My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Terulang Kembali (21+)



Bimo sangat takut bila pertemuan dirinya dengan Jesslyn yang tidak disengaja itu akan membuat Ajeng salah paham. Sorot mata yang penuh tanda tanya itu bisa dilihat Bimo di mata Ajeng.


 



 


Sebagai seorang perempuan Jesslyn cukup paham apa yang dirasakan Ajeng. Andai belum ada Ajeng di kehidupan Bimo, Jesslyn ingin sekali mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalin hubungan dengan Bimo. Tapi saat ini kondisinya sudah berbeda. Ada sosok Ajeng yang sudah masuk di kehidupan Bimo. Apalagi Jesslyn juga mendengar cerita dari mamanya Bimo bila Ajeng sudah tahu kondisi kesehatan Bimo tentang mendapatkan keturunan. Jesslyn cukup kagum dengan keputusan Ajeng menerima Bimo. Hal itu membuatnya malu bila dia sampai berani masuk di kehidupan Bimo. Kebaikan hati Ajeng sudah pasti tidak bisa dia tandingi. Jesslyn cukup sadar karena dirinya sudah menorehkan luka yang cukup dalam di hati Bimo.


 


“Ajeng…” Sapa Bimo. Dia berjalan mendekati Ajeng.


 


Jesslyn pun ikut mendkati Ajeng. Dia tidak mau bila kehadirannya akan merusak hubungan Ajeng dengan Bimo.


 


“Hai… Kenalin aku Jesslyn. Nice to meet you (senang berjumpa denganmu),” ucap Jesslyn dengan mengajak Ajeng berjabat tangan.


 


Untuk sekedar berkenal Ajeng masih tidak ada masalah. Dia meraih tangan Jesslyn. Bibirnya pun melempar senyuman, meskipun hanya sedikit.


 


“Saya Ajeng. Nice to meet you too (senang berjumpa denganmu juga),” ucap Ajeng dengan membagi pandangannya antara Jesslyn dan Bimo.


 


Bimo mengusap-usap punggung Ajeng untuk menetralkan suasana hati Ajeng.


 


“Mungkin kamu tadi dengar ucapanku ke Bimo. I’m sorry about that (Aku minta maaf untuk itu). Aku gak ada maksud untuk lebih jauh. Aku yakin Bimo sangat menyayangimu. Aku tahu bagaimana bila dia sudah menyayangi seseorang. Congratulations buat hubungan kalian. Aku pasti hadir di acara wedding kalian bila diundang,” ucap Jesslyn dengan senyum tulusnya.


 


Bimo sedikit heran mendengar ucapan Jessslyn itu. Karena sebelumnya karakter Jesslyn tidak seperti itu saat bersamanya. Dulu, sifat mantan kekasihnya itu selalu ingin menang dalam segala hal. Tapi sekarang Bimo bisa melihat perbedaan Jesslyn yang dulu dan sekarang. Perempuan itu menjadi lebih baik. Sedangkan Ajeng cukup senang karena dia mendengar secara langsung niat baik Jesslyn yang tidak mau mengganggu hubungannya dengan Bimo.


 


“Thank you,” kata Ajeng dengan senyuman.


 


“Em… kalau gitu aku permisi. See you next time, Ajeng… Bimo.”


 


“Yeah, see you…” balas Ajeng dan Bimo.


 


Jesslyn segera pergi meninggalkan Ajeng dan Bimo. Dia tidak mau kehadirannya akan membuat hubungan Ajeng dan Bimo renggang.


 


“Bim, gimana orang resepsion di sini? Mereka bisa kan ngisi tampungan air di minibus?” tanya Ajeng.


 


“Em… Yeah. Aku rasa masih diisi sekarang. Kalau gitu kita bisa cek ke sana. Let’s go!” ajak Bimo dengan meraih tangan Ajeng.


 


Keduanya berjalan menuju pintu keluar. Entah kenapa rasa empati Bimo timbul dengan kehidupan Jesslyn. Kepalanya sedikit menoleh memperhatikan mantan kekasihnya yang saat ini tengah berdiri di depan pintu lift. Ajeng yang tidak sengaja memperhatikan hal itu segera mencubit lengan Bimo.


 


“Au…?” Bimo memekik dan menoleh Ajeng.


 


“Ngapain lihat-lihat ke belakang?” tanya Ajeng dengan dengan wajah kesalnya. Dia segera melepaskan geng gaman tangan Bimo dan berjalan lebih cepat meninggalkan Bimo.


 


“Ajeng… Ajeng… tunggu! Hm… Ngambek lagi pasti dia,” ucap Bimo. Dia berlanjut mengejar Ajeng. “Ajeng, aku benar-benar gak ada maksud apapun meski tadi aku menoleh ke belakang. Please jangan ngambek kayak gini,” ucap Bimo ketika dia sudah berhasil meraih tangan Ajeng kembali.


 


“Hm… Awas ya kalau kamu sampai melirik-lirik ke arah Jesslyn lagi,” menasihati dengan wajah sedikit masam.


 


“Iya baby… Gak akan.” Bimo mulai mengke cup pipi Ajeng sebagai tanda perdamaian.


 


Keduanya segera melanjutkan perjalanan setelah air tampungan minibus sudah terisi penuh. Bimo kembali mengemudikan minibus dan Ajeng melanjutkan mencuci piring yang masih kotor di dapur mininya.


 


Di dalam perjalanan kali ini, pikiran Bimo terusik kembali dengan cerita Jesslyn. Bukan rasa cinta atau rasa ingin kembali kepada mantan kekasihnya. Tapi lebih tepatnya rasa empati yang terus mencuat di hati Bimo kepada Jesslyn. Dia tahu jika Jesslyn tidak memiliki saudara sama sekali. Sebagai anak angkat, Jesslyn juga sudah tidak tidak punya orang tua karena kedua orang tua angkatnya sudah meninggal.


 


“Bim… Bimo… Bim…” sapa Ajeng.


 


“Eh? Kenapa, Jeng?” tanya Bimo dengan rasa kagetnya.  


 


Ajeng menghela nafas sebentar setelah sapaannya ditanggapi oleh Bimo. Selama perjalanan mereka berdua, Ajeng tidak pernah mendapati Bimo melamun seperti saat ini. Dia menduga kalau hal itu karena Jesslyn.


 


“Em… Gak pa pa. Kamu capek ya, Bim? Mau aku gantiin nyetirnya?” tanya Ajeng dengan menekan rasa kesalnya.


 


“Gak usah. Kita bentar lagi nyampai,” jawab Bimo dengan mengusap kepala Ajeng.


 


Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang panjang, minibus mereka memasuki kawasan resort yang cukup besar. Bimo segera mengganti bajunya dengan pakaian formal karena dia harus melakukan meeting.


 


Bimo mengajak Ajeng untuk masuk ke lobby resort. Dia meminta Ajeng untuk menunggu di sekitar lobby.


 


“Selamat sore, saya Albertus Bimo. Sebelumnya saya sudah ada janji dengan General Manager di sini. Apa boleh saya tahu officenya dimana?” tanya Bimo dengan menyodorkan business cardnya


 


Resepsionis perempuan itu melihat kartu itu.


 


“Anda pak Bimo dari engineering software ya? Mari saya antar langsung ke office pak GM,” ucap resepsionis itu dengan sopan.


 


“Ajeng, kamu tunggu di sofa lobby ya? Maybe cuma sekitar satu jam. Kamu bisa pesan minum atau makanan biar nanti billnya aku yang bayar,” ucap Bimo sebelum dia meninggalkan Ajeng.


 


Ajeng memilih untuk berjalan-jalan di sekitar resort sambil mengambil beberapa foto. Suasana asri resort yang dihiasi banyak tumbuh-tumbuhan memberi kesejukan untuk setiap pengunjung resort. Termasuk Ajeng yang bisa mengistirahatkan pikirannya sejenak setelah rasa kesalnya menghadapi Bimo yang sepertinya memikirkan Jesslyn kembali.


 


Setelah kurang lebih satu jam lamanya Ajeng berjalan-jalan, dia kembali ke lobby resort untuk menunggung kedatangan Bimo. Ajeng memilih untuk membaca majalah yang tersedia di dekat sofa.


 


“Ajeng… Sorry sudah buat kamu menunggu,” ucap Bimo dengan mendaratkan pan tatnya untuk duduk di samping Ajeng. “Ada pesan minum atau makan?” tanya Bimo yang kemudian mengke cup kepala Ajeng.


 


“Gak ada. Tadi aku jalan-jalan di sekitar resort. Gimana meetingnya? Lancar?”


 


“Yeah. All good. Great. Management di sini juga kasih aku free stay. Malam ini kita bisa tidur di kamar. Dan besok baru kita lanjut pergi ke Batam. Let’s go kita lihat kamar kita,” ajak Bimo dengan mengepuk – epuk pan tat Ajeng agar segera beranjak dari sofa.


 


Suasana kamar yang cantik di tambah dengan hijaunya pemandangan dari balkon kamar membuat Ajeng dan Bimo senang. Mereka bercum bu untuk melepas rasa lelah pada sore itu



 


“Mau santai sambil minum teh?” tanya Ajeng masih melingkarkan tangannya di leher Bimo.


 


“Hm… Good idea,” jawab Bimo. Sekali lagi dia meng ke cup bibir Ajeng sebelum pacarnya itu membuat teh untuknya.


 


Selagi Ajeng membuat teh, Bimo kembali membuka laptopnya. Dia mengerjakan sesuatu yang masih belum terselesaikan.


 


“Bim… Ini tehnya.” Ajeng meletakkan cup itu di meja depan Bimo.


 


Ajeng memilih membiarkan Bimo untuk sibuk dengan laptop karena layar yang terlihat di laptop memang menunjukan Bimo sedang bekerja. Sementara itu Ajeng mencari kegiatan dengan berendam di bath up kamar mandi. Air hangat dengan busa di bath up cukup membuatnya bisa lebih rileks.


 


 


Ajeng tidak menyangka setelah kurang lebih satu jam dirinya berendam, Bimo masih sibuk di depan laptop dengan pakaian kerjanya. Ingin mengajak ngobrol rasanya sungkan. Tapi kalau tidak mengobrol rasanya juga kesepian. Jadi pilihan yang paling tepat adalah bermain sosial media sambil menunggui Bimo sampai selesai dari kesibukannya.


 


 


Huft… Emang dia gak lapar apa? Udah jam 10 malem hlo ini… Masa mandi aja sampai lupa? Aku dah laper nih… Emang kerjaannya gak bisa dilanjut besok lagi ya? Gerutu Ajeng dalam pikirannya.


 


Kesabarannya masih cukup banyak untuk menunggui Bimo selesai bekerja. Tapi tidak lama setelah Bimo mendapat panggilan di handphone, kesabaran Ajeng kembali diuji lagi.


 


“Apa? Dia panggil Jess…? Mau ngapain lagi perempuan itu nelpon Bimo?” tanya Ajeng dengan menyibakkan rambut ke belakang telinga. Dia berusaha menguping ucapan Bimo yang sedang menjawab panggilan telpon.


 


“Iya Jess. Bilang aja. Kalau aku bisa bantu pasti akan aku usahakan,” ucap Bimo dengan mengketuk-ketuk meja di depannya. “Memang berapa biaya buat bayar apartment itu?... Em… Yeah… No worries, Jesslyn. Kapanpun kalau kamu butuh bantuan jangan pernah sungkan… Yeah… Hm…”


 


Baru kalimat itu saja sudah membuat telinga Ajeng terasa panas mendengarnya. Beberapa saat dia terdiam sambil menunggui Bimo selesai berbicara dengan Jesslyn. Tapi hampir 15 menit lamanya, pembicaraan itu terus berlanjut membuat kesabaran Ajeng habis.


 


Ajeng memilih untuk pergi dari kamar itu menuju minibusnya daripada harus tinggal di kamar mewah tapi mendengar pacarnya berbicara tanpa henti kepada mantan kekasihnya.


 


Sreeeggg! Bug!


Pintu minibus ditutup dengan kasar karena Ajeng cukup kesal malam ini.


 


“Dasar! Apa sih maunya si Bimo? Ngobrol sama mantan kayak ngobrol sama istri gak kelar-kelar! Huh!” memukul bantal meluapkan kekesalan. “Lagian kenapa juga sih si Jesslyn pakai minta bantuan ke Bimo? Emang dia gak punya teman di luar sana? Gak mungkin kan kalau orang yang dia kenal cuma Bimo doang? Dasar perempuan gak tahu diri! Udah tahu kalau Bimo cowok aku. Kenapa juga harus gangguin Bimo…? Hm… Bimo juga pakai acara nanggepin tuh cewek! Kesel! Huh! Huh! Huh!” memukul bantal berulang kali untuk melampiaskan seluruh rasa kesalnya.


 


Rasa lapar di perut sampai mebuat Ajeng lupa. Dia hahkan sampai tertidur masih dengan memakai sandal yang menggantung di kaki.


________


 


Bimo yang baru saja selesai berbicara dengan Jesslyn, tersadar kalau Ajeng tidak ada di kamar. Dia mencoba mengirim pesan dan menelpon Ajeng tapi tidak ada jawaban.


 


“Astaga? Setengah dua belas malam? Huft…” Bimo meremas rambutnya karena tidak sadar kalau waktu cepat berjalan. “Apa Ajeng ada di minibus ya?”


 


Bimo bergegas menyusul Ajeng ke minibus. Di saat dirinya akan membuka pintu minibus, dia mengalami kesusahan karena pintu itu terkunci. Pintu bagian depan saat dicek juga terkunci. Tapi ada bagian lain yang terbuka di minibus itu… Jendela bagian belakang dekat tempat tidur terbuka sedikit. Bimo bisa melihat Ajeng sedang tertidur pulas di atas bed.


 


“Kenapa juga harus tidur di sini lagi? Aku bilang malam ini tidur di kamar... Apa Ajeng marah karena aku ngobrol sama Jesslyn lewat handphone?” tanya Bimo sambil memandangi Ajeng. “Ajeng…” mengusap – usap kepala Ajeng lewat jendela. “Baby… Ajeng… Wake up please… Ajeng…”


 


Pelan-pelan Ajeng membuka matanya karena merasa terganggu rambutnya terasa diacak-acak. Dia mulai menghela nafasnya setelah melihat wajah Bimo lewat jendela.


 


“Sorry aku bangunin kamu. Bisa kamu buka pintunya? Aku gak bisa masuk,” pinta Bimo dengan mengusap pipi Ajeng.


 


“Em… Kamu tidur di kamar aja, Bim. Aku mau tidur di sini,” ucap Ajeng dengan merapikan rambutnya.


Bimo sedikit syok mendengar kalimat barusan. Itu artinya Ajeng tidak mau tidur dengannya. Dugaan kalau pacarnya itu sedang marah semakin kuat.


 


“Aku mau kamu buka pintu minibusnya sekarang,” pinta Bimo dengan menatap mata Ajeng lebih dalam. “Open the door, Ajeng…”


 


“Mau apa sih, Bim? Lagian kalau kamu di kamar sana kamu bisa lebih leluasa mau telpon telponan sama siapapun. Udah ah, aku ngantuk. Capek. Mau lanjut tidur lagi,” ucap Ajeng tanpa mempedulikan Bimo. Dia meletakkan kepalanya lagi di bantal untuk melanjutkan tidur.


 


Rasa kesal Bimo mulai meningkat menghadapi sikap Ajeng yang seoalh tidak mempedulikannya. Dia mengumpulkan tenaganya untuk menggocang minibus itu.


 


“Bim! Ada banyak barang pecah belah tahu! Mau ngapain sih? Udah sana kamu balik kamar kamu.”


 


Bimo terus menggoncang minibus itu membuat Ajeng terganggu. Apalagi rasa lapar di perutnya yang belum terisi makan malam membuat Ajeng semakin mual.


 


“Buka pintu sekarang atau aku buka dengan paksa!” geretak Bimo sambil menggoncang minibus.


 


Akhirnya Ajeng harus mengalah karena dirinya tidak tahan berada di dalam minibus yang terus tergoncang. Dia membuka pintu minibus dan membiarkan Bimo masuk ke minibus.


 


Sreeeggg! BUG!


Bimo menutup sliding door minibus penuh dengan kekesalan.


 


Bimo mendekati Ajeng yang saat ini tengah memegangi handphone. Dia mengambil handphone itu dan menjauhkannya dari Ajeng.


 


“Apaan sih, Bim? Kembaliin handphone ku!” pinta Ajeng dengan wajah tertekuk.


 


“Kenapa kamu keluar dari kamar tanpa izin?” tanya Bimo dengan wajah seriusnya.


 


“Lagian kamu telpon-telponan sama Jesslyn juga gak pakai izin. Tapi aku biasa aja. Aku cuma menghindar karena gak mau dengar obrolan kalian,” jawab Ajeng tanpa memandang Bimo.


 


“Ajeng… Jesslyn lagi ada masalah. Dia lagi gak ada kerjaan karena sedang hamil besar. Sedangkan dia butuh tempat tinggal. Dia harus bayar sewa apartment. Aku gak ada perasaan apapun sama dia, Jeng. Aku cuma berempati. Aku gak mungkin berselingkuh dengan orang yang pernah membuatku kecewa,” jelas Bimo yang kemudian meraih tangan Ajeng.


 


“Tapi aku bisa merasakan kalau Jesslyn mau deketin kamu lagi, Bim… Awalnya mungkin kamu hanya berempati. Tapi gimana kalau--- kalau kamu juga menyukainya lagi?” tanya Ajeng dengan nafas yang terengah-engah. “Aku takut Bim kalau masa laluku akan terulang kembali. Aku takut ada perempuan lain mengambil orang yang udah aku sayangi… Aku dengar semua obrolan kamu dengan Jesslyn waktu kita bertemu dia di lobby hotel. Perempuan itu sudah tahu dari mama kamu kalau kamu sudah punya aku, kenapa juga perempuan itu harus bilang ke kamu ingin balik lagi? Itu namanya dia gak tahu diri! Gimana coba kalau aku gak segera muncul waktu itu…?! Masih juga tadi dia berani nelpon kamu. Kalau kamu ada niat balik sama dia, balik aja lah, Bim kamu ke Jesslyn sebelum aku hamil. Lagi pula kamu bilang juga gak ada masalah merawat anak bukan darah dagingmu. Keluargaku juga punya riwayat susah punya anak. Balik aja kamu ke Jesslyn! Dia sudah hamil…” ucap Ajeng. Tidak terasa matanya sudah pedas karena menahan air mata.


 


Bimo mulai tersadar mendengar kalimat yang diucap Ajeng. Tidak seharusnya dia berempati berlebihan kepada Jesslyn. Dia mulai memeluk Ajeng dan mengusap punggung Ajeng.


 


“Gak mungkin aku balik sama dia. Aku sudah punya kamu, Ajeng. I love you…” Bimo mulai mengke cup bibir Ajeng. Dia menuntun tubuh Ajeng untuk berbaring di tempat tidur. “Aku gak akan menanggapi panggilan telpon dari Jesslyn. Biar nanti aku minta mamaku buat mengurus Jesslyn, karena aku sudah mengatakan akan membantunya dalam hal finansial. Biar nanti mama yang mengatur. Aku gak mau kamu marah lagi seperti ini. Aku gak mau menukar kamu dengan Jesslyn. Aku mencintaimu, Ajeng. I love you…”


 


Bimo kembali me lu mat bibir Ajeng. Dia mulai mendorong tubuh Ajeng agar menuju tengah bed agar dirinya lebih leluasa mencari posisi. Kedua pasangan itu bersiap kembali akan melakukan penyatuan setelah tubuh keduanya sama - sama polos.


 


“Bim… Belum becek. Masih kering. Sakit…” merintih dengan menjauhkan miliknya dari benda lonjong yang sudah menegang.


 


Bimo hanya tersenyum menanggapi ucapan Ajeng. Jarinya mulai masuk menari di bagian in tim Ajeng. Bibirnya me ngu lum dan me nye sap kedua pu ti ng secara bergantian untuk memberi rang sa ngan. Salah satu tangannya ikut me re mas – re mas bu ah da da membuat Ajeng sedikit mendesah merasakan sensai yang dibuat Bimo.  Tiga Jari tangan itu semakin lihai mengaduk – aduk dan menusuk sampai cairan itu keluar.


 


“Agh… Ah… Bim…” Ajeng meremas lengan Bimo saat miliknya sudah dimasuki sang pejantan.


 


“I love you , baby…” ucap Bimo dengan me lu mat lagi bibir Ajeng.


 


“Ah… I love you too, Bim...”


 


Tengah malam itu keduanya kembali berpacu dengan ritme lambat dan cepat. Pinggang Bimo terus menghentak… menarik… menghujam sampai Ajeng menekuk lututnya dan membuka akses lebih lebar.


 


“Say again if you love me Ajeng…” desah Bimo kembali menghentak.


 


“I love you, Bim… I love you…” mengusap keringat di kening Bimo yang mulai bercucuran. “Ah? Bim… Ah?” Ajeng merasakan hentakan itu sangat dalam sampai minibusnya ikut tertekan. “Aw… Bim…”


 


“I love you, Ajeng…” Bimo mulai bermain dengan ritme cepatnya setelah lahar hangat akan menyembur. Suara hentakan cukup nyaring memenuhi minibus sampai Ajeng mengkerutkan dahinya. “Argh… argh… Love you, baby…”


 


Bimo mengke cupi wajah Ajeng dan mulai menarik miliknya setelah menuntaskan tugasnya menyembur.


 


“Bim… aku laper. Belum makan tadi…” ucap Ajeng membuat Bimo tersenyum.


 


*****


Bersambung…


*****