
Wajah cantik dengan mata bersinar itu kini terlihat sembab. Baru kali ini Bimo melihat Ajeng sampai hampir menangis karena rasa cemburu terhadap Kasih dan Sekar.
“Mau kamu apa sekarang?”
Ajeng masih terdiam. Dirinya masih mengontrol agar air mata tidak tumpah.
“Look at me...” Kedua ibu jari Bimo menyapu sudut mata Ajeng. Dia memandangi wajah Ajeng yang ada di rangkupan tangannya.
Sikap manis yang ditunjukan Bimo selalu saja berhasil membuat hati Ajeng melunak. Kedua tangan yang bertengger di pinggul Bimo, juga membuat Ajeng enggan melepaskan cengkramannya.
“Tadi aku tinggalin serabinya di lobby hotel,” ucap Ajeng setelah emosinya berhasil dia redam.
“Yeah... I know. Aku sudah berikan ke mereka. Thank you ya tadi kamu sudah mau ambilkan serabinya.” Bimo meraih kedua tangan Ajeng. Dia menggeng gam tangan itu sambil terus memandangi wajah Ajeng.
“Kalau kamu masih mau ngobrol sama...”
“Ssshhhuuutttt...” Bimo menutup bibir Ajeng dengan ibu jarinya.
“Aku gak pa pa kok, Bim. Aku sudah harus terbiasa. Mungkin aja kamu malu punya cewek sepertiku.” Sambung Ajeng. Dia menghela nafas panjang setelah berhasil mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya.
“What do you mean? Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu? Kenapa aku harus malu memilikimu, Ajeng? Harus kamu ketahui, sedikitpun aku gak pernah malu sudah memilihmu.” Bimo semakin memandangi wajah Ajeng.
“Tapi tadi waktu aku melambaikan tangan ke kamu... waktu kamu ngobrol sama mereka di lobby, kamu kayak gak kenal sama aku. Jadi apa itu namanya kalau gak malu?” tanya Ajeng. Dia harus memberanikan dirinya bertanya secara langsung dari pada berfikir menduga – duga.
“Really? Tadi aku gak ada lihat kamu melambaikan tangan... dari tempat dudukku memang sangat silau kalau aku lihat ke arah pintu utama lobby,” jelas Bimo apa adanya. “Aku saja sampai gak tahu kapan kamu balik setelah ambil serabi... Tapi waktu kamu keluar dari area lobby lagi aku bisa lihat kamu,” jelas Bimo lebih lanjut. “Kalau aku tadi lihat kamu melambaikan tangan, sudah pasti aku akan menghampiri kamu.” Bimo kembali mendaratkan kecu pannya di kening Ajeng. “Sorry, baby. Aku benar – benar gak lihat kamu tadi.”
Sorot mata serius yang dilihat Ajeng itu membuatnya berfikir. Terlihat tidak ada kebohongan yang dilihatnya dari Bimo.
“Aku mohon jangan pernah berfikir kalau aku malu memilikimu. It's not true. Kamu tahu kan sudah sampai tahap apa kita menjalin hubungan? Ibumu dan mamaku juga sudah saling mengenal. Love you so much Ajeng. I want you to be my wife, only you...”
Kalimat sederhana yang Ajeng dengar di bawah teriknya sinar matahari terasa menyejukkan hatinya. Harapannya untuk berdiri di atas pelaminan bersama Bimo semakin tinggi. Rasa kesal yang sempat dirasakannya juga mulai pudar. Apalagi merasakan tangan Bimo yang seolah tidak mau berjauhan dengannya semakin membuat Ajeng hanyut dalam romantisme.
“Kamu mau kan menjadi istriku? Kita bisa tinggal bersama selamanya. Mau di Jogja atau Solo... atau maybe Melbourne tempat tinggal familyku dulu ketika daddy masih hidup. Atau mungkin kita akan menghabiskan waktu kita di minibusmu...” Senyum Ajeng mulai berseringai mengingat minibusnya. Setiap kejadian di minibus tidak satupun yang dilupakan oleh Ajeng. “i like to see your smile like this,” ucap Bimo. Dia mengke cupi kedua punggung tangan Ajeng.
“Gak mungkin kita tinggal di minibus selamanya, Bim. One day kita pasti punya baby. Mereka butuh tempat untuk bermain,” sambung Ajeng.
“Yeah... seperti aku juga butuh tempat yang luas untuk bermain bersamamu.”
Didengar dari kalimatnya saja Ajeng sudah bisa mencium Bimo sedang mencoba melancarkan aksinya.
“Mr. Gombal...! Udah ah! Aku dah bisa tebak kalau wajah kamu lagi kayak gini. Aku mau makan. Hungry...” sambung Ajeng. Dia menarik tangannya dan pergi berjalan menuju cafe lagi.
“Kamu masih mau makan nasi goreng mu itu? Actually aku udah order grilled lobsters sama hashed brown potato di fine dining restaurant. Mau ikut aku atau masih mau balik ke cafe?” goda Bimo. Bibirnya semakin tersenyum lebar karena melihat Ajeng berlari balik ke arahnya lagi. Bimo semakin senang ketika Ajeng melingkarkan tangan di lengannya. “kamu ni paling mudah dipancing dengan makanan,” celetuk Bimo.
“Kamu pikir aku ikan bisa dipancing...”
“Iya... ikan mermaidku.”
______
Restaurant fine dining yang berlokasi di tepi laut itu memiliki 2 lantai. Mereka memilih untuk menuju ke lantai atas agar semakin bisa menikmati pemandangan laut dan merasakan semilir angin.
Meski hari ini cuaca cukup panas, Bimo dan Ajeng masih bisa merasakan kesejukan karena banyaknya pohon kelapa yang menjuntang tinggi di sekitar restaurant. Apalagi alunan musik jazz yang diputar membuat keduanya lebih bisa bersantai.
“Bim, kok mereka gak kasih food menu ke kita?” tanya Ajeng ketika sudah duduk beberapa menit. Dia memandangi banyaknya pelayan yang berdiri tapi tidak satupun yang mendekati meja mereka.
“Aku kan sudah bilang kalau sebelumnya aku sudah order. Tadi aku sempat nyariin kamu ke sini sebelum pergi ke cafe sana. Nah... Our food is coming...” ucap Bimo sambil menoleh memperhatikan beberapa pelayan yang datang dengan membawa makanan.
“This is your order, sir. Seafood platter with lemon garlic butter. This is Mixed Seafood Grilled... And The last is Hash Brown Egg and Bacon. Is there anything else you want to order, Mr. Bimo?” (Ada yang lain ingin anda pesan?)
“No. This is perfect. Thank you.”
Hidangan Seafood itu semakin menggugah selera makan Ajeng. Bimo yang juga merasa lapar sampai memesan extra grilled seafood lagi.
“Next time setelah kita menikah, aku akan mengajakmu ke restaurant underwater di Lagoi yang masih satu property milik Luxus Resort. Di sana kita bisa menikmati fresh seafood,” ucap Bimo. Dia sangat senang melihat Ajeng menyantap hidangan di atas mejanya.
“Kayak di daerah Kedonganan Jimbaran Bali dong. Dulu aku juga beli ikan, udang, lobster terus di masakin sekalian. Jadi rindu Bali...” sambung Ajeng mengingat memorinya.
“Kita bisa ke sana juga setelah urusan bisnis trip aku selesai. Kemanapun kamu mau pergi, aku pasti antar.”
Perpaduan daging lobster dengan garlic butter yang sempurna di lidah semakin pecah terasa nikmat setelah mendengar ucapan Bimo itu. Ajeng sampai tidak bisa mengontrol senyum di bibir yang terus merekah.
Mereka mulai bersantai dengan memandangi birunya permadani laut.
“Bim, room kita ada di sebelah mana?” tanya Ajeng. Matanya terasa berat ingin mengajak tidur.
Mata Ajeng yang sudah hampir terpejam itu harus terbelalak setelah melihat 2 wajah perempuan di depannya. Wajah perempuan yang sempat dia lihat di lobby. Tapi ketika dirinya mulai sadar secara penuh, dia melihat kemunculan Galang dan Raja lagi yang berdiri di belakang Kasih dan Sekar.
(Note: Visual Galang & Kasih)
(Note: Visual Raja & Sekar)
“Ow... jadi ini kerjaannya tour guide? Hm... nyamannya...” sindir Galang sambil menahan senyumnya.
Ajeng menjadi malu menghadapi keempat orang di depannya. Dia cepat-cepat berdiri menggeser kakinya ke samping Bimo.
“Baby, kenalin... Ini Kasih istrinya Galang. Dan Sekar istrinya Raja...” ucap Bimo.
Dengan rasa yang masih sungkan-sungkan, Ajeng mengajak keempat orang itu berjabat tangan.
“Sorry ya Lang, Raj. Tadi di cafe sedikit ada salah paham. Ajeng ini girlfriend aku,” ucap Bimo. Dia belanjut mengke cup kepala Ajeng di depan keempat orang itu.
Ajeng menjadi merasa bersalah sudah sempat salah paham sampai mengenalkan Bimo ke Galang dan Raja hanya clientnya saja.
Sore itu mereka berenam berlanjut berbincang-bincang dengan menikmati hidangan afternoon tea.
Sosok Kasih dan Sekar terlihat begitu harmonis dengan suami mereka masing-masing. Ini membuat Ajeng tidak nyaman pernah berpikir negative ke Bimo, bahkan sampai cemburu segala.
______
Setelah pertemuan itu, Ajeng bisa lega. Perasaannya semakin ringan untuk menjalani hubungan bersama Bimo kedepannya.
“Apa kamu masih berfikir kalau aku malu memilikimu?” tanya Bimo ketika mereka sedang bersantai di kamar. Dia kembali membanting tubuh Ajeng dan melancarkan aksinya lagi.
“Maafin aku ya, Bim. Jangan marah ya... Jangan main belakang,” celetuk Ajeng membuat Bimo terkekeh.
Setelah seharian keduanya sibuk bersama Galang, Raja, Kasih dan Sekar, kini mereka bisa bergulat di atas bed. Bimo menelusupkan lidahnya ke bagian titik spot in tim Ajeng. Bergoyang dan terus menji lati karena Bimo sangat senang mendengarkan de sahan – de sahan yang lepas dari bibir Ajeng. Pinggul Ajeng ikut dire mas – re mas sampai Ajeng semakin terang sang.
Gai rah yang semakin merayap di ujung ubun – ubun membuat Ajeng mendorong kepala Bimo agar lebih menye sap miliknya. “Agh... Aghh... Continue, Bim... I like it baby... Agh...” de sah Ajeng. Bibirnya ikut menganga menikmati sentu han bibir dan lidah Bimo. “I love you, Bimo...”
Akhirnya Bimo merasakan cairan itu meleleh juga membasahi lubang incarannya. Dengan kedua lutut yang bertumpu di bed, Bimo menekuk lutut Ajeng agar dirinya bisa lebih mudah beraksi.
Pinggul keduanya kini saling mendayung... merapat... menarik... dan saling menatap mata. Bibir keduanya kembali terpaut dan saling mengu lum.
“I will fu ck you more.”
Tangan kekar itu kini semakin mencengkram lengan Ajeng. Bagian in tim itu terus dide sak dalam – dalam sampai Ajeng merapatkan matanya.
“Arghh..........” Pinggul Bimo menghen tak – hen tak pelan di saat miliknya menyembur. “Love you...”
Keduanya mulai menatap langit – langit kamar setelah pergulatan panas. Bimo menarik tubuh Ajeng agar dia bisa tetap menikmati aroma tubuh Ajeng.
Tak lama setelah itu, handphone Ajeng berbunyi. Ternyata ada panggilan masuk dari kakaknya.
“Halo Jeng! Lagi apa kamu?” tanya mbak Desi. “Lagi gak sibuk kan?”
“Lagi... Em...Iya... Ada apa, mbak?” tanya Ajeng balik. Tidak mungkin juga di menceritakan apa yang sedang dia lakukan.
“Gini, Jeng... Aku tuh ngerasa aneh sama ibuk. Sejak tadi pagi dia gak mau angkat telpon dari tante Clara,” ucap mbak Desi membuat Ajeng menoleh ke Bimo yang sedang memegang handphone juga.
“Kok bisa, mbak?” tanya Ajeng. Dia mulai berfikir menerka-nerka kenapa hal itu bisa terjadi.
“Aku juga gak tau, dek... Makanya aku kabarin kamu. Siapa tahu Bimo ada cerita soal mamanya juga.”
“Hm... Iya deh, mbak. Nanti aku tanya sama Bimo,” sambung Ajeng.
Akhirnya Ajeng segera memutus panggilan itu untuk bertanya kepada Bimo. Bimo yang saat ini memegang handphone terlihat menunjukan wajah seriusnya.
“Bim... Kamu kenapa?” tanya Ajeng.
“Mama kirim pesan katanya tadi pagi dia mergokin Jesslyn sama mama kamu jalan bareng di mall. Waktu mama tanya ke Jesslyn sih katanya si Jess gak sengaja papasan sama mama mu. Tapi yang bikin Mama bingung, ibuk kamu sekarang susah di hubungi. Padahal kata mama biasanya lancar- lancar aja,” jelas Bimo. “I don’t know. What's really going on there.” Bimo mulai mengehela nafasnya. (Aku tidak tahu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana)
Keduanya saling pandang memikirkan hal itu.
*****
Bersambung...
*****