
Setelah selesai mengganti kedua ban, Bimo kembali ke dalam minibus. Di dalam minibus Ajeng tengah sibuk membuat mashed potato.
“Lagi buat apa…” Tangan Bimo mulai merangkul pinggang Ajeng dari belakang. Ini membuat badan Ajeng menghangat. Terlebih lagi di saat Bimo bertubi-tubi menciumi tengkuk lehernya, nyaman. Tapi kec upan itu seperti tidak mau berhenti.
“Jangan cium-cium terus Bim. Nanti gak selesai-selesai numbuk kentangnya.”
“Boleh aku bantu?”
“Boleh dong…"
Bimo mulai membantu Ajeng. Tapi sesekali dirinya menggoda Ajeng di saat lagi serius memasak.
“Udah dong Bim… Ini kapan mau selesai kalau kamu terus bikin leherku geli?” mencebikan bibir. Ajeng sedikit protes karena sikap Bimo yang terus mengganggu membuat tubuhnya tersentak setiap kena se sapan pada lehernya.
“Hehee…” tertawa dengan mengusap-usap kepala Ajeng.
“Kamu pecahin telornya aja, Bim. Biar nanti aku yang ngo cok sama kasih potongan sosis dan tomat,” pinta Ajeng. Lebih baik memberi Bimo tugas yang lain supaya pacarnya itu sibuk dan bisa jaga jarak.
“Aku gak bisa mecahin telor, Jeng. Kamu aja yang mecahin telor habis itu biar aku yang ngocok…” ucap Bimo membuat Ajeng heran.
“Masa sih gak bisa mecahin telor? Terus kamu gak bisa masak telor dong selama ini kalau mecahin telor aja gak bisa?” Ajeng tersenyum tipis karena menurutnya itu aneh.
Ajeng mulai menyenggol pinggang Bimo agar laki-laki itu tidak terus mendepelinya.
“Kalau cuma merebus telur aja aku bisa,” jawab Bimo. Tangan Bimo selalu mengikuti pinggang Ajeng kemanapun perempuan itu melangkah.
“Kayak masak air dong kalau cuma bisa merebus aja,” timpal Ajeng. Dia mulai memecahkan satu telur untuk dimasukan ke dalam mangkuk. “Cuma kayak gitu doang Bim… Nih cobain, pecahin telurnya.”
Ajeng menyodorkan satu telur ke Bimo. Laki-laki itu seperti takut kalau dirinya tidak berhasil dan akan membuat kotor di minibus itu.
“Aku ga bisa, Jeng… Kamu aja yang pecahin. Biar aku bagian yang ngocok telurnya,” ucap Bimo membuat Ajeng menahan senyumnya.
Akhirnya Ajeng memilih mengalah. Dia membuka beberapa cangkang telur dan membiarkan Bimo mengocok dengan ditambahi potongan sosis, tomat dan garam.
Pagi itu kondisi lokasi sekitar tempat camping menjadi sedikit ramai karena banyak pengunjung baru berdatangan. Ajeng dan Bimo yang tidak begitu memperhatikan lokasi sekitar karena asyik menikmati sarapan dibuat terkejut dengan kedatangan seorang perempuan.
“Hai… Sorry to bother you, would you mind to help me set up my tent?” tanya perempuan itu memandangi Bimo. Pandangannya seperti tidak mengetahui keberadaan Ajeng yang duduk di depan Bimo karena terhalang pintu minibus. (Maaf untuk mengganggumu, maukah anda membantu saya mendirikan tenda saya?)
Ajeng yang penasaran dengan sosok perempuan itu mulai berdiri untuk melihatnya. Rupanya perempuan itu berwajah sedikit lebih muda darinya.
“Oh?” Perempuan itu sedikit terkejut karena melihat Ajeng. “Em... Boleh saya minta tolong, kak? Saya sama teman-teman gak terlalu tahu cara mendirikan tenda,” ucapnya dengan penuh sopan menatap Ajeng.
“Mau gak tuw Bim, kamu nya?” tanya Ajeng.
“Yeah. Tentu,” Jawab Bimo. “Aku ke sana dulu ya, Jeng. Bantuin dia.” Bimo mulai mengusap bibirnya dengan tissue karena sarapannya kebetulan juga sudah habis.
“He’em. Biar ini aku yang beresin.”
“Ternyata bisa bahasa Indo ya? Makasih ya udah mau bantuin… Saya ajak kesana dulu ya, kak,” ucapnya meminta izin kepada Ajeng.
Bimo dan perempuan itu pun pergi. Sementara Ajeng segera membereskan peralatan yang dipakai untuk makan. Barulah setelah itu dia memilih untuk mandi dengan air hangat.
“Huh… Segarnya…”
Ajeng mulai mencari Bimo setelah dirinya selesai mandi. Laki-laki itu tampak tidak ada di sekitar minibus.
“Padahal aku tadi mandinya lama hlo… Apa bantu masang tendanya belom selesai?” Mata Ajeng sedikit silau karena cahaya matahari di pagi itu.
Dia menunggu Bimo sambil mengecek sosial medianya. Sudah beberapa menit Ajeng menunggu Bimo, tapi pacarnya itu juga belum kembali. Karena hal itu Ajeng memilih mencari batang lidah buaya untuk mengobati lukanya.
“Wow… besar-besar lidah buayanya… Hm… Harus difoto dulu nih sebelum dipotong,” ucap Ajeng. Tangannya mulai merogoh kantong untuk mengambil handphone. Dia mengatur setting pada kamera handphone untuk mendapatkan hasil yang bagus. Tapi di saat dia Ajeng sedang mengatur kameranya, dia melihat Bimo tertangkap oleh kameranya sedang dikerumuni banyak anak perempuan.
“Ish! Ngapain sih itu? Bukannya balik sini kalau udah selesai malah ngobrol di sana. Bikin kesel!” gerutu Ajeng. Dia mengurungkan niatnya untuk mengambil foto lidah buaya. Dirinya langsung memotong batang lidah buaya dan pergi masuk ke dalam minibus.
JDUAR! Ternyata suara pintu minibus yang cukup keras itu membuat Bimo menoleh ke arah minibus.
Ajeng mengunci pintu minibus dan memilih untuk mengolesi badannya dengan lidah buaya di depan cermin kamar mandi.
Tak lama kemudian Ajeng mendengar pintu minibusnya diketuk. Dirinya menduga sudah pasti itu Bimo. Karena rasa kesalnya yang masih belum reda, Ajeng membiarkan Bimo mengetuk pintu minibus tanpa membukanya.
“Ajeng… Please open the door. Aku mau masuk. Kenapa harus dikunci segala? Buka pintunya Ajeng… Ajeng…”
“Ternyata… Ga dikunci rupanya,” ucapnya yang kemudian masuk lewat pintu bagian depan.
Di dalam minibus itu Bimo tidak melihat Ajeng. Tapi beberapa saat kemudian, dia mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi.
TOK TOK TOK…
“Ajeng… Kamu di dalam?” Masih tidak ada jawaban meskipun sudah mengetuk pintu kamar mandi. Ini membuat Bimo menjadi kesal karena Ajeng tidak menanggapinya. “Ajeng… kalau kamu tidak mau buka pintunya, aku bisa buka secara paksa. Satu… Dua…”
Ceklek… Pintu pun akhirnya dibuka oleh Ajeng. Ekspresi wajah datar bisa dilihat oleh Bimo saat ini.
“Kamu kenapa harus kunci pintu segala?” tanya Bimo. Dia mengikuti langkah Ajeng dari belakang.
“Kan aku lagi di toilet…” menjawab datar dengan pura-pura sibuk mencuci mangkuk bekas isi lidah buaya.
“Maksud aku kenapa kamu kunci pintu minibus. Kamu kan tahu aku ada di luar…” tanya Bimo lebih detail. “Kamu jealous liat aku sama group cewek-cewek itu?”
Ajeng masih tidak mau menjawab. Menutup mulut rapat-rapat dan berlanjut berpura-pura sibuk menata mini kitchennya.
“Ajeng…” Bimo menarik tangan Ajeng untuk duduk di bed. Laki-laki itu berjongkok di depan Ajeng dan menggenggam tangan Ajeng.
“Ajeng… Aku gak suka kalau dalam relation kita harus membuang waktu untuk bertengkar.” Ucapan Bimo kali ini bisa membuat Ajeng menatapnya lagi. “Kalau kamu marah, kamu harus bilang. Jangan diam aja. Gimana aku bisa tahu kalau kamu diam seperti ini…”
“Iya...aku jealous liat kamu sama cewek-cewek itu. Bukannya tadi minta izin buat pasang tenda aja? Kenapa pakai acara ngobrol sama minum-minum teh segala sama mereka? Udah gitu kamu kayak senang dikerumuni mereka…” membuang muka karena tidak suka bila dirinya ketahuan cemburu.
Bimo tersenyum lebar menanggapi ucapan pacarnya itu.
“Aku sama mereka kan cuma ngobrol biasa sama minum. Kenapa harus cemburu?” Bimo mulai mengkecupp kening Ajeng. “Mereka ngasih minum cuma sebagai tanda terimakasih aja. Gak ada yang lebih. Please… jangan jealous terus-terusan. Lagian mereka masih anak-anak kuliah,” jelas Bimo.
“Anak kuliah kan juga udah gede, Bim. Dari ekspresi wajah mereka aja aku bisa lihat kalau mereka tertarik sama kamu… Harusnya kamu juga gak ngasih harapan dong.... Nanti merekanya ngelunjak. Atau kalau kamu suka sama mereka ya udah lah! Sana kamu samperin tuw mereka…” mulai beranjak dari bed. Tapi dengan gerakan cepat, Bimo menarik pinggang Ajeng lagi agar duduk di bed. Dia menghalangi pergerakan Ajeng agar tidak pergi darinya.
“Siapa bilang aku suka mereka? Aku sudah punya kamu.”
Bimo mulai mendorong bahu Ajeng sampai terbaring di bed. Dia mulai menindih tubuh Ajeng untuk mencium bibir perempuan itu. Tapi Ajeng yang sedang marah tidak mau membiarkan laki-laki itu menciumnya. Ajeng memalingkan wajahnya dan terus menggeliyat menjauhi Bimo.
“Iiihhh…! Aku lagi gak mau Bim… Aku lagi kesel sama kamu!” Merangkak dan terus menutup mukanya. Tapi itu membuat Bimo tertantang untuk membuka wajah Ajeng. Bimo meng ke cupi leher Ajeng sambil terus berusaha menarik tangan Ajeng.
“Mau sampai kapan kamu marah sama aku?” terus melancarkan aksinya dengan men ji la ti telinga Ajeng sampai membuat Ajeng kegelian. Tangan Bimo pun ikut me re mas salah satu buah da da Ajeng yang tidak sakit.
“Ah Bim! Jangan!”
Tak lama di saat Ajeng dan Bimo tengah beradu di atas bed, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari minibus mereka.
TOK TOK TOK…
“Bimo…”… “Bimo…”… “Bimo…” Ada beberapa suara perempuan memanggil Bimo. “Bimo… Tolong bantu kita buat pasang tenda lagi dong… Masih ada satu tenda yang belum dipasang…” ucap salah satu perempuan.
Bimo yang mendengar suara itu segera menghentikan aksinya mengerjai Ajeng. Berusaha ingin mencium Ajeng agar tidak ngambek, tapi perempuan itu justru terus menerus menutup muka, membuat Bimo kesal.
Akhirnya Bimo memilih untuk membuka jendela minibus dekat bed untuk menjawab permintaan para perempuan yang datang menghampirinya.
Sreeeggg… Jendela mulai terbuka dan para perempuan mendekati jendela yang terbuka.
“Hai Bim… Boleh bantuin kita pasang tenda lagi kan? Masih ada satu tenda yang belum terpasang,” ucapnya dengan wajah memohon.
Ajeng yang melihat ekspresi menyebalkan dari perempuan-perempuan itu menjadi bertambah geram. Dia mulai mendekati jendela dan menggeser bahu Bimo.
“Gak Boleh!” Ajeng mulai memekik. Suara lantangnya membuat para perempuan itu kaget. Termasuk Bimo juga kaget. “Kalian kalau mau minta bantuan cari cowok laen aja! Tuh sebelah sana banyak cowok!” menunjuk ke arah laki-laki yang sedang berdiri bergerombol. “Gak usah ganjen-ganjen deketin cowok aku! Sana pergi! Jauh-jauh dari sini!” Suara Ajeng cukup jelas didengar oleh para perempuan itu. Tapi mereka tidak kunjung hengkang dari tempat mereka berdiri. Akhirnya Ajeng mencium bibir Bimo agar para perempuan itu bisa lihat dan sadar kalau Bimo sudah dia miliki.
Ajeng duduk di atas paha Bimo dan terus me lu ma ti bibir Bimo. Dia menunjukan ciuman panas itu di depan para perempuan agar mereka tahu kalau Bimo adalah miliknya. Ajeng me re ma s – re ma s dan mengusap leher dan telinga Bimo sambil me nye sap bibir laki-laki itu dalam-dalam. Tentu saja Bimo paham kenapa Ajeng melakukan itu. Bimo tahu Ajeng tengah memanasi para perempuan di luar sana. Bimo cukup senang karena tadinya di saat dia ingin mencium Ajeng, tapi perempuan itu menolaknya. Tapi sekarang dirinya justru mendapat ciuman panas dari Ajeng. Bimo yang tidak mau melewatkan kesempatan itu, dia mulai membanting tubuh Ajeng ke bed. Dia menindihh dan me nye sap habis leher Ajeng sampai hitam pekat. Seakan lupa kalau Ajeng sedang haid. Bimo mendesak-desakkan kejantanannya ke bagian intimm milik Ajeng berkali-kali.
“Uh… Bim? Aku— Aku masih haid…”
*****
Bersambung…
*****