
Keduanya berlanjut membuat teh. Mempersiapkan camilan untuk dibawa ke luar dan menunggu kedatangan sunrise.
“Huhhh… Dingin banget…” Ajeng memeluk termos yang berisi teh panas. Udara pagi itu terasa langsung menusuk ke kulit wajahnya begitu dia keluar dari minibus.
Suasana masih cukup petang. Belum ada tanda-tanda cahaya matahari yang nampak dari ketinggian itu. Tapi sudah ada beberapa orang berjalan di area itu dengan mengenakan jaket tebal dan membawa kamera.
“Ajeng, bisa kita ambil foto?” tanya Bimo dengan mengotak-atik kameranya.
“Emang bisa bagus hasilnya? Kan masih agak gelap…”
“Yeah. Masih gelap atau tidak, itu gak akan berpengaruh,” ucap Bimo dengan berjalan mendekat di tempat Ajeng berdiri. Dia mulai mengarahkan lensa untuk mengambil foto dirinya dengan Ajeng. “Kamu belum pernah foto sama pacar kamu sebelumnya ya?” tanya Bimo sedikit tersenyum simpul dengan melihat Ajeng. Pose tubuh Ajeng terlihat cukup kaku. Berdiri lurus sambil memegangi termos.
“Maksudnya?”
“Kalau kata cewek-cewek Indo yang udah ngedate, biasanya mereka bisa a bit romantic (sedikit romantis) sama pasangan mereka…”
Ajeng mulai sedikit tersindir dengan ucapan Bimo. Dirinya memang tidak tahu harus berpose bagaimana dengan pacar barunya itu.
“Aku kan kedinginan, Bim… Jadi agak susah buat gerakin badan,” elak Ajeng. Dia memalingkan pandangannya karena tidak mau kalau terlihat malu.
Mengetahui kalau Ajeng sedang menyembunyikan senyuman, Bimo mulai membungkukkan badannya. Dia mulai melihat senyuman tipis itu merekah dari bibir Ajeng. Tanpa permisi, Bimo mulai mengkecup pipi Ajeng.
BUG!
“Kamu ni…” Ajeng memukul pelan dada Bimo.
“Malu tahu banyak orang lihat…” ucap Ajeng. Tapi Bimo justru manariknya masuk dalam pelukannya. Mau mengelak tapi pelukan itu terasa nyaman dirasakan Ajeng. Terasa hangat dan nyaman.
“Ngapain malu? Aku kan cuma nyium pipi kamu. Belom yang lain…” Bimo semakin memeluk erat tubuh Ajeng. “Biar aku peluk kamu selagi nunggu sunrise. Kalau kamu malu, sembunyikan saja mukamu di balik jaket aku,” bisik Bimo berlanjut mencium pucuk kepala Ajeng.
Mereka berpelukan beberapa saat tanpa menghiraukan orang yang ada di sekeliling mereka. Rasa dingin di gunung itu sesaat dilupakan oleh keduanya. Semakin lama tangen Ajeng juga semakin rapat dengan m3r3ma5 punggung Bimo. Sampai akhirnya mereka melihat cahaya matahari mulai nampak.
Keduanya pun mulai melangkah mencari spot terbaik untuk menikmati sunrise.
“Jam berapa, Jeng?” Bimo mulai sibuk mengarahkan kamera untuk mengambil video golden sunrise dari Gunung Prau.
“Em, Jam 5.50. Hampir jam 6,” Jawab Ajeng dengan mengecek layar handphonenya. “Udah jam segini suhunya masih 14ᴼ celcius,” celetuk Ajeng. Tubuhnya masih merasa kedinginan. Tapi beda halnya dengan Bimo. Dia sudah merasa biasa dengan temperature saat ini.
“Next time aku bawa kamu ke Australi waktu winter (musim dingin). Biar kamu terbiasa dengan temperature sekarang,” timpal Bimo.
“Habiskan aja tehnya Jeng biar badan kamu tetap hangat.”
“Emang kamu gak mau?” tanya Ajeng. Bimo mulai mendekat duduk di semak-semak belakang Ajeng.
“Gak usah. Kalau teh buatanku kamu habiskan, aku akan senang.” Lagi-lagi Bimo merangkul Ajeng. Tangannya bertengger di depan perut Ajeng.
Ini adalah pertama kalinya Ajeng merasakan keromantisan di saat pacaran. Menyaksikan sunrise dari dataran tinggi dengan dikelilingi awan.
“Pantas tempat ini dikatakan negeri di atas awan. Ternyata karena kita bisa melihat sekeliling kita penuh dengan awan,” celetuk Bimo. Dia sangat menikmati melihat golden sunrise. “Ngomong-omong, gimana lukamu kemarin? Apa masih perih?” tanya Bimo.
“Em, udah gak terlalu. Mungkin harus diolesi aloe vera beberapa kali lagi baru bisa sembuh,” jawab Ajeng.
Pelan-pelan Ajeng merasakan tangan Bimo mulai merayap masuk ke dalam bajunya.
“Boleh aku check?”
“Jangan di sini dong, Bim. Ntar kalau ada yang mergokin gimana? Malu ah!” Ajeng berusaha menghentikan pergerakan tangan Bimo. Dia menoleh dan mendongakkan pandangannya kepada Bimo.
“Memang siapa yang ada di sini?... Cuma kita. Let me check it (Biarkan aku memeriksanya). Aku cuma mau tahu masih bengkak atau tidak.”
“Sepertinya bengkaknya sudah gak sebesar kemarin,” ucap Bimo. Tangannya yang menelusup masuk itu terus dipegangi oleh Ajeng. Ajeng cukup was was kalau Bimo akan mengerjainya. Tapi ternyata dugaan Ajeng itu salah, Bimo mulai membetulkan bajunya setelah mengecek.
“Ajeng…”
“Iya…?” tanya Ajeng yang kemudian menoleh dan menatap wajah Bimo. Laki-laki itu mulai mencium bibir Ajeng. Tangannya merengkuh tulang rahang Ajeng untuk memudahkannya m-3lum-4ti bibir perempuan itu. Bimo bermain cukup lama dengan meng-u-sap us4p leher Ajeng membuat perempaun itu lemas dan pasrah.
“Bim… ah…” Ajeng menghirup nafas dalam-dalam ketika Bimo melepaskan ciu-man panjang itu. Ajeng semakin dibuat bingung ketika Bimo menuntunnya untuk berbaring di semak-semak. “Bim, jangan disini. Jangan gila kamu. Ini tempat terbuka.” Ajeng mencoba menasihati laki-laki yang sudah menindihnya itu. Laki-laki itu mulai menciumnya lagi. Me-ngu-lum dan m3ng-hi-s4p berkali kali membuat Ajeng panik. Apalagi Bimo sedikit mendesak tubuhnya sampai susah bergerak.
“Jangan takut, aku gak segila yang kamu pikirkan,” tersenyum tipis dengan mengusap bibir Ajeng yang masih basah karena salivanya.
Keduanya mulai berbaring sejenak di rerumputan itu dengan memandangi awan di sekeliling mereka.
“Bim, aku butuh ke toilet. Aku pergi ke bus dulu ya nanti aku balik lagi ke sini,” ucap Ajeng mulai bangkit dari tempat dia berbaring.
“Jam berapa ini?” tanya Bimo ikut beranjak berdiri.
“Jam 7. Kenapa?”
“Mau ikut kamu ke toilet…” menjawab dengan tawa kecil membuat tangan Ajeng gatal untuk memukulnya.
“Ish kamu ni… Udah ah aku kesana dulu, udah gak tahan.”
Ajeng mulai berjalan cepat menuju minibus. Sementara itu Bimo mengemasi kameranya yang digunakan untuk merekam sunrise.
_____
Ajeng segera masuk ke dalam toilet di minibus. Rasanya cukup lega setelah beberapa menit menahan rasa kencing. Dia mulai memakai celananya kembali. Tapi di saat dia akan memakai, Ajeng melihat bercak coklat di celananya. Itu adalah hal yang wajar karena memang masa mensturasinya sudah dekat. Karena hal itu, Ajeng berjalan keluar dari toilet dan mengambil pembalutnya. Dengan begitu dia akan merasa aman bila darah haidnya akan keluar hari ini.
“Nyari apa, Ajeng?” tanya Bimo. Perempuan di hadapannya itu sedang mengaduk-aduk isi koper.
“Em…” menggit bibir sedikit malu untuk menjawab. “Pembalut.” Mendengar jawaban itu, Bimo sedikit menghela nafasnya. Sedangkan Ajeng merasa aneh setelah melihat sikap Bimo yang sepertinya tidak suka bila dia akan mengalami haid. “Kamu kenapa kok kayak gak suka kalau aku mau haid?” tanya Ajeng. “Kamu lagi-- pingin begituan ya?” Pertanyaan Ajeng yang terakhir itu membuat Bimo tersenyum lebar. “Kalau kamu mau biar aku minum obat untuk menunda haid. Aku masih punya di kotak obatku.”
“Apa? Obat penunda haid…? Sejak kapan kamu mengkonsumsi itu?” Bimo sedikit tidak percaya Ajeng memiliki obat semacam itu.
“Cuma baru 2 kali. Itu pun sudah lama waktu aku kerja di Maldives dulu,” jawab Ajeng jujur.
“Buat apa kamu minum begituan?” tanya Bimo. Dia sedikit bingung mendapati pernyataan Ajeng. Secara Bimo tahu Ajeng masih perawan sampai tadi petang. Jadi untuk apa perempaun itu mengkonsumsi obat semacam itu?
“Em dulu kan aku sama temen-temen di sana berencana pergi snorkling. Tapi waktu hari itu bertepatan sama masa haid aku. Jadi salah satu temen aku kasih saran buat minum obat penunda haid biar rencana snorklingnya gak terganggu. Gitu…” jelas Ajeng membuat Bimo mengerti. Karena penjelasan Ajeng cukup masuk akal.
“Tapi… Bukankah obat semacam itu bisa mengganggu masalah-- fertilitas (kesuburan)?”
“Kata teman aku enggak kok… Toh diminumnya cuma 2x aja kalau lagi perlu, bukan buat dikonsumsi harian,” jelas Ajeng. “Kamu kenapa sih kok tanyanya sampai begitu detail?”
“No… Cuma… Aku takut obat itu akan kasih efek buruk untuk tubuh kamu. Mulai sekarang jangan pernah meminumnya lagi. Aku gak ada masalah kalau memang kamu harus haid,” jawab Bimo. Dia mengkecup kening Ajeng.
“Sana cepat pakai itu. Biar aku buatkan teh lagi buat kita.”
“Iya, Bim. Tunggu bentar ya…”
Ajeng bergegas masuk ke dalam toilet kembali. Sedangkan Bimo mulai menyalakan heater untuk merebus air. Matanya mulai menatap bercak darah yang masih ada di seprei.
*****
Bersambung…
*****