
Bimo hanya menunjukan senyumnya sebentar kepada Kevin dan Ganis. Dia segera menarik tangan Ajeng untuk meninggalkan restaurant.
Langkah kaki Bimo yang terkesan tergesa – gesa itu dirasakan Ajeng kalau mood Bimo sedang tidak baik.
Apa Bimo lihat tangan pak Kevin waktu rangkul aku tadi ya? Tanya Ajeng dalam hatinya. Dia memilih diam dan mengikuti Bimo. Suasana deck yang ramai membuatnya tidak nyaman kalau sampai dia bertanya akan membangkitkan emosi Bimo dan menimbulkan kekacauan.
“Masuk,” pinta Bimo setelah membuka pintu kamar mereka.
Bimo mengajak Ajeng untuk duduk di balkon kamar. Dia juga menyodorkan menu makanan room service agar Ajeng memilih menu makanan.
“Bim, tadi aku udah order di restaurant bawah. Mungkin bentar lagi makanan yang ku pesan tadi akan jadi,” ucap Ajeng disela – sela membuka menu makanan.
“Kamu mau makan dengan ku di sini atau mau makan dengan Kevin di sana?” tanya Bimo dengan menatap mata Ajeng.
Sorot mata tidak suka itu bisa dilihat oleh Ajeng. Dugaan kalau Bimo cemburu melihat dirinya berpose dengan Kevin di depan kamera semakin kuat. Ajeng memilih untuk diam dan melanjutkan membaca menu makanan. Sesekali Ajeng juga mencuri pandang untuk melihat Bimo.
Suasanan semakin hening hanya terdengar suara ombak laut. Sesekali ada suara burung yang terdengar karena melintas di depan balkon mereka.
Selama menunggu pesanan mereka diantar, Bimo dan Ajeng sibuk dengan handphone mereka masing - masing. Tidak tahunya ketika Ajeng bermain handphone, handphone miliknya itu bergetar karena ada panggilan masuk dari Ganis.
“Siapa?” tanya Bimo dengan meletakkan handphonenya di meja.
“Ini dari Ganis. Boleh aku angkat?” tanya Ajeng meminta izin. Lebih baik bertanya seperti itu dari pada Bimo akan bertambah curiga dengannya.
“Hm...” jawab Bimo. Matanya terus menatap wajah Ajeng ketika sedang berbicara dengan Ganis.
“Iya, Nis. Sorry ya... Hm... Gak usah kamu antar makanan yang ku pesan tadi. Aku udah diorderin sama Bimo di kamar. Hm... Thank you ya, Nis,” ucap Ajeng. Dia segera meletakkan handphonenya ke meja setelah panggilan selesai.
Kurang lebih setelah 30 menit kemudian, makanan yang dipesan Bimo sudah sampai di kamar. Suasana ketika mereka menyantap makan malam masih saja hening. Tapi raut wajah Bimo yang tegang sedikit pudar. Ajeng bisa merasa lega. Sesekali Ajeng membagi makanan dari piringnya ke piring Bimo.
“Mau aku suapi?” tanya Ajeng dengan menyodorkan sendok yang berisi makanan.
Ajeng semakin senang ketika Bimo mau melahap makanan dari sendoknya.
Selesai makan malam itu, mereka bersantai dengan rebahan di tempat tidur sambil menonton film. Ajeng terus bersikap baik agar kemarahan Bimo bisa segera reda. Dia mengusap - usap rambut Bimo yang berada di pangkuannya.
Tak lama ketika suasana sudah membaik, Ajeng dikagetkan dengan getar panggilan dari handphonenya. Badan Bimo pun ikut bergerak untuk menengok layar handphone Ajeng.
“Ada apa lagi teman mu nelpon?” tanya Bimo.
“Gak tahu juga. Apa aku boleh angkat?” tanya Ajeng.
“Iya, angkat aja. Kalau teman mu, aku gak akan melarang,” jawab Bimo.
Tidak tahunya ketika panggilan itu diterima Ajeng, bukan suara Ganis yang dia dengar. Tapi suara orang lain.
“...Hai Van...” sapa Ajeng dengan menatap wajah Bimo yang masih di pangkuannya. “Iya, sorry ya, Van. Tadi tante buru - buru mendadak sibuk, jadi gak bisa dinner sama kamu,” ucap Ajeng mencari alasan terbaiknya.
Bimo yang mendengar nama anak kecil itu lagi, segera meraih handphone dari tangan Ajeng. Dia mengaktifkan pengeras suara pada handphone itu agar dirinya juga bisa mendengar.
“Tante, besok kita nonton movie yuk! Kita nontonnya di kamar aku sama papa,” ajak Vano.
Bimo kembali meradang mendengar ajakan anak kecil itu kepada Ajeng. Ajeng pun yang melihat sorot mata Bimo mulai garang lagi cukup tahu kalau kekasihnya itu tidak suka. Tapi Ajeng juga tidak bisa terang-terangan menolak ajakan Vano.
“Em... Kita lihat besok, ya... Tante gak bisa janji. Tapi... tante akan usahakan kalau tante bisa,” jawab Ajeng. Dirinya merasa seraba salah harus patuh dengan Bimo atau menyenangkan hati anak kecil itu.
“Iya... nanti tante check juga sama uncle Bimo nya ya,” sambung Ajeng.
Sebisa mungkin Ajeng mencari cara agar panggilan itu bisa segera diakhiri karena tidak mau memperkeruh suasana. Bimo yang sudah tidak tertarik dengan undangan Vano mulai beranjak dari bed. Dia memilih untuk duduk di sofa dengan membuka laptopnya.
“Bim...” sapa Ajeng. Dia memberanikan diri untuk duduk di samping Bimo. “Kamu dengar kan si little boy itu undang kita...” ucap Ajeng dengan semakin menggeserkan pan tatnya mendekati Bimo. “Kita kan cuma akan ketemu mereka di kapal ini. Boleh ya aku kabulin permintaan dia buat nonton movie? Lagian dia juga undang kamu,” bujuk Ajeng. Dia mengke cupi pipi Bimo agar hati Bimo bisa luluh.
“Aku gak ada masalah, kalau mamanya Vano itu masih ada. Tapi papanya Vano si Kevin itu sekarang single. Aku gak mau anak kecil itu terus menempel ke kamu... gak mau lepas dari kamu... dan kalau sampai itu terjadi, papanya Vano akan deketin kamu karena anaknya terlanjur suka sama kamu. Dan akhirnya... kamu bisa pikir sendiri apa yang akan dilakukan Kevin,” sambung Bimo. Dia menutup laptop yang sudah dia nyalakan.
Bimo kembali menghindari Ajeng. Dia berpindah ke bed dan mengeraskan volume suara televisi.
Ajeng menjadi gemas menghadapi sikap Bimo. Menurutnya, ketakutan Bimo itu terlalu berlebihan.
“Bim... ayolah... Siapa tahu kalau kita sering dekat - dekat sama anak kecil, aku bisa cepat hamil...” bujuk Ajeng dengan ikut menuju ke bed. Dia masih belum mau menyerah.
Entah kenapa tiba - tiba Bimo tersenyum kecil memandangi Ajeng. Dia mulai menarik celana Ajeng dan memaksa Ajeng untuk menung ging. Ajeng sudah terbiasa dengan gai rah Bimo yang mendadak bangkit seperti saat ini. Tapi ada hal yang aneh dirasakan oleh Ajeng ketika Bimo mendesakkan batang itu ke lubang pan tatnya.
“AGHhh! Bim... Hah...” wajah Ajeng memerah ketika benda lonjong itu mendesak – desak masuk ke pan tatnya. Otot di wajah ikut tegang dan tertarik merasakan serangan itu. “JANGaann, Bim... Ampunnn......” Air matanya mulai mengalir di sudut mata karena menahan rasa sakit yang dibuat Bimo. “Ampunnn...... Perih.......” kekuatan Ajeng melemah seketika. Tubuhnya tumbang ke bed dengan mencengkram seprei.
Bimo yang melihat ekspresi kesakitan Ajeng dari pantulan kaca menjadi tidak tega. Padahal awalnya dia hanya ingin memberi pelajaran saja ke Ajeng agar Ajeng patuh dengannya.
“Aku gak mau kamu membuka pintu ke laki-laki lain agar mereka bisa masuk ke dalam hidupmu,” ucap Bimo dengan memeluk punggung Ajeng setelah menarik miliknya keluar. Dia mengke cupi bahu Ajeng agar tubuh Ajeng lebih rileks setelah serangan yang dia lakukan. “Masih sakit?” tanya Bimo dengan membalikan tubuh Ajeng agar bisa dipeluknya. “Masih sakit?” tanya Bimo sekali lagi. Dia meraih dagu Ajeng agar bisa mengusap air mata yang mengalir di sudut mata itu.
Ajeng hanya mengangguk dan tidak berani menatap mata Bimo. Dia takut Bimo akan melakukannya lagi.
“Apa kamu masih mau nonton movie sama mereka?” tanya Bimo. Melihat wajah Ajeng yang masih murung membuat Bimo merasa bersalah juga. “Kalau mereka mau nonton movie di kamar kita, aku kasih izin. Tapi kalau kamu pergi ke kamar Kevin, aku gak akan kasih izin,” ucap Bimo dengan menatap mata Ajeng. Dia mulai meraih handphone Ajeng yang berada di tepi bed. “Sekarang kamu kirim pesan ke Ganis, bilang ke teman mu itu soal tawaran ku,” pinta Bimo dengan memberikan handphone tadi.
Ajeng segera mengetik pesan ke Ganis sesuai penawaran Bimo. Tidak tahunya pesan yang dia kirim itu dibalas dengan cepat oleh Ganis.
“Let me see (Biar aku lihat). Apa dia balas?” ucap Bimo.
📲Ga masalah, Jeng. Kata pak Kevin nanti biar Vano aja yang datang ke room kalian. Dia bilang thanks juga buat kalian udah mau digangguin waktunya.
Ajeng menjadi lega setelah membaca isi pesan dari Ganis. Bimo pun ikut senang karena wajah Ajeng kembali ceria.
“Kalau seperti ini kan aku gak akan kuatir,” ucap Bimo. Dia kembali merapatkan tubuhnya memeluk Ajeng. “Ini kenapa bibir mu manyun lagi?” Goda Bimo dengan mencubit hidung Ajeng.
“Mmm... Jangan gitu, Bim! Kamu ni suka banget nyakitin aku...” protes Ajeng memalingkan wajahnya.
“Makanya kamu jangan dekat - dekat sama cowok lain. Apalagi itu orang yang baru kamu kenal,” sambung Bimo menasihati Ajeng.
Setelah dipikir - pikir, ada benarnya juga ucapan Bimo.
“Iya... Tapi kamu kan tahu aku gak ada maksud deketin papanya Vano. Lagian aku udah punya kamu. Terus kalau kamu lagi marah jangan sogok pan tatku dong... Sakit tahu!” protes Ajeng memukul da da Bimo. Dia jug menggigit - gigit da da Bimo.
“Hm... Heheee... Makanya kamu jangan bandel-bandel juga!” timpal Bimo dengan mere mas bagian pan tat Ajeng. “Kalau sampai kamu bandel lagi... Hm... Mau kamu menangis sampai banjir air mata di bed, akan ku hantam nih sampai paling ujung...” geretak Bimo dengan melancarkan rema san lebih keras di pan tat Ajeng.
“Aw! Kamu ni jahat banget! Bakal ku gigit nih punyamu biar gak bisa nakalin aku,” sambung Ajeng dengan mere mas batang Bimo.
Bukannya kesakitan, tapi Bimo justru kesenangan mendapat serangan dari tangan Ajeng. Dia menyodorkan milikinya agar tangan Ajeng itu semakin merangkupnya.
“Do it more (Lakukan lebih)! Aku mau tahu sampai mana kamu bisa membangunkannya,” ucap Bimo mulai menin dih tubuh Ajeng.
Perselisihan di antara keduanya malam ini berakhir dengan damai. Tapi pergulatan yang lain tetap dilanjutkan sampai seprei di bed menjadi acak - acakan.
*****
Bersambung...
*****