My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Ditabrak



Jalanan raya besar Solo Jogja yang biasanya lancar meski banyak truk dan bus-bus besar, siang ini cukup macet karena ada pelebaran jalan. Mau tidak mau Ajeng harus bersabar karena percuma saja mencari jalan lain karena akan semakin membuang waktu.


 


Sebetulnya Bimo juga melintasi jalan raya yang dilewati Ajeng saat ini. Tapi karena banyaknya kerumunan mobil, dan berlawanan arah, Bimo tidak sempat melihat mobil yang dipakai Ajeng itu.


 


Sesampainya Bimo memasuki kota Solo, dia harus melewati padatnya jalan karena saat ini hari sudah sore dan banyak pengguna jalan dari para karyawan yang pulang kerja. Sudah cukup lama Bimo terjebak di kemacetan jalan meski lokasi apartemen Jesslyn sudah dekat.


 


“Udah 15 menit. Padahal tinggal di sana saja aku bisa nyampai. Haahhh...” Bimo menghela nafasnya.


 


Akhirnya, dia memilih memutar mobilnya untuk parkir di salah satu hotel di tepi jalan itu. Lebih baik berjalan kaki untuk menuju apartment Jesslyn daripada harus membuang waktu berada di dalam mobil.


 


Ting Tong...


Suara lift apartment terbuka setelah Bimo memencet tombol itu.


 


______


Saat ini Ajeng pun sudah sampai di depan rumah Bimo. Di saat dia menekan bell rumah itu, yang dilihatnya bukanlah Bimo, tapi adalah mamanya Bimo.


 


“Mau apalagi kamu cari anak saya?!” tanya bu Clara dengan suara yang sama garangnya ketika beradu mulut dengan bu Heni.


 


“Em.... Ma....”


 


“Sudah saya bilang jangan panggil saya, mama! Saya gak sudi punya menantu yang ibunya gak ada ootak!” Kalimat itu benar-benar pedas dirasakan Ajeng.


 


“Tante, saya mohon maafkan ibu saya. Saya mohon tante kasih saya kesempatan. Saya... Saya sangat mencintai Bimo. Saya sangat mencintai anak tante,” ucap Ajeng.


 


Kalimat itu serasa tulus dirasakan oleh bu Clara. Tapi bila dia mengingat ibunya Ajeng yang mengatai anaknya mandul, hatinya terasa diiris – iris oleh pisau belati.


 


“Kamu lebih baik lupakan Bimo. Kamu tahu kan, tante cuma punya anak satu. Tante gak mau anak tante disakiti orang,” jelas bu Clara dengan nada yang lebih melunak.


 


“Tapi, tante. Saya sangat menyukai Bimo. Kami bahkan--"


 


“GAK DENGAR ya telingamu itu...?! Sudah saya bilangin supaya cari laki-laki lain! Jangan ganggu-ganggu Bimo lagi! Paham!?”


 


JDUARRR!


Pintu rumah itu ditutup keras oleh bu Clara. Ajeng pun sampai menutup mata dengan dahi berkerut karena tersentak kaget.


 


Kenapa Bimo gak keluar ya? Apa dia gak ada di rumah? Kemana dia? tanya Ajeng dalam batinnya.


 


Akhirnya Ajeng memutuskan untuk menunggui Bimo di depan gerbang rumah itu. Ajeng yakin hubungannya dengan Bimo masih bisa dipertahankan karena dia dan Bimo sama-sama saling mencintai.


 


“Anak itu... masih belom pergi juga dia? Kalau saja ibunya baik dan bisa menerima Bimo... Hmmm...” ucap bu Clara ketika mengintip Ajeng dari jendela rumah.


 


_______


Hal serupapun juga terjadi saat ini di depan pintu kamar apartment Jesslyn. Bimo yang kesal karena ulah Jesslyn, mulai meluapkan emosinya.


 


“Kamu emang orang yang gak punya hati ya, Jess....!”


 


BRAK!


Bimo memukul pintu kamar itu dengan keras.


 


“Maksudnya...? Maksud kamu apa, Bim?” tanya Jesslyn dengan syok. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Bimo datang dan memarahinya.


 


“Bicara apa kamu ke ibunya Ajeng? Hah!? Mulut kamu itu emang gak bisa dijaga ya!? Kurang baik apa aku ke kamu ngasih apartment secara cuma-cuma...?!” ucap Bimo dengan wajah merahnya. “Sekarang juga... Aku mau kamu keluar dari apartment ini!”


 


Suara Bimo itu menggema di lorong apartment. Beberapa penghuni apartment di lantai itu keluar karena mendengar kegaduhan di lantai mereka.


 


“Kamu tega ya, Bim... Aku lagi hamil besar. Mau pergi kemana aku? My saving is finished! (Tabungan ku udah habis). I’m sorry about that (Aku minta maaf soal itu). Aku gak sengaja. Aku keceplosan cerita tentang masa lalu kita. Please forgive me...(Ku mohon maafin aku)” ucap Jesslyn dengan rasa paniknya.


 


Rasanya tidak tega juga melakukan hal seperti saat ini. Membentak perempuan yang sedang hamil besar. Tapi bila mengingat kehebohan acara lamaran yang berantakan, kata maaf sepertinya tidak akan bisa diterima oleh Bimo.


 


“Biar aku bantu mengemasi barangmu. Aku mau kamu pergi dari apartmentku saat ini juga,” ucap Bimo dengan lantang.


 


Tanpa melihat wajah Jesslyn yang sedang memelas, Bimo masuk ke dalam apartment itu. Dia mencari kamar yang ditempati Jesslyn untuk mengemasi baju dan barang-barang Jesslyn ke koper.


 


 


Ucapan Jesslyn itu membuat Bimo teringat dengan perbuatan Ajeng. Tapi bila dipikir-pikir, Ajeng tidak akan sampai memblokir nomor Jesslyn kalau dirinya tidak menanggapi panggilan telpon dari Jesslyn.


 


“Lagian mau apa lagi kamu nelpon aku waktu itu? Bukannya udah ada mamaku waktu itu buat bantuin kamu?” tanya Bimo kesal dengan sikap Jesslyn.


 


“Yeah... Tapi... Tapi kenapa kamu harus memblokir nomorku segala?!”


 


“Asal kamu tahu ya, Jess... aku gak mau terjadi kesalah pahaman dengan Ajeng. Lagian kita punya kehidupan masing-masing, Jess,” ucap Bimo. Dia segera menyelesaikan untuk mengemas seluruh barang-barang Jesslyn.


 


Jesslyn semakin panik ketika kopernya dikeluarkan dari apartment. Room Card (kunci kamar berbentuk kartu) yang terpasang di samping tembok belakang pintu masuk juga ikut dicabut Bimo.


 


Dengan rasa kesal, Jesslyn harus menarik koper itu menuju lift. Bimo yang juga ada di dalam lift, tidak mau melihat Jesslyn sedikitpun.


 


Oh My Goodness.... (Ya ampun....) Gimana ini....? Aku benar-benar ga ada uang buat bayar hotel. Padahal dulu Bimo perhatian banget sama aku.... Ini pasti karena pengaruh buruk dari Ajeng.... Iiisshhh! Menyebalkan! Gerutu Jesslyn dalam hatinya.


 


TING....


Pintu lift itu mulai terbuka di lantai satu.


 


Bimo segera keluar dari bangunan apartment. Sedikitpun Bimo tidak menoleh lagi ke Jesslyn. Dia tidak mau hatinya goyah karena kasihan kepada Jesslyn.


 


“Mau kemana Bimo? Emang dia tadi ke sini naik apa? Kenapa dia jalan ke sana?” ucap Jesslyn sambil memandangi punggung Bimo. “Apa aku pinjam uang ke Bimo aja? Setidaknya buat stay di hotel selama seminggu,” ucap Jesslyn.


 


Dengan meninggalkan rasa malu, Jesslyn mulai memanggil – manggil nama Bimo di tepi jalan raya itu.


 


“BIIIMM..... Bimoooo! Bimoooo!” sapa Jesslyn membuat beberapa orang di sekitar jalan itu memperhatikan Jesslyn.


 


“Mau apa lagi dia...? Apa mau minta rumah sekarang...?” Kesal Bimo berbicara secara asal.


 


Karena tidak tahan namanya terus dipanggil, Bimo menoleh ke belakang untuk melihat Jesslyn. Tidak tahunya ketika Jesslyn akan menyebrang di perempatan jalan, ada mobil yang melintas.


 


BRUG!


 


“Jess.....?”


 


Semua orang di sekitar jalan itu menjadi tegang beberapa saat. Mereka terdiam. Tapi selang beberapa detik, mereka berlarian ke arah Jesslyn. Pengendara mobil pun ikut turun untuk mengecek kondisi Jesslyn.


 


“Woi! You... You... bule budeg (tuli)! Sini kamu! Dipanggil istri kok ga denger!” ucap salah satu orang yang juga berdiri di sekitar jalan itu.


 


Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah Bimo. Bimo pun segera menghampiri Jesslyn. Untungnya setelah Bimo sampai di tempat dimana Jesslyn tergeletak, perempuan itu bisa membuka mata. Orang-orangnpun segera membantu Jesslyn untuk duduk.


 


“Huft... I’m okay. Yeah...” ucap Jesslyn sambil memegangi tangan orang yang menopangnya. “Anda bisa lanjut jalan lagi, I’m okay. I’m fine. No problem,” ucap Jesslyn kepada pengendara mobil yang ikut memapah dirinya.


 


Karena memang dalam kondisi terburu-buru, pengendara mobil itu pun segera pergi. Bimo yang saat ini berdiri di depan Jesslyn bisa lega karena dia tidak melihat luka di badan Jesslyn.


 


“Bim...” ucap Jesslyn sambil berusaha berdiri. Tapi baru beberapa detik dirinya berdiri, kepalanya terasa berat.


 


Brug...


Badan Jesslyn tumbang lagi.


 


“Waduh waduh...? Pie iki?  Semapot... Hei you... you bule... wifyyy kamu... iki pie jal? (Aduh aduh...? Gimana ini? Pingsan... Hei kamu... kamu bule... istri kamu... gimana ini coba?) Ini pasti karena ditabrak mobil tadi,” ucap orang yang menadahi badan Jesslyn. Dia bingung harus berbicara apa ke Bimo.


 


“Dia bukan istri saya,” ucap Bimo membuat orang di tempat itu tersadar kalau Bimo bisa bicara bahasa Indonesia.


 


“Isoh ngomong boso Indonesia rupane... (Bisa bicara bahasa Indonesia rupanya)” celetuk orang yang lain. “Tapi cewek hamil ini kenal sama kamu. Orang dari tadi saya lihat cewek ini manggil – manggil namamu, tapi kamu sok ga dengar,” ucap orang itu.


 


Pandangan semua mata di tempat itu semakin mengintimidasi Bimo. Mau tidak mau Bimo harus menolong Jesslyn.


 


*****


Bersambung...


*****