My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Plag... Plag... Plag... (21+)



Aktivitas malam yang panas dan melelahkan sudah berlalu. Kini tinggal rasa remuk dan nyeri masih dirasakan Ajeng. Tubuhnya bahkan susah untuk digerakkan karena rasa sakit pada bagian pan tat. Rasanya cukup aneh. Terasa masih ada yang mengganjal.


 


“Baby, thank you,” ucap Bimo sambil menyibakan rambut Ajeng yang menutupi wajah. Tangannya mengusap usap pan tat Ajeng yang masih terasa tegang. “Are you okay?” berlanjut meng ke cupi pipi Ajeng.


 


“Masih sakit, Bim…” jawab Ajeng masih dengan posisi tengkurap. Dahinya masih mengkerut menahan rasa perih.


 


Bimo memandangi raut wajah Ajeng. Dia cukup sadar tindakannya melakukan lewat pan tat sudah menyakiti Ajeng. Apalagi Bimo tahu itu adalah pertama kalinya untuk Ajeng mendapat perlakuan seperti itu.


 


“Tapi sekali atau dua… tiga kali dalam sebulan boleh kan?” tanya Bimo dengan memandangi mata Ajeng yang terpejam.


 


“Enggak! Aku gak mau. Ngerasain sekali aja rasanya udah bikin badan hancur-hacuran. Gak mau lagi. Cukup tadi aja,” sambung Ajeng. Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. “Sakit banget tahu gak!” membuka mata dan mencebikan bibir sebagai tanda protes. Bimo hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Ajeng.


 


“Kalau aku gak minta sama kamu, aku minta sama siapa coba?” mengke cup kembali pipi Ajeng. Dia membantu Ajeng untuk duduk dan bersandar di dadanya. “I love you, baby…” me re mas – re mas buah da da yang menggantung. “Nanti kalau udah sering, kamu pasti akan terbiasa…” kembali menye sapp tengkuk Ajeng dan mera bai area bawah pu sarr.


 


“Mpphh… Bim…” Tubuhnya meringsut sambil mengeratkan pegangannya ke bahu Bimo.


 


 


Bimo mengu lumm bibir itu dengan terus menu suk – nu suk area intimm Ajeng. Mau melawan seperti apa rasanya Ajeng justru mendapat serangan semakin ganas dari Bimo. Area leher sudah digigit dan dise sap banyak bagian.


 


“Can we do one more time baby?” Bimo mengarahkan tubuh Ajeng agar duduk berhadapan dengannya. Dia meraih pan tat Ajeng untuk melakukan posisi duduk women on top. “Kamu capek?” tanya Bimo ketika miliknya sudah masuk menegang di dalam.


 


“Enggak terlalu sih, Bim. Tapi pan tat ku sakit.”


 


“Ini kan lagi masuk lewat depan, bukan belakang. Besok pasti sembuh. Don’t worry,” balas Bimo dengan memandangi mata Ajeng. Dia berlanjut menggoyang tubuh yang sudah lelah itu. Tenaganya malam ini sangat luar biasa untuk mengga gahi kekasihnya. Ajeng sampai lemas tidak berdaya menerima permainan Bimo sampai dini hari.


 


“Bim… Agh… Aku capek. Habis ini kita tidur ya…” memohon dengan wajah memelas.


 


Akhirnya Bimo harus menghentikan permainannya setelah banyak ronde mereka lakukan. Dia memeluk Ajeng masuk dalam dekapannya sampai mereka berdua tertidur pulas.


______


 


Suara kicauan burung di pagi hari mulai bersahutan. Deburan ombak pantai juga bisa terdengar dari dalam minibus. Suasana pagi di pantai Menganti sangat cantik saat ini.


 


 


“Huuaamm…” Bimo mulai membuka matanya setelah menguap. Dia melihat wajah Ajeng masih pulas tertidur di bawah ketiaknya. Wajah lelah itu terlihat cantik meski tanpa make up. CUP! Mengke cup pucuk kepala Ajeng dan menarik selimut agar Ajeng semakin pulas tidurnya.


 


“I hope next month you will get pregnant,” ucap Bimo dengan mengusap kepala Ajeng. (Aku harap bulan depan kamu akan hamil)


 


Pagi ini dia memilih untuk menggoreng kentang dan membuat hashed brown potato. Sebetulnya Bimo tidak begitu pandai membuat hashed brown potato. Tapi selama dia bersama Ajeng, kekasihnya itu suka sekali membuat hashed brown potato. Jadi Bimo berfikir itu adalah salah satu menu makanan kesukaan Ajeng. Dan untuk rasa terimakasih karena semalam dirinya sudah dilayani banyak kali di atas bed, Bimo berusaha untuk memasak makanan favorite Ajeng.


 


Suara percikan minyak di atas penggorengan cukup nyaring di dalam minibus. Tapi Ajeng masih tertidur pulas. Ajeng justru semakin menarik selimut meski Bimo sudah membuka jendela minibus.


 


Sebetulnya pagi ini Bimo ingin mengajak Ajeng untuk bermain air pantai setelah selesai memasak. Tapi karena melihat Ajeng tidurnya masih pulas, Bimo memilih untuk berendam di air laut sendirian. Dia membiarkan Ajeng beristirahat total pagi itu.


 


“Sleep more baby…” ucap Bimo yang kemudian mencium bibir Ajeng.


 


Suasana pantai Menganti di pagi ini cukup sepi. Hanya ada beberapa pengunjung dan nelayan yang menarik perahunya setelah melaut. Air pantai yang bersih dan lokasi sekitar pantai yang bersih membuat Bimo semakain nyaman berendam di pantai itu.


 


Setelah kurang lebih satu jam Bimo berendam, dari kejauhan dia melihat Ajeng mulai pintu minibus. Kekasihnya itu melambaikan tangan untuknya.


 


“Pakai swimming suit mu, Ajeng! Come here!” pinta Bimo dengan suara kerasnya.


 


“Yea! Coming Bim!” sahut Ajeng.


 


Ajeng segera mencari baju yang sekiranya cocok untuk berendam. Dia memilih memakai celana pendek dan tank top karena tidak memiliki swimming suit.


 


“Apa tuh?” Ajeng penasaran dengan 2 tupperware makanan yang berada di atas meja makan. “Wow… Hihiii…” tersenyum kecil karena melihat ada kentang goreng dan hashed brown potato di dalam kotak makanan. “Hm… Nyumi… Enak,” ucapnya setelah menggigit hashed brown potato yang dimasak Bimo. Tanpa sadar, Ajeng sudah menghabiskan 3 hashed brown potato.


 


Dia berlanjut keluar minibus dengan membawa kamera milik Bimo. Ajeng sudah cukup pintar saat ini dalam memotret karena Bimo mengajarinya selama mereka berada di Dieng.


 


CKREK…!



 


CKREK…!



 


“Hihiii… Ganteng…” Ucap Ajeng dengan memandangi hasil jepretannya. Dia mulai memotret pemandangan di sekitar tempat itu.


 


Dari tempat dia berdiri itu, Ajeng melihat Bimo melambaikan tangan agar dirinya datang untuk ikut berendam. Tapi karena masih merasa malas, Ajeng memilih untuk duduk di atas pasir dan mengecek hasil jepretannya.


 


“Ajeng…” sapa Bimo. Bimo menghampiri Ajeng karena sudah cukup lama dia menunggu di dalam air laut, tapi Ajeng tidak kunjung datang. “How are you?” (Apa kabar) Mengke cup kening Ajeng dan ikut duduk di depan Ajeng. “Masih sakit pan tat mu?” mengusap samping pan tat Ajeng.


 


“Udah baikan, Bim,” jawab Ajeng membuat Bimo lega. “Kamu yang masak ya makanan di atas meja?” tanya Ajeng.


 


“Iya. Sudah coba?”


 


“He’em. Udah. Enak. Aku suka,” jawab Ajeng.


 


“Ayo kita berendam. Habis itu breakfast dan kita bisa lanjut pergi ke Bandung,” ucap Bimo dengan meraih tangan Ajeng.


 


Mereka menghabiskan sekitar satu jam untuk berendam. Ajeng bisa merilekskan tubuhnya karena ombak laut tidak besar.


 


“Bim, yuk udah yuk! Udah mulai panas nih. Aku laper. Mau makan.”


 


Mereka segera berjalan menuju minibus. Keduanya secara tidak sengaja bersamaan masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya kebetulan terbuka.


 


“Hihiii… Ini kamar mandi gak akan nyaman kalau dipakai buat berdua. Kamu mandi dulu aja, Bim,” ucap Ajeng. Dia memilih untuk melangkah keluar dari kamar mandi dan membiarkan Bimo menggunakannya terlebih dahulu.


 


“Kita mandi sama – sama aja, Jeng. Biar selesainya samaan,” Bimo menarik tangan Ajeng agar masuk ke dalam kamar mandi lagi.


 


Akhirnya mereka berdua mandi bersama. Ada banyak pasir yang menempel di kulit mereka. Lantai kamar mandi penuh dengan pasir pantai yang berjatuhan dari celana dan baju yang mereka pakai.


 


“Ajeng…” sapa Bimo ketika Ajeng sudah hampir selesai. Ajeng menoleh melihat mata Bimo yang tertuju pada bagian bawah. Laki-laki itu sedang mengko cok miliknya agar menegang. Ajeng sudah cukup paham apa yang diinginkan Bimo. “I want now… (Aku mau sekarang)”


 


Bimo mulai mengarahkan miliknya untuk masuk ke sangkar kekasihnya. Dia menghentak hentak membuat Ajeng harus membungkuk merasakan ritme yang sampai memunculkan suara plag…plag…plag…


 


 


 


“Bim, jangan sampai salah masuk lubang hlo!” protes Ajeng ketika dia merasa hentakan semakin cepat. Dia cukup was was kalau Bimo akan mengerjainya. Pan tat nya masih terasa ngilu bila Bimo bermain dengan posisi dari belakang seperti ***** * *****.


 


“Hm… No worries,” ucap Bimo terus mendorong dan menarik pinggang Ajeng. Tak lama setelah beberapa menit melakukan olahraga panas, Bimo bisa merasakan cairan itu akan keluar. “Agghh… Agghh… Hah…” menge rang dan menghenttak di saat semua menyembur tumpah di dalam. “I love you…” memeluk Ajeng sebentar. Mereka mengatur nafasnya setelah mencapai pelepasan bersama. “Let’s go for breakfast,” ajak Bimo dengan meraih handuk baru yang berada di laci atas kamar mandi itu. Dia mengusap wajah dan tubuh Ajeng dengan handuk.


 


“Bim… Em… Hashed brown potatonya tinggal 2. Tadi aku makan banyak…” ucap Ajeng dengan senyumnya. “Aku bikin omlet sama goreng sosis ya buat breakfast? Sama rebus sayuran buat bikin salad. Paling cuma 15 menitan,” ucap Ajeng.


 


“Iya… kamu suka ya masakan aku? Aku pikir kamu gak akan suka…” sambung Bimo dengan mengaitkan handuk untuk menutupi tubuh Ajeng.


 


Akhirnya setelah sibuk dengan tempat penggorengan, Kini hidangan breakfast sudah tersedia di atas meja. Bimo cukup lahap menghabiskan makanannya. Dia bahkan meminta Ajeng untuk membuat omlet lagi.



 


“Yes please… Aku buat yang paling special buat kamu…” ucap Ajeng. Dia kembali duduk dengan menikamti teh panasnya sambil melihat Bimo memakan omlet.


 


“It’s delicious… Thank you, baby,” ucap Bimo. “Setelah ini kita akan pergi ke Bandung. Kalau semua lancar paling cuma sehari saja kita di sana. Habis itu kita akan bawa mobil ini buat nyebrang pakai kapal ferry ke Batam. Sebetulnya aku berencana buat lewat Sumatra biar kita bisa berkunjung ke Danau Toba. Tapi karena temanku Kasih nitip makanan jadi kita gak bisa ke sana. Gak mungkin aku bawa serabi dari Bandung terus singgah – singgah berhari-hari. Bisa basi serabinya. Maybe next time kita bisa kesana bersama,” jelas Bimo di sela mengunyah makanan. “Ingatkan aku ya buat beli serabi untuk Kasih sama Sekar.”


 


“Sekar? Kok ada nama cewek baru lagi? Bukannya nama teman mu cuma Kasih yang kamu sebut kemarin?” tanya Ajeng.


 


Bimo terpaksa menelan omletnya secara kasar. Dia lupa menceritakn soal Sekar, perempuan yang memiliki anak kembar yang hampir dia lamar. Tapi niatnya untuk memperistri Sekar justru gagal karena Sekar lebih memilih kembali ke laki-laki yang menjadi ayah kandung dari buah hatinya itu.


*****


Bersambung…


*****