
Malam ini adalah malam pertama yang akan dilewati Bimo bersama Ajeng setelah 5 tahun perpisahan mereka. Tidur dengan mendekap tubuh polos Ajeng dan hanya ditutup dengan selimut.
“Tidurlah baby...” ucap Bimo. Dia menge cup kening Ajeng cukup lama. Segala ketakutan dan kekuatiran Bimo tentang Ajeng hidup bersama laki-laki lain kini sudah sirna. Dia tidak ingin mengulang hal yang sama untuk melepas Ajeng. Kali ini Bimo berjanji dengan dirinya akan membuat Ajeng untuk terus bersamanya.
__________
Pagi harinya, Sasa yang akan berangkat sekolah sedikit ngambek. Wajahnya masam dan tidak mau sarapan.
Bu Clara yang baru saja sampai di rumah setelah pulang dari Bandung, harus menghadapi anak kecil itu. Sebetulnya bu Clara sangat sayang dengan Sasa, hanya saja karena perasaan anak kecil itu terlalu sensitive, hal ini membuat bu Clara gemas dan terkadang juga geram.
“Deni, siapa itu Ana? Kenapa dari tadi sewaktu Sasa Bangun, dia selalu mengatakan daddynya jahat karena menyakiti tante Ana?” tanya bu Clara kepada assistantnya Bimo.
“Sebetulnya saya juga tidak tahu soal perempuan bernama Ana. Jadi singkat cerita kemarin Sasa diajak oleh orang itu setelah pulang sekolah. Pak Bimo menyuruh saya membawa Sasa pulang karena dia ada urusan dengan perempuan bernama Ana itu,” jawab Deni.
“Lalu? Letak jahatnya Bimo dimana?” tanya bu Clara bingung.
Deni yang semalam melihat mobil bergoyang, terpaksa harus menceritakan dengan berbisik kepada bu Clara. Mata Sasa melirik memperhatikan kedua orang dewasa itu sambil memotong makanan di piring.
Bu Clara hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia sangat puas mendengar cerita yang disampaikan oleh Deni. Kehadiran sosok perempuan bernama Ana yang belum dia lihat wajahnya itu membuat bu Clara lega karena akhirnya Bimo bisa berpaling dari Ajeng.
“Sasa... daddy enggak jahat sayang...” Bu Clara mulai membujuk Sasa yang sedang mogok makan. “Ayo breakfast nya dihabiskan. Bentar lagi kamu harus berangkat ke sekolah,” ucap bu Clara mulai menyuapi Sasa.
“Sasa ga mau makan. Sasa mau makan hashbrown potato sama spaghetti Bolognese buatan tante Ana!” memuncungkan bibir dan semakin mogok makan.
“Tante Ana lagi sibuk sayang sama daddy kamu. Sasa mau kan punya mommy?” tanya bu Clara membuat Sasa menoleh melihat grandmanya. “Sekarang daddy lagi deketin tante Ana, buat bujuk tante Ana agar mau jadi mommynya Sasa...” jelas bu Clara membuat Sasa sedikit tersenyum. “ Sasa juga mau kan punya adik bayi?” tanya bu Clara membuat Sasa mengangguk – angguk. “Nanti kalau daddy pulang bawa tante Ana, pasti mereka juga bawa adik buat Sasa... Emangnya tante Ana itu kayak apa sih? Sasa ceritain dong ke grandma sambil makan...” bujuk bu Clara dengan memasukkan potongan telur omlet ke mulut Sasa.
“Tante Ana itu... baik... pintar masak... Dia cantik... Rambutnya curly... Em... apa lagi yah...” jawab Sasa sambil mengunyah makanan. Pikirannya melayang mengingat setiap kejadian bersama Ajeng.
“Rambutnya keriting? Cantik? Hm... Grandma jadi pingin ketemu juga sama tante Ana,” ucap bu Clara dengan terus menyuapi Sasa.
“Iya grandma... Sasa juga mau ketemu tante Ana. Sasa kangen... Mau minta gendong tante Ana lagi,” sambung Sasa semakin semangat mengunyah makanan. “Emang daddy kapan bawa tante Ana ke sini? Daddy ada kasih tahu grandma ya kalau tante Ana mau ke sini?” tanya Sasa.
“Em... Daddy belom kasih tahu grandma sih... Tapi kan kalau tante Ana jadi mommynya Sasa, pasti nanti tidurnya di sini. Tinggal sama kita selamanya. Sasa juga bisa panggil mommy ke tante Ana. Seperti teman-teman Sasa di Melbourne dulu,” jawab bu Clara.
Harapaan Sasa semakin melambung membayangkan Ajeng menjadi mommynya. Dia bisa merasakan kebaikan dan ketulusan Ajeng pada waktu dirinya menunggu jemputan daddynya.
__________
Bila pagi ini Sasa tengah menikmati sarapan dengan membayangkan calon mommynya, Bimo saat ini tengah bekerja keras untuk mewujudkan keinginan anak angkatnya itu. Sejak dirinya membuka mata, Bimo sudah sibuk menjulurkan li dahnya ke bagian in tim Ajeng. Tangan besar dan kekar itu mencengkram kuat – kuat pa ha Ajeng agar mengang kang. Lidahnya terus bergoyang menjulur – julur menyapu setiap sudut lembab itu.
“Mmpphhh... Bim...” Ajeng menarik nafas dalam – dalam saat dirinya terbangun karena rang sangan yang diberikan Bimo. Tanpa dia sadari miliknya sudah kem bang kempis berke dut karena Bimo juga memasukkan jarinya untuk mengko cok lorong yang lembab.
“Good morning baby...” sapa Bimo. Dia mencari tumpuan untuk bersiap memasukkan kawan lonjongnya. Bimo me remas salah satu buah kenyal Ajeng untuk dijadikan tumpuan tangannya.
Ajeng tersentak kaget karena menerima serangan dari atas dan bawah. Kondisi tubuh yang baru saja terbangun harus melayani bi rahi Bimo yang tidak bisa dikontrol.
“Buka lebih lebar, baby...” pinta Bimo sambil mebetulkan posisi Ajeng.
Tubuh yang masih lelah karena hantaman Bimo semalam, harus bersiap untuk lebih remuk lagi. Mau tidak mau Ajeng harus membiasakan dirinya untuk menatap wajah Bimo lagi. Ingin lari dari sisi Bimo, tapi Ajeng juga takut bila akhirnya nanti dirinya sampai hamil. Jadilah saat ini Ajeng membiarkan Bimo menikmati tubuhnya.
Sesekali mata Ajeng tertutup rapat saat Bimo mendesak masuk meski daging lonjong itu sudah mencapai batas maksimal.
“Bim.... Uh.... Mpppp.... Stop! Eghhh.....” mele nguh cukup dalam sambil mere mas lengan Bimo.
“Sakit Bim... pu tingku sakit...” eeluh Ajeng.
“But I like it (Tapi aku menyukainya). Biarkan aku memainkannya sebentar,” pinta Bimo dengan senyum sensu alnya.
Ajeng sudah cukup tahu tentang karakter Bimo. Apapun yang dia protes bila berhubungan dengan aktivitas ranjang, Bimo tidak akan mempedulikannya. Bimo semakin menggoncang buah kenyal itu dan mere mas keras membuat Ajeng pasrah.
Pagi ini Ajeng dibuat kualahan karena Bimo terus menghujam dan menghujam demi membasahi lorong in timnya. Sudah berjam-jam lamanya benda lonjong itu mengganjal membuat seluruh pinggul, paha, dan jari-jari kaki Ajeng tegang.
“Bim...” rasanya untuk berbicara saja Ajeng sudah tidak ada kekuatan.
“Biar aku mengeluarkan nya sekali lagi, baby. Setelah itu kamu bisa istirahat,” sambung Bimo. Dia menarik pinggul Ajeng untuk melakukan gaya favouritenya. Menghujam dari belakang untuk menguasai seluruh tubuh Ajeng.
“Jangan pan tatku, Bim...” Ajeng menjadi was was bila Bimo sampai menghajarnya dengan cara yang paling dia benci.
“Gak akan, baby. Aku gak akan menyakitimu,” sambung Bimo. Dia kambali menelusupkan miliknya ke lubang yang sudah banjir karena ulahnya.
Dia menggoyang dan terus mempercepat ritme permainan sampai Ajeng meneteskan air matanya karena lelah.
“Arghhh... Eghhh.... Errghhhh......”
Akhirnya Bimo mencapai kli maks untuk yang kesekian kalinya. Tangannya merangkup kedua buah kenyal sebelum Ajeng tumbang. Dia mere mas sam bil menye sap tengkuk Ajeng cukup lama.
“Thank you, baby.”
Bimo memutar tubuh Ajeng untuk didekap kembali. Tapi baru beberapa saat mereka beristirahat, handphone Bimo bergetar. Rupanya ada panggilan masuk dari Sasa. Karena tidak mau melepas dekapannya dari Ajeng, Bimo menyalakan pengeras suaranya.
“Hallo daddy! Kapan daddy bawa pulang tante Ana?” tanya Sasa.
“Ana?” tanya Bimo tidak mengerti. Dia menatap mata Ajeng karena Ajeng juga menatapnya.
“Sasa panggil aku dengan nama Ana,” sambung Ajeng. Suaranya itu membuat Sasa kegirangan.
Rasanya sudah tidak sabar bagi Sasa untuk bertemu dengan Ajeng lagi. Dia mulai menyalakan video panggilan untuk melihat Ajeng.
“Sasa pasti kangen sama kamu, please jawab dia,” pinta Bimo dengan berbisik. Dia mulai menerima permintaan video panggilan dari anaknya itu.
“Daddy, mana tante Ana nya?” tanya Sasa.
Entah mengapa meski Sasa adalah anak Jesslyn, Ajeng tidak merasa kesal dengan anak dari perempuan yang sudah mengacaukan hubungannya dengan Bimo dulu. Ajeng justru iba dan kasihan bila mengingat keluhan Sasa jika Bimo tidak sepenuh hati mengasuh Sasa.
“Hai mommy...!” sapa Sasa. Rasa bahagia melihat Ajeng membuat Sasa tidak bisa menahan keinginannya untuk menjadikan Ajeng sebagai mommy pengganti ibu kandungnya yang sudah meninggal.
Sudah sejak lama Ajeng mengharapkan moment seperti saat ini. Panggilan mommy yang keluar dari bibir mungil Sasa itu membuat Ajeng terharu.
Bimo yang mendengar Sasa memanggil Ajeng dengan sebutan mommy juga ikut syok.
“Mommy lagi apa sama daddy? Kok masih tiduran jam segini?” tanya Sasa.
*****
Bersambung...
*****