itu, ma,” jelas Bimo.


 


“Hm... Yaudah, ntar mama awasin terus si Jess biar gak punya kesempatan deketin mamanya Ajeng.” Bimo mulai sedikit lega karena mamanya akan turun tangan membantunya. “Sekarang lagi apa Ajeng?”


 


“Lagi mandi. Habis itu kita akan lanjut trip ke Batam, ke Luxus Resort Batam,” jawab Bimo.


 


“Ya udah. Kamu sama Ajeng jangan kuatir. Pokoknya habis selesai trip bisnis, kamu harus segera nikahin Ajeng. Jangan ditunda-tunda. Mama di sini akan awasin Jesslyn terus,” jelas bu Clara. Bimo semakin tenang mendengar hal itu. Dia juga sudah tidak sabar untuk menyelesaikan urusan kerjanya agar bisa segera menikahi Ajeng.


 


“Iya, ma. Thank you udah mau bantuin,” sambung Bimo. Suaranya lebih tenang didengar oleh mamanya.


 


“Yeah... Pasti Ajeng was-was juga karena si Jess mau deketin kamu lagi. Hihiii... Jadi rebutan 2 cewek sekarang anak mama,” seringai bu Clara semakin senang.


 


“Hahaaa! Apa sih, ma. Ini kalau Ajeng dengar, dia bisa ngambek. Nomor si Jess aja sampai di blokir pagi ini,” ucap Bimo.


 


“Hloh...? Ow... pantas tadi si Jess ada bilang kalau nomor kamu gak bisa dihubungi. Mungkin aja dia tahu kalau nomornya kena blokir. Jadi dia mau balas dengan cara cerita-cerita ke keluarganya Ajeng. Hihiii... Dia pasti mikir kamu yang blokir. Gak tahunya justru Ajeng. Hihiii... Mama jadi makin senang anak mama buat rebutan...” sambung bu Clara tidak berhenti cekikikan meluapkan rasa bangganya menjadi mamanya Bimo. “Tapi mama maunya kamu tetap sama Ajeng! Harus Ajeng,” pinta bu Clara.


 


“Iya, ma... Pasti,” balas Bimo.


 


“Good. Kalu gitu mama lanjut bantu bu Heni masak dulu, Bim. Kamu hati-hati, jaga kesehatan sama jaga Ajeng juga,” sambung bu Clara.


 


“Sure. Mama juga take care di sana.”


 


“Pasti. Ya udah ya, Bim. See you.”


 


Bimo mulai bisa tenang setelah berbicara dengan mamanya. Sejauh ini bila ada masalah, mamanya selalu bisa membantunya.


 


“Bim...” sapa Ajeng setelah keluar dari kamar mandi. Dia berjalan mendekati Bimo yang duduk di tepi bed dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. “Gimana mamamu bilang?” tanya Ajeng.


 


“Mama bilang akan awasin Jesslyn terus,” jawab Bimo. Dia mulai ikut membantu Ajeng untuk mengeringkan rambut.


 


Bimo dan Ajeng segera keluar dari kamar setelah mereka selesai bersiap.


________


Siang ini Bimo harus mencari serabi pesanan Kasih dan Sekar sebelum pergi ke Tanjung Priok. Dia cukup sibuk berbicara dengan Kasih dan Sekar selama menyetir minibus.


 


“Kalian gak usah kuatir. Aku akan manage (atur) supaya serabinya gak basi. Hm... Ada yang mau dititip lagi?” tanya Bimo.


 


Setelah sekian menit Ajeng mendengar percakapan antara Bimo dengan 2 perempuan, Ajeng harus mendengar Bimo menawarkan jasa titip lagi. Sebetulnya Ajeng tidak mempermasalahkan kalau ada banyak barang yang dititip. Yang dipermasalahkan Ajeng adalah orang yang menitip... kenapa harus perempuan?


 


“Bim...” sapa Ajeng dengan menoleh ke arah Bimo yang tengah mengobrol lewat handphone.


 


“Iya, kenapa baby?” tanya Bimo. Dia mengecilkan volume suara earphonenya.


 


“Lama banget sih nelponnya? Udah 30 menit ngobrol yang dibahas dari tadi cuma serabi tapi gak kelar-kelar...” protes Ajeng.


 


Ajeng berlanjut bangkit dari tempat duduknya. Dia memilih untuk meninggalkan Bimo yang duduk di kursi kemudi.


 


“Tadi bahas soal Jesslyn... Sekarang ngobrol sama Kasih dan Sekar... Banyak banget cewek yang deketin kamu! Hm...” gerutu Ajeng sambil berjalan ke badan minibus bagian belakang.


 


Mendengar kekesalan Ajeng itu, Bimo segera menepikan minibus. Dia juga harus mematikan handphonenya karena tidak mau memperkeruh suasana.


 


“Kamu kenapa sih ngambek terus dari bangun tidur?” tanya Bimo dengan merangkak mendekati Ajeng yang tengah duduk di pojok bed. Dia merangkup kedua pipi Ajeng dan mengke cup bibir Ajeng.


 


“Kamu kayanya deket banget sama banyak cewek. Nanti kalau udah sampai Batam, kamu pasti lebih memilih menghabiskan waktu dengan mereka,” ucap Ajeng dengan membuang muka. Tidak sengaja Ajeng melihat penjual serabi dari jendela minibusnya. “Tuh ada yang jual serabi. Aku juga mau beli serabi sendiri.”


 


Tanpa memandang Bimo, Ajeng merangkak untuk memilih turun dari bed. Tapi pergelangan kakinya itu segera dicengkram oleh Bimo. Bajunya juga ikut ditarik sampai membuat Ajeng jatuh ke dada Bimo.


 


“Kalau mau serabi, kenapa kamu gak minta? Aku kan bisa beli buat kamu,” ucap Bimo. Tangannya mulai merayap menyelinap masuk ke baju Ajeng.


 


“Aku lagi gak mood, Bim!” Ajeng menggeliyat saat lehernya menjadi sasaran Bimo. Telapak tangan kekar kekasihnya itu juga mulai meremas buah da danya. “Agh... Bim!” Ajeng kembali mende sah saat sangkarnya digera yangi oleh jari-jari Bimo. “Bim, ini kita lagi di tepi jalan raya besar hlo... Malu tahu kalau mobil ini sampai goyang-goyang dilihat orang!” protes Ajeng dengan mendorong tangan Bimo.


 


“Kamu pikir aku peduli...? Aku gak peduli mau yang lihat mobil ini cowok atau cewek. Yang aku mau cuma kamu!”


 


“Aghh...” Ajeng harus mengrenyitkan dahinya karena jari Bimo semakin menusuk cukup dalam.


 


“Masih mau dilanjut ngambeknya?” tanya Bimo dengan terus memutar jarinya. Bimo kembali menye sap samping leher Ajeng.


 


“Jangan, Bim! Jangan gila kamu! Ini kita ada di tempat umum tahu!”


 


“Terus kenapa? Mereka juga gak bisa lihat kita lewat kaca ini...” sambung Bimo dengan tatapan menggoda.


 


 


“Kalau kamu masih ngambek dan terus-terusan curiga dengan Kasih dan Sekar, aku akan lanjutkan di sini.” Bimo mulai menarik ritseliting  untuk mengeluarkan senjatanya.


 


“Iya, enggak! Aku gak akan ngambek lagi,” ucap Ajeng dengan menghentikan tangan Bimo.


 


Sebetulnya Bimo juga tidak berniat melakukan hal itu di tepi jalan raya. Tapi dia harus menggeretak Ajeng agar kekasihnya itu tidak terus-terusan curiga.


 


“Give me a kiss kalau kamu emang gak ngambek,” pinta Bimo dengan menyodorkan bibirnya ke wajah Ajeng.


 


Ciu man yang awalnya hanya menyatukan kulit bibir itu kini menjadi ciu man panas. Bimo mengu lum dan melu mat habis bibir Ajeng sambil menindih tubuh Ajeng. Ciu man yang menuntut itu membuat celana Bimo sesak dan merang sangnya untuk menggesekkan kejantanannya ke bagian in tim Ajeng.


 


Haduh... Kalau gini caranya sama aja dong minibusnya goyang dilihat dari luar... batin Ajeng. Ingin menghindar tapi lehernya tengah dise sap oleh Bimo.


 


“Bimo, nanti kita ketinggalan kapal hlo. Ayok kita turun beli serabi!” bujuk Ajeng.


 


Akhirnya Bimo menghentikan aksinya meski ha sratnya sudah diujung ubun-ubun sampai membuat mukanya merah. Dia harus mengendalikan gai rahnya itu karena ada polisi yang mulai curiga melihat minibusnya dari luar.


 


“Huft...” Bimo menggelengkan kepalanya karena rasa pusing menekan gai rah yang sedang di puncak. “Kamu di sini aja. Di luar panas. Biar aku yang beli serabinya. Ada yang mau kamu beli lagi?” tanya Bimo. Dia kembali mendaratkan bibirnya mengke cup kening Ajeng.


 


“Em... aku mau dong dibeliin minuman dingin,” jawab Ajeng. Tubuhnya sebetulnya juga mememanas karena rang sangan dari Bimo.


 


“Kenapa mau minuman dingin? Serabimu ikut kepanasan?” goda Bimo dengan meremas bagian in tim Ajeng.


 


“Aw! Jahil banget sih kamu!” Ajeng mencebikkan bibir. Tapi di juga tidak bisa menahan rasa untuk tertawa menghadapi Bimo.


 


Plak!


 


“Berani kamu pukul pan tatku...? Habis nanti kamu kalau kita sudah ada di kapal,” geretak Bimo dengan tatapan menggoda.


 


“Udah sana cepat beli serabi sama minuman dingin!” pinta Ajeng dengan mendorong badan Bimo agar segera turun dari bed.


 


Akhirnya Ajeng bisa lega setelah Bimo keluar dari minibus. Dia tidak menyangka kalau Bimo akan mengerjainya sampai seperti itu.


 


Tapi baru beberapa menit Bimo keluar dari minibus, Ajeng melihat kekasihnya itu balik lagi.


 



 


“Hloh? Kok cepat?” tanya Ajeng.


 


“Yeah. Aku suruh mereka antar ke sini kalau serabinya jadi. Ini minuman dingin yang kamu pesan,” jawab Bimo dengan menyerahkan botol minuman ke Ajeng. Dia juga membukakan tutup botol itu agar Ajeng bisa lebih mudah meminumnya.


 


Setelah beberapa saat menunggu, ada 3 oarang yang datang menghampiri minibus mereka.


 


“Bang bule ganteng... Hihiii... Ini serabinya sudah jadi,” ucap seorang perempuan dengan senyum lebar di bibirnya.


 


Ajeng yang melihat ketiga perempuan yang usianya terlihat lebih tua darinya harus tersenyum menggelengkan kepala.


 


“Haduh Bim... Kamu ni banyak fans deh...” bisik Ajeng. Dia mulai keluar dan menerima serabi yang sudah dibungkus rapi oleh ketiga perempuan tadi.


 


Sorot mata ketiga perempuan itu menunjukan tidak suka melihat Ajeng.


 


“Terimakasih ya,” ucap Ajeng. Meski dia bersikap ramah, ketiga perempuan itu justru hanya mendiamkan Ajeng dan melirik melihat Bimo yang duduk di kursi kemudi dengan senyum lebar di bibir mereka.


 


BRAK!


Ajeng menutup pintu minibus dengan keras setelah dia kembali masuk dengan serabi. Wajahnya terlihat masam memandangi ketiga perempuan yang mengantar serabi tadi.


 



 


“Gatel! Cepat jalan, Bim!”


 


“Ngambek lagi...”  Bimo kembali menggoda Ajeng dengan mengusap pa ha Ajeng.


 


“Habis mereka sok mau godain kamu, sih...”


 


Bimo hanya tersenyum tipis menanggapi kekesalan Ajeng. Dia kembali fokus menyetir minibus.


 


“Makanya tadi aku suruh mereka antar serabinya. Takutnya kamu curiga lagi kalau aku lama-lama beli serabi,” sambung Bimo masih dengan tangan mengusap pa ha Ajeng. “Udah jangan ngambek. Kalau ngambek terus nanti kubaka lagi nih serabimu itu!”


 


“Aw...? Kamu ni... Hati-hati nyetirnya. Banyak mobil hlo...” Ajeng harus menghentikan aksi tangan Bimo yang hampir mere mas bagian in timnya lagi.


 


“Hm... Tapi jangan ngambek atau curiga lagi ya.” Bimo kembali bersikap manis.


 


“Iya..., kamu juga harus fokus nyetirnya biar kita cepat sampai di pelabuhan,” ucap Ajeng dengan meraih tangan Bimo yang bertengger di pahanya.


 


*****


Bersambung...


*****