My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Kamu Ni... Nakal!



Bimo yang mendengar ucapan Ajeng kalau dirinya masih haid, terpaksa menghentikan aksinya. Matanya memandangi Ajeng setelah serangan balik yang dia lancarkan.


“Hihii… Sorry…”ucap Ajeng sedikit mengejek Bimo yang masih menindih tubuhnya itu.


“Huft… Kalau kamu gak haid hari ini, sudah habis pagi ini kubuat kualahan.”


Beggg…Seeeg…


“Ah!” Ajeng meremas bahu Bimo karena laki-laki itu masih saja meng ge sek bagian intimnya. Plak! Ajeng memukul pantat Bimo cukup keras.


“Kenapa mukul pantat aku?” tanya Bimo sambil menggeser tubuhnya ke samping Ajeng.


“Habisnya kamu main ge sek aja ke punyaku. Masih hari pertama haid ni, Bim. Lagi deras-derasnya keluar. Nanti kalau bocor gimana? Kotor lagi sepreinya…” jawab Ajeng sambil mengecek area celananya.


Bimo terkekeh memandangi Ajeng yang sedang mengecek celana dan seprei. Dia mulai membuka pintu mobil bagian belakang lagi karena aktifitas panas juga tidak bisa dilanjutkan.


“Humm… Udara di sini sejuk sekali, Jeng. I like it…” Meregangkan tangan dengan menatap pemandangan alam yang hijau dikelilingi banyak awan. “Siang nanti aku mau pergi ke minimarket di bawah sana. Kita harus beli cream buat lukamu itu. Biar cepat sembuh,” ucap Bimo membuat Ajeng berhenti mengecek seprei. “Aku pikir juga harus beli pengaman buat jaga-jaga kalau haid kamu gak selesai-selesai sampai seminggu.” Ajeng sedikit bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan Bimo.


Pengaman buat jaga-jaga?? tanya Ajeng dalam benaknya.


“Maksudnya?”


“Kan aku bisa pakai pengaman buat main sama kamu meski masih haid,” jawab Bimo.


Senyuman tipis yang terkesan nakal itu membuat Ajeng bergedik merinding. Mau jadi apa miliknya itu kalau harus diterobos saat berdarah? Udara dingin semakin menggelitik tubuh Ajeng karena membayangkan kalau Bimo sampai melakukan hal itu.


“Gak ah! Gak mau aku… kayak disumbat macam bendungan kalau gitu. Kamu ni… Nakal!” Mulai mencubit lengan Bimo. Ajeng mengingatkan jangan sampai rencana Bimo itu terlaksana.


“Hehee… Iya iya… Akan ku tunggu kamu sampai selesai haid.”


Keduanya berlanjut menikmati suasana pagi itu dengan merebahkan tubuh sambil melihat hasil rekaman kemunculan sunrise dari kamera Bimo.


“Bim, tadi kamu ngobrol apa sama cewek-cewek di sana?”


Bimo masih saja tidak percaya Ajeng akan membahas hal itu. Itu membuatnya gemas dan meng gi git pelan dagu Ajeng.


“Masih mau dibahas lagi?” tanya Bimo sambil merapatkan tubuhnya ke samping Ajeng. “Aku sama mereka cuma ngobrol soal Dieng. Kita share info tentang lokasi tempat wisata sekitar sini. Dan… mereka juga tanya soal kamu. Aku bilang kamu itu girl friend aku… pacar aku… Jadi tadi waktu kamu tiba-tiba cium aku depan mereka sama sedikit bentak-bentak mereka, aku agak syok,” jelas Bimo yang kemudian mencubit hidung Ajeng.


“Ah… Oh…” Ajeng menjadi malu karena sudah berprasangka buruk.


“Lain kali jangan jealous-jealous lagi. Okay…?” Ajeng hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan Bimo.


Taka lama kemudian, handphone Bimo bergetar. Ternyata ada panggilan masuk dari mamanya. Lebih tepatnya panggilan video call.


Drrtt…Drrtt…Drrtt…


“Aku pergi keluar dulu ya, Bim. Biar kamu bisa ngobrol sama mama kamu,” ucap Ajeng dengan menggeser pantatnya ke arah pintu belakang. Tapi tangan Bimo mencekal lengannya.


“Kenapa kamu harus pergi? Sini balik duduk sini. Mama pasti mau tanya soal kamu. Kemarin kan aku kirim foto kamu waktu kita di Queen of The South Resort Gunung Kidul. Pasti dia tanya soal itu.”


“Tapi kan gak sopan banget, Bim. Ntar mama kamu lihat aku sama kamu di atas bed. Nanti dia mikirnya pasti yang aneh-aneh…” jelas Ajeng dengan muka kikuknya.


“Gak apa, Ajeng. Lagian memang kita udah aneh-aneh tadi pagi. Gak usah pergi keluar. Sini balik rebahan sini…” pinta Bimo. Tangan kekarnya mulai merebahkan Ajeng kembali di sampingnya.


Wajah Ajeng terlihat semakin tegang saat Bimo mulai menggeser layar handphone untuk menerima panggilan. Meskipun Ajeng mencuri kesempatan untuk menggeser pantat, tapi Bimo mengetahui aksinya itu.


Kaki panjang Bimo itu segera menindih kaki Ajeng agar tidak jauh-jauh darinya.


“Kenapa harus takut menghadapi mamaku? Buat menghadapi 3 cewek tadi aja kamu berani. Masak sama 1 wanita aja sekarang kamu gak berani?” ejek Bimo.


Tangan Bimo mulai mengarahkan layar kamera handphone untuk menangkap wajah Ajeng.


“Hai… Ajeng ya…? How are you darling?” Sapa mama Bimo. Ekspresi wajah wanita itu sangat ramah bisa dilihat Ajeng.


Tiba-tiba mulut Ajeng semakin kikuk saat ingin menyapa wanita yang ada di layar hadphone itu. Kepalanya terasa susah diajak bekerjasama saat mengingat nama wanita itu.


“Siapa nama mamamu?” bisik Ajeng ke telinga Bimo.


Bimo seolah juga baru ingat kalau dirinya belum memberitahukan nama mamanya itu ke Ajeng.


“Clara…”


Wanita paruh baya yang sedang menyaksikan kemesraan anaknya dengan Ajeng di layar handphone itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


“Kabar baik, darling. Lagi apa kalian di sana? Udah breakfast pagi ini?”


“Sudah tante. Saya masak omlet, mashed potato terus rebus sayur broccoli, wortel sama asparagus. Tadi Bimo juga makan itu,” jawab Ajeng mengingat apa yang dia masak.


“Wooww… Healthy food ya…”


Cup! Bimo mulai mengkecupp kepala Ajeng. Dia merasa mamanya menyukai Ajeng. Ajeng yang mendapat perlakuan itu kembali gemas. Tangannya mencubit paha Bimo sambil memasang senyum lebarnya. Sedikit menjauhkan wajah dari kamera, Ajeng mengeplak paha Bimo.


“Nakal…” ucap Ajeng pelan.


Meskipun sedikit terasa panas pada pahanya, Bimo tetap tidak mau berjauhan dari Ajeng. Dia menelusupkan tangannya ke dalam baju Ajeng dan meremas pelan pinggang Ajeng.


“Iya, ma… Semalam Ajeng juga masak buat aku. Next time mama harus coba masakan Ajeng,” sela Bimo.


“For sure (Tentu saja). Kalau trip sama kerjaan kamu udah beres, ajak Ajeng main ke rumah ya, Bim. Eh, by the way… Tante boleh minta alamat rumah kamu di Solo, darling? Biar tante bisa berkunjung dan lebih kenal sama keluargamu. Nanti kamu kirim ke whatsapp tante ya…”


“E… Tante Clara mau ke rumah saya? Tapi kan saya gak ada di rumah, tan.”


Ajeng menjadi gugup karena permintaan mama pacarnya itu. Selama dirinya berhubungan dengan Gery dulu, Ajeng belum pernah mempertemukan orang tuanya dengan orang tua Gery. Sedangkan hubungannya dengan Bimo saat ini baru saja dimulai pagi ini, tapi mama dari pacarnya sekarang sudah ingin menemui keluarganya.


“Gak pa pa, Jeng… Kan tante mau ketemu keluarga kamu yang lain…” jelas bu Clara. “Biar tante bisa akrab sama keluargamu. Lagian gak ada salahnya juga kan bersilaturahmi…” bujuk bu Clara semakin membuat Ajeng tidak bisa untuk menolak.


“Iya tante… Em... nanti saya kirim ke tante.”


“Nah… gitu dong… Biar tante juga ada kerjaan bisa jalan-jalan ke rumah calon besan. Hihiii… Ya kan, Bim? Udah pasti kan pilihanmu kali ini?” goda bu Clara. “Kamu udah cerita juga kan ke Ajeng? Takutnya nanti kayak kasusnya Jesslyn lagi, milih pergi ninggalin kamu.”


‘Maksudnya…?’ Kepala Ajeng dipenuhi pertanyaan itu. Ajeng tidak mengerti arah pembicaraan bu Clara.


“Khasus Jesslyn…? Apa itu, Bim?” tanya Ajeng dengan nada pelan.


Bimo menjadi canggung karena dia belum menceritakan rahasianya kepada Ajeng.


“Ma, Em… Aku tutup dulu telponnya. Nanti kita sambung lagi ya, ma,” balas Bimo.


Setelah panggilan itu terputus, Ajeng menjadi curiga. Terkesan ada sesuatu yang belum dia ketahui. Apalagi melihat wajah Bimo saat ini semakin menambah rasa curiganya.


“Ada apa, Bim?” tanya Ajeng. Dia juga takut kalau dirinya sampai salah bicara dan menyinggung Bimo. Wajah laki-laki di sampingnya itu nampak tegang dan serius. “Apa itu maksudnya khasus... Jesslyn?” Ajeng semakin gusar tidak sabar mendengar jawaban dari Bimo.


Sebetulnya Bimo masih belum siap untuk bercerita ke Ajeng. Mengingat cerita dari Ajeng tentang ibu dari pacarnya itu yang menunggu kehadiran cucu dari kakak Ajeng, membuat Bimo takut.


“Ajeng… Em…”


“Yeah?... Ada apa, Bim?” tanya Ajeng. Dia berusaha sabar menunggu jawaban dari Bimo.


“Em… Ajeng… Kamu masih ingat kan, kalau kemarin kamu cerita tentang kakak mu yang sempat susah dapat keturunan?”


Ajeng mengangguk, tentu saja dia masih ingat.


“Yeah. Kakak aku, mbak Desi memang sempat menunggu lama untuk dapat keturunan. Dia coba banyak cara dan akhirnya sekarang dia bisa hamil… Ada masalah apa, Bim sebenarnya?” tanya Ajeng. Ajeng masih belum bisa meraba arah pembicaraan Bimo.


“Mm… Ajeng, kalau seandainya kita nanti dihadapkan masalah seperti kakak mu dan suaminya… Maksud aku dalam artian susah mendapat keturunan, apa kamu mau terus bersama ku, Jeng?”


Ajeng mulai menggigit bibirnya, dia masih belum paham apa yang diucapkan Bimo itu.


“Aku—tentu saja aku akan terus bersama mu, Bim. Ibu aku memang dari dulu mengharapkan cucu dari kakak ku. Tapi kan di dalam keluarga aku ada masalah genetik juga susah mendapat keturunan... Tapi bukan berarti kita mandul. Kita cuma butuh waktu yang lebih lama untuk mendapat keturunan. Memang kamu juga punya masalah yang sama ya seperti keluarga aku?”


Bimo mulai menghela nafasnya karena dia tahu kalau Ajeng belum paham arah pembicaraannya. Ini membuat Bimo semakin takut kalau dia menceritakan masalahnya, Ajeng akan pergi meninggalkannya seperti mantan kekasihnya dulu, Jesslyn.


“Ajeng…" Bimo menarik nafas dalam-dalam. "Aku pernah divonis mandul. Tapi saat ini aku hanya memiliki masalah fertility (kesuburan) saja, Jeng. Sampai saat ini aku juga menjalani terapi untuk hal itu,” ucap Bimo. Dia menggenggam tangan Ajeng erat erat agar perempuan itu tidak menjauhinya.


Kepala Ajeng sedikit terhuyung mendengar pengakuan dari Bimo.


“Gak pa pa kan, Jeng? Kamu masih mau kan dengan ku?”


 


*****


Bersambung…


*****