My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Lobster Hidup (21+)



Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya kini pasangan suami istri Bimo dan Ajeng sudah sampai di Pulau Dewata, Bali.


 


“Kirim pesan ke siapa, baby?” tanya Bimo sedikit melirik ponsel Ajeng. Pandangannya juga terbagi mencari sopir mobil dari hotel yang akan ditempatinya.


 


“Ini, mas... aku kirim pesan ke Sasa. Ngasih tahu kalau kita udah sampai di Bali,” jawab Ajeng sambil fokus mengetik di layar ponsel. Tanpa memandang arah depan, kanan, dan kiri, Ajeng terus berjalan karena tangan Bimo ada dipinggangnya untuk mengarahkan.


 


Beberapa saat kemudian ketika mereka tengah berjalan ke arah pintu keluar pada bandara, ada seseorang yang datang menghampirinya.


 


“Good Evening! Are you Mr. Bimo and Madam Ajeng?” tanya orang itu sambil menunjukan papan nama yang dia bawa.


 


“Yeah. Saya Bimo dan ini istri saya, Ajeng,” jawab Bimo dengan sikap ramahnya. Sudah jelas orang di hadapannya itu adalah sopir dari pihak hotel yang akan di tempati, karena ada nama keduanya tertera di papan nama yang dibawanya. Termasuk foto Bimo dan Ajeng. Bimo dan Ajeng pun menyalami orang itu tanpa rasa canggung.


 


“Ow... bisa ngomong bahasa Indonesia rupanya... Om  Swastiastu... Welcome to Bali,” ucapnya dengan menyatukan kedua tangannya di depan da da. “Mari saya bantu bawa koper-kopernya.”


 


Banyak sekali info tentang Bali yang disampaikan oleh sopir itu. Bimo dan Ajeng pun asyik mendengarkan sambil membaca majalah yang disediakan di dalam mobil.


 


“Kita sudah hampir sampai di Alila Ubud Resort. Semoga Mr. Bimo sama madam betah stay dengan kami,” ucap sopir itu ketika mobil yang ditumpangi hampir memasuki gerbang resort.


 



 


Nuansa klasik dan harum kesegaran yang dibawa oleh pepohonan di sekitar begitu terasa menyambut pasangan suami istri itu. Proses check in yang cepat membuat Bimo dan Ajeng kini telah sampai di villa yang dipilihnya.


 



 


“Nice room... Beautiful,” puji Ajeng sambil memandangi setiap sudut ruangan.


 


Gerak-gerik Ajeng yang selalu menarik perhatian Bimo itu membuatnya memeluk Ajeng dari belakang. Hal yang paling membuatnya merasa tenang adalah mengecu pi setiap inci tengkuk dan leher jenjang istrinya itu. Perpaduan harum aroma vanila dan sandalwood yang hangat, semakin menenangkan hatinya bila merasa lelah.


 


“Kamu ga capek kan?” tanya Bimo sambil perlahan membalikan  badan Ajeng untuk dipeluk dari depan. Bibirnya terus menyusuri setiap inci kulit leher istrinya.


 


Bahasa tuubuh Bimo yang sudah bisa dibaca Ajeng itu membuat bulu kuduknya mulai berdiri. Ajeng memegang kedua lengan Bimo sambil membiarkan bibir suaminya berkelana.


 


“Mandi dulu yuk... Lagian udah sore juga. Iya Iya nya ditunda dulu,” ucap Ajeng sambil sesekali mende sah menikmati rang sangan yang diberikan suaminya.


 


Bimo pun seolah diberi ide oleh istrinya. Karena baginya, mau di bed atau pun di kamar mandi, dirinya bisa menikmati kehangat puncak nirwana bila bersama Ajeng.


 


“Let's go... Kita mulai dari kamar mandi,” ucap Bimo sambil mengayunkan tangan membopong istrinya.


 



 


Tempat berendampun tidak kalah romantis seperti has srat gai rah  Bimo yang tengah memuncak. Taburan bunga yang begitu penuh di bathup, membuat mulut Ajeng menganga. Hati wanita mana yang tidak senang selalu mendapat kejutan-kejutan kecil dari suaminya.


 


Mereka berduapun menikmati berendam air hangat dengan wangi-wangian taburan bunga di bathup.


 


“Mas Bimo...” sapa Ajeng ketika barsandar di da da suaminya. “Makasih ya udah mau ajak aku ke Bali. Villanya bagus,” ucap Ajeng sambil mengusap – usap kedua paahaa suaminya di dalam air.


 


“Everything for you, baby,” sambung Bimo sambil bermain di kedua buah kennyall milik Ajeng. “Bisa aku melakukannya sekarang?” tanya Bimo sambil mengarahkan tubuh Ajeng untuk dibalik ke hadapannya.


 


Ajeng yang sudah paham apa yang dimau suaminya itupun mulai membantu suaminya dengan mengarahkan miliknya. Tapi anehnya Ajeng merasakan gerak-gerik jari tangan Bimo justru menghalangi.


 


“Kenapa, mas?” tanya Ajeng bingung.


 


“Tunggu bentar, baby. Ada mahkota bunga yang nempel di anuuku,” ucap Bimo membuat Ajeng terkekeh kecil.


 


“Hihii.... Mau aku bantu? Mana yang nyangkut?” tanya Ajeng sambil menggigit bibir bawah menahan senyumnya. Tangannya meraba – raba pada batang milik suaminya.


 


“Sudah hilang,” jawab Bimo sembari tersenyum tipis. Tangannya mulai mendorong pinggull dan pan tat Ajeng untuk mendekat ke miliknya.


 


“Aghhh..... Mmpphhh....” de sah Ajeng setelah miliknya itu dimasuki si lonjong.


 


“Kamu yang di atas. Kamu yang mengarahkan seberapa dalam maunya kamu,” bisik Bimo mengusap punggung Ajeng.


 


Beberapa menit mereka saling diam merasakan gejolak yang tengah menyulut hawa panas. Bimo terdiam menikmati usaha Ajeng menhentak ke miliknya.


 


“Mas... em, licin bathup nya,” ucap Ajeng pelan setelah beberapa menit.


 


Bimo pun segera membopong tu  buh istrinya itu ke bed. Dirinya belum puas dengan ritme sedang yang dimainkan Ajeng.


 


Seperti biasa bila sudah berurusan dengan ran jang, Bimo lah yang akan menguasai permainan. Tu buh Ajeng yang tidak berbalut apapun itu kini sedang dinikkmati suaminya.


 


Dinding ruangan dan udara yang melintas tengah menjadi saksi perhelatan panas yang bekobar di atas ranjang Bimo dan Ajeng saat ini. Tubuh keduanya yang tadinya sudah bersih setelah berendam, kini terasa lengket karena cucuran keringat setelah banyaknya hentakan yang diluncurkan Bimo.


 


 


“Love you too, suamiku,” balas Ajeng membuat Bimo tersenyum. “Aku laper...” ucap Ajeng. Bimo menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.


 


“Let's go to Kedonganan, tempat favorite kamu. Kamu bisa makan seafood sepuasnya di tepi pantai sana,” ucap Bimo dengan senyum tipisnya.


 


“Tapi ini kan Ubud, mas. Lumayan jauh loh Kedonganan Jimbaran sama Ubud,” sambung Ajeng.


 


“Jangan kuatir. Ga pa pa. Yang penting kamu sama calon anak kita kesampaian makan seafood di sana. Takutnya nanti air liurnya netes – netes kalau ga kesampaian. Hehee,” canda Bimo membuat Ajeng tersenyum.


 


“Ngeces maksud kamu? Heheheee,” sambung Ajeng sambil membe lai rambut Bimo.


 


“Yeah... Biar daddynya aja yang ngeces ngeliatin mommynya kalau ga pakai baju, hihii...” goda Bimo semakin membuat pipi Ajeng menghangat.


 


“Ya udah yuk... Kita siap-siap pergi ke sana,” ucap Ajeng.


 


Keduanya pun segera berdandan dengan pakaian yang santai untuk menikmati makan malam di tepi pantai.


 


Masih dengan sopir yang sama, Bimo dan Ajeng diantar menuju ke Kedonganan Jimbaran untuk makan malam. Mereka tampak lebih segar setelah mandi dan termasuk melakukan aktivitas rutinnya.


 


Setelah sampai di tempat yang ditujuh, Bimo memilih mengajak Ajeng untuk duduk di meja dekat bibir pantai.


 



 


“Bau seafoodnya... Hmmm nyumi....!” ucap Ajeng. Selera makannya nampaknya akan menghabiskan banyak seafood.


 


Bimo sangat senang bisa melihat Ajeng lahap menyantap hidangan di meja makannya.


 


“Kamu mau lobster lagi?” tanya Bimo setelah beberapa saat.


 


“Iya.... kalau mau dipesanin lagi...” jawab Ajeng sedikit manja. Entah karena bawaan bayinya atau karena memang lapar, Ajeng sudah menghabiskan banyak lobster.


 


Begitu satu porsi grilled lobster datang, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Ajeng untuk menghabiskan makanan itu.


 


“Masih mau nambah lagi?” tanya Bimo sambil mengusap sudut bibir Ajeng dengan tissue.


 


“Mau... Tapi bukan lobster,” jawab Ajeng dengan senyum malu-malu.


 


“Emmm...? Kalau bukan lobster, apalagi yang mau kamu makan? Biar aku orderin,” tanya Bimo.


 


“Em.... aku mau lobster punya mu...” jawab Ajeng membuat Bimo mengrenyitkan kedua alisnya. “Aku ga tau kenapa... Rasanya aku butuh sekarang,” jelas Ajeng sambil meremas jari tangan suaminya.


 


Bimo yang biasanya harus membangkitkan gai rah Ajeng, kini harus bersiap menghadapi gai rah istrinya yang tengah bangkit duluan.


 


“Ayo kita balik ke Villa Ubud, biar kita nyaman kalau di kamar,” ajak Bimo yang kemudian bersiap berdiri dari tempat duduknya.


 


“Aku maunya sekarang, mas. Kelamaan kalau harus balik villa. Satu setengah jam perjalanan, belom lagi kalau macet,” sambung Ajeng sambil menyibak rambut panjangnya. Bimo tidak kuasa untuk menahan senyum di bibirnya. Hanya dengan kalimat seperti itu saja, miliknya kini juga sudah terbangun.


 


“Ya udah... Kita cari penginapan villa- villa kecil di sekitar sini. Kamu mau kan...?” tanya Bimo mengusap pipi Ajeng. Dirinya menenangkan ha srat istrinya yang sudah berada di ujung tanduk.


 


Akhirnya setelah beberapa menit berjalan di sekitar area itu, Bimo mengajak Ajeng untuk masuk ke salah satu penginapan. Kecil, namun cukup nyaman untuk menumpahkan ha srat yang sudah merayap di atas kepala.


 


Begitu sampai di dalam kamar, tanpa mengucap sepatah katapun, Ajeng langsung mendaratkan bibirnya untuk menye sap bibir Bimo. Entah mengapa tangannya begitu lihai membuka baju dan celana suaminya.


 


“I'm yours... Aku milikmu...” ucap Bimo setelah dirinya dibuat te lanjang.


 


Tangan Ajeng pun segera merangkup lobster hidup yang tengah menegang itu. Lidahnya menye lusuir dan menye sap menikmati si lonjong yang sudah menjadi hak miliknya.


 


“Arggghhhh.... Yeah..... I like it baby,” de sah Bimo sambil mengusap rambut kepala Ajeng.


 


Ajeng pun heran dengan dirinya yang tidak bisa mengendalikan gai rahnya. Tapi hal yang tidak direncanakan ini justru dinikmati Bimo. Bimo segera membalikkan posisi istrinya itu untuk dia kendalikan. 


 


“Aghhh.... mas.....” Ajeng mele nguh sedikit dalam setelah miliknya dihujam sang pemilik  sangkar.


 


“Kamu sudah basah hanya dengan menye sap milikku,” bisik Bimo pelan. “Bersiaplah, baby,” de sahnya dengan memandangi kedua bola mata Ajeng.


 


*****


Bersambung...


*****