My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Perempuan Gak Berguna



Banyaknya mata yang saat ini melihat Bimo, membuatnya tidak bisa menghindar untuk menolong Jesslyn. Apalagi yang menabrak sudah pergi. Hal itu mengharuskan Bimo bergerak cepat untuk menolong Jesslyn.


 


Tanpa berpikir panjang lagi, Bimo segera melarikan Jesslyn ke rumah sakit terdekat. Dia meminta para petugas medis untuk memberikan penanganan terbaiknya.


 


“Tolong berikan perawatan yang terbaik untuknya, dok,” ucap Bimo ketika Jesslyn dibawa masuk ke UGD.


 


Dirinya tidak punya pilihan juga harus menunggui Jesslyn di depan ruangan itu.


 


Daripada aku nunggu kayak gini, apa lebih baik aku pergi ke rumah Ajeng? Mungkin saja saat ini emosi ibunya Ajeng sudah reda, jadi bisa diajak ngomong, batin Bimo dengan memandangi jam tangannya.


 


Niat hati ingin pergi dari rumah sakit, tapi tiba-tiba saja dokter yang menangani Jesslyn, keluar dari ruang UGD. Dia meminta izin kepada Bimo sebagai penanggung jawab agar bisa melakukan CT Scan pada kepala Jesslyn.


 


“Lakukan yang terbaik, dok. Apa dia sudah sadar?” tanya Bimo.


 


“Belum. Kami kuatir bila dia tidak segera sadarkan diri akan berpengaruh kepada kondisi bayinya,” jawab dokter membuat Bimo bingung harus berbuat apa.


 


Bimo pikir Jesslyn hanya berpura-pura pingsan. Tidak tahunya akibat tabrakan di jalan raya itu memberikan dampak yang buruk untuk kondisi kesehatan Jesslyn.


 


Akhirnya Bimo memutuskan untuk menelpon mamanya. Dia berfikir untuk menceritakan kejadian itu kepada mamanya. Karena Bimo tahu kalau mamanya jauh lebih berpengalaman dalam hal ini.


 


“Jadi begitu, ma kejadiannya,” ucap Bimo di sambungan telpon.


 


“Haduh...... Ngapain juga sih dia pakai ngejar-ngejar kamu di jalan raya? Kalau udah seperti ini kita juga yang repot,” ucap bu Clara gemas. “Ya udah, kalau gitu mama ke sana aja. Kamu share lokasi rumah sakitnya, Bim,” ucap bu Clara.


 


Bimo sedikit merasa lega karena mamanya akan membantunya dalam urusan Jesslyn lagi.


 


“Kalau mama ke sini, mending aku ke rumah Ajeng aja. Lagian rumahnya gak jauh dari sini. Siapa tahu kalau aku bujuk bu Heni secara pribadi, dia akan ngasih restu,” gumam Bimo.


 


Akhirnya Bimo memilih untuk pergi ke rumah Ajeng daripada harus berdiam diri menunggui Jesslyn di rumah sakit. Bimo berharap niat baiknya akan diterima oleh bu Heni.


_______


Saat ini bu Clara segera bersiap untuk pergi ke Solo lagi. Meski jarak Jogja ke Solo cukup jauh, tapi demi Bimo, dia harus menolong anaknya itu. Yang ada di pikiran bu Clara hanyalah satu... Jangan sampai urusan itu berbuntut panjang sampai ke kantor polisi.


 


“Sudah pergi rupanya Ajeng,” ucap bu Clara ketika melintas keluar dari pintu gerang rumahnya.


 


Petang hari itu rasanya perut bu Clara kelaparan. Dia memutuskan untuk berhenti di salah satu minimarket yang ada di dekat rumahnya untuk membeli roti dan air minum.


 


“Aku beli buat Bimo sekalian aja, ah,” ucap bu Clara sambil memasukan roti dan jajanan yang lain ke keranjang belanjaannya.


 


Tidak tahunya di saat bu Clara akan membayar belanjaannya di kasir, dia melihat Ajeng di sedang mengantre juga untuk membayar. Entah kenapa bu Clara tidak suka dengan belanjaan yang ada di tangan Ajeng.


 


“Tante... Silahkan tant, kalau mau duluan,” ucap Ajeng. Dia melangkahkan kakinya mundur ke belakang bu Clara.


 


“Buat siapa itu pem balutnya?” tanya bu Clara dengan menoleh sebentar ke Ajeng.


 


Rasanya kesal sekali mendapat pertanyaan itu dari bu Clara. Ajeng pun mendadak membenci dirinya sendiri kenapa dia harus mengalami datang bulan lagi. Padahal usahanya dan Bimo selama bisnis trip sudah sangat maksimal, tidak mengenal pagi, siang atau malam mereka selalu berusaha.


 


 


Karena tidak mau berlarut dalam kekesalannya, Ajeng mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Apalagi di dengar dari nada suara bu Clara, sepertinya wanita paruh baya itu sedang dalam suasana hati yang cukup tenang.


 


“Tante... apa Bimo ada di rumah?” tanya Ajeng dengam senyuman tipis.


 


“KAN SAYA SUDAH Bilang... gak usah mengharapkam Bimo lagi! Gak tahu bahasa Indonesia ya kamu...? Saya mau jodohin Bimo dengan perempuan lain. Perempuan yang jauh lebih baik dari kamu! Ngerti!” bentak bu Clara. Semua mata di minimarket itu tertuju kepada Ajeng dan bu Clara. “Gak usah lagi kamu nongkrongin depan pintu gerbang rumah saya. Sampai kapan pun saya gak akan kasih izin kamu buat ketemu Bimo! Kalau sampai nanti saya lihat kamu di depan pintu gerbang lagi, saya akan jual rumah saya itu!”


 


Bentakan itu tentu saja membuat Ajeng kaget dan malu. Dia tidak punya nyali lagi untuk mengajak bu Clara berbicara.


 


Setelah bu Clara selesai melakukan pembayaran dengan kasir, Ajeng segera memberikan lembaran uang yang nominalnya lebih dari harga pem balutnya. Tanpa meminta uang kembalian, Ajeng segera keluar dari minimarket itu.


 


Barulah saat ini di dalam mobil yang hanya ada dirinya sendiri, dia bisa meluapkan kekesalannya. Ajeng bukannya marah dengan bu Clara. Tapi dia marah dengan dirinya sendiri.


 


“Dasar kamu perempuan gak berguna Ajeng! Cuma masalah hamil aja kamu gak bisa!” ucap Ajeng memarahi dirinya sendiri. Pikirannya takut kalau dia lah yang sebenarnya faktor utama karena ada masalah genetik susah mendapat keturunan dari keluarganya. “Kenapa sih Tuhan.... Kenapa aku gak hamil aja? Kenapa aku harus mennsstu rasi lagi?” ucap Ajeng dengan memeluk stir mobilnya. Beberapa kali dia menjedotkan dahinya ke stir mobir. “Kamu emang perempuan yang gak berguna Ajeng...” gerutu Ajeng.


 


Meski dirinya benci melihat pem balut yang dia beli. Tapi saat ini dia membutuhkan benda itu. Ajeng pun meraih benda itu dan segera memakainya dengan air mata yang keluar si sudut matanya.


________


 


Sedangkan saat ini Bimo yang sudah sampai di depan gerbang rumah Ajeng, dia melihat pintu gerbang itu tidak ditutup. Tapi di halaman kecil rumah itu ada mobil yang terparkir.


 


Klik


Mesin mobil milik Bimo itu kini sudah dimatikannya. Dia segera turun dari mobil untuk masuk ke rumah Ajeng.


 


Rupanya di dalam rumah itu ada Gery. Bimo memang belum pernah tahu wajah Gery. Tapi dari apa yang di dengarnya, ibunya Ajeng tengah memanggil laki-laki yang duduk berhadapan dengannya itu dengan nama Gery.


 


“Bu... Permisi,” sapa Bimo ketika dia berdiri di depan pintu masuk rumah.


 


Di ruang tamu itu ada bu Heni, mbak Desi dan Gery. Mereka semua kaget melihat kedatangam Bimo.


 


“Bimo...” sapa mbak Desi.


 


“Ow... jadi kamu yang namanya Bimo...? Yang pernah ngaku calon suami Ajeng waktu di telpon itu?  Sayang sekali gak jadi... Hah!” ucap Gery dengan memandang rendah Bimo.


 


“Oh, jadi kamu mantan Ajeng yang selingkuh dengan Eva?” Bimo juga tidak mau kalah diejek oleh Gery.  


 


Mbak Desi mulai meremas rambut kepalanya. Dia merasa akan terjadi keributan lagi di rumah itu.


 


*****


Bersambung...


Saya kalau bagian gondok gondokan gini emang ga bisa bikin panjang😁


Bikin ikut esmosih


*****