My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Memaafkan



Setelah sekian lama tidak berjumpa, kini bu Clara dan bu Heni harus berhadapan lagi dalam acara yang sama. Acara lamaran anak mereka. Keduanya sama-sama canggung disaksikan oleh Ajeng dan Bimo.


 


“Tante Clara, mari masuk,” ucap Ajeng memecah keheningan.


 


Dengan sikap kikuknya, bu Clara berjalan masuk ke ruang tamu itu. Dirinya sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Hubungan terakhir antara dirinya dengan bu Heni sangat buruk.


 


“Silahkan— duduk,” ucap bu Heni melempar senyum tipisnya.


 


Kedua sudut bibir bu Clara ikut terangkat membalas senyuman bu Heni. Hal itu membuat Bimo dan Ajeng bernafas lega. Mereka sangat senang menyaksikan hal itu.


 


“Jeng— Clara apa kabar?” tanya bu Heni setelah mereka semua kembali duduk di sofa.


 


“A... saya baik. Kabar baik. Jeng Heni apa kabar? Lama tidak jumpa,” balas bu Clara setelah menarik nafas panjangnya. Dia cukup lega karena kedatangannya kali ini disambut baik oleh calon besannya.


 


“Kabar baik juga,” jawab bu Heni. Perasaannya lebih ringan bisa berhadapan dengan bu Clara secara lebih baik bila dibandingkan saat 5 tahun yang lalu. “Ajeng, sana ambilkan minuman buat mamanya Bimo,” pinta bu Heni.


 


“Tante, mau minum apa?” tanya Ajeng dengan sopan.


 


“Teh  saja,” jawab bu Clara dengan melempar senyuman kepada Ajeng. Bu Clara masih tidak habis pikir mengapa sudah sampai di titik saat ini, Ajeng masih memanggilnya dengan sebutan tante. Padahal dirinya sudah meminta Ajeng untuk memanggilnya dengan sebutan mama.


 


“Kamu mau minum apa, Bim?” tanya Ajeng menoleh ke arah Bimo yang ada duduk di sampingnya.


 


Cara Ajeng berbicara kepada Bimo itu rupanya diperhatikan oleh bu Heni. Sebagai orang tua, dirinya sedikit risih menyaksikan anaknya bersikap demikian.


 


“Ajeng...? Manggilnya kok gitu? Kayak ibuk gak pernah ngajari sopan santun ke kamu... Hm...” Bu Heni menggeleng – gelengkan kepalanya. “Kasih rasa hormatmu ke calon suamimu. Panggil Bimo mas! Jangan Cuma nama aja. Gak bagus itu,” ucap Bu Heni. Dirinya sedikit malu kepada calon besannya.


 


“Gak pa pa, buk,” ucap Bimo tersenyum tipis membela Ajeng.


 


“Gak boleh seperti itu, Bimo. Itu adalah salah satu cara perempuan menghormati suaminya. Kalau gak digitukan nanti Ajeng bisa kebiasaan. Lama-lama bisa hilang kebudayaan tata krama seperti itu,” jelas bu Heni membuat bu Clara tersenyum.


 


“Iya, buk... Jadi ibuk juga mau minum apa? Biar Aku buatin,” sambung Ajeng menjadi sedikit malu karena ibunya mengomel memberi ceramah di depan bu Clara.


 


“Teh juga. Sama kamu bawakan kue nastar sama camilan yang lain di atas meja makan ke sini,” jawab bu Heni yang kemudian sepintas melirik bu Clara. “Jeng Clara masih suka makan yang manis-manis kan?” tanya bu Heni membuat bu Clara tersenyum lebar.


 


“Wah... masih ingat aja kalau saya suka kue-kue manis,” sambung bu Clara membuat bu Heni senang.


 


Keduanya mulai teringat di saat mereka menghabiskan waktu bersama dengan kegiatan masak-masak. Terasa akrab sebelum sosok Jesslyn ikut campur dalam urusan keluarga mereka.


 


“Kalau gitu biar aku bantu kamu ambil kue-kuenya,” sela Bimo yang kemudian berdiri dari sofa.


 


Bimo mengikuti langkah kaki Ajeng menuju ke dapur. Dirinya sudah sangat lega bisa menyaksikan mamanya akur dengan bu Heni. Meski kata maaf pada kedua belah pihak belum ada, tapi sikap ramah dan obrolan yang akrab antara mamanya dan Bu Heni sudah lebih dari cukup membuktikan kalau hubungan silaturahmi itu terjalin dengan baik.


 


Sesampainya di dapur, Bimo melihat banyak toples – toples kecil di atas meja makan. Rupanya calon mertuanya itu benar-benar menyiapkan banyak kue-kue manis untuk mamanya. Tapi alih-alih Bimo membawa toples kue ke ruang tamu, dia lebih memilih menggoda calon istrinya itu yang sedang sibuk membuat teh.


 


Bimo me rangkul tubuh Ajeng dari belakang dan memberi kecu pan di kepala Ajeng. Bimo mere mas lembut salah satu buah da da Ajeng.


 


“I love you... I’m very happy today,” de sah Bimo dengan membalikan tubuh Ajeng perlahan untuk menatapnya. Bimo mendorong pinggul Ajeng agar lebih dekat ke tubuhnya. Dia menge cup... melu mat halus bibir Ajeng cukup lama. “Kapan kamu mau manggil aku dengan sebutan mas?” tanya Bimo dengan senyuman menggoda setelah ciu man panjang. Dirinya cukup senang dengan nasihat yang diucapkan oleh calon mertuanya itu. “Bisa aku dengar sekarang?” tanya Bimo dengan  membe lai pipi Ajeng.


 


Senyuman tipis yang dilihat Ajeng pada Bimo itu membuatnya gemas bercampur kesal.


 


“Nanti kalau kamu udah betulan nikahin aku,” jawab Ajeng cuek.


 


Sikapnya yang dingin itu justru menjadi daya tarik tersendiri untuk Bimo. Bimo menge cupi setiap inci leher Ajeng. Meski merasa geli, Ajeng mencoba menahannya. Dia meremas meja dapur sebagai tumpuan.


 


 


Otak Bimo mulai mencerna kalimat Ajeng itu.


 


“Why? Kenapa aku ga bisa bawa kamu balik ke apartment? Hm...?” tanya Bimo dengan tatapan mata penuh tanya.


 


“Aku kan belum jadi istri mu. Ibu ku mana mungkin melepaskan ku untuk kumpul  ke bo terus terusan?... Hm...” Jawab Ajeng mulai berbalik badan. Dia kembali melanjutkan membuat teh yang belum selesai.


 


Bimo menjadi kesal setelah mendengar jawaban Ajeng itu. Dia tidak habis pikir kenapa Ajeng masih saja bersikap dingin dengannya meski restu sudah didapat. Seolah olah Ajeng meragukan keseriusannya.


 


Mereka berdua segera berjalan menuju ruang tamu untuk membawa camilan dan 4 cup teh hangat. Bu Heni dan Bu Clara terlihat semakin akrab dan sudah saling tersenyum membahas soal pernikahan  Bimo dan Ajeng.


 


“Mari tante tehnya diminum,” ucap Ajeng kepada bu Clara.


 


“Terimakasih ya, Ajeng,” ucap bu Clara sambil meraih cup tehnya.


 


“Si  kecil cantik itu dimana ya? Sana panggil dia juga, Bimo. Biar dia juga nyobain kue buatan neneknya ini,” ucap bu Heni. Dirinya yang sudah diberi penjelasan mengenai Sasa sudah bisa menerima Sasa sebagai cucunya juga. Bu Clara sangat senang akan hal itu.


 


Bimo pun segera menyusul Sasa ke ruang tengah.


 


“Ayo, Jeng Clara... cicip juga kue coklatnya. Ini kemarin semua saya yang buat hlo sama Desi embaknya Ajeng,” ucap bu Heni sambil membuka semua tutup toples. “Kamu juga cicipin, Ajeng. Makan yang banyak buat calon cucu ibuk.”


 


“Iya, Ajeng. Ini cobain ini... Mama udah cobain enak banget,” ucap bu Clara yang kemudian mencoba menyuapi Ajeng.


 


“Eh, ibu ke dapur dulu ambil hashbrown potato kesukaan kamu.” Bu Heni berlanjut menuju dapur meninggalkan Ajeng dengan bu Clara di ruang tamu.


 


Bu Clara terlihat sibuk menyuapi Ajeng dengan sajian kue-kue yang ada di depannya.


 


“Tante... Em... Nanti saya ambil sendiri. Ini mulut saya sudah penuh,” ucap Ajeng sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


 


Bu Clara tersenyum kecil memperhatikan Ajeng yang kesusahan mengunyah karena mulut calon menantunya itu penuh dengan kue.


 


“Ajeng... Mama harap kamu mau memaafkan mama. Mama benar-benar minta maaf karena sudah memanas – manasi kamu dengan foto antara Bimo dengan perempuan itu,”ucap bu Clara yang kemudian mengusap salah satu lengan Ajeng. “Kamu calon menantu terbaik mama. Saya memang belum begitu mengenal mu. Tapi melihat Bimo, yang tergila-gila dengan kamu... Susah berpaling meski sudah 5 tahun berpisah dengan mu... Saya yakin kamu adalah perempuan terbaik untuk anak saya. Sekali lagi mama minta maaf ya nak ya...”


 


Ajeng sangat tersentuh mendengar kalimat seperti itu keluar dari calon mertuanya. Bagaimanapun bu Clara adalah orang yang lebih tua darinya. Ajeng sadar, tidak seharusnya dirinya bersikap kaku dan acuh kepada bu Clara.


 


“Mama sayang kamu.” Bu Clara mulai memeluk Ajeng setelah Ajeng selesai mengunyah. Dia memeluk Ajeng erat – erat penuh kehangatann. “Kamu akan jadi satu-satunya menantu terbaik mama. Makasih ya kamu sudah mau mengandung cucu mama,” ucap bu Clara dengan penuh rasa tulusnya.


 


“Iya, ma... Sama-sama mama,” jawab Ajeng spontan.


 


Bu Clara semakin mendekap Ajeng dalam pelukannya setelah mendengar Ajeng menyebutnya dengan panggilan mama. Dirinya sangat bersyukur akhirnya Ajeng mau memaafkannya.


 


“Terimakasih, baby kamu udah mau Maafin mama,” ucap bu Clara dengan mengusap kedua lengan Ajeng. Dirinya benar-benar lega setelah Ajeng memanggilnya dengan sebutan mama.


 


Tak lama setelah itu, Bimo datang bersama Sasa.


 


“Bim, tadi waktu kamu sama Ajeng di dapur, mama sama ibunya Ajeng ngobrol soal tanggal Pernikahan kalian. 2 Minggu lagi kamu kosongkan urusan kerjaan ya?” ucap bu Clara membagi pandangannya kepada Bimo dan Ajeng.


 


*****


Bersambung...


*****