
Bibir Ajeng tiba-tiba terasa kelu. Seakan susah untuk memberi jawaban dari pertanyaan dari Bimo itu. Dia tidak tahu harus memberi jawaban apa.
Selama 5 tahun lebih pernikahan mbak Desi, kakaknya itu hampir mengalami depresi karena tekanan dari mertua untuk segera memiliki momongan. Padahal kondisi kesuburan mbak Desi dan mas Idam cukup bagus, tapi karena faktor genetik dari keluarganya, mbak Desi dan suaminya itu harus menunggu sampai 5 tahun baru bisa mendapat hasilnya. Lalu bagaimana dengan permasalahan Bimo? Laki-laki itu pernah divonis mandul. Ajeng tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi ibunya bila mengetahui hal itu.
“Ajeng…” Bimo meraih pinggang Ajeng. Perasaannya mulai tidak nyaman karena Ajeng belum menjawab pertanyaannya. Dia mulai menghela nafas cukup dalam saat bibir Ajeng ingin mengatakan sesuatu.
“Em— Sudah berapa lama kamu melakukan terapi?”
“Kurang lebih sudah 3 tahunan aku melakukan terapi,” jawab Bimo.
Ajeng cukup terkejut mendengar jawaban itu. Ternyata bukan hitungan minggu atau bulan, tapi tahun. Ajeng semakin kuatir kalau terapi yang dijalani Bimo tidak akan berhasil. Tapi sepintas dalam benak Ajeng teringat kalau dalam keluarganya memiliki masalah genetik juga untuk mendapat keturunan.
Kalau mas Idam saja bisa bersabar dan berusaha terus sampai 5 tahun lamanya… Kenapa aku tidak? Apa salahnya bila aku memberi kesempatan untuk Bimo? Lagi pula Bimo juga masih menjalani terapi dengan dokter… gumam Ajeng dalam hatinya.
“Terus… apa kata dokter bila kamu menjalani terapi terus? Apa masih ada harapan untuk mengatasi masalah fertility itu?”
Wajah Ajeng cukup serius membahas hal yang mengejutkannya saat ini.
“Kata dokter… Masih ada harapan untuk memperoleh keturunan. Dokter juga bilang hasil terapi ku mengalami kemajuan,” jawab Bimo. Kakinya mulai melingkar ke belakang pan tat Ajeng. Dia benar-benar takut bila harus kehilangan orang yang dia cintai lagi. “Dokter bilang, aku harus mencobanya dengan pasanganku. Seperti yang kamu ceritakan tentang kakakmu dan suaminya,” jelas Bimo.
Ajeng kembali mengingat setiap curahan hati mbak Desi ketika membahas soal usaha untuk mendapat keturunan. Dirinya saat itu tidak begitu merasakan apa yang dirasakan mbak Desi di saat ditekan mertuanya untuk segera hamil. Belum lagi ibunya sendiri selalu memberi ramuan-ramuan penyubur kandungan agar perut kakaknya itu segera berisi dengan janin. Ajeng cukup takut kalau masalah mbak Desi akan terulang kepada dirinya. Tapi melihat keseriusan wajah Bimo yang saat ini terlihat takut bila dirinya mundur dari hubungan itu membuat Ajeng juga tidak tega. Bimo terlihat serius ingin menjalin hubungan dengannya. Apalagi mamanya Bimo juga ingin mengenal keluarganya lebih dekat. Rasanya akan sangat egois bila dia tidak memberi kesempatan untuk Bimo. Selain itu Ajeng juga sadar kalau dirinya juga memiliki masalah genetik dalam hal mendapat keturunan.
“Ajeng… mau kan kita berusaha bersama seperti kakakmu dan suaminya itu?” tanya Bimo. Dia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Ajeng.
Setelah berfikir secara bijak, akhirnya Ajeng membalas genggaman tangan Bimo. Ajeng mulai tersenyum menatap wajah laki-laki yang sudah meluluhkan hatinya itu.
“Keluargaku juga memiliki masalah genetik soal itu. Aku masih percaya dengan miracle. Aku yakin ada keajaiban untuk kita berdua. Kita pasti bisa.” Bimo mulai lega, sangat lega setelah mendengar ucapan Ajeng.
Keduanya mulai membalas senyuman. Saling mengeratkan tangan untuk menguatkan satu sama lain.
“Kita akan berusaha bersama-sama,” sambung Bimo.
Setelah sekian lama memendam rasa sakit karena penolakan dari kekasihnya dulu, akhirnya Bimo bisa bernafas dengan lega. Dia menemukan sosok perempaun yang dia cari selama ini. Bimo berjanji dalam dirinya akan lebih semangat untuk terus menjalankan terapinya itu demi Ajeng. Dia yakin keajaiban itu ada. Seperti dirinya yang selama ini mengalamai krisis kepercayaan diri ketika harus membahas soal anak.
“Aku yakin akan membuatmu hamil suatu hari nanti,” ucap Bimo.
Wajah Ajeng memerah mendengar ucapan laki-laki itu. Tanpa harus diucapkan pun, Ajeng yakin Bimo akan berusaha semaksimal mungkin untuk hal itu.
Bimo meraih tubuh Ajeng ke dalam pelukannya. Dia sangat senang pagi inj. Bibirnya menghujani leher Ajeng dengan kecupan membuat tubuh Ajeng menggeliyat dan meremas punggungnya.
“Aw… Au… Udah, Bimmm… Hihiii… Sana mandi dulu. Kita bisa lanjutin lagi nanti. Aku udah mandi hlo… Sana mandi,” pinta Ajeng. Karena rasa gemasnya, Ajeng menarik-narik pipi Bimo.
“Humm… very cold. Nanti aja aku mandinya,” ucap Bimo sambil merangkup wajah Ajeng.
“Gak boleh gitu, Bim. Kita harus jaga kebersihan. Lagian tadi pagi kita juga gulung-gulung di semak-semak sana. Terus kamu tadi juga bantu cewek-cewek buat berdiriin tenda. Udah ada bakteri menempel tuh…” membujuk dengan terus memandangi wajah tampan laki-laki di depannya. “Lagian ada air panasnya juga kok… Gak akan dingin,” jelas Ajeng. Dia mulai berani mendaratkan kecu pan ke bibir Bimo.
Kebahagian Bimo terasa lengkap karena memiliki Ajeng. Perempuan itu mau menerima kekurangan dirinya. Selain itu Ajeng juga perhatian dengannya.
“Ci um aku lagi, setelah itu aku akan mandi,” pinta Bimo menggoda Ajeng.
“No…” mendorong muka Bimo agar menjauh darinya. “Habis mandi baru aku kasih cium.”
Ajeng segera beranjak melompat dari minibusnya untuk menjauhi Bimo. Bimo pun ikut mengejar Ajeng. Keduanya seolah memamerkan kemasraan mereka di sekitar orang-orang yang berada di dekat minubusnya.
“Ok, I’m going to shower (aku akan mandi). Tapi habis itu kamu harus tepati janji,” ucap Bimo berkacak pinggang karena Ajeng berlari sedikit menjauhinya.
“Hmm… Iya. Sana mandi,” mengibaskan tangan agar Bimo segera masuk ke kamar mandi di minibus.
Mata Ajeng mengamati punggung laki-laki itu. Bahu lebar dengan kaki jenjang. Sempurna.
“Sayang sekali kamu harus mengidap masalah kesuburan. Huft… Semoga kita bisa sama-sama berjuang, Bim,” bisik Ajeng pelan. Kakinya melangkah mengikuti Bimo untuk masuk ke dalam minibus.
Ajeng memilih untuk menutup pintu belakang dan merapikan tempat tidur mereka.
“Bim, tendanya aku lepas ya? Kan kamu gak akan pakai tenda lagi...” tanya Ajeng sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Iya, Jeng. Kalau kamu gak bisa, biar nanti aku yang beresin,” sahut Bimo.
Ajeng memilih untuk membereskan tenda. Bagian membereskan tidaklah sesulit bila dibandingkan dengan mendirikan tenda. Tidak butuh waktu yang lama, kini tenda itu sudah terlipat rapi dan dimasukan Ajeng ke laci depan belakang kemudi.
CUP!
“Kenapa cuma seperti itu?” Bimo merasa tidak puas karena hanya mendapat kecu pan biasa.
“Nanti lagi, Bim. Kamu ni ah! Dilihatin tuh kita sama banyak mata di sana,” ucap Ajeng berlanjut mengeplak pan tat Bimo.
Pagi itu mereka memilih untuk pergi ke minimarket terdekat dengan menaiki minibus. Kali ini Bimo lah yang mengemudikan minibus itu. Sedangkan Ajeng duduk di samping kursi kemudi.
“Ternyata enak ya punya guide pribadi…” celetuk Ajeng mengoda Bimo.
Laki-laki itu tersenyum tipis dan mengusap usap kepala Ajeng. Tak lama di saat Bimo mengikuti google map untuk menuju minimarket, dia teringat dengan permintaan mamanya.
“Ajeng, apa kamu sudah send alamat kamu ke mamaku?” tanya Bimo. Dia mulai meraih handphonenya untuk membuka whatsapp.
“Oia… Aku sampai lupa. Habis aku juga belum ada contact nomor mama kamu,” jawab Ajeng yang kemudian meraih handphonenya.
“Kamu bisa ketik alamat kamu di handphone aku. I will send it,” pinta Bimo sambil menyodorkan handphonenya.
Ajeng mulai mengetik alamatnya dan memberikan ke Bimo. Tidak lupa juga Bimo menambahkan beberapa kalimat untuk dikirim ke mamanya.
📲Mama Clara
Ma, kalau mama datang ke rumah Ajeng, please jangan bahas tentang problem aku soal fertility.
Begitulah isi pesan yang dikirim ke mamanya. Bimo masih harus memastikan agar dirinya bisa diterima oleh keluarganya Ajeng.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan minimarket. Ajeng banyak memasukan belanjaan ke dalam keranjang belanjanya. Hampir semua yang Ajeng masukan adalah bahan makanan. Ada sayuran, buah, ikan, daging, bumbu masakan, beberapa makanan kaleng dan camilan.
“Masih ada yang mau kamu beli?” tanya Bimo. Dia sudah cukup lama berdiri di depan kasir karena cream obat yang dia cari sudah dia dapatkan.
“Ini aja. Kita harus jaga asupan makanan kita…” jawab Ajeng.
Keduanya kembali ke lokasi camping untuk menunggu sunset pada sore nanti setelah selesai berbelanja. Semakin siang lokasi tempat camping itu semakin ramai karena banyaknya pengunjung.
Siang itu di saat Bimo sibuk dengan laptopnya duduk di luar minubus, Ajeng memilih untuk mencari tahu resep masakan. Dia juga mulai memikirkan asupan gizi untuk membantu kesuburannya.
Wah kebetulan banget kalau asparagus bisa meningkatkan kesuburan. Aku kan masih punya banyak. Hm… Bisa di masak nih buat lunch nanti, gumam Ajeng sambil berlanjut mencari resep makanan yang ingin dia masak.
Mulai hari ini Ajeng memutuskan untuk hidup sehat. Dia benar-benar ingin menjaga asupan yang akan dia makan. Termasuk menyediakan makanan sehat untuk Bimo juga. Karena itu adalah salah satu cara yang dia ingat saat mbak Desi berbagi cerita tentang perjuangannya mendapat momongan.
Bimo yang tengah serius mengotak-atik program pada software buatannya, menjadi tidak fokus ketika dia mencium bau masakan dari dalam minibus.
“Bim… Ayok kita makan siang sama-sama. Aku udah masak buat kita…” ucap Ajeng.
Ajeng mengeluarkan masakan yang sudah dia buat ke tempat Bimo duduk. Ada salad avocado dengan ayam dan telur rebus yang diberi dressing thousand island, garlic butter shrimp dengan asparagus dan juga tidak ketinggalan, Ajeng juga memasak hash brown potato dengan telur.
Kondisi Luar Minibus
Salad
Garlic Butter Shrimps with Asparagus
Hash Brown Egg Potato
“Wow… Looks delicious,” puji Bimo.
Pandangannya lebih tertarik dengan masakan Ajeng dan memilih menghentikan aktivitas kerjanya. Mereka menikmati siang itu dengan makan bersama di luar minibus.
Drrtt… Drrtt… Drrt…
Di saat keduanya tengah asyik makan, handphone Bimo bergetar. Ada pesan masuk dari mamanya.
📲Mama Clara
Bim, mama udah sampai di rumah Ajeng. Mama ngobrol sama kakaknya Ajeng. Desi namanya… Ternyata dia lagi hamil. Mama jadi pingin kamu sama Ajeng bisa cepat-cepat punya baby 😊
Setelah membaca pesan itu Bimo menjadi sulit menelan makanannya. Dia menjadi kuatir kalau Desi akan bercerita tentang masalah genetik dalam keluarganya. Padahal Bimo tahu kalau mamanya itu juga orang tua normal yang mengharapkan cucu darinya. Secara dirinya adalah anak tunggal. Tapi bagaimana bila mamanya sampai tahu kalau di keluarga Ajeng memiliki masalah genetik dalam hal mendapat keturunan? Secara mamanya Bimo itu sudah sangat yakin kalau anaknya itu sebentar lagi akan sembuh.
*****
Bersambung…
*****