
Ekspresi wajah Bimo yang mendengar pertanyaan Sasa, bisa dilihat Ajeng kalau Bimo akan memberi jawaban penolakan alias kata tidak ke Sasa.
“Sasa...” sapa Ajeng dengan ikut berjongkok di samping Bimo. “Sasa kalau mau bobok sama tante, boleh kok... Kapan pun Sasa mau, tante pasti ada buat nemenin Sasa bobok,” jelas Ajeng dengan senyumnya. Bibir Ajeng yang merekah kesenangan itu membuat Bimo tidak suka.
“Thank you mommy...!” balas Sasa. Dia meraih bahu Ajeng untuk dipeluk. Wajah Ajeng pun dihujani dengan ciu man oleh Sasa. “Mommy... mommy akan jadi mommy Sasa selamanya kan...? Kata grandma, kita bisa tinggal selamanya juga di rumah daddy di Jogja,” celetuk Sasa.
Sosok wanita paruh baya yang dulu pernah menyuruh Ajeng memanggil dengan sebutan mama, itu terlintas di benak Ajeng. Bu Clara memang sangat hangat orangnya sebelum terjadi pertengkaran pada hari lamaran. Namun setelah terjadi perselisihan itu, sikap hangat dari bu Clara menghilang. Bahkan bu Clara sendiri yang membentak Ajeng untuk tidak memanggilnya dengan sebutan mama.
“Sasa... Tapi grandma kamu...”
“Ajeng...” Sela Bimo. Bimo meraih salah satu tangan Ajeng dan Sasa untuk disatukan dengannya. “Kita bertiga akan selalu bersama. Mau tinggal di Jogja... disini, atau dimanapun, kita akan selalu bersama,” jelas Bimo. Matanya memandangi dalam – dalam mata Ajeng dan Sasa untuk meyakinkan kedua perempuan itu. “Dan... mulai saat ini, aku sama Sasa cuma mau dengar panggilan mommy... bukan tante Ana atau Ajeng lagi,” ucap Bimo menatap Ajeng.
Sasa semakin senang mendengar ucapan daddynya itu.
“Yeah... Ga ada tante Ana lagi, adanya mommy Ana...” sambung Sasa dengan senyuman bahagianya. Dia merangkul Ajeng dan Bimo untuk dipeluk bersamaan.
Ajeng mengusap lembut punggung Sasa sambil melirik Bimo yang juga menolehnya dari belakang kepala Sasa. Meski Ajeng sudah ditetapkan akan menjadi mommynya Sasa selamanya, tapi Ajeng masih belum yakin hal itu akan berjalan sesuai permintaan Bimo dan Sasa. Sosok bu Clara masih menghantui Ajeng. Apalagi Bimo belum juga menikahinya.
“Sasa...” sapa Bimo dengan merangkup wajah Sasa. “Sana buku-buku pelajaran Sasa yang ada di tas ditata di meja kamar Sasa. Habis itu kita akan pergi ke mall buat belanja bahan-bahan cooking class buat besok,” pinta Bimo.
Sasa segera menuju kamarnya untuk menata buku-buku pelajarannya. Tinggallah Ajeng yang berdiri di hadapan Bimo saat ini.
“Ada yang kamu pikirkan, mommy?” tanya Bimo. Wajah Ajeng yang terlihat bingung membuat Bimo bertanya – tanya.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku membiarkan Sasa memanggilku mommy karena aku gak mau membuatnya sedih,” jawab Ajeng. “Aku bukan siapa – siapa mu, Bim!”
Kalimat penjelasan itu sangat tidak disukai Bimo.
“Ajeng...” Bimo memegang kedua lengan Ajeng. Dia pandangi wajah cantik itu penuh kesabaran. “Kalau menikahimu semudah membalikkan telapak tangan, aku akan menikahimu saat ini juga. Tapi kamu tahu kan inti dari permasalahan kita?” Bimo mulai memeluk Ajeng. Dia membe lai rambut Ajeng dan meng hirup aroma rambut itu. “Bersabarlah sedikit lagi. Aku yakin perjuangan kita tidak akan sia – sia kali ini,” ucap Bimo yang kemudian mengusap perut Ajeng.
Adegan Bimo mengusap perut itu rupanya dilihat oleh Sasa. Pikiran anak kecil itu melayang – layang mengingat ucapan grandmanya kalau dirinya akan diberi adik bayi.
“Daddy... Di perut mommy ada adik kecil Sasa ya?” tanya Sasa.
Bimo sangat berharap hal itu bisa terjadi. Dia meraih tangan Sasa agar memegang perut Ajeng juga.
“Daddy sama mommy sangat berharap di perut mommy mu ini ada little baby. Tapi sayangnya saat ini little baby itu belum ada. Sasa mau kan punya adik bayi?” tanya Bimo sambil menggerakkan tangan Sasa di perut Ajeng. Sasa mengangguk – angguk dengan membagi pandangannya melihat Ajeng dan Bimo. “Kalau Sasa mau punya adik bayi, Sasa harus berdoa supaya perut mommy segera diisi dengan adik bayi
“Yeah! Sasa mau punya adik kecil. Kalau gitu Sasa akan berdoa tiap hari supaya perut mommy segera diisi dengan adik bayi,” timpal Sasa. Dia tidak hanya mengelus – elus perut Ajeng, tapi juga memeluk perut Ajeng.
Kalimat sederhana yang keluar dari bibir kecil Sasa itu membuat Ajeng terharu. 5 Tahun yang lalu dirinya dan Bimo berusaha secara maksimal agar ada janin yang bisa tumbuh. Tapi ternyata usaha mereka tidak membuahkan hasil. Bahkan di hari lamaran harus berantakan karena ulah Jesslyn. Tapi kini kehadiran anak Jesslyn justru memberi arti sendiri untuk Ajeng. Mungkinkah ini adalah definisi belajar menyayangi dan mencintai milik orang lain?
“Sasa...” Ajeng meraih tubuh Sasa ke dalam gendongannya. “Terimakasih ya udah mau doa'in mommy agar bisa kasih adik buat Sasa,” ucap Ajeng dengan senyumnya. “Love you my little princess...” ucap Ajeng dengan tulus.
Kalimat penuh cinta itu membuat Sasa semakin menyayangi Ajeng.
“Love you too mommy...” balas Sasa.
Melihat keakraban Ajeng dan Sasa membuat Bimo ikut merangkul dan mendekap kedua perempuan yang dia sayangi itu. Bimo mengke cup kepla Ajeng dan Sasa bergantian.
“Love you, baby...” bisik Bimo dengan menatap mata Ajeng.
Meski masih belum ada balasan dari kalimat yang dia ucapkan untuk Ajeng, Bimo tidak merasa kesal. Kalimat dari bibir Ajeng yang menyebut dirinya adalah ‘mommy’ untuk Sasa, sudah cukup sebagai bukti kalau Ajeng menerimanya kembali.
“Let's go kita pergi ke mall beli bahan untuk cooking class besok!” ajak Sasa.
Mereka bertiga siang itu pergi membeli banyak belanjaan. Bukan hanya bahan untuk cooking class saja. Tapi juga stok makanan untuk di apartment.
Tidak ketinggalan juga Bimo menyuruh Ajeng dan Sasa untuk membeli baju-baju agar bisa dipakai di apartment. Termasuk untuk dirinya juga.
“Mommy lagi cari baju apa?” tanya Sasa. Matanya melihat model-model baju di sekelilingnya.
“Mommy lagi cari baju buat tidur sama Sasa malam ini,” jawab Ajeng.
Ajeng dibuat terperanga dengan model baju yang dipilih Sasa. Anak kecil itu sangat perhatian dengan calon adiknya yang belum pasti ada di perut Ajeng. Tapi model baju yang dipilih Sasa itu sayangnya tidak sesuai dengan apa yang dicari Ajeng.
“Emm... bagus sih pilihan Sasa. Tapi mommy maunya model yang celana aja. Biar hangat,” jelas Ajeng.
“Jangan model celana mommy! Kasihan nanti adik Sasa keikat pakai tali kerut kolor dari celana...” timpal Sasa. Dia tetap bersikukeh dengan pendapatnya. “Kalau mommy mau biar hangat kan bisa pakai selimut juga... Ac nya juga bisa dimatikan...” jelas Sasa. “Atau mommy mau Sasa carikan dress tidur yang panjang?” tanya Sasa.
“Sasa... perut mommy gak akan kenapa napa kalau pakai celana,” timpal Ajeng.
“Enggak! Mommy gak boleh sakitin adik bayi Sasa! Mommy harus pakai dress... Biar perut mommy gak keikat...” sambung Sasa membuat Ajeng pasrah mengikuti permintaan anak kecil itu.
Sasa segera meminta penjaga toko untuk mencarikan model baju tidur yang dia mau. Tapi rupanya model baju tidur yang dia cari itu tidak ada.
Melihat semangat Sasa menjaga perutnya agar tidak tersentuh tali kolor dari celana, Ajeng cukup tersentuh dengan usaha anak kecil itu.
“Ya udah... mommy pakai baju tidur pilihan Sasa tadi aja. Yang tadi bagus juga, kok,” ucap Ajeng. Dia tidak mau membuat Sasa sedih.
“Hihiii.....”Sasa kembali memeluk Ajeng karena pilihannya akan dipakai Ajeng. “Nanti Sasa peluk mommy kalau mommy kedinginan...” ucap Sasa.
Akhirnya setelah beberapa jam menghabiskan waktu untuk belanja, mereka bisa kembali ke apartment. Tidak henti-hentinya Sasa berceloteh.
“Besok mommy temani Sasa buat cooking class kan?” tanya Sasa sambil sibuk memakan jajanan.
“Iya... Besok mommy juga temani Bunga buat cooking class,” jawab Ajeng sambil menoleh Sasa yang duduk di belakang kursi mobilnya.
“Hem...? Kan Bunga ada mamanya... Kok Bunga banyak yang sayang sih?”Sasa mulai mengeluh karena merasa kasih sayang Ajeng harus dibagi dengan Bunga.
“Sayang... Anak pintar gak boleh ngambek atau jealous- jealous gitu dong...” Ajeng menarik tangan Sasa agar anak itu bisa dipangkunya. “Besok kan jam cooking class nya kamu sama Bunga samaan... Mommy harus dampingi Bunga juga karena mamanya Bunga lagi hamil besar. Tapi nanti mommy akan usahakan agar bisa lebih bantuin Sasa saat kelas masak dimulai,” jelas Ajeng dengan hati-hati.
“Ajeng, sebenarnya siapa itu Bunga?” tanya Bimo sambil menyetir minibus.
“Dia anaknya mbak Desi,” jawab Ajeng.
Bimo tidak menyangka, rupanya dalam 5 tahun ini sudah banyak hal yang sudah dia lewatkan. Bahkan kakaknya Ajeng itu kini tengah hamil lagi.
“Kalau Sasa mau, besok daddy juga bisa join buat acara cooking class. Lagi pula daddy juga udah minta teacher Sasa buat pindah jam cooking class biar besok daddy bisa temani Sasa, ” ucap Bimo yang kemudian mencubit pipi Sasa.
Wajah sedih Sasa itu kembali ceria lagi. Kali ini dia benar-benar merasa diperhatikan oleh Bimo dan Ajeng.
Akhirnya tak lama kemudian, mereka tiba di apartment. Ajeng menata barang-barang belanjaan bersama Sasa. Sementara itu Bimo sibuk dengan urusan kerjaan.
_______
Malam harinya setelah makan malam, Sasa meminta Ajeng untuk menina bobokannya. Sebetulnya Sasa sudah terbiasa untuk tidur sendiri. Tapi kehadiran Ajeng membuatnya justru menjadi manja. Dia ingin merasakan apa yang dia ketahui dari cerita-cerita temannya bila tidur dengan ibunya.
“Emang kalau Bunga tidur sama mommy, pantat Bunga juga dipukul-pukul kayak gini?” tanya Sasa menatap mata Ajeng.
Ajeng sedikit terkekeh mendengar pertanyaan itu.
“Bukan dipukul sayang.... Ini namanya diempuk empuk... biar kamu bisa cepat tidur,” jelas Ajeng membuat Sasa tersenyum.
Cukup lama Ajeng mengepuk – epuk pantat Sasa karena bibir mungil Sasa banyak bertanya. Tapi akhirnya anak kecil itu tidur juga.
“Baby... Sudah tidur Sasa nya?” tanya Bimo.
“Sudah,” jawab Ajeng.
*****
Bersambung...
*****