My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Sudah Isi Belum Ya? (21+ )



Fasilitas Hotel yang ditempati oleh Bimo dan Ajeng sangat memanjakan mereka. Selama Bimo sibuk dengan urusan pekerjaan, Ajeng bisa bersantai dengan berkeliling di area hotel. Ada banyak hal baru yang sebelumnya Ajeng belum pernah lihat.


 


“Hallo, Bimo. Habis selesai mandi turun ke Morrocan Restaurant ya di lantai 4. Aku lagi nungguin orderan food aku,” ucap Ajeng.


 


“Hm, Alright baby. Ten to fifteen  minutes i'm coming,” ucap Bimo.


 


Selesai menelpon Bimo, Ajeng kembali menikmati minuman yang dia pesan. Aroma teh itu sangat harum masuk ke hidung Ajeng. Rasanya pun ada perbedaan dengan teh yang biasa dia minum ketika lidahnya menye sap minuman itu.


 


Setelah beberapa menit, akhirnya Bimo datang menghampiri Ajeng. Dia mencium kedua pipi Ajeng sebelum duduk di kursi.


 


“Sudah berapa lama duduk disini?” tanya Bimo setelah mendaratkan pan tatnya di kursi.


 


“Udah 20 menit. Gimana urusan kerjaan?” tanya Ajeng dengan menuangkan minuman untuk Bimo.


 


“Semua lancar. All is good. Lima kali meeting dalam lima hari ini dengan setiap property gak ada masalah. Aku juga udah booking flight ticket untuk kita balik ke Indo,” jawab Bimo sambil memandangi Ajeng yang menuangkan minuman. “Minuman apa ini, baby?” tanya Bimo. Bau teh itu membuat pikirannya rileks setelah seharian meeting.


 



 


“Ini morrocan mint green tea. Kata waiternya cara nuang minumannya harus kayak gini... Harus ditung dari jarak jauh supaya gulanya ikut bercampur dan aroma tehnya makin terasa,” jawab Ajeng.


 



(Contoh menuang morrocan tea. Anggap saja yang menuang Ajeng^^)


 


Ajeng segera meletakkan jug yang dia tuang setelah selesai menuang.


 


“Jangan sentuh pan tat jug nya, Bim! Kalau mau pegang harus dari gagang handlenya. Soalnya ini panas banget. Nanti jarimu gak bisa jahilin aku lagi kalau sampai melepuh......” ucap Ajeng sambil sedikit menggoda Bimo.


Bimo terkekeh mendengar ucapan Ajeng. Niat hati ingin mencoba menuang teh, tapi tidak jadi. Dia memilih untuk mencicip teh yang sudah dituang oleh Ajeng.


 


“Gimana tehnya? Enak kan?” tanya Ajeng.


 


“Hm... Nice. Mint, teh, sama sugarnya terasa pas di lidah,” jawab Bimo. Dia kembali menye sap minuman itu.


 


“Iya, soalnya tadi si waiter bilang bikin teh ini pakai di rebus segala daun mint, teh sama gulanya,” sambung Ajeng.


 


Tak lama setelah itu ada seorang waiter yang datang membawa pesanan Ajeng.



 



 


“This is your order miss. Morrocan Tajine with Camel and this one with chicken. Enjoy your meal...” ucap waiter itu yang kemudian beranjak pergi. (Ini pesanan anda nona. Morrocan Tajine dengan daging unta dan yang ini dengan ayam)


 


Harum makanan itu sangat sedap dan menyengat menggugah selera makan setelah penutup makan dibuka.


 


“Besar banget porsinya... Astaga... Aku pikir gak sebesar ini,” ucap Ajeng.


 


“It's fine, Lagi pula tadi siang aku cuma makan dikit. So... don't worry. We can finish it,” timpal Bimo menanggapi ucapan Ajeng.


 


Makanan khas dari Morroco ini biasanya dimakan menggunakan bread (roti). Cara makannya pun menggunakan tangan. Tapi karena porsi makanan yang dipesan Ajeng begitu besar, Ajeng memilih tidak memakan menggunakan roti.


 


Malam ini Bimo nampak lahap memakan apa yang dipesan Ajeng. Begitu juga dengan Ajeng. Meskipun ini adalah pertama kalinya bagi Ajeng memakan tajine, lidahnya cukup menerima cita rasa dari makanan khas Morroco itu.


 


“Karena besok kita akan balik ke Indonesia, aku mau beli oleh-oleh buat mama sama keluarga kamu,” ucap Bimo disela menyantap tajine.


 


“Mau beli dimana kita, Bim? Ke mall?”


 


“No. Ada market besar yang ada di ujung jalan sana. Di sekitar Corniche ada souq waqif. Itu adalah pasar traditional yang menjual kerajinan tangan. Ada juga restaurant dan stand penjual makanan,” jawab Bimo.


 


Didengar dari penjelasan Bimo, sepertinya tempat itu cukup unik dalam bayangan pikiran Ajeng. Dirinya segera menghabiskan apa yang ada di mejanya untuk lekas menuju Souq Waqif.


 


Jarak Sheraton Grand Doha dengan Souq Waqif di Corniche sebetulnya tidaklah jauh. Tapi bila ditempuh dengan berjalan kaki, tentu saja akan menghabiskan banyak waktu dan energi. Jadi mereka memilih untuk menggunakan taxi untuk menuju tempat itu.


 


Di tempat ini ada banyak turis yang berkunjung. Ada juga para pekerja dari berbagai negara yang bersantai menghabiskan waktu mereka untuk bersantai.




 



“Mau coba turkish coffee? Dulu waktu aku visit ke sini, aku nemu tempat yang bagus untuk menikmati turkish coffee,” ucap Bimo. Dia mulai meraih tangan Ajeng dan menarik tangan itu.


 


“Pahit gak tuh?” tanya Ajeng. Kakinya mengikuti langkah kaki Bimo yang berjalan di depannya.


 


“Original Coffee pasti pahit. Tapi kamu bisa tambahkan sugar biar manis seperti mu,” jawab Bimo.


 


Banyaknya pengunjung di Souq waqif membuat Bimo harus menggeng gam tangan Ajeng selalu. Di beberapa titik tempat, banyak pengunjung sampai berdesak – desakan. Tentu saja Bimo tidak mau ada orang yang mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Ajeng atau berbuat hal – hal negatif lainnya.


 


 



 



(Note: Anggap saja langitnya udah gelap^^)


Bimo segera memesan turkish coffee dan beberapa camilan setelah seorang pelayan datang ke mejanya.


 


“Mama tadi kirim pesan katanya dia udah sampai Jogja. Jadi besoknya kita bisa pergi ke Solo sama mama buat nemuin family kamu,” ucap Bimo di saat menunggu pesanan mereka.


 


“Tadi mas Idam, suaminya mbak Desi juga kirim pesan katanya minibus aku yang dikirim pak Galang dari Batam udah sampai di Solo,” sambung Ajeng.


 


“Hm... bagus. By the way, kita nanti beli oleh-oleh apa ya buat ibu kamu? Kayanya souvenir jawelries satu set lebih simple. Kita bisa beli di toko gold depan sana,” ucap Bimo santai.


 


Mata Ajeng berkedip – kedip mencerna kalimat yang keluar dari bibir Bimo. Pikirannya baru sadar mengingat toko emas yang sempat dia lewati.


 


“Apa Bim...? Satu set jawelries? Pasti mahal dong...” celetuk Ajeng tersadar.


 


“It's  okay, baby. Ini kan untuk ibu kamu... Calon ibu mertuaku,” timpal Bimo dengan mengusap tangan Ajeng Ajeng.


 


Merekapun kini bisa menikmati turkish coffee setelah pesanan mereka diantar. Coffee yang dibuat dengan cara direbus itu baunya sangat lembut.


 



 


“Aku yakin malam ini kita gak akan tidur cepat. Sudah jam 7malam tapi kita justru minum coffee,” ucap Bimo setelah meminum coffeenya.


 


Setelah berhari – hari mengunjungi kota ke kota dengan minibus, dan kini berada di salah satu negara Arab, akhirnya trip bisnis yang dilakukan Bimo sudah selesai. Dia dan Ajeng bisa benar – benar bersantai dengan duduk bersampingan  dan menikmati turkish coffee.


 


“Love you, baby...” ucap Bimo dengan memandangi wajah Ajeng di sampingnya. Tangannya direntangkan di belakang punggung sofa agar bisa membe lai rambut Ajeng.


 


“Bim... Jangan aneh – aneh ya... Ada banyak pengunjung hlo...” ucap Ajeng. Tangan Bimo dengan lihai menelusup masuk mengusap perutnya.


 


“Aku cuma mau cek perut kamu. Aku harap di dalam ini sudah ada little Bimo...” sambung Bimo dengan senyum tipis di bibirnya. “Sudah isi belum ya? Aku gak sabar pingin kamu cepat hamil. Apa kita pergi ke dokter dulu sebelum nemuin mama, kamu?” tanya Bimo.


 


“Em... Boleh juga,” jawab Ajeng. Entah kenapa perasaannya terasa berat memikirkan dirinya hamil atau tidak. “Tapi, Bim... Aku takut. Gimana kalau aku belum hamil juga?” Ajeng mengutarakan kecemasannya.


 


Bimo pun mulai menghela nafas panjangnya.


 


“Kita akan coba terus sampai perut kamu berisi baby. Kalau gitu ayo cepat kamu habiskan coffee mu. Kita akan beli oleh – oleh dan setelah itu go back to Hotel,” sambung Bimo. Salah satu matanya berkedip dengan senyuman tipis memberi kode kepada Ajeng tentang apa yang akan dilakukannya setelah sampai hotel.


 


“Kamu aja yang habisin coffeenya, Bim. Aku kan jaga – jaga juga kalau perut aku udah isi baby. Kata mbak Desi, ibu hamil gak boleh mengkonsumsi banyak kafein,” sambung Ajeng.


 


Bimo sangat senang mendengar penjelasan Ajeng. Itu tandanya Ajeng benar- benar menjaga asupan yang masuk kedalam tubuhnya. Meskipun perut itu belum diketahui ada janin yang berkembang atau belum.


 


Mereka berlanjut pergi ke toko emas dan beberapa toko souvenir lainnya setelah pergi dari Turkish Cafe. Bimo dan Ajeng membeli beberapa souvenir di tempat itu. Barulah setelah itu mereka kembali ke hotel setelah mendapat banyak belanjaan.


______


 


“Finally... kita sampai room lagi,” ucap Bimo. Dia meletakkan tas – tas belanjaan di atas meja. Dirinya mulai duduk dan mele pas bajunya. “Baby...” sapa Bimo dengan meraih tangan Ajeng yang masih berdiri di dekatnya. “I need now...” (Aku butuh sekarang)


 


Rasa lelah setelah berkeliling area Souq Waqif membuat Ajeng pasrah di saat Bimo melepas satu per satu bajunya. Bimo membopong tubuhnya menuju bed untuk melakukan misi utama.


 


“Aw?! Bim!” Ajeng memekik karena kekasihnya itu melakukan tanpa pemanasan.


 


“Sorry, baby. Aku sudah tidak sabar,” sambung Bimo. Dirinya berlanjut menghentak sambil berdiri di dekat bed. Tanganya mencengkaram lengan Ajeng kuat kuat untuk menumpu agar pinggulnya bisa bergoyang semaksimal mungkin.


 


“Aghhh.... Aghh.... Agghhh....” Ajeng terengah engah saat Bimo semakin mendorong tubuhnya ke tengah bed. Benda lonjong itu semakin keras menghujam... ditarik... dan dihujamkan dengan gerakan cepat.


 


Setelah bermenit-menit lamanya, Ajeng merasakan miliknya terasa ngilu. Area buah ke nyal juga terasa pegal karena sudah kena re masan banyak kali.


 


“Bim... Agh... Udah Bim... Agh... Akuh takut kalau ada baby yang udah tumbuh di perutku,” jelas Ajeng sedikit terputus putus karena hentakan begitu cepat dan kuat.


 


“Arghh... Arggghhh...” Bimo mende sah penuh lega setelah berhasil menyeburkan cairannya. “Kamu capek?” tanya Bimo sambil mengusap pipi Ajeng.


 


“Enggak sih, Bim. Kamu masih mau lagi?” tanya Ajeng.


 


Bimo pun mengangguk mengiyakan  pertanyaan Ajeng. Tapi untuk permainan berikutnya, Bimo membopong Ajeng menju bath up di kamar mandi.


 


*****


Bersambung....


Akhirnya.... Bisnis trip selesai juga


*****