My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Are You Ready? (21+)



Ajeng yang sudah tidak tahan melihat kelakuan Eva, segera meninggalkan restaurant. Sedangkan Bimo yang melihat Ajeng keluar dari area restaurant, memilih untuk mengejar Ajeng. Tapi Eva masih belum menyerah untuk mendapatkan Bimo meski pipinya sudah ditampar oleh Bimo. Tangannya mencengkram lengan Bimo untuk menghalau agar Bimo tidak pergi meninggalkannya.


 


“What do you want again? (Mau apa lagi kamu?) Masih kurang keras tamparan barusan?” tanya Bimo. Tangannya kembali bergerak untuk menampar pipi Eva lagi.


 


Tapi hal itu segera dihentikan oleh Mr. Ahmad. Dia membusungkan dadanya untuk melindungi Eva.


 


“What the hell is this? (Apa – apaan ini?)” tanya Mr. Ahmad.


 


Para pelayan dan tamu yang berada di sekitar tempat itu semakin merasakan ketegangan. Mereka memasang mata dan telinga untuk menelisik apa yang sebenarnya sedang terjadi.


 


“Do you know Ahmad, your girlfriend try to flirt me! How poor her attitude! ****!” jawab Bimo dengan terus mengumpat. (Tahu gak kamu, Ahmad, cewek mu mencoba menggoda ku! Betapa rendah siakapnya! Kam pret!)


 


Ekspresi kemarahan Mr. Ahmad mulai bisa dilihat semua orang yang menyaksikan hal itu. Bola matanya menatap lekat-lekat mata Eva.


 


“KADEER......! Come!” ucap Mr. Ahmad. Dia memanggil assistantnya yang selalu siap sedia berada di sekitarnya.


 


“Yes Mr. Ahmad,” ucap Kadeer. Dirinya muncul dalam hitungan 3 detik setelah namanya dipanggil.


 


“Tell me, what she was doing to him?” (Katakan, apa yang sudah dia lakukan ke Bimo?)


 


Kadeer yang memang dari tadi menyaksikan perbuatan Eva, menceritakan kejadian itu sedetailnya. Tidak satu pun laporan yang terlewatkan.


 


PLAKKK PLAKKK!!


Dua kali tamparan melayang dari tangan Mr. Ahmad ke pipi Eva. Suasana semakin memanas karena semua tamu yang duduk sampai beranjak berdiri dari kursi mereka untuk lebih menyaksikan hal itu.


 


“Who do you think you are? Stuuupiidd lady! Get out from my hotel!” ucap Mr. Ahmad. Tangannya menunjuk arah pintu mengusir Eva. (Kamu pikir kamu siapa? Perempuan booodooohhhh! Keluar dari hotelku!)


 


Ini adalah pertama kalinya Eva mendapat perlakuan kasar dari laki-laki. Harga dirinya seperti diinjak - injak dan dipermalukan di depan banyak pasang mata.


 


Karena Eva tidak bergerak dari tempat dia berdiri, dengan sigap Kadeer menyeret Eva untuk keluar dari tempat itu.


 


“Sorry, Bimo. I never think if she can do like that. I'm sorry brother,” ucap Mr. Ahmad setelah Eva dibawa oleh Kadeer. Tangannya yang sempat ingin memukul Bimo kini justru merangkul bahu Bimo. (Maaf, Bimo. Aku tidak pernah berfikir jika dia bisa melakukan seperti itu. Aku minta maaf, kawan)


 


Ketegangan mulai reda. Para tamu kembali duduk dan para pelayan bisa tenang setelah emosi tuan mereka reda.


 


“Yeah. I was shock.  But now it's fine. Lucky you know her real face (Yeah. Aku tadi kaget. Tapi sekarang gak apa. Untungnya anda melihat wajah aslinya),” sambung Bimo.


 


“Yeah. Hahaa! Lucky i haven't married  her as my sixth wife. Hahaaa!” ucap Mr. Ahmad. (Beruntung aku belum menikahinya sebagai istri keenam ku)


 


Bimo kembali terperanga lagi. Dia tidak menyangka kalau kenalan lamanya itu sudah memiliki 5 istri. Makin lama makin gila saja dipikir Bimo.


 


Setelah kejadian yang menghebohkan satu restaurant, Bimo meminta izin ke Mr. Ahmad untuk menyudahi acara makan malam. Lagi pula Ajeng juga sudah pergi dari restaurant.


 


______


 


Ajeng yang saat ini duduk di balkon kamar tengah menenangkan hatinya. Tapi kondisi di luar ruangan yang panas justru membuat da da Ajeng semakin sesak.


 


“Ini kenapa sih kok justru lebih pengap dari dalam ruangan! Huft... Kemana lagi si Bimo? Bukannya tadi dia nampar Eva? Kalau dia nampar Eva, harusnya dia cepat balik nyari aku dong... Ini kenapa dia gak balik – balik ke kamar? Ck!” gerutu Ajeng. Perasaannya menjadi tidak tenang. Pikirannya mulai membayangkan hal – hal negative. Karena Ajeng cukup tahu betapa gilanya Eva.


 


Setelah beberapa menit Ajeng menunggu, akhirnya Bimo datang menghampirinya di balkon kamar.


 


“Baby...” sapa Bimo membuat pandangan Ajeng yang menghadap ke laut menolehnya.


 


Tanpa menjawab sapaan Bimo, Ajeng memalingkan pandangannya lagi. Ajeng juga kesal kenapa Bimo sampai tidak berhasil menepis ciuumann Eva.


 


“I love you...” ucap Bimo. Tubuhnya mendorong Ajeng sampai terpentok tralis pagar pada pembatas balkon. Bimo meme luk tubuh Ajeng eraat eraat sambil mengke cupi bahu dan tengkuk Ajeng.


 


Tapi anehnya Bimo merasa Ajeng menghindarinya. Leher Ajeng menggeliyat seperti menolaknya.


 


 


“Kenapa kamu gak cepat balik habis menampar Eva? Apa setelah aku gak ada di sana kalian lanjut berci uman?” tanya Ajeng mengintrogasi. Pikirannya dipenuhi bayangan negative kalau sudah menyangkut soal Eva.


 


Meski Bimo tahu Ajeng sedang mencurigainya, dia tetap diam dan melanjutkan aksinya. Dia sudah terbiasa menghadapi sikap Ajeng yang cemburuan.


 


“Bim! MmppPP!” Ajeng mencekal kedua pergelangan tangan Bimo yang ingin mere mas buah da danya. Wajahnya juga terus berpaling bila Bimo ingin menci umnya.


 


“Rival mu itu baru saja diusir oleh Ahmad karena aku mengadukan perbuatannya,” jelas Bimo. Karena bagian da da tidak bisa digapainya, dia beralih mere mas bagian in tim Ajeng.


 


“Ahh......” Ajeng mele nguh kesenangan. Rasa senangnya bukan main karena hal pengusiran yang pernah dia alami kini dialami balik oleh Eva. Apalagi dicampur merasakan rang sangan yang dilancarkan Bimo. Bibirnya menganga menikmati 2 hal itu.


 


“Kamu senang...?” tanya Bimo. “Kamu senang karena Eva diusir atau karena ini?” Bimo semakin mencengkram bagian in tim itu.


 


Tanpa harus mendengar jawaban Ajeng, Bimo sudah tahu kalau Ajeng senang dengan kedua hal itu. Ajeng pun mulai membalikan badannya untuk membalas perbuatan Bimo. Meski suasana tengah malam di luar ruangan terasa panas, keduanya tetap melepas ha sratnya di tempat itu.


 


Bagian pertama yang di lepas Ajeng bukanlah kemeja yang dipakai Bimo, melainkan celana yang melekat di tubuh Bimo. Ajeng melahap lahap benda lonjong itu dengan mulutnya. Dia mere mas pelan 2 bulatan telur itu sampai Bimo mendorong kepalanya agar semakin menye sap dalam – dalam.


 


“Fu ck me baby... Suck again baby,” ucap Bimo ketika Ajeng menarik nafas panjang. Bimo kembali meraih rambut Ajeng untuk mendorong Ajeng menye sap  miliknya lagi.


 


“Aku capek, Bim,” ucap Ajeng setelah beberapa menit dia memanjakan si pejantan dengan bibirnya.


 


Tanpa berlama – lamaan memberi jeda, Bimo membopong tubuh Ajeng  ke sofa panjang di balkon itu. Dia menelan jangi tu buh Ajeng agar membuatnya mudah menikmati setiap inci tu buh itu.


 


“Ini sudah sedikit be cek,” ucap Bimo ketika lidahnya menelusup masuk ke bagian in tim Ajeng.


 


De sahan demi de sahan kembali lepas ketika lidah Bimo menari di area lembab itu. Ajeng semakin dibuat gila ketika jari Bimo ikut menusuk  nusuk menggoyang miliknya.


 


“Agghh... Bimo... Aghh...” Ajeng mulai menutup rapat rapat matanya untuk semakin menikmati sensasi yang membawanya terbang. Buah da danya ikut dire mas – re mas salah satu tangan Bimo. Bulatan pucuk itu dimainkan dan ditekan sampai Ajeng harus menahan rasa sakit yang nikmat.


 


Tubuh Ajeng yang terus menggeliyat membuat Bimo semakin gila dan gemas. Dia mulai mengge sekan miliknya ke sangkar yang sudah kembang kem pis itu. Bimo mencengkram kedua lengan Ajeng yang terlentang karena sudah pasrah. Bibirnya mulai menge cupi bibir dan wajah Ajeng. Dari wajah, turun ke leher, menyapu setiap inci gundukan ke nyal dan semakin turun ke pu sar dan bawah pu sar Ajeng.


 


“Mmphhh... I love you baby,” de sah Ajeng ketika Bimo menelusupkan benda lonjong miliknya.


 


Di depan pemandangan laut dan taburan bintang malam, Bimo menggoyang dan memacu ping gulnya di atas tubuh Ajeng. Menghen tak... menarik berulang kali sampai sofa itu basah karena karingat keduanya.


 


“Love you baby...” ucap Bimo semakin mere mas buah kenyal itu.


 


Mereka seolah tidak lelah malam ini. Bimo pun terus mencoba gaya lain untuk memuaskan ha sratnya.


 


“Aghh...” De sah Ajeng ketika dirinya menelu supkan batang itu dengan posisi duduk.


 


“Still (masih) okay?” tanya Bimo dengan menyibak rambut Ajeng ke belakang.


 


“Yeah...” Ajeng menghela nafas panjang sambil membetulkan cara duduknya di pangkuan Bimo. Tangannya melingkar di tengkuk Bimo sambil bermain rambut kekasihnya itu.


 


Wajah cantik dengan rambut yang terurai itu membuat Bimo senang memiliki Ajeng. Dia melu mat halus bibir Ajeng. Ajeng pun melancarkan lu matan balik ke bibir Bimo.


 


“Are you ready to see my mom? (Apa kamu siap untuk bertemu mama ku?)”  tanya Bimo sambil mengusap punggung Ajeng.


 


“Em... Yeah. Apa kamu juga sudah siap ketemu ibu ku?” tanya Ajeng balik.


 


“Yeah... I'm ready. Aku tidak mau mengulur – ulur waktu lagi. Aku mau menjadikan mu istri ku. Ahmad bilang dia punya 5 property hotel. Jadi hanya 5 hari saja kita di sini. Setelah itu kita bisa balik ke Indonesia untuk mempertemukan family kita,” jelas Bimo. Dia kembali berlanjut membungkukan badannya untuk menye sap bergantian kedua pucuk kenyal yang ada di geng gaman tangannya.


 


*****


Bersambung...


*****