My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Menyusul Bimo



Tangis Ajeng di kamar semakin pecah ketika dia mendengar suara mobil telah pergi dari halaman rumahnya. Dia terus menggedor pintu kamarnya untuk minta dibukakan.


 


“Mas Idam bukain pintunya! Aku mau susul Bimo! BUKAAAAAAAAA!” Ajeng berteriak sekencang – kencangnya sampai suaranya itu membuat tetangga di sekitar rumah mondar-mandir di depan halaman rumahnya. Mereka cukup penasaran apa yang sebenarnya terjadi di rumah Bu Heni.


 


Ingin sekali Ajeng melompat dari jendela kamarnya. Tapi jendela itu ditutupi oleh teralis besi yang membuat Ajeng tidak bisa keluar. Masih mencari cara yang lain, Ajeng meraih handphonenya. Tapi tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka.


 


Ceklek!


 


“Mau apa kamu?” tanya bu Heni yang tiba-tiba masuk. Dia segera meraih handphone itu dari tangan Ajeng. “Gak usah kamu hubungi lagi laki-laki itu! Mamanya aja gak tahu diri! Masa mau nabrak rumah kita?! Dia pikir dia siapa?! Orang gila!” gerutu bu Heni. Emosinya masih ada di puncak ubun-ubun belum reda.


 


Bu Heni kembali mengunci kamar Ajeng lagi. Ajeng pun kembali meraung dan menangis. Sekarang dirinya benar-benar tidak bisa menghubungi Bimo. Tapi tiba-tiba saja dia teringat dengan laptopnya. Dia bisa menginstal whatsapp atau mengirim pesan lewat email ke Bimo.


 


“Siiiaaaalllll Siiiaaallllll Siiiaaallllllll!!” umpat Ajeng. Laptopnya itu tidak ada di kamar, melainkan berada di dalam minibus. Ingin menjerit minta tolong ke mbak Desi untuk mengambilkan laptop, tentu saja ibunya akan mendengar. “Jangan gegabah Ajeng... Kamu harus tenang... Gak boleh panik... Gak mungkin kamu akan dikurung terus di dalam kamar. Aku yakin nanti pasti mbak Desi akan nengokin aku. Aku harus tenang...” ucap Ajeng mengontrol emosinya. Tapi tangisnya masih sesenggukan karena sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk menghubungi Bimo.


 


_______


 


Saat ini Bimo yang tengah duduk di kursi penumpang hanya diam tidak mau berdebat dengan mamanya. Handphonenya yang tadi sempat berdering juga sudah berada di tangan mamanya. Bimo cukup paham mamanya sedang kesal. Bagaimanapun mamanya berbuat seperti itu karena membela dirinya. Orang tua mana bila mendengar anaknya direndahkan tidak marah? Sudah pasti tekanan darah akan naik dan meluap seperti bu Clara saat ini.


 


“Perempuan di dunia ini banyak. Gak cuma Ajeng doang! Kamu bisa dapatkan jauh yang lebih baik dari anak wanita gak waras tadi!” ucap bu Clara. Dirinya semakin memacu kecepatan mengemudinya agar segera sampai di rumah.


 


Sesampainya di rumah, bu Clara segera menuju ruang dapur. Tenggorokan dan pikirannya butuh penyejuk. Bimo pun mengikuti mamanya.


 


Gleguk... Gleguk... Gleguk...


 


“Hemmm...... Gak akan lagi mama mau berbesanan dengan wanita itu,” ucap bu Clara setelah meneguk minuman dingin. “Nih handphone kamu.” Bu Clara meletakkan handphone Bimo di meja makan. “Mama kasih balik. Tapi jangan pernah kamu hubungi Ajeng lagi,” ucap bu Clara dengan berkacak pinggang menatap Bimo.


 


Bimo memilih diam dan meraih handphone miliknya. Percuma juga menanggapi ucapan mamanya saat ini.


 


“Mama tahu di mana alamat apartment Jesslyn?” tanya Bimo.


 


“Mau apalagi berurusan dengan orang yang lebih gila itu?” tanya bu Clara. Dia mengela nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.


 


“Aku mau ambil alih apartment itu,” jawab Bimo.


 


Bu Clara mulai mengambil handphonenya dari tas. Kalau dipikir-pikir ada bagusnya juga bila anaknya melakukan hal itu. Secara ini semua adalah ulah Jesslyn. Andai Jesslyn tidak berbicara macam-macam dengan bu Heni. Sudah pasti lamaran siang ini akan berhasil.


 


“Tuh alamat si biang kerok udah mama kirim,” ucap bu Clara setelah mengirim alamat Jesslyn lewat pesan whatsapp.


 


Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, Bimo segera balik lagi ke Solo untuk menemui Jesslyn. Bimo tidak mau melibatkan mamanya dalam urusan Jesslyn lagi. Sudah cukup emosi mamanya itu meluap karena bu Heni. Dia tidak mau membebani mamanya dengan urusan Jesslyn yang mungkin saja akan mempengaruhi kesehatan mamanya karena banyaknya masalah.


_______


 


Saat ini kondisi rumah Ajeng masih kacau. Bu Heni masih tidak mau bicara setelah kejadian itu.


 


“Buk... Mau sampai kapan ibuk ngurung Ajeng di kamar? Dia juga butuh makan,” ucap mbak Desi kepada ibunya yang tengah merapikan dapur.


 


“Kamu antar tuh makanan itu ke Ajeng. Jangan lupa kasih minuman juga. Kasih satu botol besar buat Ajeng,” jawab bu Heni.


 


 


Ceklek....


 


“Mbak...” sapa Ajeng. Dia segera beranjak berdiri dari bed begitu melihat kakaknya.


 


“Ini aku bawain makanam sama minuman buat kamu,” ucap mbak Desi sambil meletakkan makanan itu di meja kamar Ajeng.


 


“Mbak.... Apa aku boleh minta bantuan?” tanya Ajeng dengan wajam memelas.


 


“Haduuh.... Embak bukannya gak suka kamu berhubungan dengam Bimo. Tapi kamu tahukan kalau aku bantuin kamu, pasti ibuk akan semakin marah. Lagian pintu depan juga dikunci sama ibuk,” sambung mbak Desi. Dia menduga pasti Ajeng akan meminta bantuannya untuk kabur dari kamar.


 


“Tapi pintu gerbang gak dikunci kan?” tanya Ajeng.


 


“Enggak sih. Emang kalau gak lewat pintu depan, kamu mau lewat mana?” tanya mbak Desi mengekrutkan dahinya.


 


Mata Ajeng mulai melirik ke arah jendela kamarnya yang berteralis itu.


 


“Lewat jendela, mbak. Mbak Desi tinggal ambilin obeng di gudang biar aku yang membuka teralis besinya,” jelas Ajeng.


 


“Tapi kan ini lantai dua, Jeng. Emang kamu mau lompat apa?”


 


“Ya kan embak bisa pasang tangga biar aku bisa turun. Ayolah mbak..... please.... Bantu aku ketemu Bimo. Aku gak mau kehilangan dia,” ucap Ajeng.


 


Melihat wajah yang memelas itu mbak Desi menjadi tidak tega. Apalagi dia melihat sendiri adegan tarik menarik saat memisahkan Ajeng dan Bimo.


 


“Ya udah, aku akan suruh mas Idam buat bantu kamu. Tapi malemnya kamu harus balik ya. Aku takut nanti ibuk akan ngecek kamu di kamar,” jawab mbak Desi.


 


Akhirnya siang itu juga, mbak Desi dan suaminya membantu Ajeng untuk kabur dari rumah. Bahkan mas Idam juga yang melepas teralis besi penghalang yang ada di jendela kamar Ajeng.


 


“Hati-hati kamu turunnya, Jeng,” ucap mas Idam ketika Ajeng bersiap untuk turun menggunakan tangga. “Kamu pakai mobilku aja di bengkel. Ini kuncinya. Tapi kamu harus balik malamnya ya. Aku sama embakmu akan pikirin cara supaya ibu gak masuk nengokin kamar mu,” ucap mas Idam yang kemudian memberikan kunci mobilnya.


 


“Makasih ya, mas Idam. Thanks banget. Aku gak akan pernah lupa bantuan kalian ini,” ucap Ajeng dengan mata berkaca-kaca.


 


“Ya udah sana cepat turun. Takutnya ibu keburu datang ke sini,” sambung mas Idam mengelus – elus bahu Ajeng.


 


Dengan hati-hati Ajeng segera menuruni tangga yang bagian bawahnya sudah dipegangi mbak Desi. Mbak Desi pun ikut memantau situasi rumah saat Ajeng akan pergi keluar dari pintu gerbang.


 


Karena jarak rumah dan bengkel mas Idam cukup jauh, Ajeng memilih memakai taxi. Dengan cepat Ajeng segera menghampiri mobil mas Idam untuk dikendari menuju rumah Bimo setelah taxi yang ditumpanginya sampai di bengkel. Dia juga memacu kecepatan mobil karena sudah tidak sabar untuk menyusul Bimo.


 


“Haduuuhhh... Kok aku lupa sih ambil laptop aku di minibus!? Huh!” gerutu Ajeng gemas. Karena sudah setengah jalan, dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah Bimo.


 


*****


Bersambung...


*****