My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Kayak Tarzan



Melihat jam di tangannya, saat ini sudah waktunya bagi Sasa untuk makan siang. Deni segera menghampiri dimana Sasa duduk.


 


“Sa...” sapa Deni di saat hampir sampai di gazebo tempat Sasa dan Bunga duduk.


 


Kedatangan Deni yang tidak diharapkannya itu membuat tablet yang dipegangi Sasa jatuh. Tapi untung saja dengan sigap Deni menangkap tablet itu sebelum jatuh ke lantai.


 


“Om Deni? Ngapain ke sini? Ngagetin aja!” gerutu Sasa yang masih syok.


 


“Sekarang saatnya jam makan siang kamu. Ayo kita ke restaurant. Sekalian ajak Bunga buat makan siang,” jelas Deni sambil memberikan tablet ke Sasa. Sasa pun segera mengambil tablet itu dari tangan Deni.


 


“Aku belom laper!” celetuk Sasa.


 


Krucuukk Krucuukk......


 


Suara aneh yang muncul dari perut Sasa itu membuat Deni tertawa kecil. Raka yang mendengarkannya pun ikut tertawa. Deni dan Raka yang sadar mentertawakan hal yang sama pun menjadi saling pandang.


 


“Order makan di sini aja, om kalau Sasa nya gak mau makan di restaurant,” saran Raka.


 


“Hm.... ide yang bagus...” sambung Deni. “Sini Raka. Join ke gazebo kita. Kita makan siang sama-sama,” pinta Deni.


 


Akhirnya siang itu mereka berempat duduk pada 1 gazebo yang sama.


 


“Gimana stay di sini? Nyaman?” tanya Deni membuka pembicaraan.


 


Sasa yang sibuk dengan Bunga, kembali melanjutkan menonton movie yang mereka tonton. Tapi bedanya volume suara lebih mereka perkecil.


 


“Nyaman...” jawab Raka dengan senyumnya sambil melihat Sasa.


 


Banyaknya pepohonan yang ada di sekitar gazebo, membuat mereka juga semakin nyaman duduk di tempat itu. Selera makan pun meningkat karena rasa dan kualitas makanan yang dipesan sangat memanjakan lidah mereka.


 


“Om Deni udah berapa lama kerja sama om Bimo?” tanya Raka di sela makan.


 


“Em... sejak Sasa kecil. Waktu itu om masih study di Merlbourne. Jadi sambil kuliah, om sambil kerja sama daddynya Sasa,” jawab Deni yang kemudian meneguk air mineral.


 


“Udah berapa tahun tuw, om?” tanya Raka sambil memotong sayuran di piringnya.


 


“Em... Sekitar 6 tahunan lah...” jawab Deni membuat Raka kembali melirik Sasa.


 


“Jadi Sasa sekitar 6 tahun ya, om? Kok badannya macam anak 12 tahun?” Raka mengrenyit memandang Sasa.


 


Sasa yang mendengar pembicaraan Raka dan Deni tengah membahas dirinya menjadi sedikit terganggu.


 


“Emang nya kalau badanku kayak anak usia 12 tahun kenapa?” tanya Sasa sedikit ketus. “Mommy kandung aku kan orang Ausie. Jadi wajar dong postur badanku kayak anak-anak Ausie di Merlbourne sana,” gerutu Sasa membuat Deni menahan tawa di bibirnya.


 


“Em... Yeah... That's good,” sambung Raka membuat Sasa mengrenyitkan alis dan dahinya lagi. “Maksud aku, kamu terlihat sehat. Itu bagus. That's good,” jelas Raka sebelum Sasa salah paham lagi.


 


Deni hanya bisa menahan tawanya memandangi pembicaraan sengit antara Sasa dan Raka.


 


Beberapa menit kemudian ketika mereka sedang asyik menyantap menu hidangan makan siang, Bimo dan Ajeng datang menghampiri mereka.


 


“Mommy........!” sapa Sasa yang kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut memeluk Ajeng.


 


“Hai sayang,” sapa Ajeng membalas pelukan Sasa.


 


“Mommy lama banget sih. Sasa tungguin di depan kamar tapi gak nongol – nongol,” gerutu Sasa membuat Ajeng bertanya-tanya.


 


“Kamu nungguin mommy di depan kamar?” tanya Ajeng melepas pelukannya. Dia mengusap rambut panjang Sasa yang sudah sedikit berantakan karena hembusan angin laut. Panjang


 


“Mmm....” merasa dirinya sudah melakukan kesalahan, Sasa cepat-cepat menarik tangan Ajeng agar masuk ke gazebo. “Ayo sini mom! Kita makan dulu yuk. Aku masih laper. Mommy bantu habisin makanan kita ya... soalnya om Deni order makannya banyak banget,” celoteh Sasa mengalihkan pembicaraan. Tidak mungkin dirinya bercerita sudah menguping di depan kamar mommy dan daddynya. Karena Sasa tahu, menguping adalah tindakan tidak baik.


 


“Hm...... Jadi Cuma mommy aja yang diundang makan siang? Daddy enggak?” sambung Bimo membuat Sasa tertawa kecil.


 


 


“Ok deh... Den, ikut saya duduk di sana. Kita ngopi dulu sambil ada yang mau saya omongin ke kamu,” kata Bimo membuat Deni mengusap bibirnya dengan tissue.


 


Selagi Bimo mengajak Deni untuk duduk di meja lain, keseruan makan siang terus berlanjut di gazebo yang diduduki Sasa dan Ajeng.


 


“Hai tante,” sapa Raka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ajeng. “Sekali lagi saya ucapin happy wedding untuk tante sama daddynya Sasa,” kata Raka membuat Sasa melirik ke arahnya.


 


“Thank you so much, sayang. Ayok dilanjut lagi lunch nya,” sambung Ajeng yang kemudian duduk di sebelah Sasa.


 


Kedekatan Sasa yang begitu akrab dengan ibu sambungnya saat makan begitu menyita perhatian Raka.


 


“Gimana makanannya? Enak kan?” tanya Ajeng setelah sadar dirinya dan Sasa diperhatikan oleh Raka.


 


“Enak, tant. Super tasty... Saya suka menunya,” jawab Raka sedikit salah tingkah saat Ajeng dan Sasa memandnagnya. “Saya cuma heran... tante Ajeng sama Sasa kan ga ada ikatan darah... Tapi kalau dipandang – pandang, lama- lama muka tante sama Sasa makin mirip,” celetuk Raka membuat Ajeng tersenyum.


 


Sasa yang mendengar kalimat itu menjadi senang.


 


“Mirip gimana maksudnya? Kucelnya atau cantiknya?” tanya Ajeng membuat Raka tertawa kecil.


 


“Cantiknya dong, tante. Hahaa... Masa kucelnya... Hahaaa hmm...” sambung Raka berusaha menahan tawanya.


 


“Tuh... Sasa dibilang cantiknya mirip mommy. Bilang thank you dulu dong ke kak Raka nya,” bujuk Ajeng dengan mengedipkan matanya kepada Sasa.


 


“Thank you, kak... cantik nya aku memang kayak mommy. Tapi kak Raka jangan harap ya buat jadi pacar aku. Tipe nya aku tuh kayak Tarzannn! Rambutnya gondrong. Kalau kata Bunga, yang macho gitu...” celetuk Sasa membuat Ajeng tertawa terbahak-bahak. Ajeng tidak habis pikir bagaimana bisa Sasa paham soal ‘tipe laki-laki’.


 


Raka yang mendengarnya pun menanggapinya secara santai.


 


“Ya udah... kamu tunggu aku beberapa tahun lagi. Biar aku punya waktu buat manjangin rambut kayak Tarzan. Heheee...” sambung Raka membuat Ajeng semakin tertawa.


 


Tak lama selagi mereka mengobrol membahas soal rambut tarzan, Bimo dan Deni datang lagi di gazebo tempat mereka duduk.


 


“Sa...” sapa Bimo membuat pandangan Sasa menoleh ke daddynya.


 


“Ya, dad. Kenapa?” tanya Sasa sambil mengunyah sisa makanan di mulutnya.


 


“Sini bentar, daddy mau ngomong sama kamu,” kata Bimo. Sasa pun segera beranjak berdiri dan berjalan menuju daddynya yang berdiri di dekat gazebo.


 


“Daddy mau izin ajak mommy ke Bali. Cuma seminggu. Boleh ya? Nanti selama seminggu itu Sasa boleh bebas tinggal sama grandma atau nenek Heni,” ucap Bimo membuat wajah Sasa penuh pertanyaan.


 


“Mau ngapain ke Bali, dad? Kok Sasa gak diajak? Daddy cuma mau ajak mommy buat liburan ya?” tanya Sasa heran.


 


“Sasa kan harus sekolah... Nanti kalau izin terus buat ga masuk sekolah, Sasa bisa kena tegur sama teacher Sasa di sekolah,” jelas Bimo sambil sambil beberapa saat melirik ke arah Ajeng. “Lagian daddy sama mommy ke Bali bukan liburan kok. Kita ada trip bisnis,” ucap Bimo berbohong.


 


“Owhh.... trip business. Kenapa ga bilang dari tadi. Kalau trip business sih... Sasa ga tertarik buat ikut,” kata Sasa membuat Bimo lega. “Tapi nanti kalau trip business nya udah selesai, bawain oleh-oleh ya, dad buat aku sama Bunga,” celetuk Sasa membuat Bimo mengangguk mengiyakan.


 


Ajeng pun menjadi tenang karena rupanya Sasa tidak rewel bila harus ditinggal dalam waktu sedikit lama. Meskipun harus dibumbui dengan kebohongan trip bisnis.


 


Hari selanjutnya, meninggalkan kota Jogja, Bimo dan Ajeng terbang menuju Pulau Bali. Pulau yang namanya begitu tenar di kalangan wisatawan itu akan menjadi tempat bulan madu antara Bimo dan Ajeng.


 


“Are you ready for honeymoon?” tanya Bimo ketika mereka sudah duduk di kursi pesawat.


 


“Apaan sih, mas... tiap hari sebelum nikah kita juga udah begituan,” sambung Ajeng dengan pipi merahnya.


 


“Tapi kan ini rasanya beda. Rasa husband and wife... bukan boyfriend sama girlfriend,” sambung Bimo mencubit pelan pipi Ajeng.


 


*****


Bersambung...


*****