My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Masa Lalu & Masa Depan



Ajeng yang melihat Bimo menghentikan aktivitas makan, ikut terdiam memandangi Bimo. Laki-laki itu tampak memikirkan sesuatu yang serius.


 


“Bim… Kenapa? Masakan ku gak enak ya?” tanya Ajeng.


 


“Ew, No. This is very tasty. Super enak…” ucap Bimo. Tangannya kembali menggerakkan garfu untuk mengambil udang.


 


“Terus kenapa makannya berhenti?... Mikirin apa sih? Kerjaan ya?” tanya Ajeng lagi. “Kalau lagi makan itu jangan mikirin kerjaan, Bim... Kasih otak kita buat istirahat sejenak. Biar gak capek. Makan dulu cepet gih…” bujuk Ajeng menepuk pelan paha Bimo.


 


Keduanya kembali berlanjut mengunyah makanan. Tapi pikiran Bimo masih was was kalau Desi sampai bercerita soal genetik di keluarganya.


 


Sepertinya tidak mungkin kalau Desi sampai membahas soal itu kepada mama. Lagi pula hal seperti itu terlalu privacy untuk diumbar ke orang yang baru dikenal, pikir Bimo dalam hatinya.


 


Bimo tidak mau kalau masalah genetik Ajeng yang susah mendapat keturunan akan dipermasalahkan oleh mamanya.


 


Selesai makan siang itu, Bimo memilih mengajak Ajeng untuk berpindah lokasi. Tempat itu sudah cukup ramai. Akan sulit baginya untuk membidik sunset sore nanti bila banyak orang berlalulalang.


 


“Mau pindah ke mana kita, Bim?” tanya Ajeng yang sudah siap duduk di samping kursi kemudi.


 


“Mau cari lokasi yang tidak terlalu ramai,” jawab Bimo. Bimo segera menyalakan mesin minibus dan mulai mencari spot terbaik.


 


Selagi Bimo menyetir, Ajeng memilih untuk mengecek handphonenya. Ternyata ada pesan masuk dari mbak Desi. Ajeng hanya bisa senyam-senyum karena membaca isi pesan yang membuat hatinya semakin dimabuk cinta.


 


📲Mbak Desi


Gila betul kamu ya Jeng…!! Wkwkwk


Enak ya sekarang kerja sambil pacaran


Belum juga kamu cerita kalau udah punya cowok baru.


Ini mamak si cowokmu itu udah maen ke rumah. Bawa banyak oleh-oleh.


Kayak ngasih seserahan wkwkwk


Buruan disah kan. Ibuk kayaknya juga udah klik sama bu Clara.


 


Membaca kata ‘disah kan’… pikiran Ajeng melayang membayangkan dirinya dinikahi Bimo. Rasanya sudah tidak sabar menunggu hari itu.


 


Akhirnya setelah mondar-mandir di sekitar area Gunung Prau. Bimo mulai memarkirkan minibus di lokasi yang tidak banyak wisatawan. Hari itu mereka cukup beruntung karena cuaca cukup bagus.


 


“Bim, aku ke toilet dulu ya. Nanti aku nyusul,” ucap Ajeng ketika Bimo bersiap untuk keluar dari minibus dengan membawa kamera.


 


Selesai keluar dari toilet, Ajeng merasa handphonenya bergetar lagi. Ternyata ada pesan masuk lagi dari mbak Desi.


 


📲Mbak Desi


Wah wah wah…


Lucky betul kamu Jeng. Emaknya si cowokmu bilang anaknya cuma pernah macarin 1 cewek aja. itu pun putusnya karena ditinggalin. Udah bisa ku pastikan kalau cowokmu sekarang tipe yang setia. Ga kayak si Gery. Congratz ya adik ku sayang... Positif jadi nikah nih bentar lagi


 


Bibir Ajeng tersenyum lebar membaca isi pesan itu. Harapannya untuk menikah dengan Bimo sepertinya akan terwujud. Tapi Ajeng juga sedikit berfikir, laki-laki setampan dan sebaik Bimo kenapa sampai ditinggalkan oleh seorang perempuan? Rasa ingin tahunya itu membuat Ajeng ingin bertanya kepada Bimo.


Ajeng melangkah ke luar dari minibus untuk menghampiri Bimo. Pacarnya itu terlihat asyik mengotak-atik kamera dan membidik sunset. Karena takut untuk mengganggu, Ajeng memilih untuk menyibukan dirinya dengan ikut mengambil foto sunset saat ini.


 



“Udah selesai motretnya?” tanya Ajeng ketika Bimo berjalan menghampirinya. Bukannya menjawab, Bimo justru mendaratkan bibirnya untuk mencium Ajeng. M e l * u m a t halus dan mendorong tengkuk Ajeng. Tapi karena Ajeng tidak siap, badannya sedikit kehilangan keseimbangan sampai terpentok badan minibus di belakangnya. “Kamu ni kalau nyium gak bilang-bilang. Untung belakangnya ada minibus. Coba kalau jurang… Tamat kita berdua.”


 


“Hahahaa!” Bimo tertawa mendengar ucapan Ajeng. Dia kembali meng ke cupi bibir Ajeng. Me nye sap dan me re mas – re mas pantat Ajeng. “Malam nanti biar aku yang masak. Kamu bisa istirahat,” ucap Bimo.


 


Ajeng semakin semakin bertanya-tanya. Lelaki yang penuh perhatian seperti Bimo bisa dikhianati oleh seorang perempuan.


 


Keduanya mulai masuk ke dalam minibus karena hari sudah mulai gelap. Malam ini Bimo benar-benar memanjakan Ajeng. Dia membuat sesuatu untuk dinner mereka malam ini.




 


“Hmm…… Apa nih Bim?” tanya Ajeng setelah selesai dari mandinya.


 


Dapur mininya itu terlihat berantakan, tapi ada hidangan makanan yang sudah tersaji di atas meja makan. Bau makanan yang harum itu membuat Ajeng sungkan untuk mengkomplain tentang dapurnya yang sudah berantakan.


 


“Ini cuma crispy potato sama beef. Kamu udah selesai mandi?” Bimo mencium kening Ajeng. Dia meminta Ajeng agar duduk di depan meja makan. “Kalau tidak keberatan, tunggu aku untuk mandi sebentar. Badanku sudah bau uap masakan,” pinta Bimo.


 


“He’em. Kamu mandi aja. Biar mini kitchennya aku yang bersihkan. Habis itu kita bisa dinner bersama,” jawab Ajeng.


 


“Ok. Just 5 minutes. I’ll be back soon…” ucap Bimo segera masuk ke dalam kamar mandi. (Cuma 5 menit. Aku akan kembali secepatnya)


 


Ajeng duduk terdiam di depan meja makan setelah dirinya selesai membereskan mini dapurnya. Baru kali ini dia dimasakkan oleh seorang laki-laki.


 


Ceklek…


 


“Let us have our dinner (Mari kita makan malam)…” ucap Bimo. Tangan kanannya mengusap pipi Ajeng sebelum memegang garfu.


“Hum… Seasoningnya (Bumbunya) pas. Kamu masukin bumbu apa aja, Bim?” tanya Ajeng heran. Baru satu gigitan daging, lidahnya bisa merasakan kalau masakan itu sangat enak. “Meski kamu gak bisa pecahin telur, tapi aku salut kamu bisa masak makanan ini. Hihiii…” celetuk Ajeng lagi.


 


“Kalau kamu suka, next time aku buat lagi buat kamu,” sambung Bimo.


Mereka menghabiskan makanan tanpa tersisa sedikit pun. Setelah itu keduanya membereskan peralatan makan bersama.


 


“Huft… Akhirnya kita bisa duduk di bed lagi,” ucap Bimo setelah meluruskan kakinya di tempat tidur.


 


Keduanya berlanjut menonton movie sambil duduk santai. Di saat santai seperti ini, Ajeng kembali teringat dengan rasa penasarannya untuk bertanya sesuatu kepada Bimo.


 


“Bim… Em… Kalau boleh tahu, kamu dulu sama ex (mantan) kamu putusnya kenapa?” Ajeng mendongak menatap mata Bimo. Bola mata Bimo bergerak ke samping, seolah mencoba mengingat sesuatu.


 


“Mm… Karena waktu itu aku divonis mengidap infertility (mandul),” jawabnya Bimo.


 


Ajeng menunggu beberapa detik untuk mendengar penjelasan Bimo yang lain. Tapi sepertinya tidak ada kalimat lain yang akan diucapkan oleh bibir Bimo. Ajeng masih terdiam beberapa menit. Tapi Bimo masih belum melanjutkan ucapannya.


 


“Em… Cuma karena masalah itu aja dia ninggalin kamu?” tanya Ajeng. Dirinya masih belum puas mendengar penjelasan Bimo karena hanya satu masalah saja.


 


“Yeah… Waktu itu ex aku, Jesslyn benar-benar ingin memiliki baby. Selama 15 tahun terakhir, dia hidup sendiri. Dia hanya anak tunggal dan kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Itu mengapa dia merasa kesepian. Dia ingin di dalam hidupnya tidak kesepian. Jadi dia berfikir untuk segera memiliki baby. Tapi 4 tahun selama kami bersama, dia merasa aku tidak bisa memberikan…anak. Dari situ kita mulai melakukan check up ke dokter. Dan barulah aku tahu kalau aku memiliki masalah infertility,” jelas Bimo. “Setelah itu dia memutuskan untuk… mengakhiri hubungan kami.”


 


Ajeng terdiam beberapa saat. Dia merasa kalau perempuan itu begitu tega kepada Bimo.


 


“Tapi kenapa dia begitu cepat ninggalin kamu? Setidaknya kan bisa nungguin kamu selesai terapi. Atau mungkin mencoba dengan program bayi tabung?” tanya Ajeng. Dia masih belum mengerti. Hubungan cinta yang terjalin 4 tahun kandas hanya dengan satu masalah.


 


“Mm… Sebetulnya Jesslyn itu adalah anak angkat dari orang tua yang mengalami kecelakaan itu. Jesslyn pernah tahu kalau kedua orang tua angkatnya juga pernah mencoba program bayi tabung. Tapi selalu gagal. Terakhir kali percobaan, baby mereka berhasil lahir. Tapi tidak lama kemudian baby mereka meninggal karena berat badannya sangat kecil,” jelas Bimo lebih detail. “Itu mengapa ex aku takut untuk mencoba program itu.”


 


Barulah Ajeng terdiam setelah mendengar penjelasan itu. Dia baru mengerti betapa frustasinya orang-orang yang mengalami kesusahan mendapat keturunan. Belum lagi Ajeng masih ingat saat mbak Desi bercerita kalau kakaknya itu sampai dicibir tetangga-tetangga di rumah karena dikatai mandul. Ini membuat Ajeng menghela nafas dalam-dalam bila dia membayangkan berada di posisi kakaknya saat itu.


 


“Apa kabar dengan ex kamu?” tanya Bimo ketika Ajeng sudah tidak bertanya lagi.


 


Kali ini wajah Ajeng mulai tertekuk. Dahinya mengkerut setelah mendengar pertanyaan dari Bimo.


 


“Ish… Kenapa sih harus nanya orang gila itu?” balas Ajeng dengan pertanyaan. Dia tidak suka untuk membahas kisahnya bersama Gery. Kalau perlu Ajeng ingin menganggap kalau dirinya tidak pernah memiliki hubungan dengan Gerry.


 


“Hahahaaa… Hm… Tadi kamu tanya soal ex aku, aku gak ada masalah. Even I don’t like to answer it (Meskipun aku gak suka buat menjawabnya). Tapi kenapa saat aku mau tahu tentang laki-laki itu, kamu gak mau jawab?” tanya Bimo dengan nada sedikit menggoda.


 


Ajeng tetap diam dengan bibir manyunnya. Dia tidak suka bila harus mengingat tentang Gery.


 


“Mulai sekarang, aku mau kita gak usah bahas masa lalu. Aku ga mau waktu kita tersita hanya untuk memikirkan hal-hal yang sudah lewat. We should look forward for our relation (Kita harus melihat ke depan untuk hubungan kita),” ucap Bimo.


 


Kali ini Ajeng kembali tersenyum. Dia sangat senang sampai membuatnya secara spontan mencium pipi Bimo.


 


“Jangan menggodaku kalau kamu masih haid,” tegur Bimo. Ajeng kembali mendaratkan bibirnya meng ke cup hidung mancung Bimo. “Aku bilang jangan menggodaku,” Bimo masih diam sambil mentap perempuan yang ada di sampingnya itu. Tapi karena Ajeng merasa senang, melihat ekspresi wajah Bimo yang lucu menahan godaannya, dia kembali mencium dagu Bimo.


 


HAP!


“Aaaaaa…… Hahahaaa……” Ajeng tertawa saat Bimo membantingnya sampai terlentang. Bimo menggelitik tubuh pacaranya itu sampai dia kewalahan minta ampun. Ajeng berguling ke sana ke mari tapi Bimo terus mengikutinya. Minibusnya pun sampai berbunyi cit cit cit karena keduanya asyik bercanda. “Aa… Hahaa… Udah, Bim… Ini kalau aku ketawa terus bisa makin deras keluar darahnya. Hahaa… Udah stop. Iya ampun…ampun… Kamu pemenangnya,” ucap Ajeng dengan terengah-engah. Antara menahan rasa ingin buang air kecil dan darah kotor yang luruh membuatnya berjongkok di atas bed karena takut kalau sampai bocor. “Haduuhh… Aku ke toilet bentar.”


 


PLAK!


“Au?” Ajeng memekik saat Bimo mengeplak pantatnya.


 


BUGH!


Tidak terima dikeplak pantatnya, Ajeng melempar bantal ke dada Bimo.


 


“Jangan sentuh sentuh pantat ku, Bim. Udah banyak ni tampungannya,” gerutu Ajeng. Dia cepat-cepat berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


 


Begitulah hari-hari Bimo dan Ajeng. Mereka berlanjut mengelilingi daerah wisata Dieng sampai beberapa hari ke dapan. Mulai dari Telaga Warna, Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Savana Pangonan.


 


“Hm… Udah 5 hari kita berkeliling di kawasan Dieng… Apa haid kamu udah selesai?” tanya Bimo ketika mereka sedang berjalan di tengah savana. “Aku mau ajak kamu ke pantai di dekat sini. Kita bisa bermain air sebelum next trip kita ke Bandung,” ucap Bimo.


 


“Okey… Haid ku udah selesai kok tadi pagi.”


 


*****


Akhirnya tamu bulanan sudah lewat…


Bersambung…


*****