My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Aku Mau Bimo, Ibuk!



Keesokan harinya ketika Ajeng terbangun, dia sudah tidak melihat Bimo di kamarnya. Tapi dari dalam kamar itu dia bisa mendengar suara Bimo sedang berbicara dengan mamanya membahas tentang keluarganya yang berasal dari Australia.


 


Ajeng memilih untuk mengambil salah satu belanjaannya yang dia beli untuk bu Clara. Sebuah jam tangan dengan warna gold dan memiliki design unik sengaja Ajeng pilih karena Bimo mengatakan itu adalah selera mamanya.


 


“Semoga mama Clara suka,” ucap Ajeng.


 


Ajeng bergegas ke kamar mandi untuk segera bersiap balik ke Solo bermasa Bimo dan bu Clara. Karena terlalu bersemangat untuk pulang ke Solo, waktu mandinya tidak lebih dari 5 menit. Ajeng pun hanya memakai make up minimalis sebelum keluar dari kamar.


 


“Hai... Good morning darling. Mama pikir kamu belum bangun. Ternyata sudah cantik...” ucap bu Clara. Dia memberi pelukan hangat untuk calon menantunya itu.


 


Pagi itu mereka bertiga menyantap sarapan pagi bersama. Di sela – sela kesempatan Ajeng memberikan jam tangan yang dia beli untuk bu Clara. Rasa senang perempuan paruh baya itu bukan main karena selama anaknya menjalin hubungan dengan perempuan, baru kali ini dia mendapat barang yang begitu bagus dan spesial.


 


“Thank you so much, darling. Mama suka sekali... Ini cantik sekali,” ucap bu Clara sambil memasang jam tangan itu di tangannya.


 


Rasa senang Ajeng semakin bertambah saja melihat senyum di bibir mama calon suaminya itu. Tak lama setelah sarapan pagi selesai, mereka bertiga segera pergi ke Solo.


 


“Kamu udah kasih kabar ke ibu kamu kan kalau kita mau datang ke sana?” tanya bu Clara ketika berada di dalam mobil.


 


“Iya, ma,” jawab Ajeng sambil menoleh ke belakang kursi bu Clara.


 


Entah kenapa Ajeng merasa aneh juga dengan sikap ibunya. Meskipun dirinya memberi kabar akan datang bersama Bimo dan bu Clara, tapi ibunya itu tidak membalas pesannya.


 


Setelah kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mobil yang dikemudikan Bimo itu sudah sampai di halaman rumah Ajeng. Perasaan Ajeng menjadi tidak tenang ketika hanya ada mbak Desi dan mas Idam saja yang berdiri di depan teras rumah untuk menyambut kedatangannya bersama Bimo dan bu Clara.


 


“Selamat datang lagi, tante. Apa kabar?” sapa mbak Desi memberi salam. Suaminya pun ikut memberi salam kepada bu Clara dan Bimo.


 


“Baik. Kamu apa kabar juga? Gimana kandungan kamu? Sehat-sehat aja kan? Ini ibu kamu di mana?” tanya bu Clara.


 


Sorot mata Ajeng sudah melirik-lirik kepada kakaknya itu. Dia juga penasaran kenapa ibunya tidak muncul.


 


“Ibuk ada di dalam, tante. Mari masuk,” ajak mbak Desi.


 


Selagi mbak Desi, bu Clara dan Ajeng masuk ke dalam rumah, mas Idam membantu Bimo untuk menurunkan koper milik Ajeng dan tas-tas yang berisi oleh-oleh.


 


“Banyak banget oleh-olehnya, Bim?” tanya mas Idam dengan senyum ramahnya.


 


“Iya, mas. Kami juga beli baju-baju bayi untuk calon keponakan saya nanti. Untuk warnanya kita pilih warna yang masuk untuk dipakai cowok sama cewek,” ucap Bimo membuat mas Idam terkekeh.


 


Mas Idam merasa kalah start dari Bimo yang lebih awal mempersiapkan keperluan calon anaknya nanti.


 


“Thanks ya, Bimo. Semoga Ajeng bisa cepat nyusul embaknya nanti. Udah dicoba kan, Bim?” tanya mas Idam santai. Tapi beberapa detik setelah itu mereka berdua tertawa dengan pembahasan mengenai coba mencoba.


 


Baru saja mas Idam dan Bimo selesai menurunkan barang – barang belanjaan dan koper dari mobil, mereka dikejutkan dengan suara keributan dari dalam rumah.


 


“Ada apa itu, mas?” tanya Bimo. Dia mencoba memfokuskan pendengarannya untuk mengetahui apa yang terjadi.


 


“Huft....... Sudah kutebak,” celetuk mas Idam setelah menghela nafas panjang.


 


Suara keributan itu makin lama makin terdengar menuju ke luar rumah.


 


“Lancang sekali mulut mu itu! Siapa kamu bisa mengatai anak saya mandul!” bentak bu Clara dengan menujuk – nunjuk muka bu Heni.


 


“Saya cuma mengatakan kenyataan! Saya sudah dengar semua dari Jesslyn! Mau jadi apa anak saya kalau menikah dengan laki-laki yang gak bisa kasih keturunan!” bentak bu Heni balik. Kedua tangannya dicekal oleh Desi agar tidak berbuat semakin nekat.


 


Ajeng pun juga mendekap bu Clara dari belakang untuk meredakan emosi perempuam paruh baya itu. Tapi tindakannya itu tidak lama kemudian diberontak oleh bu Clara. Tubuh Ajeng didorong sampai tersungkur ke lantai.


 


 


“Jangan sentuh - sentuh saya! Jangan pernah panggil saya mama lagi! Ibu mu yang gak tahu diri ini sudah menginjak – injak harga diri Bimo!” ucap bu Clara. Matanya sudah melotot hampir lepas  meliriki Ajeng yang masih tersungkur di lantai.


 


Bimo yang melihat Ajeng tengah kesakitan, segera menolong Ajeng.


 


“Kamu gak pa pa, Ajeng?” tanya Bimo kuatir. Dia memapah tubuh Ajeng yang masih gemetaran.


 


Keakraban Ajeng dan Bimo itu membuat bu Heni dan bu Clara semakin naik darah. Mereka segera menarik tangan anak masing - masing.


 


“Gak usah kamu deket-deket sama laki-laki mandul ini Ajeng! Kamu bisa dapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari anak wanita satu ini!” ucap bu Heni dengan menggebu – gebu. Dirinya tidak terima juga dibentak oleh bu Clara.


 


“Apa kamu bilang??? Kamu pikir cuma anakmu yang paling cantik??? Bimo bisa memilih perempuan manapun kalau dia mau! Emang mata kamu gak bisa lihat apa kalau anak saya gagah dan mapan! Dasar wanita gak tau diri! Punya mulut tapi gak pernah disekolahin!” Gerutu bu Clara meluapkan seluruh emosinya.


 


“Anak saya Ajeng juga berpendidikan! Gak usah lagi anak kamu deketin anak saya! Makan itu gagah dan mapan! Anak saya bisa dapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari anakmu yang mandul itu!” balas bu Heni semakin menambah hawa panas di tempat itu.


 


“Ibukk..... Jangan kayak gini, buk..... Aku mau Bimo, ibuk! Aku cuma mau Bimooo.....” Tidak tahan melihat pertengkaran itu, Ajeng sampai meraih tangan Bimo. Bimo pun meraih tangan Ajeng karena dia tidak mau kehilangan Ajeng.


 


“Iiiddaammmm! Bawa Ajeng ke kamar! Kalau dia gak mau, seret dia dan kunci kamarnya dari luar!” ucap bu Heni dengan menarik tubuh Ajeng yang dirangkul Bimo.


 


“Ibu... saya mohon. Hal ini masih bisa kita bicarakan. Tolong kasih kesempatan saya dan Ajeng untuk bersama,” bujuk Bimo.


 


“Gak usah, Bim!” bentak bu Clara dengan menarik tangan Bimo yang tengah memeluk Ajeng. “Gak usah kamu mengemis anak dari wanita siaalan ini! Ayo kita pulang!” bu Clara semakin mengeluarkan tenaganya untuk memisahkan Bimo dan Ajeng.


 


“Idammmm! Cepat kamu bawa Ajeng ke kamar!” pekik bu Heni lagi.


 


Mas Idam menjadi serba salah. Sebetulnya dia tidak suka pertengkaran ini terjadi. Apalagi dirinya harus ikut terlibat dalam urusan itu. Ingin mendukung hubungan Ajeng dan Bimo, tapi dia juga harus menuruti perintah ibu mertuanya itu.


 


“Bimo, sorry. Aku gak ada maksud apa - apa,” ucap mas Idam sambil menarik badan Ajeng.


 


Ajeng semakin meronta – ronta tidak mau dipisahkan dari Bimo. Bibirnya terus mengatakan, “Bimoo....... Aku mau Bimo, ibuukkk...... Aku mau Bimooo...... Huaaaaaa Lepasin aku mas Idam! Aku mau Bimoooo.....”


 


Jeritan itu membuat Bimo kalang kabut. Dia bingung harus membujuk dengan cara apa. Tidak mungkin juga dia mengatakan sudah meniduri Ajeng. Hal akan itu terkesan merendahkan harga diri Ajeng. Tapi andai saja Ajeng terbukti hamil, hal itu bisa membungkam tuduhan yang sudah dilontarkan ibunya Ajeng kalau dia mandul.


 


“Buk, tolong beri kami kesempatan. Saya sangat mencintai anak, ibu,” ucap Bimo. Tangannya mencoba meraih tangan bu Heni. Tapi bu Heni yang sudah terlanjur sakit hati dengan kalimat yang keluar dari mulut bu Clara, segera menjauhkan tangannya agar tidak disentuh Bimo.


 


Pim Pim Pimmmm!


Suara klakson mobil terdengar nyaring dan mengkagetkan orang di tempat itu.


 


“Masuk ke mobil, Bimo! Gak usah kamu merayu wanita gak tahu diri itu!” ucap bu Clara dengan mencondongkan kepalanya keluar dari jendela mobil.


 


“Maaa.... please!” Bimo mulai berani membentak mamanya.


 


“Kalau kamu gak masuk ke mobil, mama mau tabrak rumah mereka! Biar kita mati di sini semua!” ucap bu Clara mulai menyalakan gas.


 


Mau tidak mau Bimo harus mengikuti kemauan mamanya itu. Wajah mbak Desi pun sudah berkomat - kamit memberi kode ke Bimo agar segera pergi karena ibunya tengah mengambil palu yang berada di dekat pekarangan tanaman di halaman rumah itu.


 


*****


Bersambung.... 🚘🚘🔨🔨


*****